My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 21


__ADS_3

“Hallo Cantik,”


Refleks Mesya menoleh ke arah belakangnya saat sebuah bisikan mampir di telinganya juga sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Mesya tentu saja panik bukan main dan hendak melayangkan pukulan kalau saja tidak cepat menyadari siapa dalang dari semua itu.


“Ngagetin!” kesal Mesya membalikan tubuhnya agar berhadapan dengan seseorang yang menyapa dan memeluknya itu.


“Kamu kenapa gak bilang aku kalau mau ke sini?” tanyanya tepat di telinga Mesya yang harus membuat dirinya sedikit menunduk.


“Gak niat ke sini sebenarnya, tapi Mina yang ajak jadi, ya udah. Kebetulan aku juga udah lama gak ke sini, sekali-kali refreshing boleh dong?” Mesya mengedipkan sebelah matanya membuat Pria yang berada di depannya itu terkekeh kecil.


Aldrich yang melihat dari seberang sana mengeraskan rahangnya, wajahnya pun sudah memerah dan kepalan tangannya menguat, Aldrich emosi dan juga cemburu.


Dari tempat duduk Aldrich memang terlihat seperti Mesya tengah berciuman dengan laki-laki itu karena posisinya yang memang begitu ambigu dimana Mesya yang bertubuh sedikit pendek terhalang oleh laki-laki tinggi yang menundukkan kepalanya terlihat seperti tengah berciuman walau sebenarnya yang kedua orang itu lakukan saling berbisik.


Dengan langkah cepat Aldrich menghampiri dan langsung menarik laki-laki yang berani melecehkan mantan tunangannya. Satu dua pukulan melayang membuat keadaan di dance ploor menjadi ramai dengan jeritan karena terkejut melihat yang berkelahi.


Mesya yang kaget pun menjerit apa lagi yang menjadi sasaran pukulan adalah laki-laki yang bersamanya yang tak lain adalah Radit. Rahang Mesya semakin mengetat saat tahu bahwa Aldrich lah pelakunya.


“Stop! Aldrich, hentikan!” teriak Mesya menggelegar yang dengan refleks menghentikan pukulan Aldrich yang dilayangkan pada Radit.


“Lo apa-apa sih main hajar gitu aja? Bikin rusuh tahu gak?” sentak Mesya masih dengan suara keras walau musik sudah di matikan karena keributan yang terjadi.

__ADS_1


“Harusnya kamu berterima kasih sama aku, Sya, dia udah lecehin kamu!” balas Aldrich tak kalah berteriak juga. Mata Mesya membulat mendengar kata yang keluar dari mulut pria yang menjadi mantannya itu.


“Apa maksud lo? Siapa yang lecehin gue?” tanya Mesya dengan kening berkerut. Radit yang mendapat pukulan tiba-tiba itu terjatuh dan kini hendak bangkit untuk melihat siapa yang berani memukulnya.


“Ya, cowok brengsek itu lah, siapa lagi?” ucap Aldrich seraya menunjuk Radit yang baru saja berdiri. Laki-laki tampan itu menyeka sudut bibirnya yang terasa perih dan bau anyir. Saat mengetahui bahwa ada setetes darah di sana Radit tersenyum tipis kemudian mendongakkan wajahnya untuk menatap laki-laki yang berani menghajarnya itu.


“Siapa yang lo sebut cowok brengsek? Gue?” tanya Radit dengan suara tenang. Namun terkesan dingin dan datar.


“Iya, lo, siapa lagi? Sembarangan lo sentuh-sentuh cewek orang. Brengsek!” kembali Aldrich hendak melayangkan pukulannya sebelum ucapan Radit membuat kepalan tangan itu berhenti di udara.


“Dia cewek gue.” Masih dengan tenang dan dingin Radit berkata.


“Kenapa, lo gak percaya? Atau mungkin gak terima kalau mantan tunangan lo ini sekarang jadi cewek gue? Kenapa, cemburu lo?”


Aldrich semakin mengetatkan rahangnya, tangannya terkepal kuat sampai jari-jarinya memutih dan siap untuk melayangkan pukulan pada laki-laki di depannya itu, namun sayang Radit ternyata lebih cepat menahan dan sedikit mempelintirkan tangan Aldrich selama beberapa detik kemudian menghempaskannya dengan kuat.


Hampir semua orang yang berada di sana melihat kejadian itu, bahkan banyak yang berbisik-bisik. Radit yang merasa risih pun meminta sang DJ untuk kembali memainkan musiknya dan meminta semua orang untuk kembali bersenang-senang sedangkan Rima dan Mina berdiri di samping Mesya yang sepertinya masih terkejut.


