My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 22


__ADS_3

Weekend menjadi hari membahagiakan dan juga harinya bermalas-malasan untuk semua orang terutama pekerja dan pelajar sama halnya dengan Mesya yang saat ini masih nyaman bergelung di tempat tidur dengan selimut tebal yang melindungi tubuh mungilnya dari rasa dingin yang menusuk kulit.


Bias matahari masuk melalui celah-celah gorden yang masih tertutup membuktikan bahwa hari sudah cerah. Namun ternyata itu tidak cukup untuk membuat Mesya terusik dari tidur nyenyaknya.


Suara ponsel yang sedari tadi berbunyi pun masih tidak mampu membangunkan Mesya, sebuah ketukan pada pintu terdengar bising namun Mesya hanya mengambil salah satu bantalnya dan menyimpannya tepat di telinga untuk meredam suara-suara itu.


Tidak sabar kerena tidak juga ada sahutan dari sang pemilik kamar, Radit, laki-laki yang sedari tadi berdiri di depan pintu Mesya, menghubungi ponsel gadis itu juga mengetuk pintu melangkahkan kaki menuruni tangga dan menghampiri Rasti yang berada di dapur.


“Bunda, Radit pinjam kunci cadangan kamar Syasa dong,” pinta Radit.


“Belum bangun juga?” tanya Rasti yang tengah menyiapkan untuk sarapan. Radit mengangguk sebagai jawaban.


“Kamu ambil aja di laci ruang tv,” Radit kembali melangkahkan kaki menuju ruangan yang disebutkan Rasti setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih.


“Di laci yang ketiga, Dit!”


Mendengar teriakan itu Radit langsung menarik pelan laci yang disebutkan Rasti dan memang semua kunci ada di sana. Namun sayang, Radit tidak tahu yang mana kuncinya maka dari itu ia memilih mengambil semuanya dan kembali naik ke lantai atas menuju kamar Mesya dan mencoba satu persatu kunci yang di bawanya sampai percobaan ke lima barulah pintu berhasil terbuka.

__ADS_1


Di ambang pintu Radit hanya menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya melangkah ke arah jendela dan membuka gorden juga jendelanya agar angin pagi masuk ke dalam kamar setelah itu barulah melangkah ke arah ranjang, menarik selimut yang wanita itu gunakan untuk menutupi dirinya hingga terlepas dan menampakan tubuh mungil Mesya dalam balutan piyama yang sangat seksi hingga menampilkan paha mulus dan lengan telanjang perempuan cantik itu. Dan jangan lupakan dua gundukan di dadanya terlihat menyembul dengan malu-malu.


Susah payah Radit meneguk salivanya apa lagi saat kekasihnya itu mengubah posisi menjadi duduk karena tidur yang terganggu, rambut panjang yang sedikit berantakan dan wajah baru bangun tidur itu menambah kesan cantik dan seksi pada diri Mesya.


“Apa sih, Dit ganggu aku tidur aja. Aku masih ngantuk! Lagian ini hari libur, kenapa masih aja aku gak diizinin buat tidur sampai siang?” gerutu Mesya dengan kesal, sesekali tangan mungil itu menggisik matanya yang terasa perih, sementara Radit mulai merangkak naik pada kasur berukuran tidak terlalu besar itu, menyingkirkan beberapa boneka yang berada di atasnya agar memudahkan dirinya menggapai Mesya.


“Sial! Kenapa kamu cantik dan seksi banget pagi ini?” gumam Radit yang masih dapat di dengar Mesya. Perempuan cantik itu menoleh pada sang kekasih, mengernyitkan kening, menatap laki-laki yang semakin merangkak mendekat itu dengan tatapan bingung.


“Kamu kenapa, Dit?” tanya heran Mesya. Namun tak dipedulikan Radit. Laki-laki itu malah mendorong Mesya hingga kembali terbaring dan menindih wanitanya seraya mendaratkan ciuman pada bibir ranum Mesya.


Mesya yang semula syok akibat serangan tiba-tiba itu kini mulai membalas permainan bibir dan lidah Radit, mengalungkan tangannya pada leher kekasihnya itu sedangkan tangan Radit sudah mulai nakal dan tak hentinya mengelus paha Mesya yang telanjang akibat celana tidur yang di pakainya terlalu pendek.


