MY BEAUTIFULL BODYGUARD

MY BEAUTIFULL BODYGUARD
Pertarungan Hidup Dan Mati


__ADS_3

🔫


🔫


🔫


🔫


🔫


Malam pun tiba...


Semuanya sudah berkumpul di mansion Victor dan mempersiapkan senjata yang akan mereka gunakan.


Sementara itu...


Di markas utama, Okta dan Rival sedang berkunjung karena sudah lama Okta tidak ke markas. Selama ini Okta lebih sibuk mengurus Gerrald.


"Rival, lihatlah untuk ke depannya semua ini akan menjadi milikmu," seru Okta.


"Iya Pa, aku tahu."


"Jadi Papa harap kamu bisa meneruskannya."


Rival menyunggingkan senyumannya. "Aku akan meneruskannya Pa, tapi bukan untuk kejahatan lagi sudah cukup dan Papa adalah orang terakhir yang memimpin ini, aku akan bubarkan Mafia ini biar mereka bisa hidup tenang," batin Rival.


Okta kembali memperhatikan satu persatu anak buahnya, hingga tatapannya tertuju kepada salah satu anak buahnya yang menurut dia orang itu bukan bagian dari God Of Death.


Perlahan Okta menghampiri orang itu dan memperhatikannya dari dekat, orang itu sudah sangat gugup bahkan keringatnya sudah mulai membasahi keningnya. Okta mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya di kening orang itu.


"Siapa kamu? kamu bukan anak buahku dan juga bukan bagian dari God Of Death!" seru Okta dengan tatapan tajamnya.


Tidak lama kemudian beberapa anak buah Okta menyeret puluhan anak buah Victor dan melemparnya ke hadapan Okta.


"Tuan, ternyata markas kita sudah dimasuki penyusup dan mereka adalah penyusup," seru salah satu anak buah Okta.


"Brengsek, siapa yang sudah memerintahkan kalian!" teriak Okta.


Tidak ada satu orang pun yang menjawabnya, anak buah Victor bungkam.


"Kalian datang kesini ternyata cari mati," seru Okta.


Dor..dor..dor..dor..


Okta menembak satu persatu anak buah Victor dan mereka semua tewas seketika.


"Periksa markas ini, jangan sampai masih ada penyusup disini!" teriak Okta.


"Baik Tuan."


Okta sudah mulai kelabakan, ternyata selama ini dia kecolongan. Sedangkan Rival hanya bisa terdiam melihat aksi dari Papanya itu.


Berbeda dengan keadaan di mansion Victor, semuanya sangat terkejut saat anak buah Victor ketahuan dan semuanya sudah tewas.


"Kita harus segera bergerak, kita harus berangkat ke rumah itu sebelum Okta dan anak buahnya sampai duluan disitu," seru Bram.


Semuanya pun langsung beranjak dan masuk ke dalam mobil masing-masing. Sedangkan Gerrald saat ini sudah bersiap-siap bersama Tedi, bahkan anak buah Victor sudah mulai melumpuhkan para penjaga di rumah itu.


Gerrald dan Tedi mulai keluar dari kamar, tapi anak buah Okta menyadarinya.


"Mau kemana kalian!" teriak anak buah Okta.


Dorr...


Tedi dengan sigap menembak anak buah Okta, dan akhirnya tembak-menembak pun tak terhindarkan lagi. Ternyata Gerrald masih cekatan seperti dulu, bahkan tanpa melihat lawan pun tembakan Gerrald bisa tepat sasaran.


Selain tembak-menembak, perkelahian pun tak bisa terhindarkan. Rumah itu sudah bagaikan lautan mayat manusia, tapi anak buah Okta semakin lama semakin banyak berdatangan. Apalagi salah satu anak buah Okta segera menghubungi Okta.


"Sialan, kurang ajar, semuanya ayo ikut denganku dan beberapa orang berjaga disini!" teriak Okta.


