
Bangun dalam keadaan telanjang memang sudah sering Mesya alami, tapi di barengi dengan rasa ngilu di bagian bawahnya adalah untuk pertama kalinya. Radit semalam benar-benar terus menghajarnya seakan tak akan bertemu dengan hari esok, membuat Mesya tidak dapat berjalan dengan benar, apa lagi di tambah dengan tulang-tulangnya yang seakan remuk.
“Sialan emang kamu, Radit!”
Makian Mesya sejak satu jam lalu, selalu di balas dengan kekehan oleh Radit dan itu membuat Mesya semakin kesal saja di buatnya.
“Makan dulu, Sya, kamu kalau marah-marah terus yang ada malah habis tenaga dan makin lemas,” ucap Radit seraya meletakan nampan berisi roti bakar, telur ceplok, sosis goreng, susu, dan salad buah di pangkuan wanita cantik itu.
“Kalau cemberut gitu kamu malah makin menggemaskan, Sya jadi buat aku pengen kembali nerjang kamu,” Radit, mencium pipi Mesya yang mengembung, bahkan Radit sampai menggigitnya saking gemas pada calon istrinya itu.
“Harusnya juga empat hari lagi,” kata Mesya di tengah kunyahannya.
“Hitung-hitung latihan, Sya, biar nanti pas malam pertama kita, kamu udah kuat lama,” jawabnya tidak merasa bersalah sedikit pun. Mesya enggan menjawab dan hanya mencebikan bibirnya, tidak akan menang meski terus mendebat dengan laki-laki kesayangannya itu yang kini tengah bahagia karena berhasil membobol Mesya sebelum waktunya.
Setelah menyelesaikan sarapannya yang sudah begitu telat, Mesya dan Radit sudah siap dan rapi untuk berangkat ke bandara, menjemput Cherry yang memang datang hari ini. Sebenarnya Mesya malas, tapi Radit tetap memaksa. Laki-laki itu bilang bahwa tidak ingin membuat Mesya kembali salah paham dan berakhir dengan kabur dan membuat pernikahannya terancam batal.
Sesampainya di bandara, Radit terus menggenggam tangan Mesya agar calon istrinya itu tidak tiba-tiba menghilang di saat dirinya celingukan mencari keberadaan Cherry yang katanya sudah mendarat sejak sepuluh menit yang lalu.
Radit semakin cepat menarik Mesya untuk berjalan menghampiri perempuan cantik yang tengah melambaikan tangan di depan sana, dengan senyum mengembang yang membuat perempuan itu terlihat semakin cantik. Mesya yang melihat, berjalan mengikuti Radit dengan ogah-ogahan, jujur saja ia masih merasa cemburu dan minder pada perempuan yang kini berada di depan mereka.
Mesya membuang muka begitu Radit memeluk perempuan cantik itu tanpa melepaskan genggamannya di tangan Mesya. Jika saja laki-laki itu melepaskan maka dengan segera Mesya akan berlari pergi menjauh dari mereka. Entah mengapa Mesya merasa bahwa Cherry adalah ancaman terbesarnya meskipun wanita itu tidak menunjukan peperangan untuk merebut Radit darinya.
“Hallo Mesya,” sapa Cherry dengan senyum ramah. Mesya hanya menjawab dengan senyum yang di paksakan, dan kembali membuang muka. Cherry hanya tersenyum maklum, Radit sudah menceritakan semuanya dan Cherry benar-benar merasa geli pada perempuan yang akan menjadi istri dari sahabatnya itu.
__ADS_1
“Yuk pergi sekarang,” ajak Radit pada wanita cantik di depannya.
“Sebentar, aku masih menunggu seseorang,”
“Siapa?” tanya Radit dengan alis terangkat.
“Ah, itu dia... sini Hon,” teriak Cherry pada laki-laki yang baru saja berjalan menghampiri. “Kenalkan ini Aldrich, tunanganku.”
