My Boss Is My Ex-Boyfriend

My Boss Is My Ex-Boyfriend
Chapter 24


__ADS_3

Dengan terpaksa Mesya harus menghangatkan semua makanan yang disiapkan Housekeeper karena jadwal makan malam yang begitu terlambat gara-gara Radit yang terus saja menerjangnya di tempat tidur. Laki-laki tampan itu seolah tidak pernah merasa puas walau Mesya sudah begitu kelelahan di bawah kukungannya. Dan sialnya Radit tidak sama sekali merasa bersalah.


“Gak usah cemberut gitu, kalau kamu juga menikmatinya sayang,” Radit berucap saat melihat wajah kekasihnya itu masih juga cemberut.


Meletakan kembali satu per satu makan yang selesai di hangatkan, Mesya tidak menghiraukan laki-laki tampan itu dan memilih langsung mengisi piring Radit dengan Nasi juga lauk nya memberikannya tanpa mengucapkan satu kata pun sedangkan Radit terkekeh geli karena merasa perempuan yang tengah kesal itu terlihat lucu di matanya.


“Depan makanan jangan cemberut, pamali. Nanti nasinya pada nangis,” gurau Radit untuk mencairkan suasana. Mesya hanya mendengus kemudian melahap makanannya tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.


Selesai menyantap makan malam yang tertunda, Mesya bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan Radit seorang diri di meja makan. Hanya gelengan kepala yang Radit lakukan melihat rajukan kekasihnya itu. Hanya usia yang dewasa namun tingkah tetap saja seperti anak kecil. Radit cukup tahu bagaimana Mesya karena memang mereka sudah sama-sama sejak kecil.


Radit tidak menyangka cintanya akan kembali bersemi, padahal saat tahu bahwa perempuan itu sudah memiliki tunangan Radit sempat akan memutuskan untuk menutup hatinya, tapi siapa sangka justru cintanya itu akan kembali ia dapatkan.


Cepat-cepat menyelesaikan makannya dan membereskan meja makan, Radit segera menyusul kekasihnya yang sudah naik ke lantai atas. Dan ternyata wanita itu tengah membaringkan tubuhnya di ranjang sambil memainkan ponsel.


Merangkak naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuh di samping sang kekasih. Tangannya hendak melingkar di tubuh ramping itu namun sebelum itu terjadi Mesya lebih dulu menghindar. Radit tidak menyerah dan maju lebih dekat pada kekasihnya, menarik dengan cepat tubuh ramping Mesya saat perempuan itu hendak turun dari ranjang.


“Udahan ngambeknya, aku makin gemas tahu gak,” Radit semakin erat memeluk kekasihnya itu.


“Lepas Radit! Jangan peluk-peluk aku,” ucap Mesya masih dengan suara kesal, tangannya mencoba untuk menyingkirkan tangan Radit yang melingkar posesif.

__ADS_1


“Aku sudah pernah melepas kamu lima tahun lalu, dan aku menyesal. Maka dari itu sekarang aku gak akan pernah melepas kamu lagi,” Radit berkata. Nadanya terdengar tulus dan itu berhasil menghentikan Mesya yang berontak.


“Jangan pernah memintaku untuk melepasmu apa lagi memintaku untuk pergi karena aku tidak akan pernah melakukan itu.” Lanjut Radit semakin mengeratkan pelukannya.


♥♥♥


Hari senin adalah hari dimana semua pelajar dan pekerja kembali beraktivitas dan mungkin hampir semua manusia di dunia ini benci dengan hari ini termasuk Mesya yang pagi ini masih betah bergelung di bawah selimut. Perempuan cantik berusia dua puluh empat tahun itu begitu malas walau hanya untuk membuka matanya. Terasa lengket dan berat.


Radit sebenarnya sudah kesal membangunkan kekasihnya itu, tapi mau bagaimana lagi membentak tidak mungkin Radit lakukan karena bisa-bisa perempuan itu kembali merajuk seperti semalam.


