
Cahaya Bulan bersinar menerangi Bumi dengan indah. kegelapan malam tampak sedikit cemerlang dan indah ketika sinar itu menyelimuti seluruh Bumi dengan cahayanya.
Setelah Arlana datang dan mereka mutuskan untuk berbicara. Mereka berada di taman. Sebuah taman dekat rumah Arlana. Awalnya Zale ingin membawa gadis itu kesebuah tempat yang lebih baik dengan ruangan pribadi, tapi Arlana menolaknya dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja dengan berbincang di taman.
Melihat taman yang sunyi namun terlihat indah itu, mereka berdua terdiam dan menatap lurus kedepan. Duduk berdampingan lagi dengan Arlana setelah sekian lama membuat Zale merasa sedikit gugup. Sudah terlalu lama sejak dia merasa sedekat ini dengan Arlana dan dapat menghirup aroma tubuhnya yang manis.
"Jadi..."
Arlana membuka suara, dia tidak tahan melihat pria disisinya itu hanya terdiam dengan gelisah.
Mendengarkan perkataan lembut yang keluar dari Arlana, Zale terhanyut sejenak sebelum kembali sadar akan tujuannya datang.
Dia tidak lagi membuang waktu dan memulai naskah yang telah dia persiapkan sebelum datang.
"Pertama ijinkan aku meminta maaf.." menatap Arlana dengan pandangan menyesal Zale meraih jemari tangan lembutnya "Maaf karena telah meninggalkanmu untuk waktu yang sangat lama, Maaf karena pergi dan tidak memberikan kabar, Maaf karena telah membuatmu kesepian dan mengalami hari dengan rasa sakit karena ketiadaanku! Aku minta maaf?! Maafkan aku karena telah menghilang dan maaf karena menjadi begitu egois dengan menginginkanmu kembali sekarang?!"
Arlana terdiam tidak mengatakan apapun, dia menatap wajah tampan Zale dengan pandangan rumit. Dia memang merasa sangat tersiksa selama ini, tapi sekarang rasa sakit di hatinya seolah terangkat sedikit.
Zale menghela nafas panjang ketika melihat sosok yang begitu berharga di hadapannya memiliki wajah rumit dengan air mata yang mulai menggenang.
Dengan jemarinya dia membelai pipi putih lembut Arlana dan berkata "Apakah aku memiliki kesempatan sekali lagi untuk berada disisimu? Apakah kau akan menerimaku dan membiarkanku kembali Arlana?"
Arlana meraih jemari tangan besar Zale di pipinya dan menggenggamnya erat dengan suara serak yang tertahan dia menuntut "Katakan alasanmu!"
"Ada masalah di keluargaku..." Zale terdiam sejenak menelan air ludahnya dengan berat lalu melanjutkan "Kakakku Gay, keluargaku mengusirnya dan menolak keberadaannya. Aku harus bisa melindunginya dengan kekuatan yang lebih besar dari Godwin Corp. Dengan begitu aku tidak akan kalah dan saat aku sudah kuat, aku bahkan dapat melindungimu."
Raut wajah Arlana berubah sedikit buruk, air mata yang menggenang di mata indahnya jatuh meluncur bebas dan menjadi banjir.
Dia menatap mata hitam Zale seraya menggenggam tangannya seerat mungkin berusaha untuk meringankan bebannya.
Pasti berat untuknya.
Selama 10 tahun ini dia pasti berjuang dengan sangat buruk hingga menjadi pria dingin dan serius tanpa lagi tawa bodoh di wajahnya.
Arlana kecewa pada Zale karena dia tidak menceritakan hal itu padanya dan lebih memilih pergi untuk menghadapinya sendiri. Tapi dia tidak bisa untuk tidak mengehala nafas atas apa yang menimpa pria itu.
Dia pasti kesepian dan kesulitan selama ini, pasti sangat berat menghadapi itu seorang diri.
__ADS_1
"Itu pasti berat untukmu, apakah kakakmu baik-baik saja?"
Melihat gadis di hadapannya tampak tidak terlalu peduli akan fakta bahwa kakaknya menyimpang dan malah terlihat khawatir. Zale tidak bisa untuk tidak merasakan hangat di hatinya.
Dia bahagia, sangat bahagia karena jatuh cinta pada gadis ini dari sekian banyaknya wanita.
"Dia baik-baik saja..." Zale mengangguk ringan dan menatap tepat kedalam mata Emas Arlana sebelum melanjutkan "Karena itulah, aku harus meninggalkamu. Aku harus menjadi sekuat mungkin untuk membuat hubungan kita berhasil... Jadi Lana, maukah kau kembali bersama?"
Arlana terdiam, dia diam dan mengalihkan pandangan matanya dari Zale.
Dia memang mengerti dan menerima akan alasan kepergian Zale yang tanpa kabar. Tapi, masih banyak hal yang harus dia persiapkan sebelum mau menerimanya kembali. Walaupun tidak peduli bagaimana, pada akhirnya Arlana akan kembali pada pria itu.
Dengan sedikit ragu dan tidak pasti Arlana akhirnya bersuara "Zale, bukankah kau memiliki tunangan?!"
Zale terkejut dengan pertanyaannya, tapi dia dengan tegas langsung membantah "Aku tidak memiliki tunangan! Dia adalah wanita yang di pilih oleh ibuku, tapi aku sama sekali tidak menyukainya dan menyetujuinya!"
"Meski begitu, orang tuamu tetap menginginkanmu untuk menikah dengan wanita lain. Jika seperti itu, dengan memintaku kembali bersama akan sangat di tentang oleh mereka..."
"Mereka akan menyetujui hubungan kita! Tunggulah 1 minggu lagi dan aku akan membawamu untuk bertemu mereka!" Zale menyela ucapan Arlana dengan tegas bahwa dia tidak akan mundur.
