
Sudah hampir satu minggu Mesya tidak bertemu dengan Radit, bukan karena mereka tengah bertengkar tapi karena kekasihnya itu sedang melakukan perjalanan bisnis bersama Bara, sang asisten. Ketidak beradaan Radit membuat Mesya kesepian dan bosan berada di kantor.
Meskipun pria itu masih rutin menghubunginya tapi tetap saja rasa rindu itu nyatanya tidak juga pergi malah semakin bertambah dan keinginan untuk bertemu begitu menggebu. Mesya masuk ke dalam ruangan Radit yang kosong tanpa pemilik saat pekerjaannya lebih dulu ia selesaikan. Walau sudah menjadi kekasih dari sang boss tapi Mesya tidak ingin berlaku seenaknya dan ia tetap profesional meskipun tidak jarang laki-laki itu menggodanya di saat kesibukan kerja.
Mesya membaringkan tubuhnya di ranjang kecil ruangan Radit, ia ingin istirahat sejenak sebelum pulang nanti, juga menghirup aroma Radit yang tertinggal di ruangan yang tidak cukup luas ini.
Menonton drama yang baru-baru ini Mona rekomendasikan di ponsel, Mesya larut dalam keseruannya sampai tidak sadar bahwa hari mulai gelap kalau saja perutnya tidak berontak minta di isi.
Mesya lebih dulu melirik jam di pergelangan tangannya, sudah pukul tujuh malam dan ia yakin bahwa keadaan kantor sudah sepi saat ini. Meraih tas dan juga mengenakan kembali heelsnya Mesya berjalan ke luar dari ruangan Radit berjalan anggun menuju lift untuk mengantarnya menuju lobi. Dan benar saja, di sana sudah sepi di parkiran pun tidak banyak kendaraan hanya ada mobilnya dan tiga mobil lain yang entah milik siapa.
Mesya membuka kunci mobilnya dan hendak membuka pintu tersebut tapi pergerakannya itu tertahan saat ada sebuah tangan yang menariknya sampai membuat Mesya limbung dan jatuh di dada keras yang entah milik siapa.
“Aaa!” pekik Mesya cukup keras dan berusaha melepaskan diri dari orang yang kini sudah melingkarkan tangannya di tubuh Mesya.
“Aku merindukanmu,” gumam suara serak itu, membuat Mesya menegang di tempatnya. Ia tahu betul milik siapa suara itu. Suara yang sudah begitu lama tidak ia dengar.
Mesya terus berontak minta di lepaskan namun laki-laki itu nyatanya malah semakin erat memeluk Mesya. Jelas saja Mesya tidak terima karena ia sungguh benci dengan orang yang sudah mengkhianati disaat dirinya berusaha untuk mempertahankan. Ia benci bahkan tidak ingin lagi melihatnya.
“Lepas Aldrich!” teriak Mesya memukul-mukul punggung laki-laki itu cukup keras.
__ADS_1
“Aku kangen kamu, Sya. Tolong kembali padaku, aku janji akan memperbaiki kesalahan yang sudah kuperbuat, aku janji Sya. Aku mohon kembali,” ucap Aldrich terdengar memohon.
“Lepas Aldrich!!” sentak Mesya keras seraya mendorong tubuh Aldrich dengan kekuatan penuh sampai membuat laki-laki itu terdorong beberapa langkah. Dapat dengan jelas Mesya lihat bahwa laki-laki itu sedang kacau dan mabuk karena penampilannya yang memang tidak serapi biasanya juga bau alkohol sempat tercium inderanya.
“Sya, maafin aku. Aku janji gak akan mengulangi kesalahan itu lagi, maaf sudah mengkhianati kamu. Dan aku mohon kembali kepadaku Sya. Aku benar-benar gak bisa tanpa kamu,” Aldrich melangkah maju sedangkan Mesya berjalan mundur.
“Aku sudah memaafkan kamu Al, tapi untuk kembali aku jelas tidak bisa karena aku sudah akan menikah.”
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Mesya barusan membuat Aldrich mengeraskan rahangnya juga mengepalkan kedua tangannya wajahnya sudah merah padam menahan amarah. Dengan kuat menarik Mesya dan mencengkram bahu Mesya kuat.
“Bilang kalau itu cuma bohong, Mesya!” sentak Aldrich dengan keras. Mesya menahan ringisan kesakitannya menatap tajam pada laki-laki di depannya walau sebenarnya ia merasakan takut.
“Aku memang akan menikah Al sama Radit.”
Nada suara marah Aldrich membuat Mesya takut apa lagi cengkraman Aldrich yang semakin kuat membuat air mata yang sejak tadi ia tahan luruh begitu saja. Dengan sisa tenaganya Mesya terus memukul-mukul tangan juga dada Aldrich apa lagi saat laki-laki itu mendekatkan wajahnya.