“Kamu tahu, laki-laki kalau di pagi hari nafsunya meningkat? Tidur sendiri, tapi ketika bangun berdua, apalagi pagi-pagi gini aku disuguhin wanita cantik dan seksi seperti ini. Jadi, jangan salahin aku kalau langsung nerkam kamu saat ini juga.”


“Ta… hhmppt.”


Belum selesai Mesya bicara bibirnya lebih dulu di bungkam oleh Radit, laki-laki itu kembali mendaratkan bibirnya, mencium bibir seksi Mesya dengan memburu seolah tengah berebut. Mesya hanya pasrah, bukan pasrah juga sebenarnya karena Mesya memang menyukai ini. Radit menekuk kan kedua kakinya di sisi kanan kiri paha Mesya untuk menahan berat tubuhnya agar tidak terlalu menindih Mesya, sedangkan kedua tangannya laki-laki itu gunakan untuk mere**s gundukan kenyal yang sudah sedari tadi menantangnya untuk di sentuh.

__ADS_1


Mulai dari rema**n lembut hingga kemudian rema**nnya bertambah kuat membuat Mesya mengerang nikmat. Merasa pasokan oksigen yang mulai menipis, Radit melepaskan ciuman di bibi Mesya beralih pada leher jenjang putih yang sedikit berkeringat itu menjilatinya dan mengecup kecil berusaha untuk tidak meninggalkan bekas di area sana. Tangannya masih sibuk pada benda bulat yang masih tertutup kain tipis lembut yang Mesya gunakan.


Sedari awal Radit tahu bahwa perempuan cantik di bawahnya ini tidak memakai menyangga dada dan itu membuat Radit bahagia karena bisa langsung menyentuh kulit lembut dan kenyal itu. Menarik tali tipis baju tidur itu dari pundaknya dan meloloskannya melewati tangan, Radit menurunkan kain lembut itu hingga batas perut sampai terpampang lah benda bulat yang sudah mengeras, terlihat menantang dan menggiurkan.


Tanpa menunggu lama Radit langsung menge**m dan menghisapnya, sedangkan kedua tangannya tetap memberikan remasan-remasan pada dada Mesya yang cukup besar bahkan telapak tangan Radit sampai tidak mampu menampung sepenuhnya benda kenyal itu.


Lenguhan dan desahan yang keluar dari mulut Mesya menambah gairah dan semangat Radit, di tambah dengan rema**n sensual yang wanita itu berikan di rambutnya, membuat Radit ingin melakukan lebih. Kegiatan panas yang menyenangkan itu berlangsung selama lima belas menit dan itu cukup membuat keduanya berkeringat dan kelelahan.


Radit membaringkan tubuhnya di ranjang, sementara Mesya sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Kedatangan Radit ke sini pagi-pagi karena ingin mengajak kekasihnya itu lari pagi, tapi sepertinya niat awalnya itu harus batal karena kini hari sudah beranjak siang dan matahari berada di atas.


“Ya sudah lah, lari paginya bisa lain kali. Lagi pula pagi ini olahraganya sudah dilakukan dan yang jelas ini lebih menyenangkan dari sekedar lari pagi mengelilingi komplek.” Gumam Radit pada dirinya sendiri.


Setengah jam kemudian Mesya keluar dari kamar mandi masih terbalut dengan handuk ungu muda yang panjangnya hanya sebatas paha bagian atas. Lagi-lagi penampilan itu membuat Radit terpesona dan ingin sekali menerkamnya. Tapi Radit urungkan saat mengingat bahwa perempuan itu tengah kelaparan dan itu juga alasan aktivitasnya tadi terhenti. Karena suara perut Mesya yang berbunyi nyaring.


“Kenapa gak sekalian pakai baju di kamar mandi sih, Sya?” geram Radit yang tersiksa karena harus menyaksikan perempuan itu berlalu lalang di dalam kamar dengan handuk pendek yang menampilkan paha juga punggung dan bagian tubuh Mesya bagian atas.


“Aku lupa bawa baju, Dit,” jawab Mesya tak berbohong. Mesya memang selalu berganti pakaian di kamar jadi, jangan salahkan Mesya jika dirinya tidak membawa pakaian ganti dan keluar hanya menggunakan handuk pendeknya. Salahkan Radit dengan napsu lelakinya yang mudah naik itu.

__ADS_1


“Ya sudah, buruan pakai baju, aku tunggu di bawah.” Radit menyerah, keluar dari kamar kekasihnya itu tidak lupa kembali membawa kunci cadangan yang tadi dirinya ambil dari laci ruang tv.


__ADS_2