
Jam makan siang, Mesya tanpa lebih dulu pamit pada sang kekasih langsung masuk ke dalam lift menuju lantai dasar dimana ketiga temannya menunggu untuk makan siang. Sengaja Mesya meninggalkan ponselnya di meja ruang kerjanya dan hanya membawa dompet. Ia tidak ingin makan siangnya bersama teman-temannya di ganggu oleh Radit yang sudah pasti akan terus menghubunginya.
Di sebuah café yang sedikit lebih jauh dari kantor kini mereka, Mesya Rena, Rini dan Mona duduk di meja yang masih kosong dengan kursi yang pas untuk mereka duduki berempat.
Menyebutkan pesanan masing-masing pada sang pelayang café dan menunggu pesanan datang mereka mengobrol ringan, tertawa dan menikmati waktu senggang mereka di jam istirahat ini sampai sebuah pertanyaan yang Mona lontarkan membuat Mesya tersedak sedangkan kedua orang lainnya menatap penasaran dan menuntut penjelasan.
“Benar lo ada hubungan sama si bos?” Rena mengulang pertanyaan yang tadi sempat di berikan Mona saat tak juga Mesya memberikan jawaban.
“Enggak kok,” kilah Mesya cepat, ketiga orang yang berada di depannya memicing curiga, tidak percaya dengan jawaban yang di berikan Mesya.
“Gue bahkan udah sering banget lihat kalian berduaan, akrab keluar masuk di lift yang sama bahkan gue sampai hapal bagaimana gurat wajah si bos saat berada di samping lo, dia terlihat bahagia walau tidak jarang gue lihat kekesalan di wajah si bos yang di tujukan sama lo, tapi jelas kekesalan itu berbeda dari rasa kesal saat bos berhadapan dengan karyawan lain. Di tambah dengan lo yang kelihatannya gak sama sekali takut atau segan sama si bos tampan itu.” Mona membeberkan semua yang diperhatikannya belakangan ini membuat Mesya tidak lagi bisa mengelak.
“Radit teman sejak kecil gue, rumah kita bersebelahan, sekolah selalu di tempat yang sama dan bahkan ke mana-mana kita selalu bersama,” Mesya menarik kedua sudut bibirnya sampai membentuk sebuah senyuman. Ketiga temannya memperhatikan dan mendengarkan tanpa mau memotong ucapan perempuan cantik itu.
“Saat di bangku SMA dia mengutarakan perasaannya, perasaan yang sama dengan yang gue rasakan, dan sejak saat itu akhirnya gue sama Radit pacaran. Sampai saat lulus dan masuk kuliah kami terpaksa harus berpisah karena Om Tama yang diam-diam mendaftarkan Radit kuliah di luar negeri. Radit mengakhiri hubungan kita tepat beberapa jam sebelum kepergian dia. Kalian pasti tahu bagaimana sedihnya gue saat itu, di tinggalkan pas lagi sayang-sayangnya.” Senyum Mesya perlahan memudar dan di gantikan dengan raut sendu dan matanya memancarkan kesedihan juga luka.
Rena, Rini dan Mona yang merasa iba pun langsung berhambur memeluk temannya itu, walau mereka berteman belum begitu lama tapi satu sama lain sudah menemukan kecocokan juga kenyamanan. Maka dari itu Mesya merasa tidak ada lagi yang harus di tutupi dari ketiga temannya itu.
“Terus hubungan lo sekarang sama Pak boss gimana?” Rini yang kali ini melayangkan tanya. Mesya tersenyum lebar dan itu cukup membuat ketiganya paham tanpa di jelaskan lebih detail.
__ADS_1
“Bersemi kembali!” ketiganya kompak bersuara. Kemudian tertawa bersama begitu juga dengan Mesya yang setelahnya memberikan anggukan, membenarkan tebakan ketiga temannya.
Tak lama pesanan keempatnya datang dan tanpa menunggu lama mereka langsung melahap makanannya berhubung sedari tadi perut mereka sudah berdemo meminta di isi.
“Mesya?”
Merasa namanya di sebutkan Mesya menoleh ke sampingnya di mana asal suara terdengar. Memicingkan mata Mesya menatap heran siapa laki-laki yang kini berjalan mendekat ke arah meja yang dirinya dan ketiga temannya tempati.
“Siapa ya?” dengan kening berkerut Mesya bertanya.
Laki-laki itu mendengus kecil. “Ini gue, Adam temannya Radit.”
