My First Love Is My Best Friend

My First Love Is My Best Friend
Chapter 10


__ADS_3

∆ ∆ ∆ ∆ ∆


"Terus kamu menghabiskan semuanya?" tanya Sigit.


"Ya iyalah,aku kan udah terbiasa langsung meminumnya sekaligus.'' balas Rio.


''Ya siap-siap aja,paling nanti anak kamu sebentar lagi lahir.'' timpal ku.


"Tami,nggak lucu yah......"


"Emang ada ceritanya yah,minum susu ibu hamil bisa buat kita ngelahirin anak.Aneh aja kamu,lagi pula kan aku laki-laki." lanjut Rio.


"Becanda kali,lagi pula nggak ada ceritanya." balas ku.


"Ya udah yuk ah,kita masuk ke kelas 5 menit lagi jam pelajaran pertama akan segera di mulai." ajak Edra.


"Ya udah kalau gitu,sampai ketemu nanti siang yah.Dah.........'' ucap Nela sambil melambaikan tangannya.


Sesampainya di dalam kelas,aku langsung mengeluarkan apa saja yang ku perlukan untuk pelajaran pertama hari ini.


¢ ¢ ¢ ¢ ¢ ¢


Siang harinya,seperti biasa di kantin setelah kami memesan beberapa makanan kami langsung berkumpul di meja kebangsaan kami berlima.


"Eh lihat,bukannya itu Mela....." tunjuk Rio.


"Iya emang kenapa?" tanya Sigit.


"Kan dia suka sekali sama Edra,aku perhatikan dari tadi dia tidak hentinya melihat ke arah sini.'' ucap Rio.


"Ya udah sih,biarkan saja." timpal Edra.


"Emang nya kamu sampai saat ini,nggak pernah gitu ada rasa suka sama dia.Padahal dia kan udah ngejar-ngejar kamu udah mau dua tahunan." jelas Rio.


"Nggak ada,aku hanya anggap dia teman saja."


"Lagi pula,selama ini aku tidak pernah memberi dia harapan lebih.Harusnya dia mencari laki-laki lain yang menyukai dia." jelas Edra.


"Padahal dia cantik loh,dia juga terkenal dengan kepintarannya di kelas IPS."


"Ya kalau aku nggak suka mau gimana," balas Edra.


"Benar juga sih yang Edra bilang,mau cewek itu secantik dan sepintar apa pun kalau emang hati kita nya nggak terketuk.Itu akan sia-sia saja,mau maksain juga kan kasihan sama dia juga.''

__ADS_1


"Menjalani hubungan di atas kepalsuan." lanjut Sigit.


"Setuju......" ucap Edra.


"Tumben Sigit kata-katanya puitis banget,kayaknya ada pengalaman pribadi nih." tutur ku.


"Pastilah,kamu nggak ingat pas aku kelas X tahun lalu.Waktu itu ada cewek yang naksir sama aku,"


"Ah iya aku ingat,dia sampai pindah sekolah gara-gara putus sama kamu." timpal Nela.


"Iya padahal aku sudah sebaik mungkin untuk mengakhiri hubungan kami secara baik-baik.Tapi mungkin itu sulit untuk dia,makannya dia memilih untuk pindah dari sini." balas Sigit.


"Pengalaman hidup,mengajarkan kita untuk menjadi lebih baik kedepannya buka?" lanjut nya.


"Setuju......." ucap kami bersamaan.


¢ ¢ ¢ ¢ ¢


Pelajaran terakhir hari ini,merupakan pelajaran praktik di ruangan komputer.Aku sediri terbiasa memilih untuk duduk di bangku yang paling belakang dengan Rio.


Sedangkan Edra,dia berada tepat di samping depan ku untuk memantau situasi.Takutnya,guru menyadari kalau aku dan Rio tengah tertidur pulas.


Suasana rungan yang gelas dan minim penerangan,semakin mendukung untuk aku dan Rio untuk diam-diam tidur di balik komputer.


"Tami,bangun.......'' ucap Edra yang tengah berusaha membangunkan ku.


"Sebentar lagi yah,aku ngantuk banget nih." ucap ku masih dalam keadaan mata terpejam.