“Sya, bangun dong ini udah hampir jam delapan, kita harus segera ke kantor, Sya ada meeting penting hari ini. Ayo dong, Sya jangan sampai clien kita nunggu lama,” kembali Radit membangunkan wanita itu, mengguncang tubuhnya bahkan kecupan demi kecupan sudah Radit berikan juga gelitikan sudah Radit layangkan.


“Radit!” pekik Mesya keras.


“Mandi sendiri apa aku yang mandiin? Ini udah jam delapan dan kita ada meeting pukul sembilan, jadi nona cepat lah kamu mandi dan bersiap aku tunggu di bawah. 15 menit gak selesai get out dari kantor aku, biar aku cari sekertaris baru yang lebih cantik juga seksi dan lebih profesional.”


Setelah mengucapkan itu Radit langsung keluar meninggalkan Mesya yang masih menganga di tempatnya.


“Emang aku peduli, heh! Aku gak takut kamu pecat Tuan Radit. Masih banyak perusahaan lain yang dapat menerimaku sebagai sekretaris. Dan asal kamu tahu aku juga bisa mendapatkan bos lebih tampan dari kamu!” teriak Mesya dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Radit yang masih berada di dalam kamar pun jelas mendengar setiap kata yang di ucapkan kekasihnya. Mengabaikan teriakan itu dan keluar dari kamar melangkah menuruni tangga menuju dapur dan duduk di kursi meja makan, mengambil selembar roti tawar yang tersedia di meja kemudian mengolesinya dengan selai kacang. Tidak lupa juga Radit membuatkan untuk Mesya dengan isian selai strawberry juga coklat, dan menyusunnya di kotak makan.


Tak lama Mesya datang, sudah lengkap dengan pakaian kerjanya yang kemarin wanita itu beli. Dengan balutan kemeja formal berwarna hitam, begitu kontras dengan kulitnya yang putih, dan wedges setinggi 7cm itu membalut kaki jenjangnya menambah tinggi wanita cantik itu.


“Perfect.” Gumam Radit saat selesai meneliti tampilan kekasih juga sekretarisnya itu.


“Pak Radit bisa kita berangkat sekarang? Waktu kita gak banyak, Pak, jangan buat clien menunggu.” Mesya berbicara seformal mungkin, sekaligus menyindir kekasih yang juga atasannya itu yang malah terpaku melihatnya.


Tanpa menjawab, Radit langsung meraih pinggang kekasihnya dan melayangkan kecupan singkat sebelum kemudian melangkah keluar dari rumah dan menaiki mobil yang di kemudikan oleh supirnya.


Selama di perjalanan keduanya hanya sibuk membicarakan pekerjaan juga kerja sama dengan seorang arsitektur yang akan ditemuinya pagi ini yang nantinya akan menangani proyek besar pembangunan sebuah hotel bintang lima.


Pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam ini untungnya membuat Radit mengulas senyum walau tadi sempat memutuskan untuk membatalkan kerja sama ini karena orang yang ditemuinya menunjukan rasa ketertarikan pada Mesya yang tak lain adalah kekasih juga sekretarisnya namun Mesya terus berusaha meyakinkan dan mengatakan bahwa mereka harus profesional.


“Kalau bukan demi proyek besar ini, aku lebih baik cari arsitek baru dari pada harus membiarkan laki-laki lain menatapmu dengan tatapan laparnya!” gerutuan Radit terus saja terdengar hingga mereka sampai di kantor.


“Udah ya, sayang jangan ngomel terus, lebih baik kamu duduk dan kerjakan semua dokumen yang menumpuk itu.” Mesya sedikit mendorong tubuh Radit agar duduk di kursi kebesarannya di balik meja besar yang diatasnya terdapat sebuah laptop, pigura kecil juga setumpuk kertas yang perlu tanda tangan.


Saat tangan Radit hendak menarik tubuh ramping Mesya, perempuan cantik itu lebih dulu menghindar hingga hanya udara yang Radit dapatkan. Menyunggingkan senyum kemenangan kemudian Mesya berlalu dari ruangan bosnya, meninggalkan Radit yang terlihat kesal.

__ADS_1


“Awas kamu Sya, aku pastikan malam ini kamu gak bisa tidur nyenyak.” Sudut bibir Radit tersungging, penuh ancaman licik.


__ADS_2