
Kabar lamaran yang terkesan seperti main-main Radit dan Mesya nyatanya begitu cepat menyebar hingga penjuru kantor ini, dan bahkan, mungkin semua karyawan di sini sudah tahu akan kabar bahagia ini. Mesya sepertinya harus siap-siap dengan cibiran para penggemar Radit setelah ini.
“Kamu benar-benar serius, Sya, dengan ucapan kamu siang tadi?” tanya Radit untuk yang kesekian kalinya.
“Kamu ragu?” dengan cepat Radit menggelengkan kepala.
Membawa Mesya ke dalam pelukannya, Radit memeluk wanita cantik itu begitu erat. Sorot matanya terlihat begitu bahagia sekaligus tak percaya, Radit merasa ini adalah mimpi, mimpi yang begitu indah.
“Aku akan segera menghubungi Papa dan Mama, mengabarkan soal pernikahan kita,” ucapnya dengan semangat, melayangkan kecupan di puncak kepala Mesya cukup lama kemudian melepaskan pelukannya. “Kamu hubungi Bara, suruh ke sini.”
“Mau ngapain?” tanya Mesya dengan kening berkerut.
“Suruh ke sini aja, nanti juga kamu tahu,” kata Radit mengecup pelipis calon istrinya itu kemudian masuk ke dalam ruangannya dengan wajah cerah yang tidak seperti biasanya.
Mesya hanya mengedikan bahu dan kemudian menekan tombol telpon untuk langsung terhubung dengan ruangan laki-laki itu yang keberadaannya tidak terlalu jauh, tapi malas untuk ia datangi secara langsung. Membuang waktu dan tenaga.
Tak lama Bara dan Mona datang dengan alis naik yang seolah bertanya ‘ada apa’. Mesya hanya mengedikan bahu dan kemudian membuka pintu ruangan Radit dan meminta kedua orang itu masuk.
“Ada apa Pak bos memanggil kita?” tanya Bara langsung dengan suara enggan dan tatapan malas. Ini sudah waktunya pulang, dan sahabat sekaligus bosnya itu sudah menghancurkan jadwalnya yang lain.
“Duduk dulu, Bar, pegal kalau berdiri,” kata Radit yang mengabaikan tatapan malas dari asistennya itu.
“Gak perlu basa basi, Dit, gue tahu lo mau minta gue untuk gantiin lo kan?” Radit menjentikkan jarinya, dan tersenyum lebar yang begitu mempesona sampai Mona yang berdiri di samping Bara tidak berkedip untuk beberapa saat.
__ADS_1
“Lo emang sahabat gue yang pengertian, Bar, tahu aja apa maksud dan keinginan gue,” ucap Radit dengan senyum yang semakin mengembang, sedangkan Bara malah mendengus. “Berhubung calon istri gue minta nikah minggu depan, jadi sejak saat ini gue sama Mesya pasti akan sibuk dengan urusan pernikahan jadi—"
“Iya gue paham, gak perlu lo jelasin lagi,” jawab Bara cepat memotong penjelasan Radit. “Sampai kapan lo berdua cuti?”
“Sebulan ke depan deh kayaknya,” jawaban Radit itu sukses membuat Bara dan Mona terbelalak.
“Gila lo, lama benget!” seru Bara dengan mata melebar.
“Habis nikah kan harus ada bulan madu, Bar, masa lo gak paham, ck.” decak Radit kecil seraya mendelik pada sahabatnya itu.
“Tapi gak selama itu juga bego! Sepuluh hari deh di mulai dari besok,” ujarnya tidak terbantahkan.
“Kok lo yang nentuin, gue bos-nya, loh, kalau-kalau lo lupa!”
“Tiga minggu deh,” tawar Radit yang kembali mendapat gelengan kepala Bara.
“Gak! Dua minggu, gak ada penawaran lagi.” Tegasnya tak bisa lagi di ganggu gugat.
“Oke, deal!”