"Kita mau kemana, Pa?" tanya Rival.


"Mr.G mencoba untuk kabur, dan ternyata selama ini ada pengkhianat di sana," sahut Okta dengan mata yang memerah menahan emosi.


Okta dan anak buahnya segera meluncur menuju rumah besar itu, bahkan Okta pun sudah menghubungi sebagian anak buahnya yang berada di rumah pribadinya untuk mengepung rumah itu supaya Gerrald tidak bisa melarikan diri.


Tidak lama kemudian, rombongan Victor pun sampai betapa terkejutnya mereka saat rumah itu sudah ricuh dengan suara tembakan dimana-mana.

__ADS_1


"Daddy...."


Gea segera berlari ke dalam rumah itu...


"Gea tunggu!" teriak Victor.


"Kakak tunggu!" teriak Gio dan Glenn bersamaan.


Semuanya menyusul Gea, lagi-lagi adu tembak dan perkelahian tidak bisa terelakan lagi. Gea terlihat celingukan mencari keberadaan Daddynya.


"Daddy, Daddy dimana?" gumam Gea.


Cukup lama adu tembak dan perkelahian itu terjadi sampai-sampai Gea dan yang lainnya sudah merasa kewalahan.


"Bagaimana ini, anak buah Okta sepertinya tidak habis-habis!" teriak Fox.


"Anak buah God Of Death sangat banyak, kita harus segera menemukan Tuan Gerrald setelah itu kita harus cari celah untuk melarikan diri dari sini!" teriak Bram.


Mereka sudah sangat kelelahan, hingga akhirnya Gea dan Daddynya dipertemukan dalam situasi yang mencekam.


"Daddy!" teriak Gea.


Gerrald yang sedang fokus dengan senjatanya, langsung menoleh saat ada seseorang yang memanggilnya Daddy.


"Gea, apa kamu Gea puteriku?" seru Gerrald.


"Iya Daddy, ini Gea."


Dorr...


Satu tembakan mengagetkan Gerrald dan Gea, mereka pun kembali fokus dengan musuh-musuh mereka. Hingga akhirnya, peluru Gea dan yang lainnya secara bersamaan habis.


"Sial," seru Victor.


Semuanya mundur dan berkumpul saling berjaga-jaga, sedangkan anak buah Okta semuanya sudah mengepung Gea dan yang lainnya sembari menodongkan senjata mereka ke arah Gea dan yang lainnya.


Mata Gerrald berkaca-kaca saat melihat Gea begitu pun dengan Gea.


"Puteriku."


"Daddy."


Prok..prok..prok..


Suara tepukan tangan Okta menggema diseluruh ruangan, anak buah Okta memberikan jalan untuk Bosnya.


"Wow, sungguh hebat ternyata kalian semua sudah merencanakan semua ini," seru Okta dengan senyumannya.


Gea dan yang lainnya menatap penuh kebencian kepada Okta.


"Ikat mereka semua!" perintah Okta.


Anak buah Okta pun dengan cepat mengikat satu persatu orang yang ada disana.


"Tunggu!"


Anak buah Okta pun menghentikannya dan perlahan Okta menghampiri Gea, Okta menatap tajam ke arah Gea.


"Rival, bukanya ini Bodyguardmu?" seru Okta.


"Iya Pa."


Okta menyunggingkan senyumannya. "Sudah ku duga, dari awal aku melihatmu sepertinya aku pernah bertemu denganmu dan benar saja, kamu anak sulung Tuan Gerrald. Lepaskan ikatan dia!"


"Jangan macam-macam dengan anakku, Okta!" bentak Gerrald.


"Wow sabar Tuan, aku hanya ingin bernegosiasi dengan puteri cantikmu ini."


"Pa, jangan macam-macam kasihan Gea," seru Rival.


"Apa? jadi kamu ingin membela wanita ini? sebenarnya kamu ada di pihak siapa, Rival!" bentak Okta.


