My First Love Is My Best Friend

My First Love Is My Best Friend
Chapter 22


__ADS_3

♧ ♧ ♧ ♧ ♧


"Rio....." ucap Edra.


"Aku bisa minta tolong sama kamu kan,tolong minta buatkan surat ijin sama Safira untuk aku sama Tami."


"Tentu saja," balas Rio.


"Aku akan pulang lebih dulu sama Tami hari ini," lanjut Edra.


"Ya sudah,aku akan bicara sama Safira."


Rio pun langsung keluar dari kliniknya dan sekarang hanya tinggal aku dan Edra saja berdua.


"Ayo....." ajaknya sambil menarik tangan ku.


Aku pun hanya bisa pasrah dan mengikuti Edra dari samping.Aku tahu, sekarang Edra tampak kesal,wajahnya terlihat memerah menahan kemarahan yang tidak bisa dia luapkan.


"Nanti aku minta tolong Rio saja,buat anterin motor kamu ke rumah.Sekarang kita pulang pakai motor ku saja." ucapnya.


Aku pun langsung naik dan Eda pun langsung melajukan motornya keluar dari area sekolah.


♧ ♧ ♧ ♧ ♧


Sesampainya di rumah,bibi tampak kaget melihat kondisi wajah ku saat ini.


"Bi,tolong jangan ceritakan masalah ini sama bapak yah." ucap Edra.


"Iya mas," balas bibi.


"Tolong siapin obat sama kompresan dan antar langsung ke atas."


"Baik mas,bibi akan langsung mempersiapkannya."


Bibi pun langsung berlalu menuju ke dapur dan aku pun langsung di tariknya menuju ke kamar.


Selama ini memang tidak ada yang pernah berani menyentuh ku dengam kasar seperti ini.Apalagi memukul ku secara fisik,apalagi ayah sangat menjaga ku sejak aku masih kecil.


Dulu,saat aku terluka sedikit pun karena jatuh dari sepedah,dia langsung membawa ku ke rumah sakit saking over protektif nya ayah sama aku.


Dan sekarang,kalau ayah tahu ada yang berani menyakiti aku.Dia pasti yang akan merasa lebih sakit di bandingkan aku.


"Duduk....." suruhnya.


Edra pun kemudian mengambil kursi yang sering aku gunakan untuk belajar.Edra pun perlahan menyentuh pipi ku dengan lembut.


Aku sendiri hanya terdiam dan menahan supaya aku tidak menangis di hadapannya.Karena itu,malah akan buat dia semakin khawatir.

__ADS_1


Tidak lama kemudian,bibi pun datang dengan membawa kotak obat dan kompresan.


"Makasih ya bi...." ucap Edra.


"Iya sama-sama,nanti kalau ada apa-apa panggil bibi lagi aja."


"Iya bi....."


Bibi pun kemudian keluar kembali dan menutup pintu kamarnya.


Edra pun langsung memeras sapu tangannya dan mulai mengompres pipi ku.Dengan reflek aku langsung memegang baju Edra karena merasa sakit.


"Aku sedang marah sekarang,"


"Siapa pun itu,aku akan memberi perhitungan sama dia.Karena sudah berani menyentuh kamu seperti ini." lanjut nya.


Aku sempat menatap matanya,di sana terlihat gambaran kemarahan yang dia coba pendam.Aku semakin merasa khawatir,apa yang akan Edra lakukan saat tahu orang yang berani melakukan ini itu adalah Mela.


Setelah selesai mengompresnya,dia kemudian tiba-tiba saja mencium bibir ku.Aku sangat terkejut luar biasa.


"Apa ini? Apa yang sedang kamu lakuakn sekarang Edra? Apa ini mimpi,kenapa kamu melakukannya dengan aku?"tanya ku dalam hati.


Perlahan tangannya pun,mulai memegang wajah ku dan semakin mendalami ciumannya.Aku pun langsung memejamkan mataku dan mulai mengikuti alurnya.


"Sepertinya ini bukan pertama kalinya aku melakukannya.Sepertinya,aku pernah merasakan ini belum lama ini." bisik ku kembali dalam hati.


