
Radit membawa Mesya menuju rumah perempuan itu, ia tidak tahu bahwa di sana tengah kedatangan tamu yang tidak lain adalah Ayah Mesya beserta istri baru dan anaknya. Adik Mesya pun ikut dan menjerit begitu melihat kacaunya Mesya saat ini yang berada dalam pangkuan Radit. Dan gara-gara jeritan Nasya juga lah semua orang yang berada di rumah itu menghampiri Radit yang masih berada di ambang pintu.
“Dit, Mesya kenapa?” Rasti langsung bertanya, wajahnya khawatir saat melihat keadaan Mesya dengan pipi merah dan sudut bibir yang sobek.
“Nanti Radit ceritain Bunda, sekarang izinin Radit bawa Mesya ke kamarnya dulu,” ucapnya yang dengan cepat di angguki oleh Rasti.
“Nas, Abang minta tolong ambilin es batu dan handuk kecil untuk kompres ya,” pinta Radit sebelum akhirnya melangkah menaiki satu per satu undakan tangga.
Rama membuka kan pintu kamar Mesya lebar-lebar agar memudahkan Radit untuk masuk. Membaringkan perempuan cantik yang tengah memejamkan matanya itu di atas tempat tidur dan menyelimutinya hingga batas dada. Tak lama Nasya datang dan membawa apa yang di minta Radit tadi, Rasti mengambilnya dan duduk di sisi tempat tidur Mesya sedangkan Rama, Nasya dan Nilam duduk di karpet bulu tebal tidak jauh dari ranjang Mesya.
Setelah beberapa saat memperhatikan kekasihnya barulah Radit ikut duduk bersama ketiga orang itu sedangkan Rasti di biarkan untuk mengompres lebam di bibir dan pipi anaknya.
“Bisa di jelaskan kenapa anak Om seperti ini, Radit?” suara tegas itu menginterupsi Radit agar mulai bercerita.
Menghela napas terlebih dulu kemudian Radit mulai menceritakan kejadian yang menimpa Mesya semua dari awal sampai akhir seperti apa yang di ceritakan Mesya tadi saat di mobil.
Rahang Rama mengeras dan wajahnya memerah, semua orang di sana tahu bahwa laki-laki setengah baya itu tengah emosi. Karena reaksi itu pun tidak jauh berbeda dengan apa yang Radit lakukan tadi bahkan saking emosinya, Radit hampir saja membunuh Aldrich kalau saja tidak Bara yang menghentikannya saat asisten pribadinya itu melihat bahwa Aldrich sudah terkulai tidak berdaya di tanah.
“Brengsek!” geram Rama saat Radit baru saja menyelesaikan ceritanya. Nilam yang berada di sisi suaminya mengelus lembut punggung Rama untuk menenangkan suaminya itu. Sedangkan Rasti sudah menangis di tempatnya begitu juga dengan Nasya.
“Abang kok bisa tahu kalau kak Mesya ada di sana?” Nasya yang sejak tadi diam mulai membuka suara.
__ADS_1
“Ya Abang tahu karena Bunda bilang, Syasa belum pulang jadi besar kemungkinan bahwa dia ada di kantor. Untung aja Abang datang ke parkiran untuk melihat mobil Syasa masih terparkir di sana atau tidak,” jelas Radit.
“Kok Abang bisa tahu tempat kerja Kakak?” lagi Nasya melayangkan pertanyaan.
“Karena Syasa kerja sama Abang, Nas. Dia sekretaris Abang.” jawab Radit disertai kekehan geli saat melihat wajah terkejut adik dari kekasihnya itu.
“Kok, Nasya gak tahu? Memang sejak kapan Abang pulang? Kakak gak pernah cerita perasaan?” bertubi-tubi Nasya melayangkan tanya dan itu membuat Rasti, Nilam juga Rama menggelengkan kepalanya.
“Abang pulang udah satu tahun deh kayaknya.”
“Dih jahat banget, Nasya gak di kasih tahu,” gadis berusia 18 tahun itu cemberut, melipat tangannya di dada dan bibirnya membentuk kerucut membuat semua yang ada di sana tertawa geli.
Obrolan berlanjut seputar Radit, kepergiannya sampai kepulangannya. Di tambah soal bisnis yang hanya Rama dan Radit yang paham. Radit bahagia bisa merasakan moment ini lagi dimana ia mengobrol hangat bersama keluarga Mesya mekipun kini sudah bertambah dengan adanya Nilam yang merupakan istri baru Rama.
