My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 32


__ADS_3

Sekeluarnya dari ruang meeting Radit langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya di ikuti Mesya juga Bara. Jam sudah menunjukan waktu makan siang, tapi sepertinya tidak ada sedikit pun niat untuk Radit mengajak kekasihnya itu untuk makan di luar siang ini. Jadi Bara memutuskan untuk memesan makanan lewat layanan online untuk mereka bertiga.


“Bar, minggu depan gue mau jenguk Papa sama Mama, lo bisa kan hendle pekerjaan gue selama gue gak ada?”


“Berapa lama lo pergi?” tanya Bara yang masih fokus mengotak atik ponselnya.


“Satu minggu.”


Bara menganggukkan kepala. “Selagi ada sekretaris lo, gue setuju.”


“Mesya ikut gue,”


Senyum yang semula terukir di bibir Bara dengan cepat menghilang dan laki-laki itu menghentikan jarinya yang semula menari di layar datar berukuran 5 inci itu. “Lo serius bawa sekertaris lo?”


“Dia kan calon mantu orang tua gue, ya jelas serius gue bawa Mesya.” Jawab Radit dengan tenang.


“Lo gak mikirin nasib gue gimana kalau gak ada kalian? Dit, ada lo aja gue selalu lembur gimana kalau gak ada lo pada? Ah, sial masa iya gue harus nginap di kantor,” keluh Bara lesu, karena selama ini ia merasa lebih sibuk dari pemilik perusahaan.


“Lo juga kan punya sekretaris Bar?”


“Lupa kalau sekretaris gue baru aja Resign!” ucap bara dengan frustasi.


Radit terkekeh kecil, geli juga melihat asisten sekaligus sahabatnya yang tengah menahan kesal itu. Memang radit sempat melupakan bahwa wanita yang dulu menjadi sekretaris laki-laki itu mengundurkan diri karena sakit hati akibat keberengsekan Bara yang selalu mematahkan hati para wanita setelah berhasil dia lambungkan.


“Makanya Bar, lo jadi cowok jangan kebangetan brengseknya. Udah berapa orang coba sekretaris lo yang ngundurin diri akibat lo beri harapan palsu?”


“Cih siapa juga yang ngasih mereka harapan, lo kan tahu gue laki-laki yang suka kebebasan, sama sekali gue gak pernah mau dengan namanya ikatan yang merepotkan apa lagi sama perempuan yang sukanya ngatur dan cemburuan, hii. Itu mah merekanya aja yang baperan.” Bara bergidik ngeri.


“Dit, aku usulin orang buat jadi sekretaris Bara gimana?” Mesya bertanya pada kekasihnya itu.

__ADS_1


“Jangan cowok, Sya gue gak suka.” Mesya hanya mengangguk dan tersenyum kecil.


“Siapa emang?”


“Mona. Dia yang paling sulit baper dan aku yakin si playboy brengsek ini akan takluk sama dia. Polos-polos gitu Mona galak loh Dit,” Mesya menaik turunkan alisnya. Radit sedang mempertimbangkannya sedangkan Bara yang tidak tahu siapa yang sedang kedua orang itu bicarakan hanya diam memperhatikan.


“Oke aku setuju, kalau begitu suruh dia ke sini nanti setelah selesai istirahat.”


“Cantik gak Sya?” Bara bertanya penasaran.


“Lo tahu resepsionis di bawah?” Bara mengangguk. “Nah salah satu dari mereka akan jadi sekretaris lo,”


“Lo becanda, Sya?” tak percaya Bara menggelengkan kepala. “Masa resepsionis di jadiin sekretaris gue? Gila lo emang, gue butuh sekretaris yang bukan hanya cantik rupanya Sya, tapi juga dapat di ajak kerja sama. Gue kira lo ngerekomendasiin seseorang yang udah ahli di bidang ini, tahunya … Ck.”


Mesya tidak memperdulikan gerutuan sahabat dari kekasihnya itu, memilih melahap makanan yang baru saja datang bersama Radit yang juga sama tidak pedulinya dengan gerutuan Bara, menurut Radit perutnya lebih berharga dari pada ocehan sahabatnya itu.