"Bukanya begitu Pa, sudahlah kasihan lepaskan mereka semua."


Bughh..


Okta memukul Rival sampai Rival tersungkur ke lantai.

__ADS_1


"Dasar anak tidak tahu diri, ikat dia dan bawa dia jangan sampai dia menghancurkan rencanaku!" seru Okta.


Anak buah Okta langsung mengikat Rival tentu saja Rival berontak.


"Pa, aku hanya mengingatkan saja jangan sampai Papa menyesal di kemudian hari," seru Rival.


"Cepat bawa anak tidak tahu diri ini."


Anak buah Okta langsung menyeret Rival, sungguh Okta adalah orangtua yang sangat kejam anak sendiri pun Okta tega menyingkirkannya.


Okta kembali menatap Gea. "Bagaimana kalau kita buat perjanjian, aku akan melepaskan kalian semua tapi dengan satu syarat, kamu harus bisa melawan anak buahku, bagaimana?"


"Gea, jangan lakukan itu aku mohon karena itu sangat berbahaya," seru Victor.


"Kakak, aku mohon jangan setujui kata-kata dia," sambung Gio.


"Non, jangan," seru Bram.


"Gea, jangan Nak," seru Gerrald.


"Bagaimana? semua keputusan ada ditanganmu, katanya kamu sangat jago beladiri bukanya kalau melawan anak buahku itu adalah suatu hal yang mudah," seru Okta dengan senyumannya.


Saat ini Gea dalam posisi yang sangat membingungkan, kalau dia menolaknya sudah pasti nasib mereka semua sudah tidak bisa diselamatkan lagi, kalau dia menerimanya setidaknya ada harapan untuk mereka bisa berkumpul kembali.


Gea menatap semuanya, dan mereka semua tampak menggelengkan kepalanya supaya Gea tidak menerima perjanjian itu.


Akhirnya, dengan pergulatan batinnya Gea pun memutuskan untuk menerima tawaran itu.


"Baiklah aku akan menerima tawaranmu," seru Gea.


"Gea, Daddy mohon jangan lakukan itu. Okta, lebih baik sekarang kamu bunuh aku dan lepaskan mereka semua!" teriak Gerrald.


"Tidak Daddy, Gea akan memenangkannya cukup Daddy do'akan Gea saja," seru Gea.


"Bagus, anak yang pemberani. Bawa mereka semua, biarkan mereka menyaksikan pertandingannya!" seru Okta.


Mereka pun dibawa ke tempat pertandingan, di atas ring sudah ada dua orang pria bertubuh tinggi dan besar membuat semuanya melotot.


"Gea, itu adalah lawan kamu jadi kalau kamu bisa mengalahkan mereka, aku janji akan melepaskan kalian semua."


Gerrald tampak berontak sehingga orang yang memegang Gerrald pun merasa kewalahan.


"Kurang ajar kamu Okta, brengsek, bagaimana anakku akan menang kalau lawannya orang-orang yang sudah sangat terlatih dan sudah memenangkan MMA berturut-turut!" teriak Gerrald.


Gerrald sangat kenal dengan dua orang itu, mereka adalah anak buah andalan God Of Death. Beladirinya sudah tidak bisa diragukan lagi.


"Silakan Gea, kamu naik ke atas ring."


"Jangan Gea, aku mohon jangan lakukan itu!" teriak Victor.


Gea tidak punya pilihan lagi, dia tidak mau sampai usahanya sia-sia. Perlahan Gea melangkahkan kakinya naik ke atas ring, Gea tidak memperdulikan orang-orang yang meneriakinya untuk membatalkan niatnya.


Malam ini menjadi saksi bagaimana Gea akan melawan orang-orang itu, akankah Gea berhasil atau malah sebaliknya.


🔫


🔫


🔫


🔫


🔫


Bagi yang ingin tahu kisah cinta Daddy Gerrald dan Mommy Gladis bisa mampir kesini...



Jangan lupa


like


gift


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2