
Mesya tentu meminta izin lebih dulu pada Rasti beberapa hari yang lalu sebelum keberangkatannya hari ini bersama Radit untuk menjenguk orang tua pria itu di Jerman dan Radit sendiri pun secara personal meminta izin juga kepada Rasti karena bagaimanapun yang dirinya ajak merupakan anak orang.
“Tolong jaga Syasa ya, Dit, dan jangan lupa sampaikan salam Bunda pada Papa dan Mama mu,” pesan Rasti yang kemudian di angguki Radit.
Mesya memeluk erat tubuh ibunya dan meminta doa untuk kelancaran dan keselamatannya, meskipun bukan untuk pertama kalinya Mesya melakukan perjalanan jauh dan meninggalkan ibunya tapi tetap saja Mesya merasa berat walau pergi hanya untuk beberapa hari.
Kali ini Mesya dan Radit pergi dengan diantar oleh Bara juga Mona yang selalu di minta laki-laki itu untuk mengekor. Mesya kadang geli sendiri melihat kedua orang itu yang terlihat seperti musuh bebuyutan dari pada seorang partner kerja. Selalu ada saja percekcokan yang sudah jelas selalu di buat-buat oleh Bara. Kalau Radit bilang itu cara Bara mencari perhatian pada Mona yang sudah terbukti sulit di buat melayang.
“Lo jangan lama-lama di sana ya, Sya, gue gak yakin kuat bareng tuh orang, sumpah!” rengek Mona seraya memberikan delikan pada laki-laki yang duduk di sampingnya, di kursi kemudi.
“Gak yakin kuat nahan pesona saya, Mon?” goda Bara mengedipkan sebelah matanya sekilas sebelum kemudian kembali memfokuskan diri ke jalanan.
“Gak yakin kuat nahan emosi untuk tendang Anda!” ketus Mona yang di balas kekehan Bara.
Radit dan Mesya yang menyaksikan dari kursi penumpang belakang hanya menggelengkan kepala dengan perdebatan kedua orang di depannya. Dalam hati Mesya berdoa bahwa playboy brengsek bernama Bara itu akan takluk di tangan Mona, dan menjadikan mereka pasangan yang mencintai di kemudian hari.
“Silahkan turun, Tuan, Nyonya kita sudah sampai di bandara,” ucap Bara mempersilahkan dengan sopan namun raut wajahnya terlihat malas dan enggan.
“Gak sekalian lo bukain pintu buat gue, Bar?”
“Ck! Manja banget lo setan, keluar sendiri sono!”
“Awas lo, gue potong beneran gaji lo, Bar!”
“Ngancemnya potong gaji mulu, gue bobol juga ATM lo, biar tahu rasa.” Bara memutar bola matanya malas, sedangkan Radit mendengus kesal kemudian turun dari mobil, di ikuti Bara setelahnya, Mona dan Mesya menggelengkan kepala seraya berdecak tak habis pikir dengan kelakuan dua pria dewasa itu sebelum kemudian menyusul turun.
“Jangan lupa oleh-olehnya buat gue, Sya. Buat Rena sana Rini juga.”
__ADS_1
“Gue belum aja naik pesawat udah di ingetin oleh-oleh.”
Radit menarik koper kecil miliknya juga milik Mesya, menghampiri kekasihnya itu kemudian mengajak untuk masuk saat di lihatnya jam di pergelangan tangan sudah waktunya untuk menaiki pesawat. Singkat melakukan pelukan dengan Mona, Mesya bergegas pergi menyusul Radit yang jalan lebih dulu.
Duduk senyaman mungkin dalam kursi pesawat, Radit tidak juga melepaskan tautan tangannya dari jari-jari lentik Mesya, sesekali mengecupinya dan senyum terus tersungging, membuat Mesya kadang merasa risi dan takut.
“Kamu udah siap ‘kan nikah sama aku?” tanya Radit saat pesawat yang mereka naiki sudah berada di atas awan.
“Kamu serius mau nikahin aku?”
“Menurutmu?” bukannya menjawab Radit justru malah balik bertanya, membuat Mesya kesal sendiri.
“Ini kamu lagi lamar aku?” tanya Mesya dengan kedua alis yang di naikan.
“Enggak, aku cuma tanya kesiapan kamu. Kalau memang kamu siap, sepulang dari rumah orang tuaku, aku akan lamar kamu langsung pada Ayah dan Bunda kamu.” Jawab Radit dengan yakin.
“Apa orang tua kamu akan menyetujui ini?”
“Jadi…?” tanya Radit menaikan sebelah alisnya, menatap tepat pada kedua mata almon itu dengan serius dan sungguh-sungguh membuat Mesya salah tingkah.
