
Satu jam kemudian Mesya sampai di depan bar dan langsung masuk mencari keberadaan sahabatnya juga Radit yang menjadi tujuannya datang ke tempat ini. Mata Mesya membelalak begitu melihat di ujung sofa sana, kekasihnya yang mabuk itu tengah di kelilingi beberapa orang perempuan. Radit memang tidak menanggapi, tapi laki-laki itu pun tidak juga merasa risi meskipun perempuan-perempuan sialan itu menggerayangi tubuh Radit.
Mesya yang geram pun langsung berjalan cepat menghampiri mereka, amarahnya memuncak, kecemburuannya tak lagi bisa di tahan dan rasa kesalnya bertambah. Radit adalah miliknya, dan ia jelas tidak sudi jika ada perempuan lain yang menyentuh miliknya.
“Enyah kalian semua!” kata Mesya dengan geram. Menyingkirkan tangan-tangan nakal wanita murahan itu dengan kasar.
“Maksud lo apa ganggu kesenangan kita?” kata seorang perempuan diantara ke empat wanita lainnya, berdiri menantang pada Mesya yang tiba-tiba datang.
“Lo mau senang-senang silahkan, tapi jangan sama cowok gue!” sentak Mesya tak suka.
“Maksud lo dia?” tunjuk perempuan itu pada Radit. “Dia datang kesini sendirian, dan lagi pula dia gak merasa terganggu dengan keberadaan gue dan teman-teman gue. Asal lo tahu, kita sudah dua jam menemaninya, tiba-tiba lo datang ngaku sebagai ceweknya? Haha, mimpi lo!” wanita itu mendorong Mesya, sampai membuatnya mundur beberapa langkah. Kemarahan Mesya benar-benar naik sekarang, dengan kasar ia kembali mendorong perempuan itu hingga terjatuh di sofa menabrak dua teman lainnya. Menarik Radit yang hendak kembali menegak minuman di depannya, menyingkirkan tangan dua wanita lainnya yang masih berada di tangan Radit.
“Radit kita pulang!”
Radit yang sudah begitu mabuk masih tidak menurut ajakan Mesya apa lagi ketika kesenangannya di ganggu, laki-laki itu malah menarik balik Mesya sampai membuat tubuh kecil Mesya tersentak dan mendarat di pangkuan Radit.
“Jangan marah lagi, Sya,” ucapnya lirih, memeluk erat Mesya dengan erat. Mesya yang merasa tidak nyaman pun terus berontak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Radit.
“Lepas, Radit ayo pulang!”
“Jangan pergi dari aku lagi, Sya aku mohon,” racaunya yang malah semakin erat memeluk Mesya.
__ADS_1
“Pulang atau hubungan kita berakhir di sini?” ucap tajam Mesya penuh ancaman. Radit yang seolah tersadar, langsung menatap wajah perempuan dalam pelukannya lekat-lekat, takut bahwa ia salah mengira. Namun wanita di depannya memang benar-benar Mesya.
“Kamu masih ingin disini?” Mesya mengulang pertanyaannya begitu tidak ada juga jawaban yang laki-laki itu berikan. Radit hanya diam menatapnya. “Oke kalau begitu biar aku pulang sendiri.”
Mesya hendak bangkit untuk pergi, tapi tarikan Radit membuatnya kembali terjatuh pada pangkuan laki-laki itu. Radit menyusupkan wajahnya pada ceruk leher Mesya dan tangannya memeluk erat tubuh ramping itu.
“Jangan pergi lagi, Sya. Maaf jika memang aku sudah salah, tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku bisa gila jika benar-benar jauh dari kamu. Aku mohon, Sya, aku mohon menikahlah denganku. Cherry hanya temanku--”
“Kita pulang.” Mesya dengan cepat bangkit dan menarik Radit keluar dari tempat itu, tidak perduli bahwa kekasihnya masih hendak berbicara.
Membukakan pintu penumpang, Mesya sedikit mendorong Radit agar masuk, tubuh sempoyongan Radit yang membuatnya sedikit kesusahan apa lagi dengan bobot tubuh yang jauh berbeda dengan Mesya membuatnya kewalahan. Radit memang masih sedikit sadar, tapi tetap saja tubuhnya bisa kapan saja oleng. Setelah memasangkan sabuk pengaman, Mesya menutup pintu mobilnya kemudian bejalan memutar menuju bagian kemudi, melajukan mobilnya meninggalkan parkiran klub.
“Sya,” panggil Radit yang lagi-lagi di abaikan wanita itu.
“Nih minum,” menerima air mineral yang di berikan sang kekasih, Radit kemudian meminumnya dan kembali masuk ke dalam mobil menyandarkan kepalanya dan memijat pangkal hidungnya, untuk sedikit mengurangi rasa pusing yang menyerang.
Mesya kembali melajukan mobilnya, sampai kurang tiga puluh menit kemudian ia sampai di kediaman Radit. Dengan di bantu pak satpam, Mesya membawa Radit yang masih lemas menuju kamar pria itu.
“Terima kasih pak,” ucap Mesya sebelum laki-laki setengah baya itu keluar dari kamar Radit.
“Ngerepotin aja!” dengus Mesya yang berusaha membaringkan kekasihnya di ranjang besar milik pria itu. Membuka sepatu yang masih Radit kenakan kemudian Mesya keluar dari kamar tersebut tanpa mengucapkan apa-apa, dan itu membuat Radit panik. Memanggil perempuan itu pun percuma karena suaranya enggan keluar, dan malah semakin sakit saat dirinya paksakan.
__ADS_1
Dengan sempoyongan, Radit keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga sedikit kesusahan, bahkan beberapa kali hampir membuatnya terjatuh jika saja tidak berpegangan pada pembatas tangga. Radit tidak ingin kekasihnya pergi lagi, maka sebisa mungkin saat ini juga ia akan mengejar perempuan tercintanya itu, agar tetap tinggal.
“Kamu mau ke mana, Radit?”
Menoleh pada arah suara, Radit menghela napas lega, begitu mendapati kekasihnya yang berjalan menghampiri, dengan nampan berisi segelas susu yang masih mengepul.
“Aku kira kamu pergi,”
“Jangan konyol!”
Meminta Radit untuk duduk di undakan tangga terakhir itu, Mesya kemudian memberikan segelas susu hangat pada kekasihnya agar laki-laki itu segera meminumnya, tapi Radit malah terdiam dan menatap gelas itu tanpa minat.
“Boleh minum susu yang langsung dari sumbernya gak?” tanya laki-laki itu menoleh pada Mesya.
“Kamu mau minum susu langsung dari sumbernya?” Mesya bertanya untuk memastikan. Radit mengangguk dengan semangat.
“Emang kamu tahu kandang sapinya ada dimana?”
“Ngapain kamu tanya kandang sapi?” heran Radit menaikan sebelah alisnya.
“Lah, kamu sendiri yang barusan bilang mau minum dari sumbernya? Besok aja lah, Dit, sekarang kamu minum itu dulu aja. Sekarang udah malam, lagi pula mana ada peternakan sapi yang masih buka? Kamu kalau mabuk emang suka aneh-aneh.”
__ADS_1
Radit melongo mendengar itu. Apa benar kekasihnya sepolos ini? Menggelengkan kepala, Radit memilih meneguk susu yang di berikan Mesya, jika saja rasa pusing dan berat di kepalanya tidak tiba-tiba menyerang, sudah dapat di pastikan bahwa Radit akan langsung menarik wanita itu dan menunjukkan mana sumber yang dirinya maksud dan ia inginkan.