
♧ ♧ ♧ ♧ ♧
"Apa yang sudah kamu lakukan sama Tami?" aku pun langsung menanyakannya karena sudah tidak tahan.
"Maksud kamu apa sih?"tanya nya balik.
"Aku sudah tahu,Mel."
"Jadi kamu tidak perlu pura-pura,untuk tidak mengetahuinya." lanjut ku.
"Aku benar-benar tidak tahu,apa yang kamu maksud sekarang."
"Mel....."
"Jadi kamu benar-benar tidak akan mengakui, apa yang sudah kamu lakukan sama dia."
"Aku tahu Mel,kamu kan yang sudah memukul dia kemarin.Sampai dia terluka seperti itu." lanjut ku.
Dia pun langsung terdiam dan mengalihkan pandangan nya.
"Baiklah,aku mengakuinya."
"Kemarin memang aku yang berbuat itu sama dia.Tapi,aku hanya memberikan dia peringatan saja.Itu saja,"
"Peringatan apa yang kamu maksud? Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu maksud?"
"Aku tidak suka,karena dia selalu berada di samping kamu terus dan selalu di nomor satukan sama kamu." balas nya.
"Kan kamu sudah tahu sejak awal,hubungan dia sama aku seperti apa.Semua orang sudah tahu itu,kenapa kamu malah mempermasalahkan nya sekarang?"
"Aku kesal Edra,dia seperti penghalang dalam hubungan kita."
"Hubungan? Hubungan apa yang kamu maksud?" tanya ku balik.
"Perasaan,tidak ada hubungan yang spesial di antara kita berdua.Aku hanya anggap kamu itu teman saja,tidak lebih Mel."
"Aku sudah bicarakan ini sama kamu beberapa kali.Harusnya kamu mencari ku,bukan malah menyalahkan Tami,dia tidak ada hubungannya dengan kita." lanjut ku.
"Kenapa sih,kamu terus bersikap seperti ini sama aku.Tidak bisa kah,kamu bersikap sedikit melunak sama aku."
"Aku kurang apa sih,aku sudah menunggu kamu sudah cukup kama.Sudah hampir 2 tahun menunggu kamu." lanjutnya.
"Kamu kan sudah tahu jawaban aku seperti apa.Bukan aku melupakan semua kebaikan yang pernah kamu berikan sama aku,hanya saja sekarang ada seseorang yang telah mengisi hati aku." jelas ku.
Dia pun terlihat menangis sambil tertunduk.
__ADS_1
"Maafkan aku,mungkin kata-kata ku ini terlalu kejam.Mungkin saja,kamu salah mengartikan perhatian ku selama ini.Tapi,memang aku tidak bisa menerima kamu lebih dari itu." lanjut ku.
"Tapi,kalau aku tidak mengatakannya.Aku hanya akan buat kamu terus menunggu ku tanpa kepastian.Aku mengakui,kamu itu sebenarnya baik dan ramah.Pasti di luar sana,akan ada laki-laki yang bisa menyayangi kamu dan membahagiakan mu.Jagan sia-sia kan waktu kamu,hanya karena menunggu ku.Karena jawabannya akan tetap sama dan yang ada bukan hanya kamu saja yang terluka."
Aku pun langsung beranjak dari duduk ku.
"Maafkan aku,mungkin kata-kata yang aku ucapkan terbilang kejam.Aku harap kamu bisa mengerti dengan apa yang aku sampaikan."
Aku pun langsung menuju parkiran dan langsung mengambil motor ku.
♧ ♧ ♧ ♧ ♧
"Bi......." panggil ku.
"Iya non," bibi langsung menghampiri ku.
"Aku minta tolong buatkan jus alpukat yah,terus nanti antarkan ke halaman belakang.Aku mau kasih makan ikan dulu,"
"Ya sudah,nanti bibi antarkan."
Aku pun langsung menuju ke halaman belakang dan langsung meraih wadah makanan ikan di rak.
"Ya ampun,kalian rakus-rakus banget sih.Coba saja,kalau aku telat kasih kalian makan,pasti sudah pada demo sama ayah ku." ucap ku sambil memberi makan ikan.
