
Makan dalam kesunyian begitu tidak sesuai dengan suasana restoran yang hangat dan romantis. Mesya memilih makan dalam diam, menunduk seakan hanya ada dirinya sendiri di sana. Sesekali Radit menoleh pada kekasihnya itu, ingin sekali ia membuka pembicaraan, tapi sepertinya Mesya memang sedang tidak ingin melakukan itu.
Selesai makan, Radit memutuskan mengajak Mesya untuk pulang, dan di sepanjang perjalanan pun masih juga tidak ada percakapan. Radit memutuskan untuk membawa kekasihnya itu ke rumahnya, ia ingin menyelesaikan semuanya sekarang. Meyakinkan Mesya bahwa hanya perempuan itu yang Radit cinta, dan hanya perempuan itu yang pantas untuk mendampinginya, meski Cherry adalah wanita yang menemani dirinya ketika dalam masa sulitnya, tapi itu tidak membuat Radit menyimpan rasa pada perempuan itu.
“Kenapa ke sini?” Mesya bertanya dengan kening berkerut saat menyadari bahwa pria itu tidak mengantar ke rumahnya melainkan ke rumah pria itu sendiri
“Kenapa memangnya? Ini rumah aku, rumah kita.” Jawab Radit, menaikan sebelah alisnya.
“Ta--”
“Turun,” pinta Radit, membukakan pintu untuk kekasihnya itu.
“Aku mau pulang, Dit, aku cape--”
“Turun, Sya! Apa kamu memang lebih suka di paksa?”
Mesya menghela napasnya, kemudian keluar dari dalam mobil, melenggang melewati Radit masuk ke dalam rumah dan langsung berlalu menuju lantai atas, dimana kamar yang menjadi tempatnya biasa tertidur ketika berada di rumah besar milik Radit.
“Kita bicara, Sya,” kata Radit begitu berada beberapa langkah di belakang wanita cantik itu.
“Bukannya sejak tadi juga kamu sudah bicara?” jawab Mesya tanpa menoleh pada Radit, melanjutkan langkah dan duduk di tepi ranjang.
Radit membuang napasnya lelah, melangkah mendekat dan berdiri di depan perempuan cantik itu. “Ayo kita menikah,” kata Radit dengan nada serius.
Mesya menghentikan gerakan memijat kakinya, mendongak, menatap laki-laki tinggi itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Keduanya saling tatap, mengunci pandangan satu sama lain cukup lama sampai Mesya lebih dulu memutuskan itu, menunduk tanpa memberi jawaban.
__ADS_1
“Mari kita menikah, Sya, agar kamu tahu bahwa cuma kamu yang pantas untuk mendampingiku, agar kamu tahu sebesar apa cintaku, dan agar kamu tahu bahwa hanya ada kamu dalam hati dan pikiranku. Sejak dulu kamu tidak pernah tergantikan, meski banyak wanita yang pernah singgah termasuk Cherry.”
Nada serius itu membuat Mesya semakin tertunduk. Tidak ada kata yang mampu dirinya ucapkan dan tiada kuasa untuk dirinya menatap sang kekasih.
“Kamu tahu, kepergianku dulu bukan keinginanku. Mungkin jika sejak pertama aku tahu alasan kepindahan Papa dan Mama, aku akan lebih memilih tetap tinggal di sini, bersama kamu …,”
Mesya mendongakkan kepala, mendengar cerita Radit yang mengalir begitu saja, mendengarkan dengan seksama. Rasa tidak percaya juga iba bersarang di hatinya. Ia dapat melihat sorot luka di mata laki-laki tercintanya itu, juga sorot kecewa yang begitu ketara. Radit tidak menghentikan ceritanya yang kadang di barengi dengan senyum tipis dan tawa hambarnya.
“Bisa kamu bayangkan bagaimana hancurnya aku ketika itu? Hancurnya kehilangan kamu, dan keretakan dalam keluargaku. Di saat itu aku membutuhkan kamu, tapi aku tahu, kamu terlanjur kecewa karena kepergianku. Cherry hadir mungkin memang sudah Tuhan rencanakan untuk menjagaku agar tidak terlalu jatuh ke dalam kegelapan yang akan semakin membuatmu kecewa dan benci terhadapku.”
