
Mesya mengikuti langkah kaki Radit dengan kesal dan menggerutu dalam hati. menyumpah serapahi kekasihnya itu yang seenaknya saja menyeretnya pergi padahal makanan yang ia habiskan belum dia bayar. Alamat ketiga temannya itu ngomel nanti.
“Masuk!”
Tanpa membantah Mesya masuk ke dalam mobil Radit yang pintunya di buka kan oleh pria tercintanya itu. beberapa detik kemudian kekasihnya itu sudah duduk di balik kemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir.
“Kita gak balik ke kantor?” Mesya bertanya saat menyadari bahwa jalan yang laki-laki itu ambil bukan arah menuju tempatnya bekerja. Hanya deheman yang menjadi jawaban dan itu membuat Mesya kembali menggerutu dalam hati.
“Tas sama Ponsel aku kan masih di kan--"
“Tuh di jok belakang,” kata Radit memotong ucapan Mesya. Perempuan cantik yang masih menekuk mukanya itu menoleh ke belakang, dan benar saja bahwa tasnya sudah duduk manis di jok belakang. Tidak ada lagi yang bisa Mesya perdebatkan dengan laki-laki di sampingnya akhirnya ia memilih diam dan menyandarkan kepalanya pada jendela.
“Turun!”
Mesya mendengus namun tetap mengikuti yang di perintahkan kekasihnya. Ia menatap sekitar dan ternyata tengah berada di restoran yang sama sekali belum pernah dirinya kunjungi. Mesya menerima uluran tangan Radit yang langsung membawanya melangkah masuk ke dalam restoran bintang lima itu.
“Ngapain ke sini, Dit?” pertanyaan konyol yang bahkan anak usia tiga tahun saja bisa menjawabnya.
“Mau mandi, Sya.”
“Dimana-mana yang namanya ke restoran itu untuk makan bukan mandi,”
“Nah itu kamu tahu.” Jawaban singkat yang Radit berikan membuat Mesya mendengus kesal.
“Kalau bukan karena gue masih cinta mana mau gue balikan sama cowok yang tingkat menyebalkannya tidak juga berkurang dari dulu. Andai ada cowok lain yang lebih gue cinta udah pasti gue tendang Si Radit ke dunia lain.”
__ADS_1
Entah gerutuan Mesya yang kekencangan atau karena pendengaran Radit yang begitu tajam karena setelahnya laki-laki itu melayangkan tatapan tajam. “Ngomong apa kamu barusan?”
Dengan cepat Mesya menggelengkan kepala. “Aku gak ngomong apa-apa kok. Yuk cepetan ah aku lapar nih.”
Mesya menarik tangan Radit masuk ke dalam dan duduk di meja yang sudah lebih dulu di pesan oleh Radit. Itu yang membuat Mesya heran, kapan laki-laki itu melakukan reservasi?
“Fusilli kan?” dengan cepat Mesya mengangguk. Tidak menyangkan bahwa kekasihnya yang dulu pernah pergi itu masih mengingat makanan kesukaannya.
Selesai mencatat pesanan Mesya dan Radit si pelayan pamit undur diri. Sedangkan Mesya menatap sekeliling restoran yang cukup ramai pengunjung yang dapat Mesya tebak hanya kalangan atas saja yang ada di tempat ini terlihat dari pakaian dan juga cara mengobrol orang-orang yang berada di tempat ini. Anggun dan seolah tidak perduli dengan keadaan sekeliling berbeda jika berada di café atau restoran-restoran lain di bawahnya, pasti ada saja terdengar gelak tawa yang sama sekali jauh dari kata Anggun.
“Kenapa ajak aku ke sini?” Mesya bertanya saat sudah puas menatap sekelilingnya.
“Pengan aja sih, kenapa emang? Kamu gak suka?”
Cepat Mesya menggelengkan kepala. “Suka kok.”
