
Mesya terbangun di tengah malam saat rasa haus menyerang, membuat tenggorokannya sakit karena kekeringan. Hendak bangkit dari tidurnya namun terasa sulit, Mesya merasa ada sesuatu yang menahan pinggang dan kakinya. Dalam keadaan yang setengah sadar di dalam kegelapan malam Mesya menyingkirkan sesuatu yang menahannya itu, namun bukannya terlepas justru lilitan itu malah semakin erat dan membuat Mesya semakin sulit bergerak.
“Kamu mau ke mana, Sya? Ini masih malam.” Radit berucap dalam keadaan yang masih terpejam. Sejenak Mesya terdiam sebelum akhirnya tersadar dan mengingat dimana dirinya saat ini.
“Lepas dulu Dit, aku haus,”
Radit dengan berat hati melepaskan pelukannya dan ikut bangun, duduk di ranjang seraya mengucek matanya yang masih terasa perih akibat rasa kantuk yang masih menyerangnya, sedangkan Mesya pergi menuju meja yang berada di tengah ruangan kamar hotel ini, menuangkan air putih ke dalam gelas kemudian meneguknya hingga tandas. Mesya benar-benar haus sampai tiga gelas air putih habis dirinya minum.
“Udah kan minumnya?” Mesya mengangguk sebagai jawaban. “Ya udah, sini tidur lagi, siang nanti kita sudah harus pergi menuju rumah kedua orang tuaku.”
Mesya kembali naik ke ke tempat tidurnya, dan membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk itu. Seperti tadi, Radit kembali menarik kekasihnya itu ke dalam pelukan, memperpendek jarak diantara mereka.
Mencari posisi yang nyaman Mesya terus bergerak dalam kukungan Radit sampai sesuatu di bawah sana tidak sengaja tersenggol oleh Mesya, membuat Radit mengerang tertahan dan langsung memberikan pelototan protes pada wanita cantik itu.
“Maaf gak sengaja,” ringis Mesya merasa bersalah.
“Kamu tahu gak ini jam berapa?”
__ADS_1
“Jam dua.” Jawab Mesya polos.
“Iya, dan di jam-jam seperti ini gairah laki-laki sedang tinggi-tingginya. Kamu malah senggol segala, mau kamu aku tidurin?!” geram Radit, menatap sang kekasih tajam.
“Ish, Radit mesum!” seru Mesya merasa panas di sekitaran wajahnya mendengat kalimat prontal kekasihnya itu.
“Ya siapa suruh main senggol-senggol coba? Jadi berdiri ‘kan! Masa aku harus mandi malam-malam begini? Ya, kecuali kalau kamu tanggung jawab buat kembali nidurin, aku akan dengan senang hati menerima,” menaik turunkan alisnya Radit menggoda kekasihnya itu yang meski dalam pencahayaan seadannya tapi masih dapat Radit lihat rona merah itu di wajah cantik Mesya.
“Aku ‘kan gak sengaja, Dit," cicit Mesya pelan.
“Meskipun gak sengaja juga tetap aja bangun, kamu sih malah gerak-gerak segala.”
Radit tentu tidak membiarkan kekasihnya itu kembali tidur karena bagaimanapun sesuatu yang tengah berdiri itu harus segera di tidurkan kembali. Radit menuntut tanggung jawab Mesya yang sudah membangunkan gairah seorang laki-laki, dan ia pastikan wanita itu tidak akan dirinya beri ampun.
Menyerang bibir tebal Mesya dengan tiba-tiba membuat perempuan itu terlonjak kaget dan matanya langsung terbuka sempurna, hendak menyingkir tapi Radit tentu lebih gesit mengurung mangsanya dalam kukungannya, tidak peduli walau kekasihnya itu memberontak karena kelihaiannya bermain dalam mulut Mesya mampu menghentikan wanita itu bergerak dan mulai menerima cumbuannya.