Keadaan parkiran benar-benar sepi saat ini padahal sedari tadi Mesya sudah berteriak meminta bantuan tapi tidak ada seorangpun yang datang. Dalam hati ia berdoa dan berharap akan ada seseorang yang menyelamatkan dirinya dari kegilaan Aldrich yang mabuk.
Saat laki-laki itu hendak mencium bibirnya dengan cepat Mesya memalingkan wajahnya sampai ciuman Aldrich meleset. Suara geraman laki-laki itu membuat tubuh Mesya semakin gemetar apa lagi cengkraman Aldrich bertambah kuat, seakan membuat rontok tulang pundak Mesya.
__ADS_1
“Ini yang membuat aku selingkuh di belakang kamu, Sya karena kamu selalu menolak untuk aku sentuh. Jadi apa salahku jika aku melempiaskannya pada perempuan lain di luar sana? Kamu tahu aku sangat mencintai kamu Sya, tapi aku juga tersiksa saat kamu selalu menghindar ketika kusentuh. Aku laki-laki normal yang tidak tahan dengan tubuh indah seorang wanita dan aku selama ini tersiksa karena hanya bisa membayangkan tubuhmu tanpa bisa aku sentuh. Tapi kali ini tidak akan lagi aku biarkan kamu menolakku!”
Mesya semakin ketakutan dan gemetar apa lagi melihat kilatan amarah dan juga gairah di mata biru itu. Tidak hentinya Mesya menggumamkan nama Radit dalam hatinya walau ia tahu bahwa kekasihnya itu berada jauh di Negara lain tapi bolehkah ia berharap bahwa laki-laki itu akan menyelamatkanya?
Air mata Mesya terus mengalir dengan deras membasahi pipinya dan itu membuat Aldrich tertawa puas apa lagi melihat binar ketakutan di mata Mesya.
“Jangan takut sayang, aku tidak akan menyakitimu asalkan kamu mau menuruti setiap ucapanku,” ucapan lembut Aldrich itu nyatanya malah membuat Mesya semakin ketakutan dan air matanya semakin deras mengalir.
“Kamu tahu, aku begitu merindukan bibir seksimu itu? Rasa manis dan kenyalnya selalu membuat aku ketagihan dan ingin sekali terus melahapnya. Bukan hanya itu saja, aku pun ingin merasakan tubuh indahmu, menelanjangimu saat ini juga dan menginginkan milikku berada di dalammu,”
Mesya semakin ketakutan mendengar ucapan brengsek yang keluar dari mulut laki-laki bule yang tengah mabuk itu.
Mencengkram pipi Mesya dengan kuat Aldrich langsung menyambar bibir yang sedari tadi menggodanya, tapi Mesya tidak juga diam, kepalanya ia geleng-gelengkan agar terhindar dari ciuman Aldrich membuat laki-laki itu semakin mengeraskan wajahnya.
Melepaskan kasar tangannya yang mencengkram pipi Mesya kemudian melayangkan tamparan yang cukup kuat sampai ujung bibir Mesya robek dan mengeluarkan darah. Perih dan panas itu Mesya rasakan. Mesya memejamkan matanya saat satu lagi tamparan akan mendarat di pipinya tapi sebelum itu terjadi Mesya merasakan bahwa cengkraman di bahunya yang satunya lagi terlepas juga suara gedebug sebuah pukulan terdengar membuat Mesya dengan perlahan membuka matanya dan terkejut saat di depannya seseorang yang begitu Mesya harapkan kedatangannya tengah memukuli Aldrich dengan membabi buta.
Setelah Aldrich berhasil di lumpuhkan, Radit dengan cepat menghampiri Mesya yang bergetar ketakutan, dan kemudian menangis dalam pelukan Radit.
“Urus si bajingan itu, Bar. Dan pastikan dia mendekam di penjara.” Perintah Radit dengan tegas yang langsung di angguki oleh asisten pribadinya itu. Sedangkan dirinya membawa Mesya masuk ke dalam mobil perempuan itu.
__ADS_1
Mengelus dan sesekali mengecup kening kekasihnya Radit mencoba menenangkan Mesya. Hatinya sakit melihat wanita tercintanya seperti ini. Beruntung ia datang walau sedikit terlambat. Jika saja tadi tidak menelpon Rasti dan mengetahui kekasihnya itu belum pulang, mungkin Radit tidak akan berada di sini sekarang.
Entah apa yang akan terjadi jika sedikit saja dirinya telat. Tapi Radit bersumpah tidak akan pernah melepaskan laki-laki brengsek yang sudah menyakiti Mesya.