My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 33


__ADS_3

Mesya melihat wajah kesal Mona begitu perempuan cantik itu keluar dari ruangan Radit. Dengan cepat Mesya menghampiri sahabatnya itu dan menanyakan hal apa yang terjadi pada wanita itu.


“Gila aja tuh asistennya laki lo, masa maksa gue buat jadi sekretaris dia? Gue mana ada pengalaman tentang itu, lagian gue mah ogah kerja sama cowok kayak dia!”


Mesya menepuk-nepuk pelan punggung sahabatnya itu agar emosinya mereda. Kasihan sih sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, cuma Mona yang seimbang untuk laki-laki model Bara yang selalu mainin perasaan perempuan. Mesya percaya pada sahabat satunya itu bahwa dia memang pilihan yang tepat untuk Bara. Untung-untung keduanya nanti memiliki ketertarikan dan melanjutkan hubungan yang lebih dari patner kerja.


“Ya udah sih, Mon, lo terima aja kali, lagian kapan lagi bisa di angkat jadi sekretaris. Gajinya gede loh Mon, lo juga jadi bisa ngasih lebih sama orang tua lo di kampung.”


Mona yang mendengar itu terdiam, mencoba mencerna apa yang di ucapkan sahabatnya. “Lo yakin Sya, gajinya besar?” Mesya mengangguk yakin. “Ok deh kalau gitu, gue terima jadi sekretaris dia. Doain gue supaya kuat berhadapan dengan laki-laki itu ya, Sya,” putus Mona setelah beberapa menit mempertimbangkan. Mesya hanya menjawab dengan anggukan dan membiarkan sahabatnya itu untuk kembali ke meja kerjanya.


Mesya lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya dan menyerahkan dokumen-dokumen itu pada Radit yang sepertinya hari ini akan mendapatkan lembur melihat begitu banyaknya map-map di atas meja laki-laki itu.


“Ini yang terakhir Pak,” ucap Mesya seraya menyerahkan beberapa map yang berada di tangannya.


“Simpan saja di sana.” Radit menjawab tanpa sedikit pun mengalihkan fokusnya dari tumpukan kertas di hadapannya.


“Tolong bikinkan kopi, Sya,” pinta Radit masih tidak juga mendongakkan wajahnya. Mesya mengangguk kemudian keluar dari ruangan bosnya itu. Di saat seperti ini lah Mesya di tuntut untuk mengerti dan memahami kekasihnya.


Keadaan kantor sudah cukup sepi, karena sebagian karyawan sudah pulang menyisakan orang-orang yang kebagian lembur. Sekembalinya dari pantry, selesai membuat kopi untuk Radit, Mesya berpapasan dengan Bara yang sepertinya akan menuju ruangan Radit.


“Eh ada Ibu bos, bikin kopi buat Bapak, Bu?” tanya Bara dengan godaannya.


“Buat nyiram lo, Bar!” jawab Mesya dengan sarkasme. Bara terkekeh mendengar jawaban itu tidak sama sekali tersinggung.

__ADS_1


“Sekalian bikini buat gue juga napa sih!”


“Ye, mana tahu gue kalau lo mau ke ruangannya Radit juga. Biasanya kan lo langsung minggat!” cibir Mesya yang lagi-lagi mendapat kekehan dar laki-laki itu.


“Ya udah sekarang aja lo balik bikin lagi, ini biar gue yang bawa ke laki lo.”


“O.g.a.h!” kata Mesya dengan penekanan di setiap hurufnya lalu melenggang pergi mendahului Bara yang saat ini tertawa di tempatnya.


“Kopinya Pak,” Mesya meletakan cangkir yang di bawanya itu di atas meja sedikit jauh dari kertas-kertas yang menjadi perhatian Radit.”


“Makasih,” hanya dengan anggukan Mesya menjawab ucapan bosnya itu.


Setelah meneguk sedikit kopinya, Radit kembali memfokuskan matanya pada pekerjaan sedangkan Mesya memilih mengalah dan tidak mengganggu laki-laki itu, duduk di sofa mesya memilih untuk memainkan ponselnya sampai Bara datang dan ikut bergabung dengannya sama-sama tidak berani mengganggu sang bos yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


“Untuk apa?” heran Mesya menaikan sebelah alisnya.


“Ck. Buat hubungin dia lah, ngingetin bahwa besok dia harus udah kerja jadi sekretaris gue,”


“Yakin cuma untuk itu?” goda Mesya membuat Bara mendengus kesal dan memutar bola matanya jengah.


Mesya terkekeh geli dan mengambil ponsel Bara dengan paksa kemudian menuliskan sesuatu di ponsel laki-laki itu. Senyum terbit di sudut bibir laki-laki itu, namun berusaha Bara sembunyikan.


Tak lama laki-laki itu bangkit dari duduknya dan pamit untuk pergi, entah akan ke mana karena Mesya tidak berniat untuk bertanya. Dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 21:15 tapi Radit masih saja sibuk dengan kertas-kertas di depannya dan mereka sudah melewatkan makan malam.

__ADS_1


“Dit udah dulu kerjanya, di lanjut besok aja, ya? Sekarang sudah malam dan kamu juga belum makan,”


“Iya, Sya, sebentar,” sahutnya tanpa menoleh sedikit pun.


“Dit ayo lah, tubuh kamu juga butuh asupan! Jangan hanya karena kertas-kertas berhargamu itu sampai membuat kamu menyiksa perutmu sendiri. Pikirkan juga kesehatan kamu Dit!”


“Tanggung Sya, sedikit lagi selesai kok.”


Jawaban yang di berikan Radit tidak serta merta membuat Mesya mempercayai itu karena ia cukup tahu sedikit versi Radit seperti apa. Memberanikan diri, Mesya menutup map yang tengah di baca Radit. “Kita makan malam dulu, nanti kita kembali lagi kesini atau pekerjaannya bawa kerumah!”


Melihat raut tegas tidak ingin di bantah milik Mesya akhirnya Radit menghela napas pasrah kemudian mengangguk kecil dam membereskan map-map itu lalu di masukan ke dalam tas kerjanya. Radit berniat menyelesaikan pekerjaannya di rumah walaupun harus begadang hingga pagi yang penting pekerjaannya selesai dan dia bisa pergi menjenguk orang tuanya dengan tenang sekaligus membawa Mesya untuk meminta restu mereka menikahi perempuan cantik itu.


“Mau makan dimana?” Radit bertanya saat mereka sudah berada di dalam mobil.


“Warung sate di dekat pasar malam aja,” Radit mengangguk menyetujui usulan kekasihnya itu dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kantor yang sudah begitu sepi.


“Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi ikutan pulang malam seperti ini,” sesal Radit begitu mereka berada di lampu merah.


Senyum menenangkan Mesya berikan. “Gak apa-apa kok, lagian aku juga cuma diam aja ‘kan? Selama itu di sisi kamu aku gak merasa keberatan kok, Dit.”


Mengelus lembut rambut kekasihnya kemudian Radit meraih tangan Mesya yang berada di paha perempuan itu dan ia kecup kemudian ia letakan di pipinya sendiri, menikmatinya sejenak sambil menunggu lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau.


“Aku bahagia kembali bersama kamu Sya, dan selamanya tidak akan pernah aku melepaskanmu. I love you, Sya.”

__ADS_1


“I love you too.”


__ADS_2