My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
10 Side Story : Glen Complication


__ADS_3

Seorang anak lelaki berusia sekitar 10 tahun berjalan di belakang seorang pria berusia sekitar 40 tahun. Bocah lelaki itu tampak acuh berjalan mengikuti pria di depannya dengan tidak tertarik.


Bocah lelaki itu tidak lain adalah Glen, saat ini dia mengikuti pria di depannya yang ternyata adalah Ayahnya. Kedua telinga Glen tertutup sebuah Headset dengan lagu yang terdengar nyaring.


"Glen, bisakah kau menjaga kelakuanmu?"" Ayah Glen, Brandon bersuara datar dia memutar pandangan matanya yang tajam kearah Glen yang tetap tidak peduli "Ini adalah pertemuan yang penting! Kau akan bertemu dengan keluarga yang baru, jadi bersikap baiklah!"


Dengan sentakan ringan, tangan besar Brandon menarik Headset di telinga Glen kasar membuatnya patah.


Glen mendengus kesal dengan wajah yang melotot penuh kebencian. Dia tidak pernah ingin datang kepertemuan ini, tapi pria di hadapannya ini terus saja mengganggunya untuk datang bersama! Sekarang dia bahkan mengatakan banyak omong kosong yang membuatnya muntah darah!


Sejak awal Glen tidak pernah ingin tinggal dengan Ayahnya, dia ingin pergi dan tinggal bersama ibunya.


Saat Ibu dan Ayah Glen berpisah 2 tahun yang lalu, Ibu Glen seolah telah hilang di telan bumi. Dia pergi bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal pada Glen. Menurut pemikirannya, sang Ibu pasti telah diancam oleh Ayahnya dan tidak berani untuk mengatakan sepatah kata pun padanya. Hal inilah yang membuat Glen sangat membenci Ayahnya dan menjadi Bocah nakal pemberontak.


Saat kedua pria itu saling melotot tajam seraya terus berjalan, mereka telah sampai di sebuah ruang VIP yang telah di pesan.


Brandon menghela nafas panjang sebelum membuka pintu, dia tersenyum lembut menatap sosok wanita berusia pertengahan 35 tahun dengan seorang gadis remaja yang cantik jelita "Maaf membuatmu menunggu"


"Tidak! Kami baru saja sampai!" Wanita itu balas tersenyum lembut, dia menatap kearah Glen yang berada di belakang Brandon dengan senyuman yang semakin hangat "Apakah ini Glen?"


Brandon tersenyum seraya mengangguk pelan "Glen, cepat ucapkan salam!"


"Hump! Jangan pikirkan aku!"


Plak!!!


Sebuah tangan menyambar tepat dipipi Glen saat sebuah kalimat datar keluar dari mulutnya.


"Mana sopan santunmu!" Brandon bertanya dengan dingin, dia telah tanpa sadar menampar Glen tepat di wajah. Walaupun hatinya sakit, dia tetap bertahan dan memberinya pelajaran yang semestinya.


"Brandon! Jangan kasar seperti itu!"


Wanita itu berseru terkejut, dia melangkah untuk mendekat kearah Glen dan memeluknya. Namun, dengan kejamnya dia di tepis oleh Glen yang menangis dan berlari keluar ruangan.


"Dia pasti terluka!" Wanita itu menatap penuh kesedihan "Kumohon jangan gunakan kekerasan! Aku baik-baik saja, tidak peduli seberapa tidak sopannya dia padaku.!"


Brandon mendesah pelan seraya memijat pelipis matanya ringan penuh penyesalan "Maaf"


"Aleya?! Kenapa kau tidak pergi dan membujuknya?" Wanita itu menatap pada anak gadisnya yang bernama Aleya. Dia berusia sekitar 15 tahun, dengan anggukan ringan Aleya pergi kearah Glen berlari.


"Terimakasih Diana" Brandon berkata tulus. Sudah sejak 2 tahun setelah perpisahan dengan Istrinya, Glen menjadi semakin liar dan tidak terkendali.


"Kita akan menjadi keluarga! Jadi tidak perlu untuk itu!" Diana menepuk bahu Brandon lirih penuh dengan kasih sayang "Yang lebih aku khawatirkan adalah... Apakah Glen belum tahu yang sebenarnya?"


Wajah Brandon menjadi gelap seketika saat mendengar pertanyaan Diana, dia menggeleng dengan pandangan tajam "Jangan biarkan dia tahu! Tidak peduli apa, dia adalah putraku!"


"Kau benar! Dia adalah kebanggan kita! Kita harus melindunginya!"