"Ini waktunya untuk kita pulang,Rio sudah lebih dulu keluar.Ayo,nanti yang ada kuta malah terkunci di rungan ini." jelas Edra


Dengan berat aku pun perlahan membuka mata ku.Dan ternyata benar,sudah tidak ada satupun siswa di ruangan itu yang tersisa kecuali aku dan Edra berdua saja.


"Ya udah yuk......." ajak ku sambil bangkit dari duduk ku.


Edra oun berusaha membantu untuk memapah ku,karena kondisi ku yang belum sepenuhnya sadar.


Sesampainya di luar ruangan,aku langsung menuju ke tempat penampungan air,yang berada di depan ruangan itu untuk membasuh wajah ku.


Setelah di rasa cukup,aku pun langsung kembali menghampiri Edra untuk sama-sama pulang.


"Sebentar deh,masa iya kamu mau keluar dengan keadaan seperti ini.Rambut acak-acakkan kayak gini." ucapnya sambil membantu ku untuk merapihkan rambut ku.


Setelah itu,Edra juga membantu untuk mengelap bekas air di wajah ku dengan sapu tangan yang sering dia bawa kemana-mana yang selalu dia simpan di sakunya.

__ADS_1


"Sini biar sama aku aja," ucap ku berusaha meraih saputangannya.


"Tidak perlu,ini tinggal sedikit lagi." balas nya.


Aku pun hanya bisa pasrah dan memilih untuk diam saja.Benar apa yang di katakan Rio,mungkin orang lain akan langsung salah paham dengan perhatian yang di berikan Edra pada ku selama ini.


Mungkin,ini juga bisa sangat mempengaruhi saat ada orang lain yang mencoba untuk mendekati salah satu dari kami.


"Nah,sekarang udah selesai." ucapnya.


"Ya udah yuk,kita kan mau jenguk ibu kamu lebih dulu sebelum pulang." ajaknya.


"Oh iya,kata ayah dia sudah menitipkan bunga di tukang jualan yang ada di dekat gerbang.Jadi,kita berdua tidak perlu membelinya lagi tinggal ambil aja." jelas ku.


"Ya udah......"


Kami berdua pun langsung menuju ke parkiran sekolah untuk mengambil motornya lebih dulu.


¢ ¢ ¢ ¢ ¢ ¢


Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menitan,aku dan Edra pun sampai di komplek pemakaman di mana makam ibu ku berada.Sebelum masuk ke dalam,aku lebih dulu mampir ke warung yang di maksud ayah kemarin.


Dan ternyata benar,sesampainya di sana ibu penjual warungnya langsung memberikan bungkusannya pada ku.Setelah itu,aku dan Edra langsung melanjutkan untuk menuju ke tempat tujuan utama kami berdua.


Aku hanya perlu berjalan sekitar 200 meter dari gerbangnya,dari kejauhan aku sudah melihat makam ibu yang terlihat sudah usang.


Aku langsung menyunggingkan senyuman,setelah melihatnya.Edra pun kemudian menggenggam tangan ku erat sambil menuntunku menuju makam ibu.


"Siang bu....."


"Hari ini,Tami menepati perkataan ayah kemarin.Tami datang untuk menjenguk ibu,maafin Tami yah bu.Karena baru sempat,menjenguk ibu."


"Tami harap,ibu senang melihat kedatangan Tami kali ini.Hari ini seperti biasa,Edra yang menemani ku untuk menjenguk ibu." lanjut ku.


Edra pun membantu ku menebarkan bunganya dan menyiramkan airnya di atas kuburan ibu.


"Tami senang,karena Tami masih bisa mengunjungi ibu kali ini.Oh iya,ayah hari ini sedang pergi ke Bogor.Katanya paman sedang sakit," lanjut ku sambil mengusap batu nisan yang ada ukiran nama ibu.


Tanpa terasa air mata ku pun sudah jatuh tak terbendung,Edra pun langsung memberikan sapu tangan miliknya pada ku.


"Tami hanya sedih aja bu,tidak apa-apa kan kalau hari ini Tami menangis sebentar."


Edra pun berusaha menenangkan ku dengan merangkul ku dan mengelus pundak ku pelan.

__ADS_1


__ADS_2