My First Love Is My Best Friend

My First Love Is My Best Friend
Chapter 20


__ADS_3

♧ ♧ ♧ ♧ ♧


"Ya udah Mel,aku duluan yah.Maksih ya rotinya."


Edra pun langsung menarik ku dan berjalan melewati lapangan.


"Kamu apa-apaan sih,kok malah gitu sih?"


0p


"Maksud kamu?" tanya nya.


"Kenapa kamu malah narik tangan aku,padahal di sana ada Mela.Bagaimana kalau dia nanti malah salah paham sama aku." ucap ku.


"Ya kan kamu bilang kamu kesal kalau lihat aku sama Amel.Terus kenapa kamu malah main pergi gitu aja,itu sama aja kamu kayak ngasih kesempatan untuk dia dekat sama aku." balas Edra.


"Tapi......."


"Sudahlah,aku tidak mau bertengkar sama kamu."


"Baru juga semalam kita baikan,masa iya hari ini malah mau bertengkar lagi." lanjut Edra.


"Ya bukan itu maksud aku,"


"Sudahlah....." Edra pun lebih dulu berjalan di hadapan ku.


Sesampainya di dalam kelas,aku langsung duduk sambil melihat terus ke arahnya.


"Rio....." panggil Edra sama Rio yang tengah asik ngobrol sama Eko.


"Apa....?"


"Nih makan," ucap Edra memberikan kotak makanan yang di berikan Mela tadi.


"Tumben banget....." ucap Rio sambil meraihnya dari tangan Edra.


"Udah makan aja,lumayan.Kamu kan,"


Belum juga Edra selesai bicara,Rio langsung duduk di kursinya dan mengajak Eko dan Soni untuk memakan nya bersama.


"Tami,kamu mau nggak?" ucap Rio.


"Nggak,aku masih kenyang."


"Rel,kamu mau nggak?" ucap Rio menawari Farel yang sedang asik dengan ponselnya.


"Nggak,sok aja."


Rio dan yang lainnya terlihat lahap sambil sesekali tertawa.Tidak lama kemudian dia menghampiri ku.


"Kenapa?" tanya ku.


"Seret,aku minta minum kamu dong." pintanya.


"Bentar...."


Aku pun langsung mengambilnya dari bawah meja.Untung saja,stoknya masih ada.


"Nih......"


Dia pun langsung mengambilnya dan kembali bergabung dengan Eko dan Soni.

__ADS_1


♧ ♧ ♧ ♧ ♧


*Kring......*


Bel istirahat pun berbunyi,itu tandanya jam pelajaran ke dua pun berakhir.Setelah guru meninggalkan kelas,aku dan teman-teman ku langsung berlari menuju keluar kelas.


Namun,saat aku sampai di depan kelas IPS,aku baru menyadari ternyata HP ku tertinggal di kelas.


"Eh kalian duluan aja,HP ku tertinggal di kelas nih."


"Ya ampun,kamu kebiasaan banget sih.'' ucap Rio.


"Ya udah nanti,aku pesenin makan siang buat kamu biar cepat." lanjut Rio.


"Kamu mau aku temenin nggak?" tanya Edra.


"Tidak perlu,lagi pula sebentar ini." balas ku.


Aku pun langsung berbalik arah dan berlari kembali ke kelas.Aku sangat beruntung,HP ku masih aman di bawah bangku.Aku pun langsung meraihnya.


Namun,saat aku hendak kembali tiba-tiba saja ada Mela dan kedua temannya yang menghadang ku.


"Maaf dong,aku mau lewat." ucap ku.


"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu," balas Mela.


"Emangnya ada apa sih?"


"Udah nggak usah banyak tanya,sebaiknya kamu ikut saja sama aku."


Dia pun membawaku menuju ke dekat gedung yang berdekatan dengan kelas X.


"Kamu mau bicara apa emang nya?" tanya ku kembali.


"Maksud kamu apa? Kan kamu tahu sendiri,aku sama dia berteman baik."


"Bukan itu,"


"Aku tidak yakin,kamu dan dia hanya berteman saja.Soalnya baik kamu atau pun dia,kalian sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan." lanjutnya.