Saat kedua orang itu tengah berbicara, Aleya yang berlari mengejar kearah Glen telah menemukan bahwa bocah lelaki itu tengah terduduk di sebuah bangku taman dengan sisa air mata dan wajahnya yang tampak terluka. Sebuah bekas tangan merah juga terlihat di pipinya yang lembut.


"Apa? Ternyata kau sangat cengeng!" Aleya mengejek pelan saat dia berusaha untuk mengatur nafasnya yang memburu

__ADS_1


Glen tidak menjawab, dia hanya menatap gadis di sisinya itu dengan mata melotot.


"Tidak menjawab?" Aleya berseru kembali, ia melangkah mendekat dan terduduk disisi Glen "Aku Aleya, 5 tahun lebih tua darimu! Kami akan menjadi keluarga, aku akan menjadi kakak perempuanmu! Jadi jika kau nakal aku akan menghukummu! Jika kau sedih aku akan memelukmu!"


"Apa kau bodoh?" Glen bertanya dengan mata yang polos.


Dia menatap kearah Aleya yang hanya mengangkat kedua bahunya acuh dengan senyuman manis di bibirnya.


"Mungkin!" Jawabnya kemudian seraya menatap kearah langit biru "Tapi aku benar-benar akan memperlakukanmu dengan baik! Aku selalu ingin memiliki seorang adik! Jadi Glen, perlakukan aku dengan baik juga?! Oke?"


Mata hitam Glen berkedip ringan dengan pandangan kosong, dia menatap gadis disisinya yang tampak aneh dan terdiam tanpa kata. Entah kenapa dia merasakan sedikit perasaan hangat di hatinya, tanpa sadar wajah Glen juga terangkat untuk menengadah kearah langit biru.


****


Waktu berlalu, bergerak maju dengan setiap musim yang berganti. Sudah 1 tahun Glen tinggal bersama dengan keluarga barunya. Dia tidak terbiasa pada awalnya dan selalu membuat segalanya menjadi berantakan.


Namun, dengan adanya Aleya yang terus-menerus berada disisinya tanpa lelah, hati Glen perlahan melunak. Dia mulai menerima keluarga itu secara perlahan. Walapun tetap saja dia tidak bisa memanggil Diana dengan sebutan Ibu, Glen juga tetap tidak berkomunikasi dengan Ayahnya sejak saat itu.


Hari itu masih pagi, Glen yang seharusnya bersekolah itu kini tengah kembali kerumah. Sekolah memiliki keadaan khusus yang membuatnya harus pulang lebih awal.


Tadinya Glen ingin menelpon supir untuk menjemputnya, namun entah kenapa dia tidak melakukannya dan berjalan dengan linglung di jalanan.


Setelah berjalan untuk waktu yang cukup lama, tanpa di ragukan lagi dia tersesat.


"Aleya pasti akan memarahiku!" Glen mendengus ringan menatap sekitar tempatnya berdiri yang terlihat asing. Ketika dia memikirkan Aleya, sebuah senyuman manis terbentuk disudut bibirnya.


Saat mata hitam Glen berkeliaran dengan tidak beraturan, ia sedikit menyipit ketika menangkap sebuah sosok yang sangat familiar untuknya.


"IBU??!!!"


Seolah wanita yang di panggil oleh Glen itu mendengar, dia berbalik dan menatap kearah Glen yang berlari senang kearahnya.


"Glen?!!" Wanita itu juga berteriak kaget, dia membentangkan kedua tanganya untuk menyambut tubuh Glen yang tengah ingin memeluknya


Glen menangis sesenggukan dalam pelukan ibunya "Ibu aku merindukanmu!"


"Ibu juga merindukanmu!" Ibu Glen mengusap rambut Glen penuh kasih sayang "Apa yang kau lakukan disini? Seragam sekolah? Apa kau bolos?"


Setelah cukup menangis, Glen menatap ibunya dengan senyuman. Dia menggeleng ringan mendengarkan serentetan pertanyaan yang di tanyakan oleh ibunya "Aku baru saja pulang, jadi aku bermaksud untuk jalan-jalan tapi aku tersesat. Hehe~"


"Jangan tertawa! Dasar bocah nakal!"


"Ibu, siapa bayi ini?" Glen mengabaikan ibunya yang marah dan menunjuk pada bayi perempuan di pelukan ibunya


Ibu Glen tersenyum hangat "Dia adalah adikmu!"


"Oh? Serine siapa dia?" Sebuah suara serak terdengar memotong pembicaraan Glen dan ibunya.


Seorang pria yang tampak berusia 40 tahun mendekat kearah Ibu Glen dan memeluknya.