Mesya masih terus mengingat, namun sayang ia tidak juga menemukan ingatan tentang laki-laki tampan di depannya itu. Terdengar satu lagi decakan kesal yang keluar dari mulut pemuda itu. “Lo gak ingat?” Mesya menggelengkan kepalanya. “Wajar sih karena kita memang baru bertemu satu kali, itu pun sudah beberapa bulan yang lalu.”
“Penuh.” Jawaban cuek itu di berikan oleh Mona membuat Adam, menoleh pada perempuan cantik berwajah polos namun tidak menghilangkan kesan seksi.
“Gue--”
“Kenap kamu pergi gak kasih tahu aku dulu, ponsel juga malah di tinggal? Sengaja?”
__ADS_1
Adam yang belum sempat menyelesaikan ucapannya langsung menoleh ke arah samping kanannya, mendengus kesal saat tahu bahwa temannya yang membuat ucapannya terpotong. Bukan hanya Mesya yang terkejut dengan suara tiba-tiba itu namun juga yang lainnya pun sama, apalagi café yang berada dalam kondisi ramai pengunjung beruntung hanya mereka berempat yang berasal dari kantor Radit kalau bukan? Bisa-bisa hubungannya tersebar ke penjuru kantor. Jujur saja Mesya belum siap untuk itu.
Rini, Rena dan Mona memandang takjub bosnya yang berani datang dan menegur Mesya langsung di depan bawahannya, laki-laki tampan itu tidak menyembunyikan status mereka dan itu membuat Rena mau pun Rini iri, berbeda dengan Mona yang lebih memilih melanjutkan makannya, bukan karena tidak tertarik tapi alasan utamanya karena ia begitu lapar sedangkan jam makan siang sebentar lagi akan habis. Ia tidak mau menyiksa perut kelaparannya apalagi setelah ini harus kembali kerja di balik meja resepsionis.
“Ish kenapa ke sini sih, Dit!” geram Mesya yang dengan cepat memalingkan wajahnya, melahap makanan yang ada di depannya dengan kasar untuk melampiaskan kekesalannya karena berhasil di ganggu oleh kekasihnya yang saat ini tidak ingin ia temui. Bukan karena sedang marah pada Radit, namun Mesya hanya ingin bersama teman-temannya untuk jam istirahat kali ini, karena sudah lama tidak berkumpul dan makan siang bersama.
“Kenapa aku gak boleh ke sini? Kamu mau ketemuan sama cowok lain? Atau jangan-jangan kamu janjian sama Adam?” tuduhan yang Radit berikan membuat Adam menatap tajam sahabatnya itu begitu juga dengan Mesya yang melakukan hal yang sama.
“Aku tuh pengen makan bareng sam Rena, Riri dan Mona, bukan untuk ketemuan sama pria lain apa lagi janjian sama Adam, orang aku gak kenal sama dia,” Mesya memutarkan bola matanya malas. “Selama ini kan kamu kurung aku terus, jadi aku pengen sahari ini aja makan siang bereng mereka.”
“Ya tapi seengaknya kamu kasih tahu aku dulu dong Sya, jangan buat aku khawatir dengan perginya kamu yang tiba-tiba ini,” ucap Radit yang memang begitu ketara raut khawatirnya.
“Aku gak bilang juga karena tahu kalau kamu gak akan izinin makanya aku langsung pergi dan sengaja tingalin ponsel biar gak kamu teror jam istirahat aku.” Radit berdecak mendengar kejelasan dari kekasihnya itu.
Rena, Rini, Adam dan Mona masih menjadi penonton setia perdebatan antara Radit dan Mesya. Adam menatapnya dengan geli, sedangkan ketiga perempuan lainnya seakan takjub mendapat sifat lain dari bosnya yang terkenal dingin. Mona berhasil menghabiskan makanannya tanpa sisa dan kini ia dengan bebas bisa memperhatikan kedua orang yang tengah memperdebatkan hal sepele dengan tenang karena perutnya sudah terisi penuh.
Berbeda dengan Rini dan Rena yang lebih mementingkan menyaksikan pertunjukan live di depannya dari pada makanan yang sedari tadi berteriak minta di makan.
“Sekarang makannya udah selesai kan? Ayo pulang.” Radit menarik tangan Mesya untuk berdiri dan meyeret perempuan itu keluar dari café tanpa menghiraukan rontaan perempuan cantik itu juga tatapan dari orang-orang.
__ADS_1
“Beruntung banget, Lo Sya dapetin Pak Radit. Andai gue yang ada di posisi itu,” Rini berkata dengan tatapan terus mengikuti punggung Radit yang berjalan menjauh.
“Jangan kebanyakan ngayal lo, Ri jatuhnya sakit, asal lo tahu.” Tegur Rena menepuk pelan pundak sahabatnya itu.