"Kamu aneh banget,kok bisa punya pikiran seperti itu.Ya wajarkan aku dekat dengan dia satu sama lain,soalnya aku sama dia tumbuh dari kecil bareng-bareng.Jadi wajar kalau kami berdua lebih dekat dari yang lainnya." jelas ku.


"Terus,kenapa selama ini dia selalau menolak ku?"


"Ya mana aku tahu,"


"Kamu lihat kan tadi,dia malah menggandeng tangan kamu.Padahal selama ini aku loh,yang berusaha untuk deketin dia."


"Ya aku juga gak tahu,kenapa dia malah menarik ku." balas ku.


Tiba-tiba saja dia mendaratkan pukulan di pipiku lumayan keras.


"Ah......" isak ku.


"Sakit kan? Sama aku juga merasakan sakit,saat tadi melihat Edra lebih memikih menggandeng tangan kamu dari pada aku." ucapnya.


"Ini tidak seberapa,di bandingkan sakit hati aku.Yang terus menerima penolakan dari dia." lanjut Mela.


"Ya terus kenapa kamu malah menampar ku? Yang punya urusan kan kamu sama Edra." balas ku.


"Iya,tapi kamu tuh kayak orang ketiga di dalam hubungan aku sama dia.Kamu yah,dari dulu hanya jadi penghalang saja di antara aku sama Edra."

__ADS_1


Aku sempat terdiam saat mendengar perkataan Mela barusan.


"Apa kah iya,selama ini aku hanya menjadi penghalang di kehidupan Edra." bisik ku dalam hati.


"Aku harap kamu ingat kata-kata ku ini.Sebaiknya kamu jauhi Edra dan biarkan dia dekat dengan aku.Kalau aku lihat kamu sekali lagi menghalangi hubungan aku dengan Edra,aku akan memastikan kamu akan mendapatkan hal yang lebih dari ini." ucap nya.


"Hei......"


"Kalian lagi ngapain di sana?" teriak seseorang.


Mela dan kawan-kawannya pun langsung berbalik dan kabur.


"Tami.....!" seru Farel.


Dia pun langsung menghampiri ku,dia tampak terkejut melihat kondisi wajah ku saat ini.


"Apa yang mereka lakuakan sama kamu? Sampai bibi kamu berdarah.Dan ini lihatlah,pipi kamu begitu merah." ucap Farel.


"Apa dia habis melakukan kekerasan sama kamu?" lanjutnya.


Aku hanya menundukkan kepalaku dan menangis.


"Kamu nangis?"


"Sebaiknya,aku laporkan mereka ke guru BP."


"Tidak....."


"Jangan,nanti yang ada malah masalahnya semakin besar." balas ku sambil meraih tangan Farel.


"Tapi ini tidak benar,"


"Aku tahu,tapi kalau nanti kamu melaporkan mereka semua.Yang ada,aku akan kembali kena masalah lagi dengan mereka."


Farel pun terdiam dan tampak kesal dengan jawaban yang aku berikan.


"Baiklah,Ku juga tidak tahu masalah apa yang terjadi sama kalian.Tapi,sebaiknya sekarang aku membawa kamu ke klinik.Kita obati dulu luka mu ini," ajaknya.


"Ya udah....."


Farel pun mengantar ku menuju ke klinik yang letaknya berada di dekat labolatorium.Sesampainya di sana,dia langsung mengambil kompresan dari dalam frezer.


"Ini pasti akan terasa sakit,tapi akan sangat membantu penyembuhan luka kamu ini." ucapnya.


"Kamu mau ngapain?"


"Ya ngapain lagi,kompres luka kamu lah....."


"Aduh,itu pasti akan sakit Rel.Aku nggak mau...."


"Tapi,kalau nggak segera di kompres bekasnya itu tidak akan cepat hilang."


"Sudahlah tahan saja,kalau sakit kamu pegang saja bantal ini.Gigit saja kalau mau," dia oun memberikan bantal yang memang sudah tersedia di sana.


Farel pun bersiap untuk meletakkan kompresnya di pipi.Aku pun langsung merasa cemas dan memejamkan mata ku.


"Ah........." terik ku.


"Gigit aja bantalnya,aku udah jelasin sama kamu ini akan terasa sakit."


"Tapi sakit Rel......" isak ku.

__ADS_1


"Iya aku juga tahu,tapi kamu mau sembuh bukan?"


__ADS_2