My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 47


__ADS_3

Mesya memang tidak pernah tahu bagaimana laki-laki yang begitu dihindarinya itu kembali muncul di hadapannya, karena setahu Mesya bahwa Aldrich berada di penjara, meskipun ia tahu bahwa tidak akan sulit untuk laki-laki itu bebas dari hukuman, tapi tetap saja keberadaannya selama ini tidak lagi pernah dirinya dengar apa lagi tentang kabar bebasnya pria itu.


Awalnya memang Mesya merasa lega, dan tentang kejadian tempo hari sudah sedikit demi sedikit dirinya lupakan, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa bertatap muka langsung dengan pria itu akan membuat ketakutannya kembali dirinya rasakan. Kejadian itu seakan kembali berputar begitu melihat wajah mantan tunangannya, meskipun tatapan laki-laki itu kini terlihat begitu menyesal, tidak sama sekali membuat Mesya luluh maupun iba, tidak juga membuatnya ingin memaafkan laki-laki itu.


Radit sejak dua hari yang lalu selalu meyakinkannya bahwa ia akan terus melindungi Mesya, meskipun tidak mudah, tapi akhirnya Mesya bersedia mengangguk dan kembali bersikap seperti biasa, tidak lagi banyak melamun dan tidak berani keluar dari kamar seperti dua hari yang lalu sejak bertemu kembalinya dengan pria itu.


Pernikahan yang akan berlangsung esok hari itu tidak membuat Mesya dan Radit berpisah, meskipun niat awal para orang tua akan melakukan pingitan walau hanya dua hari, tapi begitu tahu keadaan Mesya, barulah kedua keluarga memutuskan untuk Radit selalu berada di samping Mesya sampai pemberkatan dilaksanakan.


Keputusan itu pun menjadi kabar bahagia untuk Radit karena sejak awal dirinya memang tidak ingin berpisah walau hanya barang satu detik pun.


Bersandar di ranjang kamar Mesya, Radit menatap gerak gerik calon istrinya yang baru saja keluar dari kamar, dari mulai mengeringkan rambut panjangnya, menyisir dan membubuhkan krim malam pada wajah cantiknya. Beruntung Mesya keluar sudah lengkap dengan pakaiannya, karena jika tidak, sudah dapat Radit pastikan bahwa perempuan cantik yang besok akan berubah status menjadi istrinya itu tidak akan pernah memakai pakaiannya hingga esok pagi.


“Terpesona, heh?” kata Mesya yang kini sudah berdiri di sisi ranjang lainnya. Radit mengerjapkan matanya beberapa kali, baru menyadari bahwa wanita cantik yang sejak tadi diperhatikannya sudah berada dekat dengannya.


“Cantik,” gumam Radit yang entah di sadari atau tidak oleh laki-laki itu.


“Sejak dulu aku memang cantik, makanya kamu gak pernah mau berpaling,” jawab Mesya terkekeh geli, kemudian naik ke atas tempat tidur, membaringkan tubuhnya di sebelah Radit yang masih menatapnya tanpa berkedip.


“Tidur, Dit. Besok pernikahan kita, aku gak mau kesiangan,” ucap Mesya seraya menepuk pipi sang tunangan pelan, menyadarkan laki-laki itu dari aktivitas bengongnya


Radit menurunkan tubuhnya yang masih terduduk bersandar, mengubah posisi menjadi tertidur menghadap Mesya yang juga menghadapnya. Tangan Radit terulur ke pipi tirus Mesya, mengusapnya dengan lembut kemudian maju dan memberikan kecupan di kening sang calon istri dengan penuh perasaan.

__ADS_1


“Selamat tidur sayang.”


♥═══♥


Pukul 08.00 Rasti heboh menggedor pintu kamar Mesya, meminta anaknya itu untuk segera bangun dan bersiap karena pemberkatan yang akan di adakan pukul 10.00 nanti.


“Kak, ayo dong bangun, ini udah siang. Syasa! Radit!” teriak Rasti sambil menggedor pintu kamar anaknya itu.


“Apa sih, Bun?” dengan wajah yang masih ketara mengantuk, Mesya membuka pintu.


