
Menyiapkan sarapan dan keperluan Radit setiap pagi sudah menjadi keharusan dan kesenangan tersendiri bagi Mesya yang begitu mencintai suaminya itu. Meski lelah bekerja dari pagi hingga sore di kantor sebagai sekretaris Radit dan aktivitas malam yang tidak pernah selesai satu dua jam, tapi Mesya senang melakukan semua itu untuk suaminya dan berharap bahwa selamanya hanya dirinya yang akan menyiapkan segala kebutuhan Radit.
Menjadi seorang istri memang tidak seburuk yang dirinya bayangkan dulu, tapi meski begitu Mesya tetap saja merasa takut akan hubungannya dengan Radit di kemudian hari, karena tidak jarang bayangan akan perpisahan kedua orang tuanya hinggap menjadi ketakutannya sendiri yang sesekali memposisikan dirinya berada di masa seperti itu. Tapi Mesya tidak pernah hentinya berdoa bahwa apa yang dulu menimpa orang tuanya tidak terjadi pada rumah tangganya.
═══
Di jam makan siang, Mesya masuk ke dalam ruangan Radit mengajak suaminya itu untuk makan di luar. Memang Radit tidak menolak, tapi jelas ia menyesal kenapa tidak makan dengan sahabat-sahabatnya saja, jika tahu bahwa makan siang kali ini di lakukan bersama Cherry juga laki-laki yang tidak sama sekali ingin dirinya temui.
Aldrich, laki-laki itu juga berada di meja yang sama dengannya dan entah kenapa ini bisa terjadi. Mesya benar-benar kehilangan napsu makannya saat itu.
Beberapa waktu lalu, selesai pernikahan mereka berlangsung, Aldrich dan Cherry memang sempat menemui mereka di rumah dengan tujuan permintaan maaf laki-laki itu juga menceritakan asal muasal bagaimana Cherry bisa menjadi tunangan dari laki-laki yang jelas hingga saat ini belum bisa Mesya maafkan atas tindakannya dulu.
Mesya baru tahu bahwa semenjak keluar dari penjara, Aldrich pindah ke bali dan bertemu dengan Cherry di sana saat perempuan cantik yang sejak awal Mesya cemburui itu liburan bersama teman-temannya. Takdir memang tidak pernah bisa di tebak, begitupun dengan jodoh dan kehidupan masing-masing di masa yang akan datang.
Saat Aldrich mengutarakan kata maafnya waktu itu, jelas Mesya enggan untuk memaafkan, tapi bagaimanapun ia tidak ingin di ganggu oleh laki-laki itu lagi jadi, terpaksa ia memaafkan apa lagi melihat raut penyesalan di mata laki-laki itu. Tapi meskipun begitu, Mesya tentu tidak bisa melupakan kejadian dulu, dan itu pula alasan mengapa dirinya merasa badbood bertemu dengan mantan tunangannya.
Sepanjang waktu makan siang hanya Cherry, Radit dan Aldrich yang banyak bicara, sedangkan Mesya memilih untuk diam dan makan makanannya meskipun sesekali menjawab jika ada yang bertanya. Radit yang paham dengan istrinya itu memilih untuk segera pamit selesai mengetahui tujuan Cherry mengajaknya bertemu yang tak lain adalah soal kepulangan gadis itu juga pernikahan yang akan segera di selenggarakan oleh Aldrich dan Cherry.
Mesya sempat terkejut mendengarnya, tapi kemudian masa bodo dengan itu dan mengucapkan kata selamat dan mendoakan atas kelancaran menuju pernikahan sahabat dari suaminya itu. Tidak lupa, Mesya pun melontarkan sindiran yang di tujukan langsung untuk Aldrich agar dia tidak lagi menjadi laki-laki berengsek seperti dulu.
“Kamu masih marah sama mantan kamu itu, Sya?” tanya Radit begitu mereka keluar dari restoran.
“Apa menurut kamu perlakuannya dulu mudah aku maafkan?” Mesya menoleh pada sang suami, menatapnya dengan tajam seolah memberi tahu laki-laki itu bahwa dirinya jelas masih menyimpan kemarahan untuk laki-laki yang dulu sempat ingin dirinya pilih menjadi pelabuhan terakhir.
“Oke. Gak usah bahas dia lagi.” Putus Radit, membuka pintu mobil untuk istrinya kemudian ia menyusul masuk.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai kembali di kantor, karena jarak dari restoran yang memang tidak terlalu jauh. Mesya berjalan beriringan dengan Radit sambil mengobrolkan pekerjaan, itu memang yang selalu keduanya lakukan jika berada di lingkungan tempat kerja.
__ADS_1
“Pengantin baru harusnya bahas bulan madu dan calon anak, bukan malah pekerjaan, ck!”