Mendengar nama itu sukses membuat Mesya menegang di tempatnya, begitupun dengan Radit yang saat ini sudah mengetatkan rahangnya juga cengkramannya pada tangan Mesya. Laki-laki yang di sebut tunangan Cherry pun tak kalah terkejutnya melihat siapa yang ada di depannya, sedangkan Cherry sendiri mengerutkan keningnya bingung.
“Kok pada tegang?” tanya heran Cherry.
“Dia tunangan kamu? Sejak kapan?” Radit bertanya dengan suara yang berubah dingin, membuat Cherry semakin bingung. Mesya sudah merapatkan diri di belakang Radit, rasa takut dan trauma masih dirinya rasakan meskipun kejadian itu sudah lama berlalu.
“Kita cari tempat untuk bicara!” putus Cherry begitu merasa bahwa ini akan menjadi pembicaraan serius.
“Dit,” bisik Mesya begitu pelan, saat Radit mengajaknya melangkah mengikuti Cherry dan Aldrich.
“Jangan takut, sayang, ada aku yang akan menjagamu,” ucap Radit, menangkup wajah Mesya yang terlihat ketakutan, mengusap keringat di pelipis Mesya kemudian melayangkan kecupan di kening calon istrinya itu.
Sebuah café di seberang bandara adalah tempat yang Cherry pilih, tempat yang tidak terlalu ramai memang paling cocok untuk berbicara.
“Ceritakan ada apa di antara kalian,” kata Cherry begitu si pelayan pergi setelah menyajikan pesanan mereka.
__ADS_1
“Kenapa pada diam? Siapa diantara kalian yang akan berbicara?”
Radit menghela napasnya berat, menoleh pada sang tunangan yang masih enggan menatap ke depan. Tangan yang terkait di tangannya terasa dingin dan berkeringat, membuktikan bahwa calon istrinya ketakutan.
“Laki-laki itu dulu tunangan Syasa,” kata Radit membuka suara, tanpa mengalihkan tatapannya dari sang tunangan yang kembali menyembunyikan wajahnya di belakang pundak Radit.
“Maksud kamu, Mesya?” tanya Cherry yang di jawab anggukan oleh Radit.
Sambil memeluk Mesya, Radit menceritakan semua yang terjadi antara Mesya dan Aldrich. Tidak ada sedikit pun yang terlewat bahkan hingga kejadian beberapa waktu lalu yang membuat Mesya ketakutan hingga saat ini.
“Apa itu benar, Al?” tanya Cherry begitu Radit menyelesaikan ceritanya. Aldrich yang sejak tadi terdiam menunduk pun menganggukan kepala, membenarkan semua yang di ceritakan. Cherry menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi, menggelengkan kepalanya beberapa kali karena sulit untuk percaya.
“Aku minta maaf untuk kejadian waktu itu, Sya, saat itu aku benar-benar hilang kendali, maaf, Sya. Maafin untuk semua kesalahan aku,” ucap Aldrich dengan raut menyesal. Mesya menggelengkan kepala dan merengek pada Radit untuk membawanya pulang.
“Sya a--”
“Radit aku mau pulang,” rengek Mesya lagi memotong Aldrich yang kembali membuka suara.
Radit mengangguk menyetujui keinginan tunangannya itu, tapi lebih dulu dirinya menoleh pada Cherry dan bertanya, “mau ikut aku pulang apa bareng dia?”
“Kamu duluan aja, aku masih ingin bicara sama Al,” kata Cherry yang di balas anggukan oleh Radit yang kemudian pergi membawa calon istrinya yang masih dalam keadaan tidak baik.
Radit cukup mengerti dengan keadaan Mesya saat ini. Bertemu dengan masa lalu yang berakhir dengan tidak baik pasti tidak diinginkan siapapun termasuk Mesya yang pernah menerima perlakuan buruk dari mantan tunangannya dulu, dan respon Mesya memang bisa di katakana wajar. Semua perempuan mungkin akan melakukan hal yang sama jika bertemu dengan seseorang yang sudah menyakitinya. Ketakutan.
__ADS_1