
Selesai mengelilingi mall untuk belanja dan makan siang, kini Mesya dan Radit memutuskan untuk pulang karena lelah sudah mereka rasakan. Sebenarnya mereka tidak berniat untuk belanja, namun karena melihat baju yang menurut Mesya menarik di salah satu butik membuat perempuan cantik itu menarik kekasihnya untuk masuk dan membeli baju itu.
Radit hanya mengikuti dan menuruti keinginan sang kekasih, selama itu bisa membuat kekasihnya bahagia. Radit sudah biasa menjadi pusat perhatian jadi tidak lagi merasa risi dengan tatapan memuja yang dilayangkan banyak perempuan, berbeda dengan Mesya yang merasa risi dan ingin cepat pulang hingga membuat mereka kini terdampar di rumah megah milik Radit dengan tubuh lelah.
Mesya meletakan kantong belanjaannya begitu saja di atas sofa kemudian melangkahkan kaki menuju dapur mengambil minuman untuk dirinya dan Radit. Rumah ini memang selalu sepi, tapi Mesya nyaman berada di sini.
“Makasih, sayang,” ucap Radit saat menerima segelas jus jeruk dari kekasihnya. Mesya hanya membalas dengan anggukan kemudian ikut duduk di samping kekasihnya menyandarkan kepala pada pundak laki-laki itu kemudian mengangkat kakinya dan meletakkannya di atas sofa, kakinya cukup pegal apa lagi tadi ia menggunakan heels yang cukup tinggi.
“Pegal?” tanya Radit seraya meletakan gelas yang sudah kosong ke atas meja.
“Lumayan.”
“Makanya jangan pakai heels kalau jalan-jalan gitu,” omel Radit yang kini tangannya sudah memainkan rambut panjang Mesya yang sedikit keriting di bagian bawahnya.
“Udah kebiasaan. Kalau pakai sneakers aku gerah. Pakai sandal jepit berasa pendek. Gak percaya diri,” Mesya menyampaikan alasannya. Radit hanya menganggukkan kepala, alasan yang di berikan Mesya memang cukup masuk akal.
“Sya, bulan depan ikut aku ketemu Papa sama Mama yuk?”
“Ngapain?” tanya Mesya mengernyitkan keningnya.
“Aku kangen aja sama mereka sekalian juga mau minta restu buat nikahin kamu.” Jawaban Radit mampu membuat Mesya menganga tak percaya.
“Secepat itu?”
“Emang kamu gak mau nikah sama aku?”
__ADS_1
“Ya jelas mau, tapi apa harus secepat itu?” Mesya bertanya dengan ragu.
“Lebih cepat lebih baik. Aku mau secepatnya nikahin kamu, Sya menjadikan kamu istri aku dan hidup bersama-sama selamanya.”
Mesya dapat melihat keseriusan di mata itu, juga kesungguhan dari nada bicaranya. Entah apa yang menjadi alasan Mesya merasa ragu padahal sudah sangat jelas bahwa dirinya mencintai laki-laki itu.
“Bisa di bicarakan nanti aja?” pinta Mesya hati-hati. Wajah Radit berubah kecewa, namun laki-laki itu mencoba mengerti dengan keraguan yang tergambar jelas di kedua manik almond itu. Mengulas senyum, Radit mengangguk dan melayangkan kecupan pada puncak kepala kekasihnya.
“Kamu marah?” Mesya yang semula bersandar pada sang kekasih kini mengubah posisinya menjadi duduk tegak di samping Radit menolehkan kepala dan menatap tepat pada wajah tampan Radit yang terlihat melamun.
"Maaf,”
cicit Mesya kemudian.
“Sutth… aku gak marah kok. Aku gak apa-pa, aku tahu kamu belum siap. Jangan merasa bersalah gitu, ini juga salah aku yang terlalu terburu-buru. Udah ya gak usah di bahas lagi.” Radit dengan cepat memotong ucapan kekasihnya. Meyakinkan bahwa dirinya tidak masalah dengan penolakan yang di layangkan Mesya.
♥♥♥
Mesya mengerjapkan matanya beberapa kali menatap sekeliling dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Hari ternyata sudah gelap terlihat dari balik jendela besar yang ada di kamar Radit, Mesya masih ingat bahwa tadi dirinya ketiduran di sofa dan masih merasakan saat kekasihnya itu menggendong dan menidurkan di ranjang kamarnya. Melepas pelukan tangan Radit dengan hati-hati Mesya kemudian turun dan mulai menyalakan lampu, menutup jendela dan juga gordennya.
Mesya kembali melangkah menuju tempat tidur membangunkan sang kekasih yang malah merungkupkan selimut hingga menutupi kepalanya. Guncangan kecil Mesya lakukan, namun laki-laki tampan itu hanya mengerang sebagai respon dirinya merasa terusik.
“Bangun, Dit udah malam ini,” kembali Mesya mengguncang pelan tubuh kekasihnya.
“Lebih baik kamu tidur lagi, Sya.” Ucap Radit dengan suara seraknya, menarik Mesya untuk kembali berbaring, perempuan cantik itu memberontak dan berniat untuk kembali bangun, namun Radit kembali menariknya memeluk erat tubuh ramping itu dan mengampit menggunakan kaki seolah Mesya adalah sebuah guling dan membuat Mesya tidak dapat bergerak sama sekali.