Selesai menyantap makanan penutup, Radit mengajak kekasihnya itu untuk pulang kerumah Mesya tanpa kembali ke kantor karena pekerjaan memang tidak terlalu banyak hari ini. Selama dua hari ini memang Mesya menginap di rumah Radit karena Rasti tengah perjalanan bisnis ke luar negeri untuk beberapa minggu ini dan mempercayakan Mesya pada Radit agar ia jaga.
Radit mengikuti Mesya masuk ke dalam rumah menghempaskan tubuh lelahnya ke sofa dan melepas dasi juga jas yang di kenakannya sedari pagi tadi sedangkan Mesya melanjutkan langkahnya menuju dapur membuatkan minum untuk dirinya dan juga Radit.
Mesya ikut duduk di samping kekasihnya setelah meletakan air mineral dingin di meja. Radit langsung menjatuhkan kepalnya di pundak sempit Mesya dan memeluk kekasihnya itu dari samping.
“Sya, nikah yuk.”
Mesya jelas terkejut mendengar ajakan kekasihnya itu.
__ADS_1
“Ni-nikah?”
Radit mengangguk, mendongakkan kepalanya melihat wajah Mesya yang terlihat terkejut. “Kamu gak mau nikah sama aku?”
“Ya mau, tapi apa harus secepat ini? Kita baru memulai hubungan ini kembali, Dit apa gak bisa kita jalani seperti ini dulu? Kembali saling mengenal satu sama lain.”
Entah kenapa Radit merasa bahwa Mesya tidak benar-benar mencintainya karena kenyataan dirinya selalu di tolak ketika melayangkan ajakan untuk menikah, selalu ada keraguan dan juga pasti saja kekasihnya itu menghindar jika sudah membahas masalah pernikahan padahal Radit benar-benar ingin menjadikan Mesya sebagai istrinya.
“Boleh aku tahu alasan sebenarnya kenapa kamu selalu menolak aku ajak menikah?” Radit melepaskan pelukannya, menatap serius wanita di depannya.
“Dit, aku gak nolak!”
“Ya, tapi kamu selalu menghindar. Apa yang menjadi alasannya, Sya? Apa aku gak cukup baik untuk kamu? Ok aku akui itu, aku memang bukan laki-laki baik, tapi itu dulu Sya, karena sekarang aku ingin menjadi laki-laki yang baik untuk kamu maka dari itu aku ingin menikahi kamu …”
“Bukan itu alasannya, Dit. Aku hanya belum siap untuk menikah,”
“Kenapa? Apa karena kamu masih mencintai mantan tunangan kamu itu?” cepat Mesya menggeleng, menolak membenarkan apa yang di katakana kekasihnya.
“Aku sama sekali tidak memiliki perasaan itu lagi, Dit. Sungguh.
“Lalu apa alasannya, Sya?” Radit mulai menaikan nada bicaranya, frustasi.
“Aku juga gak tahu,” cicit Mesya menundukkan kepalanya. “Aku merasa ragu untuk melangkah kejenjang itu, Dit. Aku gak siap. Benar-benar gak siap.”
“Apa yang membuat kamu ragu? Kamu ragu sama aku?” Mesya menggeleng cepat. “Lalu apa yang kamu ragukan?”
__ADS_1
“Aku ragu pada diriku sendiri, Dit. Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik untuk kamu, aku takut tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangga kita nanti dan aku takut nasib pernikahanku seperti Bunda dan Ayah,” ucap Mesya pelan.
Ya, memang itu yang membuat Mesya sulit untuk melangkah kejenjang pernikahan. Ia terlalu takut untuk memulai itu semua karena bayangan kedua orang tuanya dulu saat bercerai. Bukan hanya itu saja, tapi banyak juga bayangan-bayangan tentang pernikahan yang gagal yang membuat Mesya semakin ragu untuk melangkah ke sana. Mesya belum siap menghadapi sebuah pengkhianatan karena baru beberapa bulan lalu mantan tunangannya melakukan itu dan sampai sekarang kejadian itu belum dapat dirinya lupakan.