My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Bonus Chapter


__ADS_3

Menghadapi ngidam Mesya nyatanya tidak semudah yang di bayangkan Radit sebelumnya. Ada saja yang membuatnya kadang kesal dan ingin sekali marah, tapi Radit tidak sampai hati untuk melakukan itu. Bagaimanapun itu adalah keinginan anaknya, buah cintanya dan darah dagingnya, sebisa mungkin Radit bertahan untuk bersabar.


Kehamilan Mesya yang semakin membesar tidak sedikitpun mengurangi sikap menyebalkan perempuan itu, dan keinginan yang tak jarang membuat Radit berkali-kali mengelus dada, tapi tentu di balik penderitaannya itu, satu keuntungan dan kesenangan Radit dapatkan mengingat akibat hormon kehamilan Mesya yang meningkat membuat perempuan itu sering kali lebih dulu mengajaknya untuk bercinta. Itu tentu saja kesenangan dan anugrah yang tidak dapat Radit tolak sebagai laki-laki, di tambah dengan perubahan tubuh Mesya akibat kehamilannya yang membuat perempuan cantik itu semakin seksi dan sukses membangkitkan gairah Radit walau Mesya tidak bertelanjang di depannya.


Sama seperti hari-hari sebelumnya, Mesya selalu datang ke kantor sebelum jam makan siang, perempuan yang kini tengah hamil besar itu selalu membawa bekal untuk suaminya membuat laki-laki itu tentu saja senang. Para karyawan yang memang hampir semua tahu siapa Mesya pun kerap kali menyapa atau hanya melayangkan senyum yang selalu Mesya balas dengan ramah.


Pukul 11.45 hari ini, Mesya sudah sampai di lobi kantor, Rini adalah orang yang selalu menyambut kedatangannya karena di perintahkan langsung oleh Radit dan akan mengantarnya langsung menuju ruangan Radit. Rini, sebagai sahabat tentu saja tidak keberatan karena selain bisa sekalian mengobrol ia juga dapat beristirahat lebih awal, di tambah dengan bonus yang setiap bulan mengalir dalam rekeningnya.


Selesai mengantarkan Mesya ke ruangan Radit dan memastikan perempuan itu baik-baik saja, baru lah Rini keluar dan kembali turun untuk melanjutkan waktu istirahatnya yang selalu di habiskan di kantin atau café terdekat dengan teman-temannya yang lain.


Sepeninggal Rini, Mesya hanya duduk bersandar di sofa, menunggu Radit yang masih berada di ruang meeting. Hari-hari Mesya memang selalu seperti ini, tapi tidak sedikitpun dirinya merasa bosan karena setidaknya Radit tidak membatasi geraknya, Mesya masih dapat berkeliaran di mal, atau kantor Radit walau harus di temani seseorang untuk menjaganya.


Tak lama pintu ruangan Radit terbuka dan menampilkan wajah lelah suaminya. Mesya langsung menghampiri dan memberikan senyum terbaiknya, menularkan pada sang suami dan menuntun laki-laki itu untuk duduk di sofa dimana makanan yang dirinya bawa sudah terhidang, mengeluarkan aroma sedap yang akan membuat perut meronta lapar.


“Makan sendiri apa aku suapin?” tanya Mesya pada sang suami yang baru saja selesai menghujaninya dengan kecupan.


“Di suapin kayaknya lebih enak deh,” kata Radit tersenyum manis dan memeluk tubuh istrinya yang tidak lagi ramping seperti dulu. Mesya mengangguk, menyetujui keinginan Radit, dan mulai mengalas nasi ke dalam piring yang sudah dirinya siapkan juga.

__ADS_1


“Anak-anak kita bagaimana kabarnya?” tanya Radit sebelum menerima suapan dari sang istri.


“Anak-anak kita baik, kok, tadi selama perjalanan dari rumah kesini, mereka semakin aktif nendang. Kayaknya senang karena aku ajak ketemu Daddy nya,” jawab Mesya tersenyum lembut dan kembali menyuapi suaminya.


Radit meletakan telapak tangannya di perut buncit itu, menyapa anaknya dengan sebuah elusan dan juga kecupan kecil sampai sebuah tendangan ia rasakan.


