My Beloved Mafia

My Beloved Mafia
BAB 18


__ADS_3

...💜 HAPPY READING 💜...


Rumah Sakit


Kini Jacob beserta Noemi dan Marco telah tiba di rumah sakit. Segera ia berjalan menuju ke UGD seperti yang diberitahukan oleh Waldo kepadanya.


Tibanya di depan pintu masuk UGD, Jacob melihat Waldo duduk di bangku dengan gelisah.


"Waldo, terimakasih." Ujar Jacob dengan tatapan yang tak bisa dijabarkan.


"Aku senang membantu mu." Waldo lagi-lagi menepuk pundak Jacob dengan pelan.


"Kenalkan ini istri ku Noemi dan anak laki-laki ku Marco." Jacob memperkenalkan istri dan anaknya. "Sayang, ini yang membantu aku mencari Eloner." Lanjutnya.


"Terimakasih..." Noemi yang berhenti karena belum mengetahui nama Waldo.


"Waldo Donzello." Waldo mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.


"Terimakasih Waldo, maaf merepotkan mu." Noemi yang berkata dengan setulus hati dan menerima uluran tangan Waldo.


"Tidak merepotkan sama sekali. Saya dengan senang hati membantu." Ujar Waldo dengan tersenyum.


Setelah saling memperkenalkan diri, Jacob tak lupa menanyakan keadaan putrinya.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Jacob.


"Dokter sedang menangani nya." Setelah Waldo mengucapkan itu, tiba-tiba pintu UGD terbuka, dan keluarlah seorang dokter pria bernama dokter Alex.


"Maaf, Tuan. Kami sudah berusaha namun yang maha kuasa berkehendak lain. Turut berdukacita." Alex menundukkan kepalanya.


DEG!


"APA?" Teriak Jacob. "Tidak, purtiku pasti kuat." Jacob yang tidak bisa menerima kenyataan. Seketika itu pun pertahanan nya mulai runtuh dan menangis sejadi-jadinya.


"Maksudnya apa, sayang?" Bingung Noemi yang melihat suaminya tiba-tiba menangis histeris.


"Dad, El meninggal?" Tanya Marco yang mengerti akan situasi ini.


"Marco!" Sentak Noemi yang tidak terima sang putra bicara sembarangan. "Jangan berkata seperti itu." Memperingati Marco.


"Sorry, mom! Lirih Marco menundukkan kepalanya. Ia menyesal membuat mommy nya marah.


"Dok, apa penyebab meninggalnya?" Tanya Jacob to the point.


"Berdasarkan hasil pemeriksaan pengambilan darah di tubuhnya terdapat kandungan obat tidur yang melampaui dosis yang dianjurkan, jadi bisa dikatakan bahwa ia mengalami overdosis." Alex menjelaskan dengan detail.


"Overdosis? Sial, kau bajingan Calvin." Batin Jacob dengan raut wajah penuh emosi.


"Sayang, El tidak mungkin meninggal!" Sentak Noemi yang mulai emosi. "Overdosis? Tidak! Dia saja tidak menyukai obat karena pahit." Noemi tidak terima jika Eloner meninggalkan ia secepat ini.

__ADS_1


"Jika nyonya tidak percaya silahkan ikuti saya untuk melihatnya sekarang." Ujar Alex sopan. Ia pun mulai melangkah masuk ke dalam ruang UGD. Eloner belum dipindahkan ke ruang jenazah.


Noemi, Jacob, dan Marco dengan langkah tergontai-gontai berjalan dari belakang Alex. Tak lupa Waldo pun mengekor di belakang untuk masuk ke dalam ruang UGD.


Sesampainya di ruangan itu, ia melihat Eloner terbaring di atas brankar dengan wajah yang sangat pucat. Noemi, Jacob, Marco, dan Waldo mulai mendekati brankar tersebut.


Noemi mulai menyentuh tangan Eloner dan membelai lembut rambut Eloner. "Sayang, anak monmy, bangun yuk, mommy, daddy, dan kak Marco datang untuk menjemput El." Lirih Noemi menahan sesak di dadanya. "Eloner, mommy mohon bangunlah. Hiks..." Noemi yang terus menggoncang tubuh Eloner seketika menangis sejadi-jadinya. "Siapa yang melakukan ini, Jacob!" Ujarnya dengan nada tinggi.


"Calvin, tapi aku sudah membunuh nya sayang. Nyawa harus di bayar dengan nyawa." Ujar Jacob melihat istrinya yang sedang menagis.


Glek. Alex yang masih berdiri di ruang itupun menelan ludah dengan susah. Ia tidak pernah menyangka bahwa yang dihadapannya ini membunuh seseorang. Bahkan saat melihat administrasi tadi, ia benar-benar terkejut, keluarga Cleandro yang sangat disegani di negaranya berada di rumah sakit ini.


"Dok, urus secepat nya jenazah anak saya, supaya bisa dimakamkan segera!" Perintah Jacob kepada Alex.


"Baik, Tuan." Alex pun mengundurkan diri dari ruangan itu dan segera menindaklanjuti perintah Jacob.


Setelah kepergian Alex, kini Noemi pingsan tak sadarkan diri. "Sayang, please bangunlah." Lirih Jacob.


"Bro! Aku turut berdukacita." Ujar Waldo yang merasa iba dengan hal yang menimpa Jacob sekeluarga.


"Terimakasih, kawan." Ucap Jacob lalu dijawab anggukan oleh Waldo.


"Aku pamit dulu, aku akan datang ke mansion mu bersama istri dan anak-anakku." Ujar Waldo kepada Jacob.


