
Melakukan pekerjaan seperti biasanya, Mesya dan Radit cukup profesional, berlaku selayaknya sekretaris dan bos, meski kenyataan status sepasang kekasih tidak dapat di elakan oleh siapapun yang tahu dengan hubungan mereka.
“Maaf Pak, pukul sepuluh nanti ada meeting dengan Twidnes group dan pukul 15:00 meeting dengan R&S group, ” kata Mesya memberitahukan jadwal Radit yang memang hari ini tidak terlalu padat
“Baik, siapkan berkasnya,” jawab Radit dengan singkat tanpa mengalihkan tatapannya dari berkas yang sedang laki-laki itu baca. Mesya mengangguk kemudian undur diri dari hadapan sang bos.
Pekerjaan menjadi seorang sekretaris memang melelahkan, tidak semenyenangkan seperti yang orang-orang bicarakan tanpa tahu bagaimana pekerjaannya. jangan hanya berpikir bekerja dengan orang ganteng itu menyenangkan karena nyatanya memiliki bos ganteng tidak membuat pekerjaanmu menjadi ringan. Kesibukan selalu ada, dan akan bertambah sampai membuat istirahat terkuras. Gaji seorang sekretaris memang cukup besar, tapi sepadan juga dengan apa yang di kerjakan dan banyaknya pekerjaan itu.
Setengah jam lagi menuju waktu istirahat, Mesya dan Radit sudah kembali ke kantor dengan wajah lelah yang amat ketara.
“Berkas untuk meeting selanjutnya apa sudah di siapkan?” tanya Radit begitu hendak membuka pintu ruangannya.
“Sudah, Pak, sebentar saya ambil dulu.”
Mesya dengan cepat masuk ke dalam ruangannya dan mengambil berkas yang sudah sebelumnya di siapkan, memberikan itu pada Radit yang masih setia menunggu di depan pintu.
♥♥♥
Mesya, Mona, Rini dan Rena, di jam istirahat ini tengah berada di kantin perusahaan, menikmati santap siang, mengisi perut masing-masing yang sudah berdemo. Sejak tadi, Mona tak hentinya menggerutu mengenai pekerjaan barunya sebagai sekretaris dari seorang Bara yang di kenal dengan ke-playboy-annya dan juga senyum yang memikat, tapi mereka semua tidak tahu bahwa laki-laki itu juga memiliki tingkat menyebalkan yang sudah melebihi batas.
“Harusnya lo bersyukur, Mon di jadikan sekretaris oleh pria setampan Pak Bara,” kata Rini di tengah aktivitas makannya.
“Iya, kalau bosnya sekelas Pak Radit, yang pembawaannya kalem gue juga gak masalah, Ri, tapi masalahnya Si Bara sialan itu terlalu menyebalkan untuk gu--”
“Lagi ngomongin saya, heh?”
__ADS_1
Suara tiba-tiba itu membuat Mona menghentikan perkataannya, merutuki diri yang bicara tidak tahu tempat. Ke tiga perempuan lainnya menoleh dan mendapati dua pria tampan yang membuat mereka terpesona, juga menjadi tatapan semua penghuni kantin dan menjadi bahan bisik-bisik mereka.
Radit duduk di samping sang kekasih, mengambil garpu dan ikut memakan spaghetti di piring Mesya, dan kelakuannya itu semakin menjadi perhatian banyak orang dan suara bisik-bisik semakin ramai terdengar, membuat Mesya merutuki kekasihnya itu.
“Pak Radit gak punya uang untuk beli makan?” tanya Rini yang masih memperhatikan cara makan pria tampan itu.
“Punya, kenapa emang?” Radit menjawab seraya menatap karyawannya itu dengan tatapan tajam, membuat Rini menggelengkan kepala pada akhirnya, urung mengajak bosnya itu bercanda.
“Dia ingin terlihat sweet, Ri, makanya memilih makan sepiring berdua,” kata Bara terkekeh pelan.
“Ck, bukan sweet, tapi gak modal!” celetuk Mona yang langsung saja mendapat tatapan tajam dari bosnya itu, tapi Mona tidak sama sekali peduli dan terus melanjutkan makannya.