Radit menyelesaikan ceritanya dengan senyum tegar yang begitu terlihat di paksakan. “Sudah malam, istirahatlah,” kata Radit mengecup sekilas kening Mesya kemudian melangkah untuk keluar dari kamar, tapi Mesya lebih dulu meraih tangan laki-laki itu, menghentikan langkah kekasihnya yang terlihat berat.
“Kamu mau ke mana? Kamu juga harus istirahat, Dit,”
“Disini aja, aku tahu kamu lagi se--”
“Gak usah, Sya, aku gak suka di kasihani,” jawab Radit memotong dengan suara dingin yang membuat Mesya terkejut untuk beberapa saat.
“Ya sudah, silahkan keluar,” kata Mesya yang dengan kasar melepaskan tangan kekasihnya itu, bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar mandi, niat awal yang ingin mulai memperbaiki hubungan, urung karena terlanjur kesal pada sang kekasih.
Sepanjang membersihkan diri, Mesya tidak hentinya menggerutu. Kesal dengan Radit yang malah menganggap ia mengasihaninya, meskipun awalnya memang seperti itu, tapi bukan itu alasan utamanya, Mesya hanya rindu tidur dalam pelukan laki-laki yang masih saja menjadi raja di hatinya itu, tapi mendengar nada datar Radit membuatnya kesal.
“Ngapain masih disini?” tanya ketus Mesya begitu keluar dari kamar mandi dan masih melihat keberadaan laki-laki itu, duduk di tepi ranjang.
“Kenapa emang? Ini kamar aku, bebas dong aku mau ngapain aja,” jawabnya dengan kening berkerut dan kembali memfokuskan diri pada ponsel yang di pegangnya.
__ADS_1
Mesya mendengus kesal, dan melanjutkan langkah menuju lemari, mengambil kemeja Radit untuk dirinya pakai, karena tidak ada pakaian tidur miliknya di rumah ini, tidak mungkin bukan jika ia harus tidur menggunakan pakaian kerja?
Mesya naik ke tempat tidur, membaringkan tubuhnya yang lelah, dan menarik selimut hingga batas dada, mengabaikan Radit yang masih berada di posisi semula, duduk sambil memainkan ponsel.
“Jangan lupa matikan lampu,” pesan Mesya sebelum dirinya memejamkan mata dan bersiap menggapai alam mimpinya. Radit hanya membalas dengan deheman kecil.
Menoleh sekilas pada kekasihnya yang berbaring membelakanginya, Radit kemudian meletakan ponselnya di nakas dan masuk ke dalam kamar mandi, rasa lelah dirinya rasakan dan kantuk sudah menyerang, tapi tidak nyaman jika tertidur dalam keadaan lengket akibat keringat.
Lima belas menit berada di kamar mandi, Radit kembali dengan tubuh yang sudah segar dan siap untuk berbaring di samping sang kekasih yang amat dirinya rindukan.
“Jangan peluk-peluk!” sargah Mesya begitu tangan Radit melingkar di pinggangnya.
“Diam, deh, Sya. Aku juga tahu kamu rindu pelukan aku,” kata Radit yang mempererat pelukannya di pinggang ramping itu.
“Dih, percaya diri sekali kamu!”
“Tidur, Sya, sebelum aku benar-benar menidurimu,” ancam Radit yang menghadirkan decakan kesal dari perempuan cantik itu. Namun Mesya tetap menurut, memejamkan matanya dan bergerak mencari posisi yang nyaman.
“Dasar perempuan, awalnya sok-sokan nolak, tahu-tahunya tetap juga nyari kenyamanan!” cibir Radit, tapi senyum tetap tersungging di bibir laki-laki itu.
“Berisik, Dit, aku ngantuk,”
“Ngantuk, ya tidur,”
“Ya, makanya diam jangan bicara terus!” sentak Mesya yang membuat Radit mencebikan bibirnya, mendumel tanpa suara.
__ADS_1