"Okay, terimakasih banyak." Lagi dan lagi Jacob mengucapkan terimakasih.


Setelah kepergiaan Waldo, kini Noemi sudah sadar dari pingsannya dan terus menangis tiada henti.


*


*


Sesudah semuanya beres dan jenazah Eloner bisa di bawa pulang ke mansion sekarang. Jacob, Noemi, dan Marco yang sejak tadi diam tidak ada reaksi apapun pergi meninggalkan rumah sakit membawa jenazah Eloner.


Kepulangan mereka diiringi oleh beberapa mobil yang isinya Mafioso yang memang sejak awal sudah membantu pencarian Eloner.


Sesampainya di mansion, ia disambut dengan para Mafioso yang menggunakan pakaian serba hitam dan para maid yang sama menggunakan pakaian serba hitam untuk menghormati hari berkabung Tuan dan Nyonyanya. Semua menundukkan hormat dan mereka bisa merasakan kepedihan yang amat mendalam.


Beberapa Mafioso segera membantu mengangkat peti mati dengan sangat hati-hati. Mereka berjalan masuk ke mansion.


"Turut berdukacita Tuan, Nyonya." Ujar mereka serentak. Noemi yang mendengar itupun berhenti sejenak lalu "Terimakasih karena kalian telah menghormati putriku." Noemi memang selalu baik dan suka mengobrol dengan para maid maupun Mafioso nya tidak pandang bulu.


Kini kerabat dan rekan kerja keluarga Cleandro terkejut mendengar kabar meninggalnya sang keturunan Cleandro. Mereka pun mulai berdatangan ke mansion Cleandro dan mengucapkan belasungkawa nya.


Hingga tertiba seorang wanita dan anak laki-laki mendatanginya. "Adik ipar!" Teriak Gladis wanita yang mendatangi Jacob. Gladis Exgo Cleandro istri dari Calvin.


Ya, Calvin sudah menikah dan memiliki seorang putra dari pernikahan nya.


"Kau tidak diizinkan untuk menginjakkan kaki mu disini." Ujar Jacob dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Dimana suamiku?" Tanyanya.


"Neraka, ya dia sudah dineraka karena berani menculik dan membunuh anakku." Jelas Jacob. "Dan satu lagi, jangan panggil aku adik ipar, aku tidak sudi memiliki keluarga seperti dirimu dan suami bajingan mu. Pergi dari sini." Sentaknya.


"Kau! Beraninya membunuh suamiku. Tunggu balasan ku!" Ancamnya terhadap Jacob.


"Ck. Pergi sebelum ku berbuat kasar terhadap mu!" Jacob lagi-lagi mengusir Gladis.


"Kau dan keturunan mu harus mati." Batin Marco yang sejak tadi diam. Marco benar-benar terpukul akan kepergian adik tercinta nya. Diamnya dia adalah cara nya untuk tetap bersikap tenang dan berpikir untuk balas dendam. Ia sudah bertekad akan menjadi pewaris selanjutnya untuk klan Cosa de Demonio agar bisa membalas kan demdam nya.


Setelah kepergian Gladis dan anak putranya itu. Kini Keluarga Donzello datang ke mansion Cleandro. Mereka juga ikut merasakan kepedihan yang amat mendalam. Waldo sudah menceritakan semuanya kepada Violeta tentang apa yang sudah terjadi. Violeta yang mendengar cerita itupun tak sengaja air matanya ikut menetes.


"Bro! Ini istri dan anak-anakku." Ujar Waldo.


"Hallo, aku Violeta, turut berdukacita, Tuan Jacob dan Nyonya Noemi." Ucapnya dengan sopan.


"Tidak perlu sungkan nyonya cantik, cukup panggil nama saja." Ujar Jacob.


"Sayang, jangan genit. Kita sedang berkabung." Mencubit suaminya yang tak tau situasi.


"Au... sakit sayang." Ujar Jacob.


"Boleh ku lihat Eloner, aunty." Niesha meminta izin kepada Noemi untuk melihat jasad Eloner.


"Boleh, sayang, ayo." Noemi mengandeng tangan Niesha. Noemi pun menunjukkan di mana peti mati Eloner berada.


"Aunty, maaf pada saat itu aku tidak benar-benar menyelamatkan nya." Lirih Niesha yang mulai meneteskan air mata.


"Sayang, aunty bersyukur saat itu kamu masih mau menolong Eloner. Aunty sadar ini semua adalah takdir. Kita harus bisa menerima nya. Aunty pun mencoba iklhas. Jangan salahkan dirimu, sayang." Ujar Noemi dengan perasaan yang masih sesak. Noemi memang sudah mengetahui siapa Niesha dan keluarga Donzello. Jacob sudah menceritakan semuanya.


*


*


Kini mereka sudah ada di tempat pemakaman, Eloner sudah dikuburkan di tempat peristirahatan terakhirnya. Ditaburilah bunga mawar merah dan putih di atas makan yang masih basah.


"Sayang, mommy pergi dulu ya. Mommy sayang banget sama kamu, maaf mommy tidak becus menjagamu." Ujar Noemi yang mengusap nisan Eloner dan mencium nisannya.


Dari sinilah kedekatan dua keluarga mulai terjalin. Walaupun anak-anak mereka tidak dekat seperti para orang tuanya. Dan disitulah Marco dan Niesha bertemu.


Flashback off.


...💜💜💜...


Yuk follow IG author : @Vanesaefkm_


Jangan lupa di masukin ke list baca yah, favorit, like, comment, hadiah, dan vote.🤭


THANK YOU

__ADS_1


__ADS_2