
*****
"Kamu juga merasa nggak nyaman melihat aku dan Edra marahan seperti ini.Apalagi aku,"
''Cepatlah kalian cari waktu untuk membicarakan kesalah pahaman ini,"
"Iya aku juga memang berniat seperti itu." balas ku.
Setelah aku dan Nela keluar dari toiletnya.Aku tidak sengaja berpapasan dengan kak Triadi yang sering aku panggil Adi saja.
"Bukankah itu kak Triadi? Sudah lama juga yah,dia tidak terlihat." bisik Nela.
Aku dan Nela pun sempat menyapanya saat kami berpapasan.
"Mi......." ucapnya sambil tersenyum.
"Hai kak...." balas ku.
"Sudah lama kakak tidak lihat kamu,gimana kabar kamu sekarang?" tanya nya.
"Baik kak,"
"Kakak sendiri bagaimana? Perasaan lama tudak kelihatan." lanjut ku.
"Baik....."
"Ah itu,kakak habis mengikuti turnamen di Surabaya.Mungkin sekitar 10 harian kakak di sana." jelas nya.
"Oh pantas saja."
"Ya udah kak,aku dukuan yah." lanjut ku.
"Iya....."
Aku pun langsung menarik Nela,kak Adi tampak terus memperhatikan ku sambil tersenyum.
Setelah aku dan Nela sudah merasa aman dan sudah jauh dari dia.Aku langsung berhenti bersamaan dengan Nela.
Sebenarnya kak Adi dulu pernah mendekati aku saat pertama kali masuk sekolah.Hanya saja,saat itu aku masih belum memikirkan untuk menjalin hubungan dengan siapa-siapa.
Apalagi saat itu,aku pernah di datangi oleh kakak kelas yang menaksir sama kak Adi.Padahal,hubungan aku dan kak Adi hanya sekedar senior dan junior saja.
Tapi memang,berita yang tersebar di penjuru sekolah,mengatakan kalau aku dan kak Adi sedang pacaran.
Sempat beberapa kali,aku menerima perlakuan yang kurang mengenakkan dari cewek-cewek yang menaksir kak Adi.
"Padahal kak Adi ganteng loh,kenapa sampai saat ini kamu masih belum busa menerima dia?" tanya Nela.
"Ya gimana,aku hanya anggap dia kakak aja dan nggak lebih dari itu." balas ku.
"Iya sih,aku ngerti.Hati kamu tidak bisa di paksakan untuk masalah ini."
"Aku hanya aneh aja,padahal dia ganteng.Sosok yang di kagumi siswa di sini,atlit pula.Tapi kamu malah menolak nya waktu itu...." lanjut Nela.
"Ya gimana,dari pada aku menerimanya tapi hati aku tidak bersama dia.Kasihan ke dianya juga kan,aku tidak mau menyakiti siapa pun.Makannya aku lebih nyaman seperti sekarang ini,ya meskipun aku merasa canggung seperti barusan saat bertemu dengan dia." jelas ku.
"Ya gak canggung gimana,soalnya kamu tahu perasaan dia ke kamu seperti apa."
__ADS_1
"Makanya itu....."
"Oh iya,tadi aku dengar pas pagi kata Sigit dia berpapasan sama kamu.Katanya kamu kayak orang ketakutan gitu,"
"Ah itu bukan apa-apa,hanya saja aku takut terlambat saja sampai kelas."
"Oh kirain ada apa,"
"Ya udah yuk,sepertinya jam isturahat sebentar lagi berakhir." ajak ku untuk mengalihkan perhatian Nela.
*****
Sesampainya di depan kelas dia,aku langsung berpisah dan langsung menuju ke kelas.Ternyata masih tidak banyak siswa yang sudah ada di dalam.
Aku pu memilih untuk,duduk sambil memainkan ponsel ku.Tidak lama kemudian Farel pun datang dan langsung duduk di kursinya.
"Hei....." panggilnya.
"Apa...?" tanya ku sambil berbalik ke arahnya.
"Aku boleh pinjam pelajaran yang tadi nggak? Ada beberapa barus yang tertunggal dan belum aku catat."