Keputusan di ambil dan itu membuat ke dua perempuan yang menyaksikan aksi tawar menawar kedua pria itu menggelengkan kepala tak percaya.
“Gak ada yang mau di bicarakan lagi, kan? Gue mau pergi, ada janji,” kata Bara seraya menoleh pada jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
“Janji sama perempuan mana lagi, Lo? Ingat, Bar jangan terlalu sering nidurin cewek sembarangan, kena penyakit baru tahu rasa lo!” ingatkan Radit yang benar-benar peduli pada sahabatnya itu.
“Gue main bersih jadi mana mungkin kena penyakit,”
“Terserah deh, yang penting gue udah ngingetin,” kata Radit mengedikan bahunya. “Mon, cepat-cepat lo taklukin dia, biar betah cuma sama satu perempuan,” lanjut Radit yang menolah pada wanita di samping Bara yang menatap Radit dengan tatapan polos, tidak mengerti dengan maksud yang di ucapkan bosnya itu.
♥══♥
“Kamu sudah hubungi Ayah kamu supaya datang ke rumah Bunda, kan?” tanya Radit ketika mereka berada di perjalanan pulang. Mesya menjawab dengan anggukan.
“Apa alasan kamu meminta kita menikah minggu depan?” kembali Radit bertanya, ini sebenarnya pertanyaan yang ingin ia tanyakan sejak tadi, tapi saking bahagianya membuat Radit lupa.
“Awalnya pengen bilang tahun depan, tapi kalau kelamaan aku takut malah berubah pikiran, jadi, spontan aja bilang minggu depan,”
“Alasannya gak masuk akal memang, tapi aku tetap bahagia, karena akhirnya kamu setuju aku ajak nikah,” ucap Radit dengan senyum mengembang sempurna, mengecup punggung tangan kekasihnya itu singkat kemudian kembali fokus pada jalanan.
Sesampainya di kediaman Mesya, Radit sudah dapat melihat bahwa di dalam sudah ramai, terdengar dari suara tawa Nasya dan adik tiri dari perempuan cantik yang akan di nikahinya itu.
Radit menggandeng tangan sang kekasih, masuk ke dalam rumah dengan senyum lebar yang tidak luntur sejak tadi, rasa gugup memang laki-laki itu rasakan, tapi tidak membuatnya mundur apa lagi berniat membatalkan. Setelah mendapat persetujuan dari sang kekasih atas lamaran yang sudah sekian kali dirinya utarakan, Radit kini menjadi lebih percaya diri untuk segera menghadap calon mertuanya, membahas soal pernikahan dan meminta anak pertama dari keluarga Rama Ardiansyah itu untuk menjadi pedamping hidupnya.
Memang tidak sulit untuk mendapatkan restu itu, karena bagaimanapun keluarga Mesya sudah mengenal baik radit dan keluarganya, walau kabar lima tahun kebelakang tidak keluarga Mesya ketahui. Saat masih di kantor tadi pun, Radit sudah menghubungi orang tuanya juga Cherry, memberitahukan soal pernikahannya ini dan mereka akan langsung terbang hari ini juga. Ini memang mendadak, tapi syukurnya keluarga Radit tidak mempermasalahkan ini, begitu juga dengan keluarga Mesya. Semua menyambut dengan bahagia dan Radit berharap semua akan berjalan lancar sesuai keinginannya, dan berharap pula bahwa Mesya tidak akan tiba-tiba membatalkan pernikahan ini, karena berubah pikiran.
Selesai mengatakan tujuannya pada keluarga Mesya, Radit pamit pulang, karena hari sudah semakin larut dan berjanji akan kembali besok untuk segera mempersiapkan semuanya, di mulai dari mencari gedung, mencetak undangan, dekorasi, gaun pengantin, katering, cincin dan persiapan lainnya yang pasti harus dengan segera di urus.
__ADS_1
Meskipun pernikahan mereka begitu mendadak, tapi Radit ingin memberikan pernikahan terbaik untuk Mesya dan tentunya berkesan untuk calon istrinya itu.