Aldrich memicingkan matanya, menatap laki-laki yang berada di depannya dengan seksama, terasa familiar dengan wajah dingin pria itu sampai beberapa detik kemudian dia teringat acara ulang tahu perusahaan teman bisnisnya beberapa bulan yang lalu. Ya, sekarang Aldrich ingat siapa laki-laki yang mengaku kekasih dari mantan tunangannya itu. Senyum sinis Aldrich berikan kemudian menatap kembali pada laki-laki di depannya.


“Bukannya lo bosnya Mesya?” tanya Aldrich dengan nada suara yang berubah tenang. “Ah apa sekarang kamu bermain dengan atasanmu, sayang? Dan apa kerena dia juga kamu mengakhiri hubungan kita?” lanjut Aldrich menatap pada perempuan yang berada satu langkah di belakang Radit.

__ADS_1


Mesya yang merasa terhina dengan kata ‘bermain’ yang di ucapkan Aldrich maju dua langkah sampai membuat posisinya langsung berhadapan dengan sang mantan tunangan. Entah punya keberanian dari mana karena kini Mesya bisa menatap tepat mata biru itu dengan berani.


“Apakah belum jelas jika hubungan kita berakhir karena diri kamu sendiri? Apa kamu amnesia, Al? Boleh kuingatkan tentang pengkhianatanmu beberapa waktu lalu? Bagaimana dengan wanita yang kau tiduri waktu itu? Apakah dia telah mengandung anakmu? Bukankah saat itu kamu sudah berhasil memasukinya sebelum kalian menyadari keberadaanku?” pertanyaan-pertanyaan itu Mesya lontarkan dengan tenang dan berani, menatap sinis laki-laki yang memucat di tempatnya. Beruntung music tidak terlalu kencang membuat mereka tidak harus berteriak-teriak agar sang lawan bicara mendengar.


“Jangan kamu lupa, Al aku masih dapat mendengar desahan dan erangan kalian saat itu. Jadi, bukankah sudah jelas siapa penyebab hubungan kita berakhir? Jangan mencoba melimpahkan kesalahan padaku, Al, karena di hubungan kita memang kamu yang salah. Dan satu lagi, Radit memang kekasihku dan dia tidak melecehkanku seperti apa yang kamu tuduhkan. Jangan membuat dirimu semakin terlihat bodoh dengan bertindak tanpa tahu apa yang sebenarnya. And see siapa yang akan menanggung malu?”


Setelah mengucapkan itu Mesya pergi dari hadapan Aldrich yang wajahnya semakin memerah. Malu, kesal juga marah. Tidak menyangka bahwa dirinya baru saja mempermalukan dirinya sendiri yang tadi niatnya ingin membela mantan tunangannya dari laki-laki hidung belang. Tapi ternyata ia salah sasaran dan sekarang ia sudah terlanjur malu. Maka dari itu memutuskan untuk pergi, keluar dari club ini karena selain malu juga ia sudah tidak lagi memiliki selera untuk bersenang-senang seperti apa yang diniatkannya tadi.


Di meja bar, Radit sempat melayangkan tatapan tajam dan dinginnya pada Aldrich yang jalan melewatinya sedangkan Mesya memilih untuk membuang muka.


“Kamu sejak awal tahu bahwa si bajingan itu ada di sini?” tanya Radit yang mulai kembali fokus pada sang kekasih. Mendapat anggukan dari wanita yang di cintainya itu membuat tangan Radit mengepal erat.


“Tadi juga sempat hampirin aku dan duduk di sini,” bukan hanya kepalan tapi rahang Radit pun kini ikut mengetat. Sedangkan Mesya masih belum menyadari raut kekasihnya itu dan masih sibuk menatap ke lantai Dance ploor dengan sesekali meneguk minumannya yang tinggal setengah.


“Dia minta maaf …”


“Lalu?” cepat radit memotong ucapan kekasihnya tak sabaran.


“Aku pergi ke sana, susul Rima dan Mina. Gak mendengarkan ucapan Aldrich,” helaan napas lega Radit keluarkan dan wajah tegangnya mulai melunak.


“Lain kali kalau kamu memang kepengen banget main ke sini, bilang sama aku. Biar perginya juga sama aku. Kamu paham kan, Sya?” terdengar nada mengancam dari suara Radit dan itu membuat Mesya mendengus, tapi tidak bisa di bohongi bahwa hatinya menghangat.

__ADS_1


__ADS_2