My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 41


__ADS_3

Begitu bangun dari tidurnya, Radit menatap sekeliling mencari keberadaan seseorang yang sejak semalam menemaninya. Wajah Radit berubah panik begitu tidak mendapati keberadaan Mesya disepenjuru kamar juga kamar mandi. Dengan segera Radit berlari menuju lantai bawah, dan mencari ke segala penjuru rumahnya, tapi sosok Mesya tidak juga dirinya temukan. Hanya menu sarapan yang dirinya temukan di atas meja makan.


Kembali naik ke kamar dan mengambil ponsel, Radit segera menghubungi nomor kekasihnya. Panggilan pertama, tidak juga mendapat jawaban, begitu juga dengan panggilan ke dua dan ketiganya. Membuat kecemasan Radit semakin bertambah.


“Hallo, Sya, kamu dimana? Kenapa gak bangunin aku?”


“Aku baru sampai di rumah. Kenapa?” jawab Mesya dari seberang telpon.


Radit menghela napas lega. “Kenapa gak bilang dulu kalau kamu pulang? Kamu bikin aku panik tahu gak?”


“Makan, Dit. Sarapannya udah aku siapin,” ucap Mesya tanpa memedulikan pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan Radit.


“Kamu gak akan pergi lagi ‘kan, Sya?” Radit sama mengabaikan ucapan Mesya yang memintanya makan, karena saat ini yang Radit pikirkan adalah Mesya, ia takut kekasihnya itu kembali pergi.


“Aku gak akan pergi ke mana-mana, Dit, aku hanya akan mandi dan berangkat kerja!” suara jengkel Mesya membuat Radit kembali menghela napas lega dan kemudian terkekeh.


“Syukurlah. Kalau begitu sampai ketemu di kantor, sayang,” ucap Radit kemudian memutuskan sambungan telepon. Bergegas ke kamar mandi untuk bersiap berangkat kerja. Hatinya lebih tenang sekarang dan senyum terus berkembang di bibirnya.


Tidak lupa, Radit memakan sarapan yang di siapkan Mesya terlebih dulu sebelum benar-benar pergi ke kantor.


♥═♥═♥


“Loh, kok udah pada balik? Bukannya satu minggu?” Bara bertanya heran begitu melihat kedatangan Mesya di kantor.


“Urusannya sudah selesai,” bohong Mesya, tersenyum kecil.

__ADS_1


“Kok, gak kelihatan bahagia?”


“Kebahagiaan itu tidak harus selalu di umbar, nanti lo ngiri,” kata Mesya yang kemudian berlalu dari hadapan Bara. Menaiki lift bersama beberapa karyawan lainnya yang menatap ingin tahu padanya, tapi Mesya abaikan.


Sesampainya di ruang kerja, Mesya menjatuhkan diri di kursi, menyandarkan punggung pada kepala kursi dan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Terlalu banyak pikiran membuatnya pusing dan malas beraktivitas.


“Kamu kenapa? Sakit?” suara berat itu membuat Mesya sedikit terkejut dan langsung membuka matanya menoleh pada asal suara.


“Radit?”


“Iya, ini aku. Kamu sakit?”


Mesya dengan cepat menggelengkan kepala. “Aku baik-baik aja,”


“Terus kenapa gak semangat gini? Masih memikirkan aku sama Cherry? Sya, aku sudah bilang bahwa diantara kami tidak ada hubungan apa-apa. Aku sama dia hanya berteman—”


“Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun selain menganggap dia teman, Sya, kenapa kamu sulit sekali untuk percaya. Oke dia memang menemani kesulitanku, dia selalu ada begitu aku membutuhkannya, tapi tidak pernah sekalipun aku berpikir untuk menyukainya!”


“Kamu memang tidak, tapi siapa yang tahu dengan perasaan perempuan itu? Setelah mendengar siapa wanita itu, dan juga kedekatan kamu bersamanya, begitu juga dengan keluarga kamu, aku merasa tidak ada apa-apanya, Dit. Aku merasa kalah sebelum peperangan itu di mulai. Aku memilih mundur.”