__ADS_1
“Tidur, Sya jangan banyak gerak!” peringat Radit dengan suara rendah. Dengusan terdengar di telinga Radit yang berada dekat dengan mulut kekasihnya itu. Tidak memperdulikan dan semakin dalam membawa wanita itu ke dalam pelukannya walau Mesya sedikit meringis karena pelukan yang Radit berikan terlalu erat.
Lima belas menit Mesya berada di posisi itu, diam karena memang untuk bergerak pun dirinya kesusahan karena kaki dan lengan Radit mengunci tubuhnya begitu kuat sampai akhirnya Radit sedikit melonggarkan, matanya sudah terbuka lebar, tapi enggan melepaskan pelukannya. Rasanya terlalu sayang untuk melepaskan kenyamanan ini.
“Lepas, Dit aku mau mandi. Badan aku udah lengket nih, gak nyaman,” pinta Mesya sedikit menggerakan tubuhnya berusaha terlepas.
“Nanti aja, aku masih nyaman seperti ini,” jawab Radit menelusupkan wajahnya pada lipatan leher Mesya.
Mendesah lelah akhirnya Mesya menyerah dan membiarkan laki-laki itu mengurung dirinya. Percuma memberontak juga, tenaganya tidak sebanding. Jadi dari pada lelah sendiri lebih baik Mesya diam dan kembali tidur.
Baru saja matanya hendak terpejam Mesya lebih dulu di kejutkan dengan pergerakan Radit yang kini sudah berada di atasnya, duduk di paha Mesya dengan kedua kakinya menjadi penahan agar tidak terlalu menindih.
“Yak, Radit! Mppt…” belum juga Mesya melanjutkan protesnya, Radit lebih dulu membungkam bibir tebal itu dengan bibirnya, mel**at dan menghisap cukup kuat sampai Mesya merasakan kebas di bibirnya.
Lama-kelamaan Mesya membalas ciuman itu, membuka mulutnya untuk memberikan akses agar Radit lebih dalam menciumnya. Napas keduanya terengah mengambil oksigen sebanyak-banyaknya sebelum kembali melanjutkan ciumannya, ciuman panas yang begitu memabukan.
Remasan-remasan sensual Mesya berikan pada Rambut kekasihnya menambah gairah Radit yang kini ciumannya sudah turun pada leher jenjang putih itu. Lenguhan nikmat terdengar begitu merdu di telinga Radit. Sakin terangsangnya Mesya sampai membusungkan tubuhnya dan Radit semakin semangat mencumbu leher putih itu, meninggalkan beberapa jejak berwarna kemerahan dan tangannya mulai membuka satu per satu kancing kemeja yang Mesya pakai menggunakan satu tangan sedangkan tangan lainnya mengelus-elus paha Mesya yang terekspos karena rok yang di kenakan perempuan itu begitu pendek dan juga tersingkap.
Selesai membuka seluruh kancing kemeja milik kekasihnya, kini Radit beralih membuka kemeja miliknya dan melemparkan sembarangan dan terpampang lah dada bidang dengan perut kotak-kotak yang begitu indah sampai-sampai Mesya terpesona hingga matanya tak berkedip sedikit pun.
“Terpesona heh,” seringai nakal muncul di bibir tipis Radit, Mesya mengerjap dan menatap wajah kekasihnya itu yang terlihat semakin tampan dengan rambut berantakan hasil karyanya.
Radit kembali menurunkan tubuhnya dan mencium kembali bibir Mesya. Yang di sambut baik oleh perempuan cantik itu. Ciuman yang semula lembut kini berubah rakus dan menuntut, tangan Radit pun tidak lagi tinggal diam. Berhasil membuka kaitan bra yang di gunakan untuk menutup benda bulat itu tangannya mulai meremas, memainkan gundukan kenyal itu dengan gemas dan sesekali Radit memberikan cubitan pada put**ng yang mengeras itu, membuat Mesya mengerang cukup kuat.
“Bagaimana, nikmat bukan?” Mesya sama sekali tidak menanggapi perkataan kekasihnya itu karena yang di rasakannya saat ini adalah kenikmatan, juga gelenyar aneh apa lagi saat Radit mempelintir put**ng kecoklatan itu.
__ADS_1
Masih dalam keadaan setengah duduk di atas paha Mesya Radit membuka resleting celananya, menggesek-gesekan miliknya pada daerah segitiga itu yang membuat desahan nikmat juga tersiksa keluar dari mulut Mesya dan itu menambah semangat untuk Radit yang sudah lama tidak merasakan sensasi ini.
Tangannya masih bermain-main di gundukan kenyal itu sedangkan Mesya mencengkram kuat seprai putih yang sudah terlihat kusut. Radit menikmati wajah Mesya yang penuh dengan keringat, menahan gairah yang justru terlihat makin seksi apa lagi perempuan cantik itu menggigit sensual bibir bawahnya. Ah, Radit bisa-bisa gila jika seperti ini terus