My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 39


__ADS_3

Beberapa jam lalu Mesya sampai di tempat tujuannya, jauh dari tempat Radit sekarang. Selama seharian di dalam pesawat, Mesya terus merenungkan tentang bagaimana kelangsungan hubungannya dengan Radit, pria itu memang mengatakan bahwa tidak ada hubungan lain selain berteman dengan perempuan itu, tapi mendengar cerita Radit, cukup membuat Mesya merasa tak pantas berada di samping laki-laki itu. Perempuan itu yang menemani Radit di kala laki-laki itu terpuruk, bukan dirinya. Perempuan itu yang menjadi tempatnya berbagi dan perempuan itu yang selalu ada untuk Radit, bukan Mesya.


Kesedihan yang Radit alami mungkin sedikit banyaknya memang bersangkutan dengan Mesya, tapi yang harus Mesya ingat juga bahwa perempuan itu lah yang membuat Radit bangkit.


Radit memang mengatakan bahwa dia tidak memiliki perasaan apa pun pada Cherry, tidak lebih dari sekedar teman, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa Cherry yang menyimpan rasa itu. Jika memang benar seperti itu, sepertinya Mesya lebih memilih kalah, walau peperangan belum di mulai.


Menatap pemandangan dari balik jendela hotel di korea, tepatnya di pulau Jeju tempat dimana dirinya melarikan diri dari Radit. Perjalanan yang begitu jauh jika di tempuh dari Jerman sana, sampai Mesya harus menguras isi tabungannya, tapi itu tidak masalah selagi ketenangan bisa dirinya dapatkan.


Memang sudah lama Mesya menginginkan pergi ke tempat ini, selain suasananya yang asri tempat ini juga cocok untuk menenangkan diri seperti dirinya. Dan tentu saja, pilihannya datang ke tempat ini pun tidak lepas dari pikirannya, ia tidak ingin hanya menghabiskan waktu di kamar hotel karena sebelum datang ke sini pun Mesya sudah mencari lebih dulu tempat-tempat apa saja yang akan dirinya kunjungi selama di sini, salah satunya adalah Sunrise Peak tempat dimana Mesya bisa melihat megahnya matahari terbit. Walau sepertinya akan lebih indah jika di lihat bersama pasangan tapi tujuan Mesya kali ini adalah menenangkan pikirannya. Jadi lupakan Radit dan hubungannya untuk sejenak, setidaknya sampai ia kembali ke tanah air nanti.


Hari ini Mesya memutuskan untuk istirahat dan akan mulai petualangannya besok, setelah lelahnya berkurang. Meraih benda pipih dari dalam tasnya, Mesya mengaktifkan ponselnya tersebut dan betapa terkejutnya ia saat banyaknya pesan yang masuk juga panggilan tak terjawab dari Radit dan sahabat juga orang tuanya.


“Apa secepat itu kepergianku disadarinya?” tanya Mesya pada dirinya sendiri.


Ponsel Mesya berdering dan saking terkejutnya, ia refleks melemparkan benda itu ke kepala ranjang. Bingung antara harus mengangkat atau mengabaikannya.


Nada dering ponselnya berubah dan Mesya tahu bahwa kali ini orang tuanya yang menghubungi, dengan perasaan gamang, Mesya mengambil benda itu lagi dan menatapnya, kemudian menimbang-nimbang sampai keputusannya ia ambil untuk mengangkat telpon dari sang Bunda.


Dengan takut-takut Mesya menggeser tombol hijau itu, dan mengarahkan benda pipih itu pada telinganya. “Hallo Bunda,”


“Kamu dimana, Kak? Kenapa Bunda hubungin dari kemarin gak kamu angkat juga? Pesan Bunda malah kamu abaikan. Dan kenapa kamu gak pulang bareng Radit? Dia bilang kamu pergi tanpa bilang, kamu kenapa seperti ini sih, Sya? Radit khawatir sama kamu, dia cari kamu ke mana-mana. Dia belum sama sekali istirahat, karena begitu sampai dia langsung cari kamu…”


Mesya benar-benar ingin menangis mendengar omelan bernada khawatir Bundanya itu, tidak pernah sekalipun Mesya membuat Rasti sepanik saat ini. Mesya menjadi merasa bersalah dan sejenak menyesali kepergiannya. Namun bicara soal Radit, Mesya tak menyangka bahwa laki-laki itu akan langsung pulang menyusulnya, walau tetap tidak menemukan Mesya yang memang pergi berlawanan arah dengan laki-laki itu.

