My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 27


__ADS_3

Mesya merasa bersalah karena penolakan yang ia layangkan tempo hari atas ajakan menikah dari Radit, tapi ia juga tidak bisa menyetujui begitu saja. Walau sampai saat ini kekasihnya itu masih bersikap seperti biasanya tapi entah kenapa sudut hatinya yang lain merasa bahwa Radit tidak baik-baik saja.


Pukul 16:40 pekerjaan Mesya sudah selesai. Setalah membereskan meja kerjanya dan memasukan barang pribadinya ke dalam tas, Mesya bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam ruangan Radit yang ia lihat laki-laki itu tengah berbaring di sofa dengan tangan yang berada di kepalanya, menutupi wajah tampan itu.


“Dit bangun,” sedikit mengguncang tangan kekasihnya Mesya membangunkan dengan lembut. Radit yang memang mudah untuk di bangunkan langsung menurunkan tangannya, mengerjapkan mata beberapa kali dan tersenyum saat melihat wajah Mesya yang berada dekat dengan wajahnya.


“Jam berapa?”


“Udah jam lima, pulang yuk,” ajak Mesya. Radit bukannya menjawab dia malah menarik tubuh ramping kekasihnya itu hingga terjatuh di dada bidangnya.


“Radit!” pekik Mesya terkejut.


“Apa sayang,”


Mesya berusaha menarik dirinya namun Radit malah mengeratkan pelukannya membuat Mesya tidak bisa bergerak apa lagi membebaskan diri.


“Pulangnya nanti aja ya,” ucap Radit, memposisikan tubuh Mesya di sampingnya, berbaring berdua di dalam sofa sempit itu.


“Kenapa memangnya, kamu masih ada kerjaan?” sebuah gelengan Radit berikan membuat Mesya menaikkan sebelah alisnya tidak paham.


“Masih pengen disini sama kamu,” bisikan lembut dan sensual itu membuat Mesya merinding.


“Tapi aku lapar,” rengek Mesya dengan memasang wajah memelasnya.

__ADS_1


Radit langsung bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk. Meraih ponselnya yang tergeletak di meja lalu menekan nomor asisten pribadinya meminta untuk di belikan makanan untuk dirinya juga Mesya. Walau mendapat sedikit protesan dari asisten tidak tahu dirinya itu Radit mematikan telepon dengan sepihak dan kembali membaringkan tubuhnya di samping Mesya yang tengah memainkan ponsel.


“Kenapa malah minta Bara yang beli makanan, kan bisa langsung lewat online, Dit?”


“Dia lagi gak ada kerjaan, Sya jadi aku kasih kerjaan. Dari pada dia makan gaji buta nanti,” Mesya hanya mendengus kecil mendengar jawaban dari kekasihnya yang kadang selalu seenaknya itu.


Satu jam kemudian pintu ruangan Radit terbuka tanpa di ketuk terlebih dulu, Mesya yang masih dalam posisi yang sama seperti tadi bersama Radit cukup terkejut dan hendak mengubah posisinya menjadi duduk, tapi laki-laki tampan itu tidak membiarkannya dan malah semakin memeluk bahkan kakinya pun ikut melingkar agar menahan pergerakan Mesya.


“Mesum tahu tempat dong lo, Dit.” Tegur Bara yang baru saja datang dengan dua kantong berisi makanan.


“Syirik bilang lo, Bar,” delik Radit yang kini sudah duduk begitu juga dengan Mesya.


“Ngapain juga gue syirik sama lo, cewek gue banyak asal lo tahu!”


“Ya ya gue tahu, lo kan emang gak puas kalau cuma sama satu cewek doang,” ucap Radit dengan nada mencibir. Bara tak lagi membalas karena apa yang di ucapkan boss sekaligus sahabatnya itu memang benar adanya. Ia tidak pernah puas hanya dengan satu perempuan bahkan Bara bisa di bilang teman Radit paling berengsek.


“Lo ngapain masih di sini, Bar?” Radit bertanya.


