
...💜 HAPPY READING 💜...
"Oh, your name?" Tanya Niesha.
"Eloner."
"Let's go, Eloner." Mereka pun akhirnya beranjak dan berjalan menuju ke tempat Waldo berada.
Ditengah ramainya orang yang menikmati pertunjukan air mancur. Mereka berjalan bergandengan tangan layaknya seorang kakak yang menggandeng tangan adiknya. Terus berjalan hingga mereka berpapasan dengan orang serba hitam.
"TIDAK! Niesha, ayo lari. Mereka jahat." Teriak histeris Eloner. Niesha yang mengerti situasi itu pun berlari sekuat tenaga tanpa memutus pegangan tangan itu.
"Huh...huh..." Mereka terengah-engah, keringat pun bercucuran membasahi nya.
"Disini saja, aman, kita bersembunyi disini." Ujar Niesha.
"Aku takut, aku ingin pulang. Mommy, daddy, aku merindukan mereka...hiks."
"Sstt, jangan menangis, nanti mereka akan mendengar suara tangismu."Niesha meletakkan jarinya di bibirnya.
Para laki-laki serba hitam itu telah menghilang entah kemana. Niesha yang merasa sudah aman segera keluar dari persembunyiannya.
"Kita bertukar baju." Ujar Niesha.
__ADS_1
"Tapi untuk apa?" Bingung Eloner.
"Aku rasa, dia sudah mengenalimu dari pakaian yang kau gunakan. Segeralah bertukar. Pergilah dan temui daddy ku, ini fotonya. Waldo Donzelllo, kau harus mengingat nya. Jika aku tidak kembali artinya aku sudah tertangkap, suruh daddy ku melacak jam tangan ku." Jelas Niesha. Kemudian Niesha dan Eloner bertukar pakaian.
"Kamu enggak boleh tertangkap, mereka sangat jahat." Eloner menggeleng takut.
"Pergilah, temui daddy ku. Biar ku alihkan perhatian mereka." Ucap Niesha.
"No, i don't wanna! (Tidak, aku tidak mau)"
"Pergilah, cepat! Jangan buang waktu, Eloner." Sentak Niesha. Dengan berat hati Eloner pergi meninggalkan Niesha bersama perasaan yang campur aduk. Tanpa buang waktu ia segera berlari mencari sosok yang berada di foto genggamannya.
Bruk!
Sialnya, Eloner tidak sengaja menabrak seorang pria bertubuh besar dan tinggi, seketika ia mendongakkan kepalanya, betapa terkejutnya ia melihat pria yang ada dihadapannya itu.
"Sorry, uncle, maafkan aku ku mohon, pulangkan aku, uncle!" Tangisnya yang mulai histeris.
Pria itu tidak mengindahkan sama sekali permohonan Eloner. Segera ia membawa Eloner menuju tempat yang gelap gulita, dan dari tempat itu tercium bau busuk bangkai manusia yang telah mati terbunuh.
Di sisi lain, Niesha yang sudah pergi menjauh dari keramaian, segera mendatangi Waldo. Setibanya disana, ia tidak melihat sama sekali Eloner. Seketika ia menjadi khawatir. Apakah dugaannya salah? Baju yang ditukar apakah tidak mengaruh sama sekali?
"Daddy!" Pekiknya.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali? Lihat mommy mengomeli daddy." Ujar Waldo plus khawatir.
"Daddy, mommy, apa ada anak kecil perempuan seumuran Niesha datang ke sini?" Niesha tidak menjawab pertanyaan dari sang daddy, tapi dia justru berbalik bertanya.
"Ha? Tidak ada tuh, mommy tidak melihat anak kecil perempuan selain adikmu Naisha." Ujar Violeta.
"Mom, dia dalam bahaya. Ayo mom, dad, selamatkan dia." Niesha yang mulai cemas.
Violeta yang melihat raut wajah Niesha berubah menjadi cemas pun ikut khawatir. "Apa maksudnya? Dia siapa? Baju siapa yang kamu pakai?"
"Mom, aku enggak bisa jelasin sekarang. Dad, bantu aku sekarang! Minta bantuan mafia lain dad untuk membantu." Ujar Niesha.
Ya, walaupun Niesha masih lima tahun pada saat itu, namun ia sudah mengerti apa itu mafioso dan mafia. Waldo juga terbuka dan sudah memberitahukan anak-anaknya sejak dini bahwa ia merupakan seorang mafia.
Kenapa bukan mafia Zello? Bukankah Zello Blood punya banyak mafioso? Karena Mafia Zello Blood sedang ia tugaskan untuk berjaga di Frankfurt, Germany. Dan kebetulan Waldo tidak menetapkan mafianya untuk berjaga di Barcelona, Spanyol.
"Baiklah, daddy akan meminta bantuan mafia yang bekerjasama dengan mafia daddy." Ujar Waldo.
"Cepat, daddy!" Niesha yang sudah tidak sabar.
...💜💜💜...
Yuk follow IG author : @Vanesaefkm_
__ADS_1
Jangan lupa di masukin ke list baca yah, favorit, like, comment, hadiah, dan vote.ðŸ¤
THANK YOU