Radit menggelengkan kepalanya tak percaya. Tertawa hambar dan kemudian menatap wanita di depannya itu dengan dalam. “Jika pun Cherry suka aku, aku tetap akan memilih kamu, Sya. Karena sejak dulu hingga sekarang hanya kamu yang aku cinta, bukan dia, bukan juga perempuan lain. Lagi pula Cherry sudah memiliki kekasih dan sebentar lagi akan menikah. Jika kamu tidak percaya, silahkan kamu tanya sendiri pada Cherry.”


Mesya masih enggan menatap Radit, walau ucapan laki-laki itu terdengar serius. Ia masih sulit untuk mempercayai.


Helaan terdengar dari mulut Radit, tidak tahu bagaimana lagi caranya menjelaskan pada wanita itu agar kekasihnya itu percaya.

__ADS_1


“Kita kerja dulu sekarang. Masalah ini biar kita bahas begitu pekerjaan selesai.” Setelah mengatakan itu, Radit pergi dari hadapan Mesya, masuk ke dalam ruangannya sendiri. Jam sudah menunjukan pukul delapan, sudah saatnya bekerja, dan mengesampingkan urusan pribadi mereka.


Mesya menyalakan komputer di depannya, mengecek e-mail yang masuk dan mengatur ulang jadwal Radit untuk hari ini dan seterusnya juga mengecek beberapa berkas yang menumpuk di mejanya sebelum ia serahkan kepada sang Bos. Hari ini, Mesya dan Radit yang disibukan dengan banyaknya pekerjaan melupakan sejenak masalah yang sedang menimpa, sampai tidak terasa bahwa waktu begitu cepat berlalu dan hari sudah beranjak malam, begitu Mesya menyelesaikan pekerjaannya bahkan ia sampai lupa untuk sekedar mengisi perutnya di jam istirahat tadi saking sibuknya.


“Belum pulang, Sya?” tanya suara itu, membuat Mesya mendongak.


“Baru mau pulang,” jawabnya kemudian menyelesaikan bebenahnya. Meraih tas tangannya, Mesya bangkit dari duduknya, merapikan pakaian yang sejak pagi ia kenakan, kemudian keluar dari ruangannya berniat untuk pulang, sebelum tangannya di tahan oleh Radit yang sejak tadi berdiri di samping pintu ruangan laki-laki itu.


“Pulang bareng aku,”


“Tapi aku bawa mobil, Dit--"


“Biar supir aku yang ambil nanti,” kata Radit yang tidak ingin menadapat penolakan dalam bentuk apa pun dari kekasihnya.


Merangkul pinggang kekasihnya, Radit membawa Mesya masuk ke dalam lift khusus untuk para petinggi perusahaan, mengabaikan penolakan Mesya.


“Mau makan dimana?” tanya Radit saat mereka masih berada di dalam lift.


“Aku mau pulang, bukan mau makan,” delik Mesya.


“Memangnya gak lapar?” menaikan satu alisnya, Radit bertanya.


“Lapar, tapi gak napsu makan,”


“Paksain, aku gak mau kamu sakit, Sya,” kata Radit yang kemudian membawa kekasihnya itu keluar dari dalam lift. Kantor sudah benar-benar sepi saat ini, tinggal ada mereka berdua dan mungkin bersama beberapa satpam yang jaga.

__ADS_1


Mesya mengikuti langkah Radit dengan pasrah, dan menuruti ketika pria itu menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil. Selama di perjalanan, Mesya tidak sama sekali membuka suara, begitu juga dengan Radit, hanya saja Radit sesekali menoleh pada Mesya yang memilih menatap jendela di sampingnya, menatap ke arah luar dengan tatapan kosong.


Helaan napas berat beberapa kali keluar dari mulut Radit yang kembali memfokuskan diri pada jalanan di depannya, membiarkan Mesya dalam keterdiaman dan ia memikirkan cara untuk membuat kekasihnya itu percaya.


__ADS_2