Setelah melakukan panggilan melalui telepon yang ada di meja kerja Mesya untuk memanggil Mona menghadap bos besar tidak lama perempuan cantik yang di tunggu Mesya datang.


“Ada apa sih, Sya gue sampai di panggil bos segala?” bisik Mona sedikit was-was. Mesya hanya melemparkan senyum tipisnya kemudian mengetuk pintu yang berwarna coklat itu beberapa kali sebelum akhirnya menekan tuas itu ketika seseorang di dalam sana menyuruh masuk.


Mona mengikuti langkah Mesya dua langkah di belakang perempuan cantik itu, suasana di sini terasa dingin dan mencekam membuat Mona yang biasa berada di suasana yang ramai menjadi ngeri sendiri apa lagi dengan tatapan seorang laki-laki yang duduk di sofa panjang bersisian dengan Radit seakan mengintimidasinya.


Mesya dengan profesional menyuruh sahabatnya itu duduk di sofa yang bersebrangan dengan kedua laki-laki berwajah menyeramkan versi Mona sedangkan Mesya pamit undur diri meninggalkan Mona bersama kedua pria itu. Dalam hati ia merutuki Mesya yang tega meninggalkannya di sarang buaya ini.


Meskipun kurang tahu mengenai laki-laki yang berada di samping Radit itu, tapi Mona cukup tahu siapa laki-laki itu karena memang pernah beberapa kali melihat Pria itu bersama Radit, tapi untuk namanya tentu saja Mona tidak perduli karena jelas tidak pernah kenalan.


“Kamu tahu alasan kenapa di panggil ke sini?” Radit buka suara setelah beberapa menit membisu.


“Kalau saya tahu alasannya gak akan sampai diam bengong aja Pak. Buang-buang waktu!”

__ADS_1


Radit maupun Bara melotot mendengar jawaban yang keluar dari mulut wanita berwajah polos itu. Untuk keberaniannya Bara acungi jempol, tapi bukan kah kata-kata perempuan cantik itu terkesan tidak sopan, mengingat dia sedang bicara pada atasannya?


“Mulai besok kamu akan jadi sekretaris saya,” ucap Bara dingin.


“What? Jadi sekretaris lo … maksudnya Anda? Gak! Saya menolak, mohon maaf.” Jawab Mona cepat dan menolak dengan tegas, Bara membelalakkan matanya tak percaya.


“Kenapa kamu menolak jadi sekretaris saya?”


“Kenapa Bapak memilih saya untuk menjadi sekretaris bapak?


Bukannya menjawab Mona justru melemparkan kembali pertanyaan pada Bara. Dan itu membuat Bara mengaguk-angguk kecil. Radit hanya memperhatikan keduanya tanpa berniat melerai. Dalam hati Radit menilai bagaimana Mona dan alasan kenapa kekasihnya merekomendasikan perempuan itu untuk Bara sedangkan di perusahaan ini masih memiliki banyak kandidat yang jelas lebih pantas untuk menjadi seorang sekretaris.


“Lagian ya Pak, saya bingung kok seorang asisten harus memiliki sekretaris juga? Kayak bos aja!”


“Karena saya asisten yang special.”


“Spesial, kayak martabak aja,” cibir Mona memutarkan bola matanya malas.


“Menarik juga kamu ternyata,” ucap Bara pada Mona, menatap perempuan cantik itu dari atas hingga bawah, bukan hanya penampilannya saja yang menarik di mata Bara tapi juga dengan ucapan yang selalu wanita itu lontarkan terkesan berani membuat Bara penasaran dengan kepribadian perempuan cantik di depannya.


“Saya memang menarik Pak, tapi maaf Anda bukan tipe saya.”


Radit yang menyaksikan ingin sekali tertawa sekerasnya, menertawakan sahabatnya yang saat ini menganga tidak percaya mendapat penolakan secara tidak langsung dari wanita yang baru saja di kenalnya ini.


“Oke, Dit dia aja yang jadi sekretaris gue.”


“Loh-loh saya kan udah bilang kalau saya tidak setuju,”


“Saya tidak terima penolakan. Mulai besok kamu jadi sekretaris saya. Tidak ada bantahan!” putus Bara tidak bisa di ganggu gugat.

__ADS_1


__ADS_2