My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 45


__ADS_3

Kedua keluarga benar-benar ikut andil dalam mengurus pernikahan Mesya dan Radit yang tinggal beberapa hari lagi, karena bagi kedua keluarga ini adalah merupakan pesta pernikahan pertama untuk mereka. Masalah dekor, gedung dan katering dan lainnya memang para orang tua yang mengurus, sedangkan Gaun, cincin dan undangan di urus langsung oleh kedua calon pengantin. Radit lebih banyak mengalah untuk urusan pernikahan karena memang Radit ingin pernikahan ini seperti yang di inginkan Mesya sepenuhnya.


Menghempaskan tubuh di atas sofa, Mesya dan Radit benar-benar kelelahan saat ini, dimana seharian berkeliling mencari gaun dan cincin. Mesya tidak menyangka akan semelelahkan ini hanya untuk mencari kedua barang tersebut, dari satu toko ke toko lain dan dari satu butik ke butik lainnya, tapi Mesya jelas bahagia dengan ini, apa lagi Radit yang bahkan ingin segera menuju pelaminan.


“Mau kopi apa jus?” tanya Mesya yang berniat untuk ke dapur.


“Maunya kamu,” kata Radit dengan satu kedipan yang dilayangkannya.


“Ish, Radit aku serius ini, nawarin kamu minum,” kesal Mesya dengan wajah yang memerah malu akibat godaan dari calon suaminya itu.


“Aku juga serius pengen kamu,” jawab Radit.


Mesya tak lagi memberi jawaban, ia memilih untuk pergi ke dapur dari pada harus meladeni kekasihnya itu. Tenggorokannya kering, dan udara menjadi mendadak gerah, Mesya butuh minuman segar saat ini.


Menuangkan air dingin pada gelas dan langsung Mesya teguk hingga tandas, kemudian kembali menuangkannya dan ia minum, hingga tegukan gelas ketiga, lilitan tangan di pinggangnya membuat Mesya tersedak minumannya sendiri.


“Makanya kalau minum itu hati-hati, gak usah buru-buru juga, Sya,” kata Radit seraya menepuk-nepuk punggung kekasihnya itu dengan pelan.

__ADS_1


“Kamu itu kalau aku lagi minum jangan suka ngagetin!” dengus Mesya yang berusaha melepaskan tangan Radit dari pinggangnya. Radit terkekeh mendengar nada kesal calon istrinya itu, gemas juga melihat wajah cemberutnya.


“Aku meluk kamu, Sya, bukan ngagetin,” kata Radit yang kemudian memberikan kecupan di cuping telinga Mesya, membuat perempuan cantik itu merinding geli.


“Lepas, Dit,”


“No, sayang, aku udah nyaman,” katanya yang kembali melayangkan kecupan di sekitaran leher belakang wanita tercintanya itu.


“Dit,” Mesya bergerak gelisah, suaranya ia redam agar tidak mengeluarkan desahan akibat mulut nakal Radit yang tengah menjelajahi lehernya, pelukan laki-laki itu pun semakin erat dan tangan kekar itu bergerak mengelus perut rata Mesya dengan gerakan sensual, menggoda gairah Mesya.


Mendudukan sang kekasih di atas meja pantry, Radit kini beralih mencium bibir perempuan cantik itu, mengemut dan sesekali memberikan gigitan-gigitan kecil di bibir tebal yang kenyal dan terasa manis itu, bergerak semakin dalam dan menciumnya semakin menuntut, Mesya yang tidak tahan untuk mengeluarkan desahan akhirnya suara itu keluar juga menambah gairan Radit yang ingin semakin dalam mencium wanita cantik di dalam dekapannya itu.


Memangku tubuh ramping itu tanpa melepaskan ciumannya, Radit membawa Mesya menuju lantai atas dimana kamarnya berada, tidak lupa ia mengunci pintu, kemudian membaringkan tubuh Mesya di atas ranjang besarnya. Melepaskan ciumannya karena merasakan napas Mesya yang mulai menipis, Radit membuka kemejanya sendiri dan melemparnya sembarangan, membuka serta celana panjang yang di kenakannya hingga tinggal menyisakan ****** ******** saja, kemudian kembali menindih Mesya dan melahap bibir kekasihnya itu. Mesya yang masih berusaha mengumpulkan napas pun berjengit kaget dengan serangan tiba-tiba itu, tapi setelah beberapa detik berlalu tentu Mesya menikmati permainan Radit, dan membalas setiap lum**an laki-laki itu.