"Dia adalah anakmu!" Ibu Glen menjawab pria itu dengan lugas. Dia menatap Glen yang hanya diam tidak bersuara

__ADS_1


"Dia adalah putraku Glen?" Tanyanya terkejut, pria itu mengulurkan tangan besarnya kearah kepala Glen untuk mengusap rambutnya "Jadi dia adalah putraku yang tidak pernah aku lihat? Dia sangat tampan sepertiku"


Glen menatap pria itu dengan bodoh. Dia tidak mengerti apa yang coba ibunya katakan! Tidak! Lebih tepatnya dia tidak ingin mengerti! Saat Glen terus terdiam, pria itu kembali berbicara kearahnya.


"Glen, kenapa kau tidak tinggal bersama kami? Brandon bukan keluargamu! Dia juga bukan ayah kandungmu! Jadi kau hanyalah orang asing"


Saat kalimat lain itu keluar dari bibir pria di hadapannya, jantung Glen berdetak dengan kencang! Tidak hanya berdetak kencang tapi juga seolah sebuah Bom baru saja meledakkan jantungnya menjadi kepingan yang akan hilang tertiup angin.


Mata Glen menjadi panas, dia ingin menangis namun dia menahannya. Dia menahannya sekuat mungkin! Tapi tidak peduli sekuat apa dia menahannya, air matanya tetaplah jatuh dan mengalir.


Glen ingin lari, dia ingin lari dari kenyataan yang baru saja dia dengar. Saat dia berharap sebuah keajaiban membantunya melarikan diri, sebuah suara gadis yang familiar terdengar di telinganya.


"Glen! Apa yang kau lakukan disini?" Aleya berteriak keras, dia dengan geram menarik lengan Glen kearah tubuhnya dan memeluknya erat " Maaf tapi tolong jangan mengganggu adikku! Jika kalian melakukannya lagi, Aku akan melaporkan pada polisi!"


"Apa maksudmu mengganggu? Aku adalah ibunya! Kami adalah orang tuanya! Kau yang telah mengganggu kami orang asing!" Serine berteriak marah kearah Aleya.


Aleya tidak mendengarkan ataupun menjawabnya, dia hanya membawa Glen kedalam pelukannya dan masuk kedalam mobil meninggalkan tempat itu.


Saat sudah berada di dalam mobil, Glen mendorong tubuh Aleya darinya. Dia menatap gadis di hadapannya penuh dengan air mata dan ingus yang mengalir. "Aleya..a jelaskan!" Tuntutnya


Aleya mengalihkan pandangan matanya, dia tidak tahan menatap wajah Glen yang tampak menyedihkan. Hatinya terasa sakit, tapi dia tidak bisa lari. Dengan helaan nafas yang panjang, Aleya mulai menceritakan segalanya pada Glen.


Serine memiliki seorang kekasih, dia adalah lelaki yang berada disisinya itu dan memiliki nama Rafael. Mereka bersahabat baik dengan Brandon.


Namun, kehidupan Rafael tidak terlalu baik kala itu, dia terpaksa meninggalkan Serine sendiri tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Serine yang di tinggalkan oleh Rafael sangat terluka, apalagi dia dalam keadaan mengandung anak Rafael. Disitulah Brandon sebagai sahabat yang selalu bersama mereka merasa kasihan, Dia mengatakan bahwa dia mau untuk menikahi Serine dan menerima anaknya.


Saat semua berjalan dengan baik Rafael yang telah lama menghilang kembali muncul. Serine tanpa perasaan langsung memilih untuk meninggalkan Brandon dan kembali bersama dengan Rafael.


Air mata Glen semakin deras ketika dia mendengarkan setiap baris kata yang di ucapkan oleh Aleya.


Selama ini dia telah sangat jahat dan nakal pada Ayahnya?!


Ayah yang begitu baik,


Ayah yang begitu luar biasa,


Ayah yang begitu Menyayanginya..


Dan semua yang dilakukan oleh Glen adalah melukainya dengan sangat buruk!


Glen merasakan rasa sakit menusuk di hatinya, Dia merasa tidak dapat lagi untuk tetap hidup menanggung semua hal buruk yang telah ibunya lakukan pada ayah tercintanya.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan!" Aleya berbicara membuyarkan berbagai pikiran liar Glen "Jangan lakukan apapun yang kau pikirkan!"


Glen tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan tangisan yang terus mengalir.


"Glen dengar!" Aleya mengangkat wajah Glen yang menunduk untuk melihat kearahnya "Ayahmu sangat menyayangimu! Tidak peduli apa yang orang katakan kau adalah putra kebanggannya! Dan tidak peduli apa yang terjadi aku juga adalah kakak perempuanmu! Aku akan selalu ada bersamamu!"


Aleya turut menangis dan memeluk tubuh kecil Glen kedalam pelukannya dengan erat.

__ADS_1


Kedua orang itu terus menangis di dalam mobil dan berpelukan dengan erat.


__ADS_2