__ADS_1


“Sya, Syasa kamu dengar Bunda kan, Nak?”


“Iya Bunda Syasa dengar,”


“Kamu dimana, sayang? Pulang, Nak jangan main kabur-kaburan seperti ini. Jika kalian memang sedang ada masalah, selesaikan, jangan lari. Kasihan Radit bingung mencari kamu, pulang ya, Nak. Bunda mohon!”


“Iya Bunda, nanti Sya pulang.”


Kelemahan Mesya memang ada pada sang Bunda, ia tidak bisa menolak apa lagi jika wanita tersayangnya itu sudah memohon. Mesya lemah jika seperti ini, dan ia marah pada Radit yang mengetahui kelemahannya.


Setelah menutup sambungan telepon dan melemparkan benda itu ke sembarang arah, Mesya menoleh pada kopernya yang tergeletak di samping lemari, menatap malas pada benda itu, karena kini ia harus kembali mengemas pakaiannya yang baru beberapa jam ia pindahkan. Selesai semua pakaiannya masuk ke dalam koper lagi, Mesya membaringkan tubuhnya di kasur, memejamkan matanya dan memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut nyeri. Pusingnya belum hilang, hatinya belum tenang, dan tangisnya baru saja mengering, tapi pikirannya harus bertambah dengan tangisan sang Bunda yang meminta dirinya pulang, belum lagi nanti ia harus menghadapi Radit.


Mengambil kembali ponsel yang semula ia lemparkan, Mesya membuka aplikasi untuk memesan tiket kepulangannya ke tanah air. Setelah itu berusaha memejamkan kembali matanya, mengistirahatkan tubuh juga pikiran, berharap saat pulang di esok hari ia merasa lebih baikan.


Pukul dua lewat tiga puluh siang, Mesya sampai di bandara, menunggu taksi yang akan mengantarnya pulang ke rumah. Mesya memang tidak mengatakan akan pulang pukul berapa pada sang bunda, membuatnya tidak ada yang menjemput.


Dalam perjalanan pikirannya terus melanglang buana, ia masih bingung harus menghadapi kekasihnya bagaimana setelah ini juga bagaimana menjelaskan soal alasan kepergiannya. Sampai di depan rumah yang hanya di tinggali dirinya dengan sang Bunda, Mesya turun setelah memberikan sejumlah uang sesuai dengan tagihan, dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada supir tersebut.


Melangkah masuk, Meysa terus melapalkan doa, berharap bahwa tidak detik ini juga ia bertemu dengan Radit. Tapi sayang, harapannya tidak terkabul, karena begitu dirinya masuk ke dalam rumah, Radit lah yang menjadi orang pertama yang menyambutnya, padahal mobil laki-laki itu tidak terlihat di parkiran.


“Sya, astaga akhirnya kamu pulang juga,” ucap Radit dengan bahagia, langsung berhambur memeluk Mesya yang sama sekali tidak bereaksi. “Kenapa pergi, Sya? Kenapa buat aku khawatir? Aku hampir gila begitu tidak menemukan kamu di rumah. Jangan ulangi lagi, Sya aku mohon, jangan buat aku takut seperti ini lagi,” lanjut Radit masih dalam posisi memeluk kekasihnya itu, nada khawatir dan ketakutan memang jelas Mesya rasanya, tubuh laki-laki itu bergetar dan pelukannya begitu erat membuat Mesya merasakan sesak. Namun juga rasa nyaman tetap dirinya rasakan, akan tetapi mengingat kembali wanita bernama Cherry, hatinya tiba-tiba semakin sesak dan air matanya menetes tanpa di minta.