“Minum,”
Suara pelan dan serak itu sukses membuat semua orang yang ada di sana menoleh. Di ranjangnya Mesya sudah membuka mata, Radit bangkit dari duduknya mengambil gelas berisi air putih dan duduk di sisi ranjang Mesya, membantu perempuan cantik itu untuk bangun dan meneguk air minumnya.
“Sakit?” tanya Radit saat mendengar ringisan kecil saat bibir Mesya menyentuh pinggiran gelas. Mesya mengangguk sebagai jawaban.
Mesya menatap sekeliling, baru sadar bahwa dirinya ada di kamarnya sendiri. Melihat ibunya yang berdiri di samping Radit, Mesya mengembangkan senyum dan merentangkan tangannya, paham bahwa anaknya meminta di peluk Rasti mendekat sedangkan Radit bergegas untuk memberi ruang pada Ibu dan anak itu.
__ADS_1
Menangis memang yang sedang Mesya lakukan saat ini dalam pelukan sang Ibu. Hanya tangisan yang seolah mengutarakan ketakutan Mesya setelah kejadian tadi yang menimpanya. Mungkin siapa pun akan merasa takut apa lagi Mesya yang sejak dulu selalu di perlakukan baik oleh Aldrich laki-laki yang baru di ketahui seberapa brengseknya dia, yang sayangnya adalah mantan tunangannya dulu.
Nasya ikut ke dalam pelukan ibu dan kakaknya itu, ikut menangis karena bagaimanapun kesakitan yang Mesya rasakan merupakan kesakitannya juga. Rama terharu melihat pemandangan di depannya karena tidak dapat hatinya pungkiri bahwa dulu juga sempat merasakan kebahagiaan diantara istri dan anaknya itu. Menoleh pada wanita di sampingnya Rama tersenyum dan merangkul Nilam kemudian mengecup keningnya penuh sayang.
“Sudah baikan?” Rama bertanya seraya menghampiri anak pertamanya itu diikuti Nilan disisinya sedangkan Rasti dan Nasya mundur untuk memberi mereka ruang. Mesya mengangguk sebagai jawaban. Membalas pelukan sang Ayah yang memang ia rindukan walau rasa kecewa akibat perceraian kedua orang tuanya masih tidak dapat Mesya hilangkan.
Nilam mengelus lembut rambut anak tirinya dengan sayang, memberi sekedar ketenangan walau ia tahu bahwa gadis itu tidak menyukainya tapi Nilam percaya bahwa suatu saat nanti rasa sayangnya akan gadis itu rasakan. Mesya hanya butuh waktu untuk menerimanya, dan Nilam yakin bahwa saat itu akan datang.
Mendengar bahwa anak tirinya mendapat musibah kekerasan atas mantan tunangan yang dulu sempat Nilam kagumi itu membuat ia sendiri merasakan terluka sekaligus bersyukur karena dengan adanya kejadian ini membuat semua orang yang menyayangi Mesya termasuk dirinya tahu bahwa laki-laki bernama Aldrich itu tidak baik.
“Kakak istirahat ya, sayang. Jangan pikirkan kejadian tadi, Ayah tahu kakak wanita yang kuat,” Rama berucap lembut pada putri pertamanya. Mengecup dalam kening Mesya kemudian membiarkan anaknya itu kembali berbaring. Nilam pun memberikan kecupan pada kening Mesya mengelus lembut kepala gadis itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, di susul oleh Rasti juga Nasya sebelum mereka semua keluar dari kamar itu meninggalkan Radit dan Mesya berdua.
“Aku takut Dit,” ucap Mesya pelan, air matanya mengalir tanpa di minta. Sejujurnya sedari tadi Mesya ingin menumpahkannya dan mengadukan rasa takutnya tapi, Mesya tidak ingin membuat orang tuanya khawatir.
“Jangan takut, sayang aku janji akan selalu melindungimu.” Jawab Radit seraya memeluk tubuh gemetar kekasihnya.
“Aku gak nyangka kalau Aldrich akan melakukan hal itu, karena yang aku tahu Aldrich adalah pria baik yang menghormati perempuan. Tapi aku gak nyangka selama ini dia ….”
“Shutt. Semua orang bisa berubah, Sya. Dan mungkin juga dia memang Pandai menyembunyikan sikap aslinya.” Kata Radit sambil menepuk-nepuk pelan punggung Mesya, menenangkan wanita itu agar berhenti dari tangisnya.
“Jangan pernah tinggalkan aku lagi. Dit,” ucap Mesya.
__ADS_1
“Gak akan, Sya aku janji.”