My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 30


__ADS_3

Secepatnya Radit menyelesaikan pekerjaannya karena ingin segera menghampiri Mesya di rumahnya. Sejak kejadian malam itu Radit memang memutuskan agar kekasihnya itu tidak dulu masuk kerja, bukan karena ia tidak butuh sekretarisnya, tapi Radit tahu bahwa jiwa Mesya tengah terguncang, kejadian malam itu cukup membuat wanita yang dicintainya ketakutan, jadi untuk beberapa hari Radit mengizinkannya untuk istirahat.


“Pak Radit!”


Sekeluarnya dari dalam lift nyatanya Radit sudah di cegat oleh teman Mesya di depan meja resepsionis. Dalam hati Radit menggerutu karena ada saja gangguan yang menghalangi dirinya yang ingin segera pergi.


“Ada apa Mona?”


“Hehe gak apa-apa Pak, cuma mau tanya Mesya ke mana ya kok beberapa hari ini gak kelihatan?” Mona bertanya dengan cengengesan.


“Kenapa gak kamu telepon aja?” Radit malah melayangkan pertanyaan balik.


“Ck, Bapak ini gimana sih! Kalau itu udah saya lakuin Pak, tapi gak dia angkat, makanya tanya Bapak,” Rena memutar bola mata malas pada Radit yang tidak memberikan jawaban langsung.


“Kamu gak ingat saya siapa? Ini masih di kantor loh, mau kalian saya pecat?” Radit melayangkan tatapan tajam pada karyawannya itu. Kompak Rena, Rini dan Mona menggelengkan kepala.


“Mesya sakit.” Setelah memberikan jawaban singkat itu Radit pergi dari hadapan ketiga wanita itu tapi lagi-lagi langkahnya terhenti.


“Bapak kenapa main nyelonong aja sih,” entah memiliki keberanian dari mana Rini berkata seperti itu pada atasannya. “Bapak mau ke rumah Mesya ‘kan? Kami ikut boleh gak? Jangan nolak Pak, kita teman-temannya Mesya loh niat kita juga baik mau jenguk calon ibu bos,” lanjut Rini dengan cepat sebelum Radit melayangkan protesan.


Terlihat laki-laki tampan itu menghela napasnya kemudian mengangguk meski begitu jelas bahwa anggukan itu terpaksa Radit lakukan. Ketiganya bersorak hore kemudian berjalan lebih dulu menuju parkiran dimana mobil Radit di parkir.


Radit hanya bisa menghela napas pasrahnya di belakang dan berjalan mengikuti ketiga perempuan yang entah sejak kapan berani padanya. Radit memang tidak gila hormat, tapi setahunya seluruh karyawan di kantor ini cukup segan padanya, mungkin mulai sekarang minus tiga orang ini, Rena, Mona dan Rini.


Supir pribadi Radit membukakan pintu penumpang depan untuk tuannya itu sedangkan ketiga perempuan yang katanya ikut menumpang itu sudah berdesakan duduk di jok belakang tanpa lebih dulu Radit persilahkan.


“Ke rumah Mesya ya Pak,” kata Radit saat supirnya itu mulai melajukan mobilnya keluar dari parkiran.


“Baik, Den.” Jawab supir radit dengan patuh.


“Baru kali ini gue naik mobil Pak bos, enak ternyata, adem.” Rena berucap seraya menatap sekeliling mobil yang ditumpanginya.


“Kalau mau panas naik angkot, Re,” kata Radit tanpa menolehkan pandangannya dari tab yang di pegangnya.


“Gak deh Pak, saya lebih milih naik mobil Bapak aja,” balasnya tak tahu malu.


“Tapi saya gak niat ajak kamu lagi, gimana dong?”

__ADS_1


“Jahat banget sih Pak,” Rena memberenggut sedangkan kedua temannya yang lain melayangkan jitakan di pelipis Rena.


“Gaji kalian bertiga bulan ini saya potong ya,” ucap Radit menoleh sedikit pun.


“Loh-loh kok di potong? Salah kita memangnya apa, Pak?” Mona melayangkan protes.


“Ongkos numpang mobil saya hari ini,” jawab Radit dengan tenang. Ketiga perempuan yang duduk di belakang membelalakkan matanya terkejut.


“Gak bisa gitu lah Pak, masa cuma numpang aja mesti bayar, tujuan kita kan sama Pak, bensinnya juga gak berkurang banyak. Udah mah gaji segitu-gitunya di potong pula, yang benar aja Pak. Nanti saya bingung bayar cicilan ponsel gimana?”


“Ya itu mah terserah kalian,” cuek Radit menjawab.


“Bapak kok jahat sih,” Rini cemberut di tempatnya.


“Turun ayok, jangan pada cemberut gitu, jelek tahu gak kalian,” ucap Radit seraya melepas seat belt dan keluar dari mobilnya.


“Ini rumah Mesya, Pak?” pertanyaan bodoh itu Mona keluarkan.


“Rumah calon istri saya,” jawab Radit berlalu begitu saja. Rena dan Rini mendengus kecil kemudian mengikuti langkah Radit masuk begitu saja tanpa membunyikan bel terlebih dulu.


