
Menjelang pagi dimana penghuni rumah masih tertidur nyenyak, Mesya sudah siap untuk pergi, beruntung kemarin ia belum sempat memindahkan pakaiannya ke dalam lemari, jadi hanya tinggal kembali memasukan pakaiannya yang kemari ia pakai dan setelah itu meninggalkan pesan yang ia simpan di atas meja riasnya. Pesan permintaan maaf untuk kedua orang tua Radit yang membuatnya tidak sopan karena pamit dengan cara seperti ini.
Setelah kembali menutup pintu, Mesya sekali lagi menoleh ke arah rumah yang sehari kemarin ia tinggali sebelum akhirnya keluar karena taksi yang di pesannya sudah menunggu. Kepergiannya memang sudah Mesya rencanakan sejak semalam bahkan ia pun sudah memesan tiket sejak semalam. Meskipun pesawat yang akan mengantarnya berangkat pukul delapan pagi, tapi ia sengaja pergi lebih pagi karena yakin jika siang, Radit tidak akan mengizinkan walau Mesya memberikan alasan apa pun.
Tidak ada kata yang Mesya keluarkan sepanjang perjalanan hingga sampai di bandara bahkan berada dalam pesawat. Ponselnya sengaja ia matikan karena Mesya benar-benar tidak ingin ada siapapun yang mengganggu perjalanannya kali ini. Ia hanya ingin menenangkan diri untuk beberapa saat sebelum nanti kembali pulang ke tanah air.
♥♥♥
Di kediaman orang tua Radit, Frita sudah sibuk berkutat dengan alat-alat dapur untuk menyiapkan sarapan. Tak lama Tama menyusul dan langsung duduk di kursi santai taman belakang sambil menikmati secangkir teh dan membaca Koran di tab-nya. Jam masih menunjukan pukul 9 waktu jerman. Masih cukup pagi dan matahari baru saja naik membuat hawa dingin menjadi hangat.
Begitu makanan sudah siap di meja makan, Radit turun dengan wajah segar habis mandi. Melangkah menuju lemari es dan mengambil sebotol air mineral dingin yang langsung diteguknya hingga habis setengah. Radit kemudian duduk di kursi makan dan mengambil selembar roti tawar yang kemudian dirinya olesi dengan nutela.
“Mesya belum bangun, Ma?” tanya Radit begitu mengunyah gigitan pertamanya pada roti lapis yang di buatnya itu.
“Belum deh kayaknya, dari tadi Mama belum lihat dia keluar.” Jawab Prita yang tengah menikmati sandwich buatannya itu.
“Kamu bangunin sana, suruh sarapan,” titah Tama yang di angguki Radit setelahnya. Hendak melangkah menuju kamar yang di tempati Mesya, suara riang Cherry terdengar dan wanita cantik itu masuk memeluk tubuh Radit dan memberikan kecupan singkat di pipinya.
__ADS_1
“Selamat pagi Radit!” sapanya ceria kemudian beralih pada Tama dan Frita, memberikan kecupan singkat di pipi masing-masing kedua paruh baya itu kemudian ikut duduk dan langsung menyambar sandwich yang berada di atas meja. Radit hanya menggelengkan kepala kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar tamu.
Semalam Radit tidak berhasil membujuk kekasihnya itu untuk pindah ke kamarnya, dengan alasan sudah nyaman di kamar itu. Mesya pun tidak mengizinkan Radit untuk tidur dengannya dengan alasan ia ingin sendiri. Radit yang paham dengan itu hanya pasrah dan membiarkan Mesya menenangkan diri dulu, karena ia tahu kekasihnya itu tengah merasa marah dan mungkin kecewa padanya. Meskipun Mesya tidak mengatakan secara langsung, tapi dengan diamnya wanita itu cukup membuat Radit tahu apa yang tengah di rasakan kekasihnya.
