My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 36


__ADS_3

Sejak pagi tadi hingga chek out dari hotel wajah Radit terus saja kusut, juga cemberut walau Mesya sudah melayangkan segala candaan. Laki-laki dewasa itu nyatanya lebih mirip dengan bocah lima tahun yang tengah merajuk karena tidak di belikan mainan membuat Mesya gemas dan ingin sekali menendang laki-laki itu ke samudra.


Sepanjang perjalanan menuju kediaman orang tuanya pun laki-laki itu hanya memfokuskan diri ke tab yang berada di tangannya, entah pura-pura sibuk atau memang benar-benar sibuk karena itu cukup membuat Mesya kesal sendiri.


“Tahu bakalan di cuekin gini mending gak ikut aja sekalian!” dengus Mesya membuang pandangan pada luar jendela mobil yang tengah melaju.


“Makanya jangan suka jahil!”


Mesya menoleh saat kata itu keluar dari mulut laki-laki yang duduk di sampingnya, menatap tajam Radit kemudian mendelik kesal. “Siapa yang duluan jahil? Makanya kalau gak mau di jahili jangan pernah jahil duluan!”


Perdebatan keduanya di mulai dan jelas tidak ada yang mau mengalah, Radit dengan gengsinya dan Mesya dengan kekeras kepalaannya. Si supir hanya menggelengkan kepala mendengar perdebatan yang tidak dipahaminya itu. Sampai tak sadar bahwa mobil yang membawanya ke rumah orang tuanya sudah sampai di depan gerbang tinggi berwarna hitam itu.


“Turun!” titah Radit masih dengan nada suara yang kesal.


Tanpa mengatakan apa-apa, Mesya keluar dari mobil, menatap sekeliling tempat yang sedang dirinya pijak saat ini. Rasa kagum akan suasana di tempat ini membuat Mesya membuka lebar mulutnya.


Radit memberikan satu jitakan kecil di kening sang kekasih seraya berkata, “ck, norak!”

__ADS_1


“Gak usah protes terus deh Dit, aku kan baru kesini, jadi wajar kalau responnya berlebihan.”


Menarik koper dirinya dan juga Mesya, Radit masuk kedalam rumah berhalaman luas itu begitu sang satpam membukakan pintu gerbang untuknya. Mesya mengikuti dari belakang dengan berpegang pada tangan kemeja Radit.


Di depan pintu utama sana sudah dapat Mesya lihat seseorang yang di kenalnya, wanita yang sudah lama tidak dirinya jumpai. Senyum hangat wanita paruh baya itu menyambut kedatangannya dan langsung memeluk dengan erat.


“Kangen Tante,” ucap Mesya manja membalas pelukan wanita paruh baya itu tak kalah eratnya.


“Tante juga kangen kamu, sayang.” Balas Frita, ibu Radit. “Ayo masuk, kita ngobrol di dalam biar lebih enak.” Frita menggiring keduanya untuk masuk dan mempersilahkan duduk di sofa ruang tamu.


“Papa mana, Ma?” Radit yang sejak tadi diam mulai membuka suara.


“Beberapa hari lalu Tante memang sakit, biasa namanya juga sudah tua. Tapi setelah dengar bahwa Radit akan berkunjung dan membawa kamu, Tante langsung sembuh saking bahagianya,” kelakarnya seraya tersenyum lembut. Sekilas menoleh pada anaknya yang justru malas memalingkan muka.


Mesya merasa berada di situasi yang aneh saat ini, ia tidak mengerti dengan apa yang dilihatnya itu. Hanya mengangguk dan membuka obrolan lain untuk kembali menghidupkan suasana.


Mesya bukannya tidak penasaran, tapi ia hanya tidak ingin terlalu mencampuri. Meskipun Radit adalah kekasihnya dan Frita juga bukan termasuk orang asing baginya, tapi lima tahun tidak bertemu bahkan hanya untuk bertegur sapa membuat kecanggungan itu nyata.

__ADS_1


Setahu Mesya dulu Radit begitu dekat dengan sang Mama, dan sekarang setelah lima tahun berlalu Mesya merasakan bahwa ada sesuatu terjadi dalam keluarga ini selama mereka berpisah.


Di tengah kegiatan mengobrol antara Mesya dan tante Frita, suara tawa riang di luar sana membuat ketiganya menoleh dan menemukan sosok laki-laki baya yang masih terlihat bugar baru saja memasuki pintu utama dengan seorang gadis yang Mesya taksir berusia beberapa tahun di bawahnya. Perempuan itu menjerit kesenangan begitu tatapannya bertemu dengan Radit yang sudah mengembangkan senyum lembut.


“Yakkk! Radit!” seru perempuan itu dengan gembira dan langsung berlari menghampiri Radit yang saat ini sudah berdiri dan merentangkan kedua tangannya.


Mesya yang menyaksikan itu cukup merasa panas dan dadanya tiba-tiba terasa sesak. Tapi sebisa mungkin untuk terus berusaha berpikir positif.


“Hallo Nak, bagaimana kabarmu dan kedua orang tuamu?” sapa Tama dengan hangat,


“Kabar saya baik Om, begitupun dengan Ayah dan Bunda. Kabar Om sendiri bagaimana? Mesya sampai pangling lihat Om makin ganteng,” tanya Mesya di akhiri dengan tawa bersama Tama dan juga Frita sedangkan dua orang berbeda kelamin lainnya masih asik berdua, melepas rindu dengan saling memeluk dan tertawa membicarakan entah apa itu, karena Mesya sama sekali tidak memahami bahasa mereka.


Ibu Radit pamit untuk menyiapkan makan siang mereka begitu juga Ayah Radit yang pamit untuk mandi, meninggalkan Mesya dan Radit juga satu perempuan yang baru ia tahu bernama Cherrylistha yang masih asik bergelayut manja di tangan Radit.


Sejak tadi bahkan Mesya sudah berkali-kali mendengus namun nyatanya tidak sama sekali laki-laki itu hiraukan bahkan untuk menoleh pun tidak, membuat Mesya merasa kesal karena di abaikan. Akhirnya dari pada lelah hati dan panas kuping juga cemburu semakin membara, Mesya lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar tamu yang tadi di tunjukan Frita untuk tempatnya beristirahat selama disini. Mengunci pintu dan membanting tubuh ke atas tempat tidur Mesya memejamkan matanya.


Dalam hati ia berharap Radit akan menyusulnya, mengetuk pintu dan meminta maaf karena sudah mengabaikan, tapi setelah tiga puluh menit berlalu nyatanya harapan itu tidak sama sekali terjadi, Mesya harus menelan kekecewaan dan memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur tubuhnya yang lelah dan hatinya yang panas berharap setelah ini perasaannya akan lebih baik.

__ADS_1


Masih dalam balutan handuk Mesya meraih ponsel dalam tas tangannya, mengirimkan pesan pada sang Bunda yang berada di rumah sana, mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai dengan selamat juga menyampaikan salam yang di berikan kedua orang tua Radit. Setelah itu Mesya mengecek chat siapa saja yang masuk dan berharap bahwa Radit ada mengiriminya pesan, walau berada di dalam atap yang sama tapi Mesya tetap menghaparkan itu saat ini. Tapi sayang kekecewaan itu harus kembali Mesya telan.


Kesal ia membanting ponselnya pada tempat tidur lalu melangkah menuju kopernya dan mengeluarkan pakaian yang akan dirinya kenakan sebelum kembali ketempat tidur dan membaringkan tubuhnya hingga rasa kantuk itu menyerang dan akhrinya tertidur.


__ADS_2