“Mau makan lah, gue juga lapar asal lo tahu. Gila aja gue di kasih kerjaan sebanyak itu sampai gak sempat makan siang dan lo malah enak-enakan pacaran.”


“Lo ngeluh?”


Dengan cepat Bara menggelengkan kepala, apa lagi melihat wajah datar bosnyanya. “Enggak kok pak Bos. Mana berani gue ngeluh,” jawab Bara cengengesan dan memilik untuk melahap makanan di depannya sedangkan Mesya terkekeh geli.

__ADS_1


Selesai menghabiskan makanan yang Bara beli, Radit kembali membawa kekasihnya ke dalam pelukan. Sedangkan asistennya itu sudah pergi begitu sebuah telpon masuk dan mengganggu makannya yang harus dengan terpaksa di tinggalkan.


Radit menelusupkan wajahnya di ceruk leher Mesya mencari kenyamanan, menghirup dalam bau wangi kekasihnya yang begitu dirinya sukai kemudian melayangkan kecupan-kecupan kecil di leher itu.


“Geli, Dit.”


Tidak Radit hiraukan, karena kini laki-laki itu semakin gencar menciumi leher jenjang dan putih Mesya dan sekali-kali menggigitnya hingga tanda merah keunguan itu terlihat dan sebuah erangan kecil keluar dari bibir tebal Mesya membuat Radit semakin bergairah.


Mengangkat tubuh mungil Mesya Radit bangkit dari duduknya dan membawa kekasihnya itu menuju pintu berwarna coklat yang berhadapan dengan sofa yang semula ia duduki. Kembali menutup dan mengunci pintu tersebut tanpa melepaskan Mesya yang berada dalam gendongan kanggurunya Radit mencium bibir kekasihnya dengan nafsu, lalu ciumannya turun dan semakin turun sampai kini wajahnya berada di depan gundukan kenyal yang masih terbungkus rapat oleh kemeja maroon yang di kenakan Mesya.


Mesya semakin mengeratkan pegangannya di leher Radit saat laki-laki itu melepaskan satu tangannya dari pinggang Mesya, tangan itu ia gunakan untuk membuka kancing kemeja kekasihnya hingga tandas dan juga membuka penyangga dada berenda merah itu hingga terpampanglah buah dada Mesya yang besar dan berisi.


Mata Radit semakin sayu dan menggelap, napsunya semakin naik begitu benda kenyal itu menyentuh permukaan wajahnya yang tepat berada di sana. Membuka lebar mulutnya Radit langsung melahap dada Mesya membuat perempuan itu mengeluarkan desa**n dan cengkraman tangan mungilnya begitu kuat di rambut Radit.


Melangkah menuju ranjang, Radit menidurkan tubuh kekasihnya tanpa melepaskan bibirnya yang berada di dada Mesya sedangkan yang satunya Radit re**s dengan begitu kuat.


Desa**n demi desa**n keluar dari keduanya, bahkan kedua orang yang tengah bercumbu itu kini sudah benar-benar tanpa sehelai benang pun, pakaian Mesya maupun Radit berserakan di lantai, seprai putih yang semula rapi kini sudah berantakan begitu juga dengan rambut Mesya dan Radit.


“Sya, mau berhenti disini apa lanjut?” Radit bertanya di tengah cumbuannya. Matanya yang menggelap karena gairah menatap Mesya yang keadaannya tidak jauh berbeda dengannya.


Mesya yang mendapat pertanyaan seperti itu bimbang sendiri, tapi kalau boleh jujur tubuhnya menginginkan lebih dari sekedar sentuhan sedangkan sisi hatinya merasa belum siap.


“Jangan tatap aku seperti itu, Sya. Aku tidak akan memaksa kalau kamu belum siap.” Radit mengecup kedua mata Mesya bergantian. Memeluk tubuh kekasihnya dengan erat kemudian menutupi tubuh telanjang keduanya dengan selimut.

__ADS_1


Tidak ada lagi aktivitas yang mereka lakukan, hanya terdiam dan saling berpelukan di bawah selimut dengan tubuh yang sama-sama polos.


“Maaf,” gumam kecil Mesya merasa bersalah.


__ADS_2