
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, Mesya dan Radit menjalani hari dengan bahagia dan penuh tawa meskipun tidak jarang juga perdebatan kerap kali terjadi. Kehidupan baru yang mereka bina mengajarkan banyak arti untuk masing-masing, mendewasakan diri dan belajar untuk saling mengerti dan memahami.
Sejak kecil bersama, berteman hingga menjalin kasih, meskipun pada akhirnya di tinggalkan, membuat Mesya sedikit banyak bersyukur karena tidak terlalu mengejutkannya di saat sikap dan sifat lain Radit yang baru di tunjukan kepadanya.
Mesya begitu bahagia dengan pernikahannya ini, dan mungkin jika dulu laki-laki itu tidak pergi meninggalkannya, sudah dapat Mesya pastikan bahwa ia adalah perempuan yang paling bahagia sepanjang masa. Namun, takdir tidak pernah dapat dirubah, begitu juga waktu yang tidak dapat di putar kembali, tapi meski begitu Mesya amat bersyukur karena Tuhan masih bersedia kembali mempertemukan hingga menyatukan seperti sekarang ini. Jodoh memang tidak akan kemana, dan jodoh tidak akan pernah tertukar.
Empat tahun berpisah dan meninggalkan kekecewaan, tidak membuat Mesya lupa akan kenangan indah yang dulu sempat mereka lalui bersama. Sebenarnya dulu Mesya tidak pernah memikirkan atau bahkan membayangkan cintanya akan kembali bersemi, tapi coba lihat? Justru takdir lah yang menyatukan kami kembali.
Mesya menatap laki-laki di sampingnya yang masih saja memejamkan matanya, padahal hari mulai beranjak siang. Menguar lembut rambut sang suami yang sudah mulai panjang, Mesya kemudian memberikan kecupan di kening Radit cukup lama dan dalam sampai ia merasakan bahwa mata suaminya itu terbuka.
“Tidurnya keganggu, ya?” Mesya menarik kepalanya untuk menjauh dari wajah tampan itu.
Radit menarik tubuh istrinya kedalam pelukan, memberikan kecupan di bibir wanita itu berkali kali. “Gak keganggu kok, aku emang udah bangun dari tadi, tapi malas buka mata karena ada yang terus natap aku tanpa kedip,” kata Radit dengan senyum terukir di sudut bibirnya.
Mesya membalas senyum Radit. “Aku suka lihat wajah damai kamu, dan aku ingin melihat itu sepanjang hidupku.”
“Manis banget sih ucapannya, bikin aku meleleh tahu gak! Ich liebe dich,” ucap Radit kemudian melayangkan kecupan di bibir dan kening Mesya.
“Itu artinya apa?” Mesya yang tidak mengerti pun bertanya.
“Masa gak tahu?”
“Aku memang gak tahu Radit, bahasa yang aku ngerti cuma Indonesia dan Inggris,”
“Ya udah, kamu translate aja,” kata Radit dengan cuek membuat Mesya memajukan bibirnya beberapa senti.
“Artinya apa Radit?” rengek Mesya memukul pelan dada suaminya.
__ADS_1
“I love you,” satu kecupan kembali mendarat di kening Mesya.
“Itu Artinya?” Radit mengangguk membenarkan.
“I love you too,” balas Mesya cepat dan mengecup pipi Radit singkat.
♥♥♥
Sejak tadi tidak hentinya Mesya muntah-muntah, membuat Radit sebagai suami tentu saja khawatir dangan keadaan sang istri.
“Kita ke dokter ya, Sya, aku takut kamu kenapa-napa” kata Radit begitu mendudukan istrinya di tepi ranjang. Raut khawatirnya tidak sama sekali bisa ia hilangkan, apa lagi melihat wajah pucat istrinya.
“Aku gak apa-apa, Dit, ini--”
“Gak apa-apa gimana sih, Sya udah jelas ka—"
“Mual dan muntah itu wajar untuk ibu hamil muda kayak aku, jadi gak perlu khawatir,” Mesya dengan cepat memotong ucapan suaminya, kesal juga karena laki-laki itu tadi sempat memotong perkataannya.