Mengetuk pintu beberapa kali Radit lakukan seraya memanggil penghuni kamar itu, tapi tidak juga ada sahutan lantas Radit menekan tuas pintu dan ia dapat tersenyum lega begitu tahu bahwa pintunya tidak di kunci seperti semalam.
Radit masuk dan melihat ranjang sudah dalam keadaan rapi, tapi keberadaan Mesya tidak dirinya temukan sampai akhirnya Radit membuka pintu kamar mandi dengan senyum jahil yang terukir mengira bahwa sang kekasih ada di dalam sana, tapi lagi-lagi ia tidak menemukan keberadaan Mesya membuat senyumnya kembali pudar dan niat jahilnya hilang seketika di gantikan dengan rasa panik.
Radit kembali keluar dari kamar mandi dan saat akan melangkah menuju jendela yang semalam menjadi tempat Mesya berdiam matanya menemukan sesuatu yang tergeletak di atas meja rias. Cepat Radit mengambilnya dan membacanya begitu ia ketahui bahwa itu adalah sebuah surat.
“Sial!” kesalnya seraya meremas kertas dan melemparkannya ke lantai.
“Kak Radit kenapa?” Cherry yang menyusul laki-laki itu ke kamarnya bertanya begitu melihat wajah frustasi Radit.
“Dia pergi.” Lesu Radit berucap.
“Ck! Sei kein dummer Mann! Wenn er rennt, suchen sie danach. Dumm!” (ck! Jangan jadi pria bodoh! Kalau dia lari ya kamu cari. Bodoh!) kesal Cherry yang melihat Radit malah duduk seraya menundukkan kepala dengan wajah lesu, seperti orang idiot yang pasrah.
__ADS_1
“Aku gak tahu dia pergi ke mana, Cher! Ponselnya gak bisa di hubungi.”
“Cari ke bandara siapa tahu dia masih di sana.”
Radit tanpa menjawab sama sekali langsung meraih dompet dan juga kunci mobilnya, berlari keluar dari kamar menuruti tangga dengan langkah panjangnya, melewati begitu saja kedua orang tuanya yang bertanya.
Beruntung mobil yang dulu selalu dirinya pakai masih bagus dan bisa ia lajukan dengan cepat membelah jalanan menuju bandara dengan harapan bahwa pesawat yang akan membawa kekasihnya kembali ke tanah air belum berangkat.
Setelah memarkir mobilnya, Radit berlari masuk menengok kanan kiri mencari Mesya, bahkan ia sampai tidak peduli meski banyak orang yang dirinya tabrak sampai mendapat makian. Radit bertanya pada pihak informasi. Namun sayang apa yang diharapkannya harus pupus begitu saja.
Menyugar rambutnya dengan kasar Radit dengan cepat kembali untuk pulang, tidak memungkinkan juga untuk dirinya kembali ke tanah air hari ini karena penerbangan selanjutnya akan berangkat pada malam hari maka dari itu Radit memutuskan untuk kembali ke rumah.
“Kenapa malah pergi sih, Sya!” kesal Radit menjambak rambutnya sendiri.
Memarkir sembarangan mobilnya di garasi rumah orang tuanya, Radit bergegas masuk ke dalam rumah dan naik ke kamarnya berusaha berkali-kali menghubungi ponsel Mesya yang ia tahu pasti tidak aktif, tapi tidak membuat Radit menyerah, mulai dari mengirim pesan, mengirim e-mail dan juga panggilan yang tidak hentinya Radit lakukan berharap ada saja satu panggilan yang berhasil masuk meski mustahil.
Entah untuk ke berapa kalinya Radit menoleh pada jam dinding yang tertempel berharap waktu berjalan cepat agar ia bisa secepatnya menyusul Mesya yang ia yakini bahwa kekasihnya itu pulang ke tanah air karena Radit tahu gadis itu tidak akan mungkin pergi kemanapun karena Rasti adalah satu-satunya orang yang selalu Mesya jadikan tempat berkeluh kesah dan mengadu.
__ADS_1
“Aish, kenapa waktu begitu lambat sekali hari ini!”