
Beberapa hari hanya berdiam diri di rumah membuat Mesya bosan maka dari itu hari ini ia memutuskan untuk kembali masuk kerja meskipun Radit masih belum mengizinkannya karena khawatir akan kondisinya, padahal Mesya sendiri merasa baik-baik saja saat ini.
Pukul tujuh tepat Mesya sudah berada di kantor duduk di kursi kerjanya dengan tatapan fokus pada layar komputer di depannya. Kerjaannya menumpuk dan ia benar-benar tidak bisa membiarkan ini.
“Rajin sekali sekretarisku ini.”
Suara dari belakang sana membuat Mesya terkejut dan refleks menoleh. “Ngagetin tahu gak!”
Kembali menoleh pada layar di depannya, tangan Mesya sudah sibuk menari di atas keyboard computer mengabaikan Radit yang masih berdiri di sana. Bukan bermaksud tidak sopan pada atasannya itu tapi pekerjaannya saat ini lebih penting apa lagi jadwal Radit yang harus mulai ia atur ulang karena ada beberapa jadwal pertemuan yang tabrakan.
“Sya, ini belum waktunya bekerja. Masih ada waktu sekitar dua puluh menit lagi,” ucap Radit yang sama sekali tidak Mesya hiraukan. Menghela napas pelan laki-laki itu berjalan mendekati sekretaris yang merangkap sebagai kekasihnya, memutar kursi yang di duduki Mesya agar menghadapnya kemudian mendaratkan kecupan pada bibir perempuan itu kilat.
“Kerjaan aku banyak, Dit!”
“Nanti aku bantu selesaikan, sekarang kita makan dulu. Bunda bilang kamu gak sarapan tadi di rumah dan buru-buru berangkat ke sini, kenapa gak tunggu aku jemput?”
“Nunggu kamu kelamaan.” Jawab Mesya ketus.
__ADS_1
Radit menarik tangan kekasihnya itu untuk bangkit dan membawanya masuk ke dalam lift tanpa mengucapkan apa-apa sampai di kantin perusahaan dan Radit meminta untuk Mesya duduk di sana sedangkan laki-laki itu pergi menuju tempat pemesanan.
Lumayan banyak juga karyawan lain yang ada di kantin entah itu untuk sarapan atau hanya untuk sekedar menikmati secangkir kopi sambil mengobrol dengan teman-temannya. Mesya merasa risi sebenarnya apa lagi terdengar bisikan-bisikan yang mempertanyakan tentang hubungan dirinya dengan Radit yang semakin hari terlihat semakin dekat.
Pandangan orang-orang tentu saja tidak semuanya buruk, tidak juga baik karena tidak jarang Mesya mendengar sindiran-sindiran pedas yang terdengar oleh inderanya salah satunya dari kaum yang sepertinya masuk pada jajaran pengagum Radit. Memang bukan rahasia lagi bahwa banyak karyawan perempuan yang mengincar Radit bahkan ada juga yang terang-terangan menunjukan rasa sukanya.
Tidak lama Radit kembali dengan nampan berisi dua mangkuk bubur ayam lengkap dengan sate usus dan juga teh hangat. Mesya yang semula tidak sama sekali merasakan lapar tiba-tiba perutnya berbunyi saat bau harum khas makanan itu menyeruak masuk ke dalam inderanya.
“Terima kasih Pak Radit,” ucap Mesya saat mangkuk bubur itu sudah Radit letakan di depannya. Masa bodo dengan tatapan orang-orang di sana karena sekarang yang Mesya pedulikan adalah perutnya yang meronta minta di isi.
Radit yang melihat cara makan kekasih juga sekretarisnya itu hanya menggeleng kepala. Sudah biasa memang, tapi tetap saja melihat lahapnya wanita itu makan membuat Radit kagum. Sejak kecil dulu cara makan wanita itu tidak pernah berubah, bahkan meskipun saat ini sudah menjelma menjadi wanita cantik yang anggun tapi cara makannya tidak seanggun penampilannya.
“Ya sudah habiskan, karena setelah ini kamu harus menyiapkan ruangan untuk aku meeting dengan para pemegang saham.”
Acungan jempol Mesya berikan dan kembali melahap bubur di depannya hingga bersih tidak tersisa, menerbitkan senyum di sudut bibir Radit.
“Sya, minggu depan kita ke orang tuaku ya, Papa semalam telpon katanya Mama sakit.”
__ADS_1
Mesya yang baru saja selesai meneguk air minumnya menoleh pada laki-laki yang berada di depannya itu, dapat ia lihat sorot sedih tergambar jelas di kedua matanya membuat Mesya tidak kuasa untuk menolak.
“Kenapa gak pergi besok atau sekarang aja?”
“Pengennya, tapi seminggu ini jadwal kita padat Sya, dan tidak bisa di tunda.” Jawab Radit.
“Ah iya, benar juga!” Mesya menepuk jidatnya karena telah melupakan pekerjaannya yang bahkan sekarang saja sudah menumpuk.
Setelah bubur di mangkuk Radit habis, Mesya mengajak bosnya itu untuk kembali ke ruangan mereka masing-masing karena jam pun sudah menunjukan pukul 07:45, kantin berangsur sepi ditinggalkan oleh orang-orang yang sudah harus bergegas menuju ruangannya dan mulai bekerja.
Mesya dan Radit berjalan beriringan sambil membahas beberapa hal soal pekerjaan. Beberapa orang berada di belakang juga di depan tidak jauh dari mereka yang sama-sama akan menuju lift. Tidak sedikit dari mereka menyapa langsung Radit dan Mesya yang di balas dengan seulas senyum sebelum akhirnya masuk ke dalam kotak besi yang berbeda dengan karyawan lainnya.
Cup.
Cup.
Cup.
__ADS_1
“Sejak tadi aku pengen banget cium kamu, tahu gak,” ucap Radit setelah melayangkan kecupan di mata, pipi juga bibir Mesya membuat wanita itu memutarkan bola matanya malas, selalu saja kekasihnya itu seperti ini jika sudah tinggal hanya mereka berdua.