“Sejak kapan?” Radit menatap Mesya dan benda tersebut bergantian.
“Aku baru pakai itu dua hari yang lalu.”
“Kok, gak ngasih tahu aku?”
“Barusan aku kasih tahu,” kata Mesya dengan polos. Radit yang gemas pada sang istri langsung saja melayangkan cubitan di pipi tirus itu kemudian menghujani wajah cantik Mesya dengan kecupan-kecupan kecil tidak lupa mengucapkan kata terima kasih dan mengutarakan rasa bahagianya.
“Kita cek ke dokter nanti, aku ingin tahu berapa usia calon anak kita,” ucap Radit seraya mengelus lembut permukaan perut Mesya yang masih rata. “Ah, dan kamu harus resign hari ini juga. Gak ada penolakan!” tegas Radit memperingati, begitu melihat Mesya yang hendak melayangkan protes.
__ADS_1
Mendengus kesal, Mesya akhirnya menganggu. Dengan berat hati, ia harus merelakan pekerjaannya, menjadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya dan siap-siap untuk menjalani hari membosankannya setelah ini.
“Tapi aku masih boleh datang ke kantor, kan?”
“Boleh, tapi tidak untuk bekerja. Kamu hanya boleh duduk nunggu aku,” lagi-lagi Mesya mengangguk dengan pasrah.
“Ingat, Sya, aku melakukan ini bukan maksud untuk mengekang, tapi aku hanya tidak ingin membuat kamu lelah, aku tidak ingin kamu kenapa-napa, apa lagi dalam keadaan hamil seperti ini. Kamu istri aku, tanggung jawab aku. Jadi, tolong pahami aku,” pinta Radit memohon.
Mesya yang akhirnya memahami kekhawatiran sang suami mengangguk patuh dan berhambur memeluk Radit.
“Tapi kamu harus nyari sekretaris laki-laki ya, buat gantiin aku. Aku gak mau nanti kamu di godain,” kata Mesya dengan suara manja dan merajuk.
“Iya, sayang masalah itu sudah aku pikirkan kok, lagi pula aku juga gak mau bikin kamu salam paham, apalagi sampai kebakaran jenggot karena cemburu.” Radit menjawil hidung mancung Mesya, kemudian melayangkan kecupan di kening, mata pipi dan berakhir di bibir tebal itu, ********** sebentar setelah itu kembali melepaskan dan mengajak istrinya untuk bersiap pergi ke rumah sakit.
Mendapati kehamilan seorang istri tentu saja menjadi kebahagiaan untuk para suami yang memang sudah mendambakan seorang malaikat kecil yang akan menyempurnakan pernikahannya, keluarga kecilnya dan seseorang yang kelak akan menjadi penerusnya. Radit tidak bisa menjabarkan kebahagiaannya begitu dokter mengatakan bahwa usia kandungan Mesya berusia empat minggu dan di perkirakan bahwa anak mereka kembar.
Tidak hentinya Mesya dan Radit merapalkan doa dan rasa syukur kepada Tuhan yang sudah memberikan keduanya kebahagiaan yang tidak terkira ini.
“Kamu siap kan untuk menghadapi ngidam aku nanti?” Mesya bertanya begitu mereka baru saja keluar dari ruangan dokter yang memeriksanya.
“Aku siap, sayang. Yang penting kamu dan anak-anak aku baik-baik saja, apa pun yang kamu mau akan aku berikan,”
“Benar?” Radit mengangguk yakin.
“Termasuk kalau aku minta nikah lagi?”
Dengan cepat Radit menggelengkan kepalanya, tatapannya berubah tajam dan raut wajahnya terlihat marah. Mesya terkekeh geli melihat itu.
__ADS_1
“Awas aja kalau berani minta nikah lagi, aku yang sendiri yang akan menyingkirkan laki-laki itu.”
Tawa Mesya semakin kencang, puas telah menjahili suaminya. Wajah kesal Radit terlihat lucu di mata Mesya.