Mesya dan Radit langsung menoleh kebelakang dimana Bara dan Mona berdiri. Radit melayangkan tatapan tajam dan dingin pada sahabat sekaligus bawahannya itu, tapi tidak sama sekali Bara hiraukan.
“Gimana, Sya udah isi belum?” tanya Bara, menaik turunkan satu alisnya.
“Udah gue isi barusan, Bar,” kata Mesya dengan polosnya.
“Isi bayi maksud gue,” Bara memutar bola matanya jengah.
“Lo sendiri udah berhasil bikin cewek-cewek lo hamil?” Mesya malah justru melayangkan tanya balik, dan itu sukses membuat Bara berdecak tak suka.
“Lo di tanya malah balik nanya, sebel gue! Lo kan jelas udah nikah sedangkan gue--”
“Tapi lo yang lebih sering nanam benih sejak dulu, masa belum panen.” Mona dan Mesya terkekeh puas melihat wajah masam Bara atas perkataan yang Radit layangkan.
☺☺☺
Mesya memilih pulang lebih dulu ke rumah dengan di antar supir pribadi Radit. Sebagai istri tentu ia ingin menyiapkan makan malam untuk suaminya juga menyambut kepulangan sang suami. Maka dari itu, selesai membersihkan diri, Mesya langsung turun ke dapur untuk memasak kesukaan Radit.
Sambil bersenandung, Mesya memotong sayuran, bawang, daging dan bahan lainnya. Mencuci hingga mengolahnya tidak sedetik pun Mesya melunturkan senyumnya. Beruntung dulu sempat belajar masak meskipun alasan pertamanya bukan karena Radit, tapi Mesya bersyukur karena Radit lah yang akhirnya menjadi laki-laki yang akan selalu merasakan masakannya.
Pukul 18.30 Mesya menyelesaikan masakannya dan tinggal menunggu suaminya pulang dari kantor. Tak lama berada di ruang tengah, menonton televisi, Mesya dapat mendengar suara deru mobil yang masuk, dan ia sudah dapat memastikan siapa yang datang.
Dengan segera ia bangkit dari rebahannya dan berlari kecil menuju pintu utama, menyambut kepulangan Radit yang sudah dirinya tunggu. Membuka pintu, Mesya di kejutkan dengan keberadaan Radit dengan sebuket mawar merah di tangan laki-laki itu, dan jangan lupakan juga senyum manis dan tatapan cinta di mata laki-laki itu.
Mesya langsung saja berhambur memeluk suaminya, memberikan kecupan di rahang Radit mengutarakan rasa terima kasihnya.
__ADS_1
“Gimana, suka?” tanya Radit begitu pelukan mereka terlepas. Dengan cepat Mesya mengangguk dan menghirup wangi dari mawar tersebut.
“Masuk yuk, aku udah siapin makan malam untuk kita,” kata Mesya menggandeng tangan Radit, membawa laki-laki itu masuk.
“Tapi aku mandi dulu, ya?”
“Aku juga udah siapin air hangatnya untuk kamu,” kata Mesya dengan senyum terukir, begitu manis dan itu sukses membuat Radit tidak tahan untuk mengecup bibir dan seluruh wajah istrinya.
“Senang deh di sambut gini sama istri aku ini, berhenti kerja ya, sayang, biar bisa setiap hari sambut aku seperti ini.”
Mesya memutar bola matanya malas, bosan dengan Radit yang selalu memintanya untuk berhenti bekerja.
“Kamu gak suka aku kerja di kantor kamu?”
“Bukan gitu sayang ak—"
“Mau ganti sekretaris yang lebih cantik dari aku?” tuduh Mesya yang dengan cepat mendapat sentilan di keningnya.
“Aku gak mau kamu kecapean, sayang. Lagi pula aku selalu gak tahan kalau lihat kamu berkeliaran di depan aku, tapi gak bisa aku sentuh. Masa kamu tega sama aku,” Radit cemberut selesai mengucapkan itu. Mesya terkekeh geli mendengar itu. Memang benar, akibat keinginan yang selalu profesional di tempat kerja membuat mereka tidak bisa berlaku sebagaimana pasangan suami istri, dan itu menjadi siksaan bagi Radit yang selalu menginginkan istrinya.
“Sabar ya, sayang, nanti kalau aku hamil baru aku resign dari kantor,” kata Mesya yang merasa tidak tega juga terhadap suaminya itu.
“Benar?” Radit memastikan. Satu anggukan Mesya berikan dan itu menerbitkan kembali senyum di bibir tipis Radit.
“Kalau gitu aku mandi dulu, makan dan setelah itu bikin bayi,” ucap Radit dengan semangat, melenggang masuk ke kamar mandi setelah memberikan satu kecupan di bibir tebal istrinya. Mesya yang hendak protes terpaksa urung karena suaminya itu lebih dulu masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.
“Giliran bikin anak aja … ck, mimpi apa gue punya laki model gini.”
__ADS_1