
...💜 HAPPY READING 💜...
Seminggu berlalu, tak terasa Niesha harus kembali ke Amerika Serikat untuk menjalankan hukuman yang telah diterimanya.
"Marco." Panggil Niesha. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Eum?" Respon Marco menatap lekat mata Niesha.
"Hari ini aku akan kembali ke Amerika. Pulanglah ke Germany nanti aku menyusul mu." Ungkap Niesha dengan perasaan tak menentu.
"Berapa lama?" Marco to the poin.
Perkataan Marco hanya bisa membuat Niesha diam. Niesha memilih mengabaikan pertanyaan itu dan beralih menata koper yang akan di bawa.
Marco merasa diabaikan pun hanya diam saja menatap Niesha seolah-olah Marco sudah mengerti maksud diam nya Niesha.
Setelah memasukkan semua baju ke dalam koper, Niesha segera mandi dan bersiap-siap untuk menuju ke bandara. Sesuai bersiap-siap Niesha berjalan ke arah Marco sambil menyeret satu buah koper besar. Lalu memeluk Marco dan membisikkan tepat di telinga Marco, "See you again. I will miss you."
"Pulanglah cepat!" Sebuah permohonan namun seperti perintah yang harus dilaksanakan.
Diam-diam Niesha memasukkan sebuah amplop berisi kan surat ke kantong jas Marco selama berpelukan. Entahlah sudah berapa lama mereka berpelukan, kini Niesha melepaskan pelukannya dan mulai berjalan pergi menuju mobil tanpa sepatah kata pun.
Selama perjalanan Niesha hanya melamun sambil menatap keluar jendela mobil dan tidak terasa meneteskan air mata. Satu jam pun berlalu, Niesha telah tiba di bandar udara Charles de Gaulle.
Dibukakan pintu mobil oleh supir pribadi selama berada di Paris, lalu supir tersebut juga membantu menurunkan koper dari bagasi mobil.
__ADS_1
Niesha pun masuk ke dalam ruang tunggu VIP maskapai penerbangan Air France. Kali ini Niesha memilih menggunakan pesawat umum layaknya masyarakat biasa.
Sesudah melakukan beberapa prosedur imigrasi dan boarding pass, Niesha segera menaiki pesawat yang akan dia gunakan. Perjalanan melalui udara ini dari Paris menuju Washington DC kurang lebih memakan waktu delapan jam tigapuluh menit.
Akhirnya Niesha mendarat dengan selamat dan meluncur ke markas FBI. Sepanjang perjalanan Niesha lagi dan lagi hanya melamun.
Sedangkan Marco memilih pergi menuju Germany menggunakan pesawat pribadi. Di dalam pesawat tanpa sengaja Marco menjatuhkan sebuah amplop. Diambilnya amplop tersebut lalu di buka. Di dalam amplop terdapat secarik kertas kemudian Marco mulai membaca setiap tulisan demi tulisan.
...My Beloved Mafia...
...Hai, bukankan sedikit canggung? Eheh......
...Sebenarnya, aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadamu. Tetapi, ku mohon bisakah kamu menunggu ku walaupun tidak sebentar. Maaf, jika permintaan ini sangat egois untukmu. Please, wait for me and take care of yourself. I love you my beloved mafia....
Marco lantas menjatuhkan kertas itu ke lantai. Matanya berkaca-kaca namun tidak ada isakan sama sekali yang keluar dari bibirnya. Hanya air mata yang menjadi saksi bisu seorang Bos Mafia tampak rapuh dan menangis. Dadanya terasa sesak seakan tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. "Aku menunggu mu, sayang."
Kylie terus berada di samping Niesha hingga masuk ke dalam bangunan penjara yang sangat dijaga ketat oleh sipir penjara.
"Mr. Ellor." Ujar kepala sipir penjara menyambut kedatangan orang penting FBI.
"Aku titipkan dia di sini."
"Baik, Mr. Ellor."
"Mari, Mrs. Shasa ikuti saya untuk menaruh barang-barang Anda." Ujar salah satu sipir penjara.
__ADS_1
Niesha menyerahkan semua barang kepada penjaga sipir dan mengganti pakaian tahanan bernomor 2815.
"Kylie." Panggil Niesha saat berada di ruang ganti. Kebetulan Kylie juga berada di dalam ruang ganti.
"Apa, Sha?" Kylie membalikkan badan menghadap Niesha.
"Bisakah kau membantuku untuk menjaga firman hukum milikku?" Jelas Niesha tanpa ada ragu sedikitpun. Niesha sudah tidak peduli lagi jika semuanya terbongkar, karena dirinya yang sekarang sudah tidak lagi terikat dengan FBI.
"Firman hukum?" Tanya balik Kylie sambil mengerutkan keningnya.
Tanpa basa-basi Niesha menyerahkan sebuah dokumen yang berisikan tentang firman hukum yang Niesha miliki. "Aku percaya padamu. Jangan ada orang lain tahu. Hanya dirimu yang aku percaya saat ini. Akan ku jelaskan setelah aku menyelesaikan hukuman ini."
Kylie menatap tidak percaya ke arah Niesha. Rahasia apalagi yang dia simpan. Dulu Marco yang mendadak menjadi suaminya, sekarang Niesha mempunyai firman hukum.
Mendapati Kylie yang diam saja. Niesha pun menepuk pundak Kylie pelan, "Please. Bantu aku untuk terakhir kalinya."
"Baiklah."
"Thanks."
Niesha pun telah keluar dari ruang ganti dan sekarang dirinya berjalan menuju sel yang akan dia tempati. Di dampingi oleh beberapa sipir penjara. Sedangkan orang-orang dari FBI dan Kylie sudah pergi.
...💜💜💜...
Yuk follow IG author : @Vanesaefkm_
__ADS_1
Jangan lupa di masukin ke list baca yah, favorit, like, comment, hadiah, dan vote.ðŸ¤