"Ya ampun Tami....." tiba-tiba saja Rio sudah berdiri tepat di belakang ku.
"Lagian kamu,ngobrol sama ikan.Ada-ada saja,"
"Iya nih,kasihan tahu iman milik ayah.Udah hampir seminggu di tinggalin sama ayah."
"Oh ayah kamu belum balik juga?"
"Belum katanya,minggu ini tuh paman baru menjalani operasinya." balas ku.
"Ah pantas saja.Setiap ke sini aku tidak melihat keberadaan ayah kamu."
"Ya begitu lah,yang terpenting di sana ayah baik-baik saja."
"Oh iya,kamu kok sendirian.Edra mana?" lanjut ku.
"Ah itu,dia sepertiya sedang ada urusan."
"Malsud kamu sama Mela?" tanya ku.
"Iya,itu kamu udah tahu."
__ADS_1
"Iya kemarin dia sempat meminta ijin sama aku.Ya meski pun sebenarnya,aku tidak menginginkan hal itu.
"Tapi kan,kalau tidak di gituin yang ada bukan hanya kamu saja yang terluka.Tapi dia sama Mela juga."
"Kalau tidak segera di beri kejelasan,Mela akan terus salah paham sama Edra dan akan terus menyalahkan kamu." lanjut Rio.
"Iya sih....."
"Kenapa,kamu takut setelah ini Mela malah berbuat hal yang lebih dari apa yang pernah dia lakukan sama kamu?" tanya nya.
"Ya bisa di bilang seperti itu,"
"Tenang aja,kamu kan tidak sendirian.Ada aku,Sigit,Nela begitu pun Edra."
"Tadi juga Sigit,sempat menanyakan kejadian yang menimpa kamu itu.Aku tidak mungkin kan,merahasiakannya dari dia.Secara dia juga kan teman kita,jadi aku ceritakan saja apa yang aku ketahui." jelas Rio.
"Ya sama,semalam Nela juga WA aku."
"Aku juga sudah menceritakannya sama dia,"
"Pantas saja,dia diam saja tadi selama di sekolah.Ternyata dia udah tahu lebih dulu."
"Tapi,untung nya kemarin itu ada Farel lewat.Coba saja,kalau tidak ada dia pasti Mela akan terus mendesak kamu."
"Iya,benar kata kamu....."
"Selama di kantin,pandangan Edra tidak hentinya melihat ke arah arah lorong.Dia terlihat sekali mencemaskan kamu.Eh ternyata,pas kita balik ke kelas aku mendapati Farel yang tengah membereskan buku yang ada di meja kamu." jelas Rio.
"Terus?"
"Ya aku tanya lah,kenapa dia melakukan itu.Awalnya dia sempat kebingungan dan tidak mau menjawabnya.Tapi,setelah Edra menggertak dia,baru lah dia kasih tahu kondisi kamu.Untung nya saat itu,di kelas belum ada siapa-siapa." jelas nya kembali.
"Iya karena memang aku yang meminta dia untuk merahasiakan nya dari kalian.Tapi,ternyata itu bukan solusi yang terbaik juga.Nyatanya kalian mengetahuinya lebih cepat." balas ku.
"Kamu takut yah,Edra mengamuk setelah mengetahui kenyataannya?"
"Iya,kamu tahu sendiri kalau dia sudah ngamuk seperti apa."
"Orang pendiam dan tidak banyak bicara seperti dia itu,sekali ngambek lebih-lebih dari yang lain." lanjut ku.
"Ya udah,lagi pula sekarang masalahnya sedang di selesaikan.Kita tunggu saja Edra pulang,"
"Oh iya,kamu udah ijin belum sama ayah kamu? Hari rabu minggu depan kan kita study tour."
"Sudah,semalam aku menelponnya.Kata ayah,paling minggu atau senin dia baru pulang.Jadi bisa mengantar ku ke sekolah,lagi pula ayah mempercayakan karena Edra juga ikut kan." jelas ku.
__ADS_1
"Iya,sih Edra kayaknya udah kayak anak kedua bagi ayah kamu.Makannya dia sudah mempercayakan kamu sama Edra."