My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 48


__ADS_3

Meski sudah menikah, Mesya meminta untuk Radit tetap mengizinkannya bekerja, dan tentu saja pria itu menolak dengan cepat. Tapi Mesya tetaplah Mesya yang keras kepala, dan dengan segala bujuk rayunya, akhirnya ia dapat meluluhkan Radit dan menyerah pada keputusannya, meskipun ada beberapa persyaratan yang harus Mesya terima.


“Sya, udah pukul 17:15. Ingat perjanjian,” kata Radit yang sengaja keluar dari ruangannya, meninggalkan pekerjaan yang menumpuk hanya untuk mengingatkan istri sekaligus sekretarisnya itu.


“Kerjaan aku masih bany--”


“Berhenti sekarang atau resign?”


Mesya menghela napasnya pasrah kemudian segera mematikan komputer, merapikan berkas di meja kemudian mengemasi barang pribadinya kedalam tas tangan kesayangannya. Bangkit dari duduk dan menghampiri Radit, mendelik kesal pada suaminya itu kemudian berkata, “puas!”


Senyum Radit mengembang melihat kekesalan di wajah istri tercintanya itu, tapi ia juga tidak kalah kesal karena mendapati istrinya yang melanggar penjanjian yang beberapa waktu mereka buat. Niat Radit tentu saja bukan untuk mengekang istrinya, tapi ini ia lakukan karena tidak ingin membuat Mesya lelah. Bagaimanapun Mesya sudah menjadi istrinya, Radit tidak ingin sampai membuat istrinya sakit yang di akibatkan oleh pekerjaan yang menumpuk.


Mengikuti Mesya yang sudah masuk ke dalam, Radit melangkah santai, kemudian duduk di samping wanita cantik yang cemberut itu.


“Kamu gimana sih, Dit, kita kan sudah melakukan perjanjian bahwa selama bekerja kita harus profesiaonal. Ka--”


“Tapi di perjanjian itu sudah jelas bahwa jam kerja kamu hanya sampai pukul lima sore, dan keprofesionalan kita berakhir tepat di waktu itu. Jadi, gak salah ‘kan? Aku tidak melanggar perjanjian kita,” ucap Radit memberikan senyum kemenangannya, mengecup pelipis Mesya singkat kemudian kembali bangkit dari duduknya dan kembali ke meja kerjanya karena masih ada beberapa berkas yang harus ia pelajari dan tanda tangani


“Aku akan secepatnya mencari asisten untuk kamu, Sya,” kata Radit dengan tatapan lurus pada berkas di tangannya.


“Aku gak butuh asisten, Dit!”

__ADS_1


“Kamu butuh sayang, nanti dia akan bantu mengurus pekerjaan kamu.”


“Radit! Aish… terserahlah.” Pasrah Mesya, menghentakan punggungnya pada sandaran sofa.


Semenjak menikah dan memperdebatkan pekerjaan, memang tidak pernah Mesya menangkan jadi, membantah pun percuma karena laki-laki itu akan tetap pada keputusannya sendiri.


Pukul 19.35 Radit baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Membereskan berkas-berkas yang semula berantakan dan mematikan laptopnya, Radit menoleh ke arah sofa dimana istrinya berada, menunggu sejak tadi. Senyum terukir begitu mendapati sang istri yang terlelap di sofa itu, Radit segera menghampiri dan berjongkok di pinggir, menatap lekat-lekat wajah cantik istrinya kemudian mengarahkan tangannya pada kening gadis cantik itu, mengusap kerutan halus di sana. Radit tahu bahwa Mesya lelah, tapi perempuan itu tidak pernah mau mengaku dengan alasan bahwa dia menyukai pekerjaannya.


“Bangun Sya, kita pulang,” ucap Radit lembut.


“Aku lapar, Dit,” kata Mesya dengan suara serak khas bangun tidur. Nendengar itu, Radit tersenyum kecil kemudian mengangguk.


“Kita makan dulu kalau begitu.”


Sampai di tempat makan yang di tuju, Radit, Mesya termasuk pak supir turun dari mobil, masuk ke dalam rumah makan sederhana yang cukup ramai ini. Mesya langsung berbinar begitu melihat menu apa saja yang ada di dalam buku dan tidak sungkan untuk menyebutkan satu per satu makanan yang di inginkannya, sampai membuat Radit dan pak supir yang Mesya ajak masuk juga menggelengkan kepala.


“Kamu yakin akan makan sebanyak itu? Ini udah malam, loh, gak takut gendut?” kata Radit begitu pelayan pergi setelah mencatat pesanan mereka bertiga.


“Kamu gak suka kalau aku gendut?” tanya Mesya balik.


“Bagaimanapun kamu, aku tetap cinta,” jawab Radit menjawil gemas hidung mancung istrinya.

__ADS_1


“Kalau begitu gak masalah kan aku makan banyak?” Radit tersenyum dengan pertanyaan istrinya itu. Mengangguk dan senyum terukir manis Radit jadikan sebagai jawaban atas persetujuannya.


Mata Mesya berbinar begitu satu per satu makanan tersaji di meja, liurnya seakan menetes, dan tidak sabar untuk melahap semua itu.


“Makan yang banyak Pak, jangan sungkan,” ucap Mesya menoleh pada laki-laki berusia empat puluh tahun yang duduk di depannya. Supir Radit itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih, merasa beruntung memiliki majikan seperti Radit di tambah dengan istri sang bos yang begitu baik.


Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan sebanyak itu, karena keadaan ketiganya yang memang tengah lapar, apa lagi dengan Mesya yang sepertinya tidak sama sekali merasa malu makan dengan begitu lahapnya, tidak peduli walau sang suami atau supirnya akan merasa ilfeel.


Kenyang setelah mengisi perut, mereka memutuskan untuk pulang mengingat hari yang semakin beranjak malam, dan rasa lelah jelas sudah di rasakan.


Sesampainya di rumah, Radit dan Mesya langsung naik ke kamarnya, sama-sama membersihkan diri sebelum naik ke atas tempat tidur. Radit menarik istrinya ke dalam pelukan dan menghujani kecupan di seluruh wajah istrinya dengan gemas.


“Radit, ish, aku mau tidur tahu,” protes Mesya yang berontak minta di lepaskan.


“Jangan dulu tidur, Sya, aku mau minta jatah malam ini.” Radit berkata tepat di depan telinga istrinya, dan tidak lupa memberikan jilatan dan menggigit kecil cuping itu, membuat tubuh Mesya merinding seketika.


“Tapi aku ngantuk Radit, aku juga cape …”


“Makanya berhenti bekerja, Sya …”


Jika suaminya sudah berkata seperti itu, Mesya tidak lagi bisa menjawab dan memberikan alasan lainnya untuk menghentikan Radit yang saat ini bahkan sudah menelanjanginya. Selain pasrah, tidak ada lagi yang dapat Mesya lakukan saat ini apa lagi sekarang dirinya pun sudah ikut terbuai dalam permainan suaminya yang seakan membawanya melayang. Apa lagi dengan sentuhan lembut Radit yang begitu Mesya sukai.

__ADS_1


“Satu kali aja, ya?” Radit hanya menjawab dengan deheman kecil tanpa melepaskan pangutan bibirnya di gundukan kembar milik Mesya.


Semenjak manikah, tidak ada sehari pun yang terlewat untuk mereka bercinta. Mesya bahkan sampai kewalahan menyeimbangi suaminya yang tidak tahu kata lelah itu, tapi meskipun begitu Mesya menyukainya, walau keesokan pagi badannya akan terasa pegal-pegal.


__ADS_2