“Mandi, Sya! Astaga kalian ini mau apa tidak sih menikah, hah?!” teriak gemas Rasti.


Brak.


“Radit Bangun, ini hari pernikahan kita!” Mesya berteriak bersamaan dengan pintu yang kembali ia tutup dengan keras, melupakan Rasti yang berada di balik sana.


“MESYA!”


“Maaf Bunda,” sesal Mesya.


“Cepat, Sya, Bunda sama yang lainnya tunggu di bawah.”

__ADS_1


Mesya bergegas masuk ke kamar mandi, di susul Radit yang baru saja bangun karena terkejut dengan teriakan Mesya yang terus memintanya bangun. Jika biasanya Mesya akan meghabiskan waktu satu jam di kamar mandi, sekarang hanya sepuluh menit dan keduanya dengan cepat pula berganti pakaian kemudian menghampiri yang lainnya.


Wajah yang sebelumnya acak-acakan begitu juga dengan rambutnya, kini sudah di rias sedemikian rupa, hingga Mesya bertambah cantik dan membuat siapa saja yang melihatnya terpesona termasuk Radit yang bahkan tidak sama sekali berniat mengalihkan pandangannya dari wajah Mesya.


Selesai bersiap, semua segera pergi menuju ke tempat dimana pemberkatan nikah akan di laksanakan yang hanya akan di hadiri oleh keluarga besar dan sahabat terdekat, kemudian berlanjut ke gedung yang menjadi tempat acara resepsi di adakan.


Satu per satu tamu berdatangan, menyalami kedua mempelai pengantin untuk memberikan selamat dan doa. Radit dan Mesya tidak hentinya tersenyum, menularkan kebahagiaan yang mereka rasakan pada semua orang termasuk keluarga. Sahabat-sahabat Mesya yang datang di buat iri oleh sepasang pengantin itu, karena Mesya dan Radit yang sengaja selalu mengumbar kemesraan.


Berbagai dengusan dan sumpah serapah sudah sering Mesya dan Radit dengar, entah dari sahabat keduanya, Rima dan Mina, teman kantor atau juga teman-teman meraka masing-masing yang memang sengaja di undang, bahkan semua pegawai yang bekerja di kantor Radit ikut di undang tanpa terkecuali. Mesya dan Radit tidak menyesal membuat semua orang iri, karena sejak awal tujuaan mereka adalah membuat semua orang tahu bahwa keduanya benar-benar saling mencintai. Dan penggemar Radit maupun Mesya di kantor terpaksa harus merasakan patah hati berjamaah.


“Terima kasih, Sya, terima kasih sudah bersedia menjadi istriku, terima kasih karena sudah kembali padaku, melanjutkan kasih yang dulu sempat terhenti, melanjutkan cinta yang dulu sempat kutelantarkan. Terima kasih, Sya. Terima kasih karena tidak membenciku dan terima kasih karena kamu bersedia melanjutkan sisa hidup bersamaku. Maaf ak--”


Cup.


Satu kecupan Mesya berikan untuk menghentikan ucapan suaminya. “Aku mencintaimu, Dit, sejak dulu hingga saat ini, dan aku akan selalu mencintaimu hingga nanti Tuhan mengambil nyawaku jadi, simpan kata terima kasih dan maafmu karena aku tidak butuh itu, aku hanya butuh kamu berada di sampingku, mencintaiku dan menjadi suami yang tidak akan mengecewakan aku.”


“Aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu, Sya menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak kita nanti. Bantu aku untuk mewujudkannya, Sya, karena tanpamu semua itu tidak akan pernah bisa aku capai.”


Mesya mengangguk dengan senyum terukir juga air mata yang mengalir dari sudut matanya. Kebahagian yang kini dirinya rasakan tidak lah dapat ia ucapkan dengan kata-kata, hanya air mata yang mewakili perasaannya saat ini, air mata haru atas kebahagiaan yang di berikan Radit yang kini sudah resmi menjadi suaminya.


“Terima kasih Tuhan, terima kasih telah memberikan kebahagiaan yang tak terhingga ini. Lindungilah pernikahanku,dan berkatilah rumah tangga kami.”

__ADS_1


__ADS_2