Ciuman Radit perlahan turun ke leher Mesya, tangannya kembali masuk ke dalam blus biru muda itu, menyingkap kain tersebut hingga atas sampai menampilkan dada Mesya yang berdiri menantang, membuat mata Radit semakin gelap akan gairah dan mulutnya tak sabar untuk melahap gundukan kenyal itu. Tangan Mesya yang berada di kepala Radit, menarik rambut lebat itu, menahan gairah yang semakin memuncak, apa lagi dengan tangan dan mulut Radit yang semakin nakal bergerak.


Radit menarik keluar blus yang di kenakan Mesya, juga melepas rok pendek yang di kenakan kekasihnya itu, melemparnya sembarang kemudian matanya menyelusuri tubuh polos Mesya dengan gairah di matanya, Mesya yang malu pun menutup dada dan bagian bawahnya menggunakan tangan, walaupun itu percuma. Wajahnya memerah, benar-benar malu, karena Radit yang seakan enggan berhenti menatap tubuhnya.

__ADS_1


“Radit, malu!” pekik Mesya, begitu tangannya yang menutupi area pribadinya di singkirkan oleh Radit.


“Masih aja malu, padahal udah sering,” ucap Radit seraya melepas kain yang masih tersisa pada dirinya, dan kembali menindih tubuh mungil Mesya yang sama-sama sudah polos.


“Kita produksi bayi kita dari sekarang, biar cepat jadinya,” bisik Radit tepat di telinga Mesya, membuat wajah Mesya kembali memerah.


Tanpa mendengar jawaban apa pun dari sang kekasih, Radit kembali mendaratkan bibirnya, mencium Mesya dengan lembut, tangannya terus meremas kedua dada kembar itu cukup kuat, mengelus perut ratanya hingga elusan dan ciumannya semakin turun sampai pada area paling pribadi. Kecupan-kecupan Radit berikan di area segitiga itu dan dua jarinya ia masukan, memainkannya di sana.


Saat kedutan itu dapat Radit rasakan di area hangat Mesya, Radit dengan cepat melepaskan jarinya dan naik kembali mencium bibir Mesya. Perlahan Radit mengarahkan miliknya pada milik Mesya yang sudah siap menerima kehadiran, menekan dan menghentaknya dalam gerak cukup kuat, berhasil merobek kegadisan perempuan itu, membuat Mesya menjerit kuat dengan air mata menetas dari kedua mata perempuan tercintanya itu, membuat Radit tidak tega. Namun tidak mungkin untuk dirinya berhenti,


mengingat gairah sudah berada di puncak dan miliknya pun sudah berada di dalam.


"Maaf sayang," bisik Radit parau, seraya memberi jeda untuk sang kekasih menyamankan miliknya di dalam sana hingga tak berapa lama Mesya sudah lebih tenang. Dan barulah Radit bergerak melanjutkan aktivitasnya. Jeritan dan lenguhan panjang terdengar dari keduanya begitu mereka mencapai puncak kenikmatan itu bersama-sama. Radit mengecupi seluruh wajah Mesya, menggumamkan kata terima kasih juga ungkapan cinta yang tidak hentinya Radit katakan.


“Lepasin, Dit, aku ngantuk mau tidur,” kata Mesya meminta Radit untuk mengeluarkan miliknya.


“Sekali lagi, Sya,”

__ADS_1


“Gak ada! Aku lelah Radit,” ucap Mesya yang wajah lelahnya memang begitu ketara, tapi bukan Radit jika terus menuruti keinginan calon istrinya itu, karena kini Radit kembali menggerakkan miliknya yang masih berada di dalam Mesya.


“Radit sialan!”


__ADS_2