Rumah ini terlihat sepi, Rena, Rini dan Mona menyangka bahwa rumah ini kosong dan ketakutan ketiganya hinggap bersama pikiran-pikiran negatif yang dimana Radit berniat menyekap dan membunuh mereka.


Setelah mengetuk pintu dua kali, Radit menekan tuas dan membuka lebar pintu itu, melenggang masuk mendekati ranjang yang diisi oleh tiga perempuan yang sudah menghentikan tawa mereka.


“Gak bisa apa nunggu di persilahkan dulu?” dengus Mesya pada kekasihnya.


“Kelamaan Sya,” jawab singkat Radit kemudian mengecup singkat kening kekasihnya tidak perduli dengan pekikan protes kedua orang lainnya yang berada di sana.


“Lebay banget reaksi lo pada cuma gara-gara lihat gue cium kening Mesya doang, gimana kalau sampai lihat gue telanjangin dia coba,” dengus Radit yang langsung mendapat lemparan boneka dari kedua perempuan yang duduk di ranjang bersama Mesya.


“Mama, mata sama telinga Mina ternodai oleh setan bernama Radit.” Rengek Mina berlebihan.


“Sok polos najis!” Radit bergidik jijik sedangkan Rima, Mina dan Mesya tertawa bersamaan sampai sebuah deheman cukup keras terdengar dan mengalihkan mereka berempat.


“Saya lupa kalau kalian ikut ke sini,” ucap Radit tanpa merasa bersalah sedikit pun.


“Kalian?” Mesya buka suara dan langsung menyuruh ketiga teman kantornya itu untuk masuk dan bergabung bersama Rima dan Mina, tidak lupa Mesya mengenalkan mereka semua.

__ADS_1


“Sya, gue pengen duduk nih pegal,” ucap Mona tak tahu malu.


“Bukannya kamu sudah biasa berdiri, Mon?”


“Ish, ya masa di sini saya harus berdiri juga Pak, males ah gak di gaji,” balasnya memberenggut kesal dan itu sukses mengundang tawa semua yang ada di sana.


“Dit mending lo pulang gih, gak malu apa disini kita cewek semua loh?” usir Rima halus.


“Bunda udah minta gue jaga Syasa jadi gak akan pulang. Lo aja sono pada pulang ini udah hampir malam tahu gak?” Radit membalas dengan cuek membuat Rima mendengus.


“Pak, ambilin saya minum gih, saya haus.” Titah Rena yang kini sudah duduk di kasur bergabung dengan Mesya dan lainnya.


“Gak salah kamu nyuruh saya? Bos kamu loh ini,” tanya Radit menunjuk dirinya sendiri.


“Ini udah di luar kantor Pak, jadi statusnya sudah berubah.” Jawab Rena tenang.


“Baru kali ini gue di suruh karyawan sendiri.” Radit mendengus kecil namun tak urung pergi juga. Mesya terkekeh geli melihat wajah kesal Radit.


***


Radit merenggut kesal saat semua sahabat Mesya tidak juga pulang meskipun jam sudah menunjukan pukul 22:42 padahal dengan baik hati Radit sudah menawarkan tumpangan pada kelima wanita itu.


“Lo aja yang pulang Dit, gue masih betah disini.”


Perkataan itu lah yang membuat Radit semakin lesu dan ingin sekali menendang Rima karena tidak sama sekali memahami dirinya yang begitu ingin berduaan dengan sang kekasih.


Rima dan Mina memang sudah berniat untuk menginap sedangkan ketiga teman Mesya yang dari kantor memutuskan menginap saat ke Mina juga mengusulkan ketiga orang itu berhubung besok adalah hari libur, tentu saja Rena, Rini dan Mona menyetujui usulan teman barunya.


“Ya udah deh, Sya aku pulang ya,” kata Radit pada akhirnya.


“Kenapa gak pulang dari tadi sih Pak, ck!”


“Awas kamu, Rena, saya potong gaji bulan ini!” ancam Radit mendelik kesal pada karyawan satunya itu.


“Ngancemnya gaji mulu. Pak Radit gak asik!” balas Rena manyun sedangkan Radit masa bodo.


Setelah memberikan kecupan di kening Mesya Radit keluar dari kamar wanita itu dengan berat hati dan tak rela. Jika bukan karena kelima temannya yang ingin menginap, Radit pasti sudah tidur memeluk Mesya yang begitu sangat di rindukannya sejak beberapa hari ini. Tapi Radit pun tetap bersyukur karena dengan adanya mereka, Mesya tidak lagi semurung kemarin. Wanita itu sudah kembali ceria dan Radit berharap bahwa setelah ini kekasihnya akan baik-baik saja.

__ADS_1


Aldrich benar-benar Radit kirim ke penjara atas tindakan pelecehan juga kekerasan. Sampai kapan pun tentu saja ia tidak akan pernah membiarkan bajingan itu menemui Mesya apa lagi sampai menyentuhnya. Radit bersumpah akan mempertaruhkan nyawanya demi menjaga wanita tercintanya itu. Setidaknya saat ini Radit tenang, karena kemungkinan besar Aldrich mendapat hukuman berat atas tindakannya itu.


__ADS_2