“Sialan kamu Radit! Eughh…” geram Mesya di barengi dengan desahan yang keluar begitu saja akibat sentuhan tangan nakal Radit yang bergerak di dadanya.
__ADS_1
Ciuman Radit bergerak turun pada leher jenjang Mesya, tangannya beralih membuka satu per satu kancing piyama pendek yang di kenakan kekasihnya itu kemudian menyingkirkan kain tersebut dari tubuh Mesya hingga membuat tubuh bagian atasnya polos tanpa sehelai benang pun.
Melahap gundukan kenyal itu seperti bayi yang kehausan sampai bunyi decapan mengiringi aktivitas panas sepasang kekasih itu. Mesya melenguh nikmat hingga melengkungkan tubuhnya ke depan, menempel pada dada bidang Radit yang juga tidak mengenakan sehelai kain.
Desahan juga rema**n tangan Mesya di rambut lebat laki-laki itu menambah gairah Radit yang semakin buas melu**t juga mere**s dada bulat kenyal itu. Tangan Radit yang satunya mulai turun, membuka ****** ***** yang masih membungkus area segitiga milik Mesya dan melempar kain tersebut ke sembarang arah. Mengelus sensual paha bagian dalamnya dan memasukan dua jarinya ke dalam milik Mesya, bermain-main di sana membuat desahan yang Mesya keluarkan semakin kuat begitu juga dengan gerakan jari Radit di dalam sana.
Kedutan terasa diantara lubang hangat Mesya membuat Radit mengeluarkan jarinya dan itu sukses membuat wanita di bawahnya mendesah kecewa, wajahnya memerah dan mata almon yang menggelep itu menatap protes pada sang kekasih yang malah menampilkan senyum mengejeknya.
Dalam hati ia merutuki Radit yang mempermainkannya namun tak lama senyum jahil terbit. Jika Radit bisa mempermainkannya, maka ia pun akan melakukan hal yang sama. Mengangkat sedikit tubuhnya, Mesya langsung menyambar bibir Radit yang kebetulan tengah lengah, ******* dan menggigit bibir bagian atas dan bawahnya dengan lembut, memainkan lidahnya dengan lihai di dalam mulut Radit yang juga membalasnya meskipun sempat terkejut dengan serangan tiba-tiba itu.
Tangan Mesya satunya bergerak lembut menyusuri dada bidang Radit yang keras, menyentuhnya dengan gerakan sensual yang membuat gairah pria itu naik, dan dapat Mesya rasakan di bawah sana sesuatu milik Radit semakin mengeras. Elusan tangan Mesya turun dan semakin turun hingga benda besar dan panjang keras itu dapat dirinya raih. Meremasnya dengan lembut cukup membuat Radit melenguh nikmat begitu juga saat Mesya menggerakkan tangannya semakin cepat dan memegangnya lebih erat.
Wajah frustasi yang di campur kenikmatan itu dapat Mesya nikmati dari bawah sini dan itu membuat hati Mesya menjerit kesenangan, saatnya telah tiba dirinya membalaskan dendam pada pria tercintanya itu. Begitu desahan Radit semakin kuat dan cengkraman laki-laki itu pada bantal semakin erat Mesya dengan mudahnya mendorong tubuh Radit hingga terguling ke samping dan meninggalkan laki-laki itu masuk ke dalam kamar mandi yang tidak lupa dirinya kunci.
“Satu … dua … ti--”
“MESYA!”
__ADS_1
Tawa Mesya lepas begitu mendengar teriakan Radit yang terdengar begitu kesal di tambah dengan gedoran pintu yang kuat meminta di buka. Mesya menikmati kekesalan Radit sembari memanjakan tubuh lengketnya di dalam bathtub berisi air hangat dengan busa sabun beraroma terapi yang membuat dirinya tenang dan nyaman sampai mata almon nya itu terpejam sedangkan di luar sana Radit masih terus menggedor pintu kamar mandi masih dengan teriakan yang sama yaitu, meminta untuk di bukakan pintu.