Radit mengurai pelukannya saat tidak juga ia rasakan sang kekasih membalas pelukannya. Hanya helaan napas pelan yang Radit keluarkan begitu melihat kekasihnya yang hanya menunduk.

__ADS_1


“Kamu istirahat dulu, nanti baru kita bicarakan lagi,” ucap Radit pada akhirnya. Mesya sama sekali tidak memberi jawaban, tidak ada anggukan, tidak juga gelengan. Hanya mengikuti saja Radit membawanya ke kamar.


“Kamu istirahat saja, Bunda sedang ada urusan sebentar. Jika butuh sesuatu, aku ada di bawah,” kata Radit begitu menyimpan koper Mesya di pojok kamar. Mengerti dengan kekasihnya yang masih ingin menenangkan diri, Radit memilih untuk keluar dari kamar Mesya setelah memberikan kecupan singkat di kening wanita tercintanya itu.


Sepeninggalnya Radit, barulah Mesya menaikan pandangannya, menatap pintu yang sudah kembali di tutup dari luar. Air matanya semakin deras mengalir, bingung dengan dirinya sendiri yang tidak tahu harus bersikap seperti apa. Mesya jelas mencintai Radit, rasa itu tidak pernah hilang sejak lima tahun lalu, tapi kenyataan bahwa bukan dirinya yang berada di samping laki-laki itu ketika masa sulitnya, membuat Mesya merasa tidak pantas bersanding dengan Radit, Mesya merasa tidak pantas mendapat cinta laki-laki itu, apa lagi kenyataan bahwa banyak yang tidak dirinya ketahui mengenai hubungan keluarga Radit dan pria itu sendiri.


Dulu mereka boleh dekat, tapi setelah jarak memisahkan, kabar apa pun itu tidak pernah lagi Mesya dengar sejak 5 tahun belakangan termasuk tentang hubungan Radit dan kedua orang tuanya yang terlihat seakan berjarak, membuat Mesya merasa menjadi orang baru di tengah-tengah mereka, meskipun orang tua Radit masih seramah dan sehangat dulu pada dirinya.


Masuk ke kamar mandi, Mesya memilih untuk berendam dalam air hangat, merilekskan tubuhnya yang sedikit lelah akibat perjalanannya sampai tidak terasa dirinya tertidur dan begitu bangun sudah berada di ranjang kamarnya, dengan pakaian tidur yang lengkap, dalam hati ia mencoba mengingat, tapi tidak ada ingatan lain selain keberadaannya dalam bak mandi sore tadi, sedangkan sekarang langit sudah berganti malam, dan jarum jam sudah menunjukan pukul 21.45.


Bunyi ‘kruyuk’ yang di timbulkan dari perutnya membuat Mesya meringis dan bangkit dari tidurnya, melangkah keluar dari kamar menuju dapur, mencari apa saja yang dapat dirinya makan untuk menghentikan konser para cacing di dalam perutnya.


Kenyang dengan itu, Mesya kembali ke kamarnya dan meraih ponsel yang berbunyi begitu nyaring, menandakan ada panggilan masuk. Enggan sebenarnya, tapi Mesya tetap mengangkat panggilan dari sahabatnya yang memang beberapa hari ini selalu ia abaikan pesan dan panggilannya.


“Hallo, iya, kenapa? What! Kok, bisa? Oke gue ke sana sekarang.”


Mesya memutuskan sambungan sepihak kemudian dengan cepat mengganti pakaian, dan menyambar kunci mobil yang berada di atas nakas.


“Loh, Sya kamu mau ke mana?” Rasti yang terbangun dan hendak ke dapur bertanya begitu melihat anaknya turun dengan tergesa.


“Sya mau ke bar, Bun, Radit mabuk.”


Rasti yang hendak bertanya kembali urung, karena sang putri sudah berlalu menjauh. Gelengan kepala yang wanita baya itu lakukan melihat kepanikan anak pertamanya.

__ADS_1


“Dasar anak muda sekarang, punya masalah bukannya di selesaikan baik-baik malah lari ke minuman.” Guman Rasti seraya kembali menggelengkan kepalanya.


__ADS_2