"Oh itu,sebentar......"
Aku pun langsung mengambil buku milik ku dan langsung memberikannya sama dia.
"Makasih ya......"
"Tulisan kamu bagus juga," ucapnya setelah membuka bukunya.
"Makasih atas pujiannya."
"Soal itu,aku juga minta maaf yah.Masalahnya,waktu itu adik ku menangis di mobil minta di belikan permen kesukaan dia.Aku sudah mencari ke beberapa mini market tidak ada." jelasnya.
"Ya kebetulan hanya di mini market yang waktu itu kita ketemu,baru ada.Makanya aku langsung mengambilnya." lanjutnya.
"Oh gitu......"
"Lain kali,aku ganti deh sama permen yang sama...." ucapnya.
"Tidak perlu,lagi pula aku bukan anak kecil kali." balas ku.
Dia pun langsung tertawa sambil menepuk tangan ku.
"Ekhem....."
"Sepertinya udah ada yang akrab nih," tiba-tiba saja Rio masuk bersama Edra.
Aku pun langsung melihat ke arahnya.
"Makanya kenalan dong," balas ku.
Aku sempat melihat ke arah Edra,dia sempat melihat ku namun langsung berpaling dan duduk di kursinya.
Rio pun langsung menghampiri Farel dan bersalama dengan dia.
"Rio......"
__ADS_1
"Farel....." balas nya.
"Kamu pindahan dari mana?" tanya Rio.
"Dari Bandung,"
"Kenapa memutuskan untuk pindah ke sini?" tanya nya kembali.
"Ayah ku di pindah tugaskan ke sini.Jadi,mau tidak mau aku juga harus ikut bersamanya." jelas Farel.
"Oh gitu,"
"Semoga betah ya,di sekolah ini." ucap Rio.
Dia pun kembali ke kursinya,karena memang jam istirahat sudah berakhir dan pelajaran berikutnya akan segera di mulai.
*******
Tidak terasa,hari ini aku lalui dengan begitu berat.Sambil menunggu yang lainnya keluar aku pun membereskan barang-barang ku yang berserakan di atas meja.
"Tami,aku duluan yah....." ucap Farel.
"Oh iya,hati-hati....." balas ku sambil melambaikan tangan.
Selepas kepergian nya,Rio langsung menghampiri ku.
"Eh aku pinjam buku pelajaran ke dua tadi," ucapnya.
"Ih gimana yah,tadi di pinjam sama Farel." balas ku.
"Oh gitu,ya udah deh nggak apa-apa." balasnya.
"Maaf yah,soalnya aku nggak tahu kalau kamu juga membutuhkannya."
"Iya tidak apa-apa,lagi pula nanti aku bisa pinjam sama yang lain.Santai aja," balas Rio sambil tersenyum.
Setelah itu aku dan Rio pun langsung keluar dari kelas bersamaan.
"Kamu masih marahan sama dia?" bisik Rio.
"Ya gitu deh....." balas ku.
"Jangan lama-lama lah,aku saja tidak nyaman melihatnya."
Aku hanya terdiam setelah mendengar oerkataan Rio barusan.
"Ya udah ya,aku duluan."
"Aku mau antar Sigit mengambil motornya ke bengkel." lanjut Rio.
"Ya udah sana,hati-hati." balaa ku.
Aku pun berjinjit melihat Nela dari luar,tapi sepertinya dia sudah lebih dulu pulang karena aku lihat sudah tidak ada siapa-siapa lagi di kelas nya.
"Yah,dia udah duluan lagi." bisik ku dalam hati.
Aku sengaja memilih jalan yang tidak biasa aku lewati.Aku memilih untuk berjalan menyusuri lapangan sekolah.
__ADS_1
Ternyata tanpa aku sadari,Edra pun mengikuti ku dari belakang.Aku sempat ingin berhenti dan menegurnya.Namun,urung ku lakukan karena banyak siswa juga yang lewat di antara kami.
"Mau sampai kapan aku seperti ini terus,apa sebaiknya aku mengalah dan menyapanya saja." ucap ku pelan.