Semua kembali pada aktivitas makannya masing-masing yang sesekali di selingi dengan obrolan. Namun tak lama obrolan terhenti begitu mendengar ucapan Radit.
Semua yang ada di meja itu melongo tak percaya, dan beberapa orang lain yang duduk berbeda meja sibuk mencuri dengar, terkejut dengan ajakan Radit yang spontan itu.
“Kamu ngajak nikah kayak ngajak aku makan bakso, ringan banget!” cibir Mesya yang kembali melahap makanannya yang hampir habis itu.
“Aku serius loh, Sya ngajakin kamu nikah,” kata Radit menatap serius pada kekasihnya yang malah terlihat biasa saja itu.
“Pak Radit ngelamar, Mesya?” tanya Rena tak percaya, satu anggukan Radit berikan.
“Kok gak ada romantis-romantisnya, Pak?” Mona ikut bertanya.
“Udah pernah saya lakukan dengan romantis, tapi dia tetap tidak menerima, ngabisin uang!” delik Radit pada kekasihnya yang masih saja tak menanggapi.
__ADS_1
“Gimana, Sya, mau nikah sama aku?” tanya Radit mengulang pertanyaannya. Semua yang ada di kantin termasuk orang-orang yang berada di meja yang sama dengan kedua orang yang tengah melakukan lamaran itu menunggu dengan penasaran akan apa yang menjadi jawaban dari Mesya.
“Boleh, minggu depan.” Kata Mesya dengan ringan dan tanpa menatap sang kekasih yang kini sudah membelalakkan matanya tak percaya. Bukan hanya Radit, tapi juga semua orang yang mendengar sama tak percayanya dengan jawaban Mesya yang lebih terdengar seperti lelucon itu
“Kamu serius? Tap—"
“Minggu depan, atau tidak sama sekali!” final Mesya yang kemudian bangkit dari duduknya meninggalkan Radit juga teman-temannya yang tengah melongo.
“Oke kita nikah minggu depan!” teriak Radit semangat saat melihat kekasihnya sudah berada cukup jauh, semua penghuni kantin sontak menoleh dan berbagai tatapan tertuju pada Radit. Sorakan juga pekikan terdengar memenuhi kantin ini, tapi Radit tidak memperdulikan itu karena saat ini ia terlalu bahagia.
“Dit, minggu depan ada proyek besar yang harus di ha--”
“Masa bodo dengan proyek besar, yang penting gue nikah dulu sama, Mesya. Proyek memang gak bisa kita sia-siain, tapi Mesya lebih gak boleh gue sia-siain lagi, cukup dulu gue kehilangan dia. Sekarang dia harus secepatnya jadi milik gue,” ucap Radit panjang lebar, dan suara laki-laki itu cukup kencang sampai orang di kantin dapat mendengar.
Radit tidak peduli tanggapan orang, masa bodo jika tidak ada yang menyukai keputusannya karena baginya Mesya adalah hidupnya, tujuannya, tidak ada yang boleh mencegahnya apa lagi berani menghancurkannya.
Radit berlari mengejar Mesya yang sudah akan masuk ke dalam lift meninggalkan Bara yang masih menganga tak percaya di tempatnya.
Kantin begitu ramai sejak kepergian Radit, yang sejak tadi hanya berupa bisik-bisik, kini semua yang ada di sana berkata dengan terang-terangan. Berbagai komentar saling bersahutan, apa lagi dari para perempuan yang mengidolakan bos tampan mereka, banyak yang mendukung dan tak kalah banyak yang juga tidak setuju, membuat Bara yang merasa panas di kupingnya menggebrak meja dan menyuruh semua orang itu tidak melontarkan komentar-komentar pedas untuk Mesya, apa lagi menjelek-jelekan calon nyonya perusahaan ini.
“Gila-gila, gue masih aja sulit percaya ini,” Rena menggeleng-gelengkan kepala masih menatap ke arah dimana Mesya dan Radit menghilang.
“Gue juga jadi pengen lamaran yang kayak gitu jir, gak lebay, tapi cukup berkesan.” Pekik Rini yang kemudian mendapat toyoran dari Mona yang duduk di sebelahnya.
“Berkesan apanya, yang ada bikin syok!”
__ADS_1