My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 37


__ADS_3

Tok … tok … tok.


Mesya terbangun dari tidurnya begitu mendengar suara ketukan di pintu. Dengan malas ia membuka mata dan duduk di tempat tidur masih dengan malas dan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul.


“Mesya, Nak,"


“Iya tante, Mesya sudah bangun!” sahut Mesya dengan suara yang masih serak.


“Cepat keluar ya, Nak kita makan malam bersama,” ucap suara dari balik pintu itu lagi. Mesya mengangguk walau tahu bahwa ibu dari kekasihnya itu tidak akan melihat.


Mesya menoleh pada jam yang menempel di dinding, dan ternyata jarum jam memang sudah menunjukan di angka delapan. Itu berarti begitu lama ia tertidur sampai melewatkan makan siangnya. Pantas saja perutnya sudah keroncongan.


Lebih dulu Mesya mencuci mukanya dan berganti pakaian yang lebih sopan untuk makan malam bersama dengan orang tua dari kekasihnya, tidak mungkin bukan jika ia keluar hanya menggunakan gaun tidur seksinya ini?


“Selamat malam Om, Tante,” sapa Mesya begitu sampai di ruang makan dimana di sana sudah duduk Frita dan Tama.


“Malam juga, Nak. Sini duduk,” balas Prita tersenyum hangat.


Mesya tersenyum dan mengangguk kemudian duduk di kursi yang bersebrangan dengan Ibu dari Radit itu. Menatap sekeliling, Mesya mengernyitkan keningnya. “Radit ke mana Tante, Om?” tanya Mesya penasaran.


“Oh, Radit tadi keluar sama Cherry.”


Deg.


Dada Mesya seketika sesak mendengar itu. Perutnya yang semula keroncongan pun tiba-tiba terasa kenyang. Makanan yang berada di depannya tidak lagi membuatnya berselera.


“Boleh Mesya tahu Cherry itu siapanya, Radit?” kembali Mesya bertanya, menatap pasangan paruh baya itu dengan serius, meminta penjelasan.


Tama yang hendak menjawab urung begitu terdengar suara anaknya yang pulang dan langsung duduk di samping Mesya dengan wajah yang berbinar. Mesya berusaha untuk tidak menoleh sedikit pun pada laki-laki itu kerena jujur saja ia cukup kecewa dan marah pada pria yang menjadi kekasihnya. Mesya merasa di abaikan seharian ini karena Radit nyatanya lebih memilih bersenang-senang dengan perempuan kecil itu di bandingkan dengannya.

__ADS_1


Menghela napas berat Mesya melanjutkan makannya dalam diam begitu juga dengan yang lainnya.


“Nambah, Sya?” tawar Radit yang dengan cepat Mesya tolak.


“Aku udah kenyang.”


“Tumben dikit banget makannya?” heran Radit menaikan sebelah alisnya.


“Lagi gak napsu.” Mesya menjawab dengan singkat. Kedua paruh baya itu menatap kedua anak muda itu secara bergantian dengan kening berkerut.


“Om, Tante, Mesya pamit ke kamar duluan ya, lupa belum sempat mengabari Bunda di rumah,” bohong Mesya untuk segara pergi dari sana. Tama dan Frita hanya mengangguk memberi izin sedangkan Radit berusaha mencegah, tapi tidak perempuan itu hiraukan sama sekali membuat laki-laki itu menaikan alisnya bingung.


“Kamu pacaran lagi sama Mesya , Dit?” sang Ayah bertanya dan itu mengalihkan perhatian Radit.


“Iya, dan niat aku ke sini mau minta restu kalian berdua untuk menikahi Mesya secepatnya.” Kata Radit dengan mimik wajah serius.


“Kita hanya berteman. Gak lebih!” tegas Radit menjawab.


“Bukannya kamu sama dia saling cinta?” bingung Frita karena itu yang selama ini ia tahu dan ia lihat. Anaknya dan gadis yang menjadi tetangganya selama di Negara ini saling menyukai. Dan karena Cherry juga Radit berhenti mabuk-mabukan dan memikirkan Mesya saat itu.


“Memangnya Radit pernah mengatakan bahwa Radit suka Cherry? Asal Papa dan Mama tahu bahwa sampai saat ini pun Radit masih mencintai Mesya dan sampai kapan pun Radit hanya ingin Mesya. Cukup Lima tahun dulu Papa dan Mama membuat Radit berpisah dengan dia, tapi tidak untuk sekarang.”


“Dit, kamu jelas tahu apa alasan kami pin--”


“Iya karena Papa memiliki istri lain di sini, dan Radit kecewa akan itu! Mama juga tidak mau bertindak tegas terhadap apa yang Papa lakukan, Mama hanya pasrah, dan Radit benci dengan itu!” potong Radit cepat.


“Tapi sekarang Papa kamu tidak memiliki istri lain, Nak, perempuan itu sudah tidak ada!”


“Memang ... tapi sayang kekecewaan Radit terhadap kalian masih ada hingga detik ini.”