"Apa mungkin itu kamu?" tanya ku dalam hati.


Edra melakuakanya begitu lama,aku sampai-sampai merasa akan kehabisan nafas di buatnya.


Sampai akhirnya dia pun melepaskannya dan langsung mengusap bibir ku.


"Kenapa?" ucap ku pelan.


"Aku suka sama kamu....." balas nya.


* Deg.......Deg......*


Mata ku langsung terbelalak,mendengar apa yang di katakan Edra barusan.Apa aku tidak salah dengar atau ini aku sedang bermimpi.


"Kenapa aku?" tanya ku kembali.


"Memangnya ada aturan yah,yang melarang aku untuk menyukai kamu.Ini bukan kesalahan bukan,ini wajar bukan?" balas nya.


"Tapi waktu itu kamu bilang....."


"Ya kan memang iya,tapi nyata nya aku memang menyukai kamu lebih dari sekedar teman." lanjut nya.

__ADS_1


Aku sempat terdiam dan berpikir beberapa saat untuk kembali bicara sama dia.


"Sejak kapan kamu menyukai ku,"


"Sudah lama,tapi kamu selama ini tidak menyadarinya.Mungkin karena kamu yang hanya anggap aku teman saja."


"Tidak begitu....."timpal ku langsung.


"Hanya saja,aku belum yakin dengan perasaan aku sama kamu ini.Aku takut salah dan malah mempengaruhi hubungan kita yang sudah lama terjalin." lanjut ku.


"Apa yang kamu takutkan,harusnya kamu menyadari semuanya hal yang selama ini aku berikan sama kamu.Perhatian ku,yang tidak pernah berpaling selain hanya untuk kamu saja." jelas nya.


"Alasan kenapa aku sampai sekarang tidak berani mebalas atau dekat dengan wanita lain itu adalah kamu.Karena tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisi kamu di hidup aku.Siapa pun itu," lanjutnya.


Aku pun langsung tersentuh dengan ucapan Edra dan air mata ku pun langsung berjatuhan tidak terbendung.


"Kenapa kamu malah menangis?" tanya nya.


"Apa kamu tidak senang,setelah mendapatkan pengakuan cinta dari ku hari ini?" lanjutnya.


"Bukan itu,"


"Aku tidak pernah membayangkan saja,kalau ternyata kamu menyukai ku lebih dari teman."


"Jujur saja,saat itu kamu memberikan jawaban yang di ajukan Rio.Aku agak kecewa dan kesal,tapi aku beranggapan mungkin karena aku takut kehilangan kamu.Karena selama ini kamu yang selalu ada di sampingku.Rasanya pasti akan terasa aneh,kalau suatu saat kamu mempunyai pacar dan aku merasa takut kehilangan perhatian yang selalu kamu berikan sama aku." jelas ku.


Dia pun membantu ku untuk menghapus air mata yang membasahi pipi ku.Dan tersenyum lebar pada ku.


"Itu tidak akan pernah terjadi," ucapnya.


Dia pun kembali mendekati wajah ku dan kembali mencium ku.Meakipun kali ini,hanya sebentar tapi aku merasa cukup senang dengan apa yang dia lakukan.


Edra pun kemudian mengambil kotak obat dan mengambil salep.Setelah itu,kemudian dia mengoleskannya di sudut bibir ku yang terluka.


"Berani-beraninya orang itu,menampar kamu.Aku saja tidak pernah berani berbuat kasar sama kamu." ucapnya.


"Sudahlah,lagi pula ini akan sembuh juga."


"Iya......"


"Tapi aku sulit untuk menerimanya.Kamu akan seperti apa ayah kamu kalau tahu,kamu terluka seperti ini." lanjutnya.


"Ya pasti akan marah banget lah...." timpal ku.


"Itu yang aku rasakan sekarang,"


"Jadi,sekarang katakan pada ku.Siapa orang yang sudah berani melakukan ini sama kamu?" tanya nya.

__ADS_1


__ADS_2