“Jadi apa?”
“Aku tahu kamu mengerti maksud aku, Sya! Jadi, mau atau tidak menjadi istriku?” dengan nada kesal juga gemas Radit kembali bertanya.
“Kalau tidak?” Mesya memiringkan wajahnya, dengan senyum tipis di sudut bibirnya menggoda Radit yang sudah kesal.
“Maka aku akan memaksa!”
__ADS_1
“Ck, dasar tukang paksa.” Mesya memutarkan bola matanya malas lalu menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi pesawat.
“Mesya, kamu belum jawab. Mau apa tidak?” Mesya yang tidak juga memberi jawaban membuat Radit kesal dan ingin sekali melempar kekasihnya itu ke tempat tidur jika saja saat ini mereka tidak di dalam pesawat.
“Bukannya kalau aku menolak pun kamu akan tetap memaksa? Jadi untuk apa aku memberi jawaban? Iya atau tidak pun kamu tetap akan menikahiku. Bukankah begitu tuan Radit?”
“Ah benar juga.” Seringai Radit lalu melayangkan kecupan kilat pada bibir tebal Mesya yang sungguh membuatnya candu.
Enam belas jam dalam perjalanan membuat Mesya cukup lelah dan pusing, berbeda dengan Radit yang memang sudah terbiasa bepergian jauh seperti ini bahkan lebih jauh pun pernah Radit tempuh, membuatnya biasa saja dengan perjalanannya ini.
Saat sampai di bandara hamburg internasional, hari nyatanya sudah malam sedangkan perjalanan menuju rumah orang tuanya masih cukup jauh. Radit tidak tega jika harus membawa Mesya malam ini juga, maka dari itu ia lebih memilik untuk menyewa kamar hotel untuk mereka berdua, dan akan melanjutkan perjalanan di keesokan harinya.
“Malam ini nginep di hotel dulu ya, Sya,”
Mesya hanya menjawab dengan anggukan saja, karena dirinya saat ini benar-benar dalam keadaan lelah dan pusing. Yang Mesya inginkan saat ini adalah cepat beristirahat.
Selesai memesan kamar untuk mereka berdua di hotel yang tidak terlalu jauh dari bandara, Radit segera membawa kekasihnya itu masuk agar Mesya pun cepat beristirahat. Setelah membuka pintu kamar yang di sewanya, Radit meminta Mesya untuk mandi terlebih dulu karena bagaimanapun tidak akan nyenyak jika tidur dalam keadaan lengket keringat.
Mesya tidak banyak membantah, ia langsung melaksanakan apa yang di minta kekasihnya itu. Mesya sebenarnya ingin mengagumi kamar hotel ini, tapi apalah daya kepalanya tidak lagi bisa di ajak kompromi, tubuhnya juga begitu lelah saat ini, maka ketika selesai membersihkan diri Mesya langsung naik ke atas tempat tidur hanya menggunakan jubah mandi yang di sediakan pihak hotel.
Membaringkan tubuhnya dan menarik selimut Mesya langsung memejamkan matanya mengabaikan Radit yang masih menatapnya di sisi kasur sebelahnya.
“Benar-banar lelah ternyata, hm.”
Radit berjalan mendekat ke arah Mesya, menunduk dan mengecup singkat kening kekasihnya kemudian membenarkan letak selimut yang di gunakan Mesya hingga menutupi batas leher perempuan cantik yang dicintainya, setelah itu barulah Radit melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Radit sengaja tidak menutup gorden jendela besar ini yang langsung menampilkan pemandangan indah malam kota jerman. Radit ikut membaringkan tubuhnya di sisi sebelah Mesya yang masih kosong.
__ADS_1
Lampu utama sudah Radit matikan, menyisakan lampu tidur yang berdiri di sisi kanan tempat tidurnya membuat pencahayaan menjadi temaram dan tentu saja membuat pemandangan di luar sana terlihat lebih indah. Sayang, Mesya sudah tidur membuat Radit tidak terlalu bisa menikmati keindahan ini, karena bagi Radit apa pun keindahannya, seberapapun indahnya itu tetap kalah jika di bandingkan dengan pujaan hatinya. Betapa ia sangat mencintai kekasihnya, cinta pertamanya dan akan ia pastikan bahwa Mesya juga lah yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya, yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya dan menemani sisa hidupnya di dunia ini.
“Ich liebe dich, liebe dich so sehr. Un werde dich für immer lieben.” Ucap Radit dalam bahasa jerman, kemudian mengecup kening Mesya dan meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.