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu Radit bangkit dari duduknya meninggalkan kedua orang tuanya juga tanpa berniat menghabiskan makanannya yang masih tersisa setengah di dalam piringnya.


Radit naik ke kamarnya yang berada di lantai atas, sedikit membanting pintu dan menjerit kesal, meredam kemarahannya pada kedua orang tuanya itu. Sampai sekarang Radit masih tidak percaya, keluarganya yang harmonis dan selalu romantis ternyata memiliki rahasia dan kesakitan masing-masing. Rahasia yang baru terbongkar Lima tahun lalu, dimana kenyataan bahwa ayahnya memiliki istri lain dan Ibunya yang memendam sendiri kesakitannya harus Radit terima.


Radit marah karena ayah yang menjadi panutannya justru malah mengkhianati sang ibu. Tapi Radit juga kecewa pada sang ibu yang memilih bertahan dengan laki-laki yang jelas sudah menyakitinya apa lagi ibunya itu selalu membela dan berlaku baik pada selingkuhan suaminya sendiri. Dan gara-gara masalah mereka juga lah hubungannya dengan Mesya ketika itu harus berakhir dengan terpaksa.


Andai ia tahu bahwa alasan kepindahannya adalah itu, mungkin sejak itu juga Radit memilih tinggal seorang diri di Indonesia dan tidak harus membuatnya putus dengan Mesya. Radit benci kenyataan itu. Meskipun sekarang wanita yang menjadi istri muda ayahnya sudah mati, tetap saja rasa kecewa dan marahnya tidak dapat menghilang dengan begitu cepat.


Mengguyur tubuhnya di bawah kucuran air dingin yang di keluarkan shower, Radit menyugar rambutnya dengan kuat, seolah ingin mengambil bebannya lalu ia buang sejauh mungkin.


Di tengah aktivitas mandinya, Radit teringat akan Mesya, keanehan perempuan itu saat makan tadi yang tiba-tiba pergi membuat Radit dengan cepat menyelesaikan mandinya, dan bergegas berpakaian lalu pergi menghampiri Mesya di kamar tamu yang berada di lantai bawah. Radit tahu kekasihnya itu pasti marah karena dirinya abaikan seharian ini. Salahkan Radit yang malah keasyikan melepas rindu dengan teman tersayangnya itu.


Tuas pintu kamar itu Radit tekan, tapi sayang karena ternyata pintu dalam keadaan terkunci. Mencoba mengetuk seraya memanggil si penghuni kamar berkali-kali tanpa ada sahutan dari dalam membuat Radit kesal sendiri.


“Sya, buka kuncinya, Sya,” panggil Radit masih dengan terus mengetok pintu bercat putih tersebut.


“Syasa, buka pintunya, aku tahu kamu belum tidur, Sya. Mesya buka atau aku dobrak sekarang juga!” teriak Radit dengan kesabaran yang semakin menipis.


Di dalam kamar Mesya masih bertahan dalam posisinya yang menatap ke arah luar lewat jendela, menikmati hembusan angin malam yang berhembus melalui jendela yang sengaja Mesya buka. Mengabaikan teriakan Radit juga gedoran pada pintu. Masa bodo dengan ancaman Radit yang akan mendobrak pintu, toh ini rumah orang tuanya, terserah apa yang akan laki-laki itu lakukan meski membobol tembok sekali pun.


“Kenapa gak buka pintunya?” Mesya menoleh ke belakang dimana arah suara berasal.


“Itu udah kamu buka sendiri,” jawab Mesya cuek dan kembali menatap luar jendela. Tidak memperdulikan Radit yang sudah menahan amarah di belakangnya.


“Kamu marah?” tanya Radit mendekat pada Mesya yang duduk di depan jendela. Tidak ada jawaban apa pun dari wanita itu, membuat Radit yakin bahwa sang kekasih tengah marah.


“Cherry cuma teman aku, gak lebih. Kami memang dekat tiga tahun belakangan ini, tapi kami berdua sepakat hanya berteman, dia tahu tentang kamu karena aku memang cerita banyak sama dia. Cherry teman aku yang saat itu bantu aku dari pergaulan bebasku yang hampir membuat aku makin rusak. Dia yang menemani aku ketika aku berada dalam keterpurukan, dia yang selalu menjadi tempatku berkeluh kesah selama disini. Dan cuma dia yang mengerti aku di sini.”


Mendengar penjelasan Radit nyatanya bukan membuat Mesya lega. Namun malah semakin membuatnya sesak. Ya, siapa yang tidak akan sakit ketika laki-laki yang menjadi kekasihmu malah menceritakan perempuan lain. Memang tujuannya untuk menjelaskan agar tidak ada kesalah pahaman, tapi tidakkah berpikir bahwa kenyataan itu cukup membuat Mesya tertampar dengan kenyataan bahwa memang perempuan itu lah yang menjadi tempat kekasihnya berbagi dan perempuan itu jugalah yang menjadi tempatnya berkeluh kesah. Lalu apa gunanya Mesya sebagai kekasih?

__ADS_1


__ADS_2