“Sakit gak? Ini dia nendangnya kencang loh,” tanya Radit pada sang istri, Radit meringis sendiri membayangkan sakitnya.


Mesya lebih dulu kembali menyuapi suaminya sebelum akhirnya menjawab, “lumayan sakit, tapi itu gak masalah, karena aku suka dengan ini. Itu artinya anak-anak kita sehat dan aktif.”


Melayangkan kecupan di kening Mesya, Radit mengungkapkan rasa terima kasihnya. Ia beruntung menikahi Mesya, dan ia menyesal karena dulu sempat meninggalkan perempuan cantik itu, tapi meski begitu kini Radit sangat amat bahagia karena Tuhan bersedia menyatukan mereka kembali.


“Kenapa memangnya?” balik, Radit bertanya.


“Ishh, Radit kenapa gak jawab langsung aja sih, bikin sebal tahu gak!”


Radit terkekeh geli, kemudian menarik istrinya ke dalam pelukan. “Hari ini gak ada lagi meeting, pekerjaan aku juga gak terlalu banyak, kenapa memangnya? Pengen jalan-jalan? Beli perlengkapan bayi? Atau … pengen di tengokin si kembarnya?”

__ADS_1


Wajah Mesya bukan main merahnya mendengar perkataan sang suami. Meskipun bukan baru pertama kali ini, tapi tetap saja, Mesya masih merasa malu. Salahkan hormon kehamilan yang selalu saja merindukan sentuhan Radit.


Radit terkekeh kecil melihat wajah malu-malu istrinya, Mesya terlihat mengemaskan dan seksi dalam waktu bersamaan, seolah menggoda Radit untuk segera menerkamnya.


Radit lebih dulu bangkit dari duduknya, menghampiri sekretarisnya dan meninggalkan pesan agar tidak mengganggu waktunya, setelah itu kembali masuk dan mengunci pintu.


Mesya yang masih duduk di sofa memperhatikan gerak gerik Radit dengan tatapan kagum, pesona Radit sejak dulu memang tidak pernah bisa di abaikan, dan Mesya semakin merasa panas di sekujur tubuhnya melihat itu saat ini.


Radit yang mengerti dengan tatapan Mesya yang sudah begitu menginginkannya segera menghampiri istrinya itu dan menarik Mesya ke dalam kukungannya, Radit melahap bibir tebal Mesya dan menjelajahi setiap rongganya. Ciuman yang awalnya lembut berubah menuntut dan panas bahkan tangan Radit sudah bergerak nakal meloloskan pakaian yang dikenakan Mesya, begitu juga dengan Mesya yang membuka satu per satu kancing kemeja suaminya.


Tidak ada yang terlewat sedikit pun setiap inci tubuh Mesya yang tidak Radit jelajahi, bercak kemerahan akibat dari ciuman Radit memenuhi tubuh Mesya dan suara desahan terus keluar dari keduanya, beruntung ruangan Radit kedap suara jadi tidak ada siapa pun yang dapat mendengarnya, meskipun Mesya berteriak sekali pun, dan kaca yang semula menjadi pembatas antara ruangannya dengan sekretarisnya sudah di gelapkan, hingga tidak akan ada yang bisa melihat ke dalam.


Aktivitas panas yang dilakukan di atas sofa berpindah ke kamar yang masih berada di ruangan Radit tanpa melepaskan pangutan bibir satu sama lain.


Radit mendudukan Mesya di pangkuannya, masih dalam posisi berciuman, satu tangannya ia gunakan untuk menahan tubuh telanjang Mesya agar tidak terjatuh segangkan satu tangannya lagi di gukanan untuk bermain di gundukan kembar yang berdiri menantang menyentuh dada polosnya.


Satu jam bermain, membuat Mesya dan Radit terkapar lelah di atas tempat tidur dengan posisi saling berpelukan. Keringat masih membanjiri keduanya dan rasa lengket membuat tak nyaman, tapi tenaga yang terkuras akibat pergulatannya dengan sang suami membuat Mesya malas untuk beranjak mandi, ia memilih tertidur memeluk suaminya.

__ADS_1


“I love you, sayang. Terima kasih untuk kebagiaannya selama ini. Radit berkata dan mengecup kening istrinya begitu dalam sebelum akhirnya memejamkan mata, menyusul sang istri menuju alam mimpi.


__ADS_2