Melihat hal ini, Arlana kembali terdiam. Dia diam dan menatap wajah tampan Zale cukup lama sebelum mendesah pelan.
Dengan hati dan rasa sakit Arlana yang telah terangkat, dia membuat keputusan dan berkata "Maka kembalilah saat kau sudah mendapatkan restu orang tuamu. Saat itu terjadi, aku adalah milikmu. Aku akan menerimamu kembali dan menjadi milikmu! Bahkan jika kau entah bagaimana pergi lagi, aku tidak akan membiarkannya dan memilih untuk mengakhiri hidupku!"
Genggaman tangan Zale mengeras, dia menatap wajah Arlana yang terlihat tegas dan tidak bisa untuk tidak merasakan sedikit sakit hati. Kepergiannya memberikan gadis ini luka yang fatal, dia sangat menyesal dan tidak akan pernah melakukannya lagi.
"Jangan mengatakan hal yang mengerikan!" Zale membelai pipi Arlana lembut "Aku tidak akan pernah lagi meningglkanmu, aku berjanji!"
Arlana hanya mengangguk kecil dan tidak mengatakan apapun. Dia sudah jatuh terlalu dalam pada pria ini, tidak peduli bagaimana pria dihadapannya ini menghilang dan melukainya. Cinta untuknya tidak pernah pudar!
Dengan hanya melihatnya saat ini, semua luka dan kesepiannya hilang di gantikan dengan perasaan hangat dan bahagia di hatinya.
Menghabiskan malam hingga larut, Zale dan Arlana membicarakan banyak hal. Semua hal yang telah mereka lewati dan tidak dapat mereka putar kembali.
"Ini sudah terlalu malam..." Arlana melihat jam yang terpampang di ponselnya dan tidak bisa untuk tidak mengingatkan "Kau harus cepat kembali, pasti kau merasa lelah"
Zale menggeleng pelan. Dia tidak merasa lelah, malah dia sangat bahagia dan bersemangat. Tapi melihat malam yang gelap dan dingin dia khawatir akan kekasihnya itu. Walaupun dia tidak ingin pergi dia masih menggertakkan giginya keras dan menahan diri.
__ADS_1
"Ayo kembali.."
Dengan kalimat itu, Zale dan Arlana berjalan kembali kerumah Arlana. Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam menikmati malam dengan bulan yang indah. Suasan hangat menyelimuti hati Arlana, dia berharap hal seperti ini akan berlangsung selamanya.
"Baik, sekarang pergilah! Selamat malam..."
Arlana berseru lembut ketika mereka telah sampai di depan pintu. Dengan lambaian tangan yang ringan dia bermaksud pergi, tapi tubuhnya terhenti, di seret dan jatuh kedalam pelukan hangat Zale.
"Maaf sebentar saja, aku benar-benar ingin melakukan banyak hal. Tapi aku akan menunggu hingga segalanya telah selesai!"
Suara Zale serak ketika dia mengucapkan kalimat itu. Dia sudah sejak lama merasakan tubuhnya panas dan mengeras. Dia ingin melakukan banyak hal pada Arlana, tapi dia menahannya. Sekarang setelah akan berpisah dia tidak bisa untuk tidak memeluknya.
Aralana diam dan tidak menolak. Dia membiarkan pria itu untuk memeluknya. Setelah waktu yang lama mereka berpelukan, Zale melepaskan pelukannya dengan sedikit enggan.
"Selamat malam.. aku akan kembali lagi" mengucapkan kalimat itu, Zale berbalik dan pergi menjauh mengendarai mobilnya.
*****
Matahari bersinar gagah di atas cakrawala, sinar hangatnya tempak indah dan begitu damai.
Seolah keindahan dan kedamaian Matahari itu tidak selaras dengan kehidupan manusia.
Godwin Corp tengah mengalami badai!
Sebuah badai yang di sebabkan oleh Zale. Dia melakukan transaksi jual beli saham secara besar-besaran di perusahaan. Zale juga telah membuat banyak proyek baru lanjutan yang akan memakan uang dalam jumlah menakutkan.
Tindakan Zale tentu saja mendapatkan protes dan kecaman, tapi tidak ada yang benar-benar dapat mereka lakukan.
Ayah Zale bahkan tampak terlihat lebih tua dengan lingkaramln hitam di sekitar matanya. Dia telah berbicara dengan putranya, meminta penjelasan akan tindakannya.
"Bukankah aku sudah mengingatkanmu untuk tidak ikut campur dengan kehidupan cintaku?!"
Dia terdiam seketika saat kalimat itu yang keluar dari bibir Zale. Dengan helaan nafas yang panjang, dia mulai mencoba mencaritahu apa yang dilakukan putranya.
Melihat jauh kedepan, tindakan putranya adalah untuk melahap seluruh Godwin Corp berada dalam kendalinya secara mutlak. Dengan begitu, perusahaan ini tidak akan dapat berjalan jika Zale pergi.
Sekali lagi desahan nafas panjang keluar dari Ayah Zale. Dia memijat pelipis matanya ringan melihat kekejaman dan ketegasan putranya. Tidak dapat melakukan apapun, satu-satunya hal yang harus dia lakukan adalah memperingatkan istrinya! Jika dia tidak ingin menjadi miskin lebih baik untuknya tidak menyentuh hubungan Asmara Zale.
__ADS_1
Ayah Zale bahkan merasa kewalahan akan tindakan kejam Zale yang tidak berhenti. Bocah yang dulunya nakal itu menjadi pria yang menakutkan. Dia bahkan menyerang perusahaan Darwin Company, yang mana mereka adalah perusahaan dimana keluarga tunangan Zale miliki.
Badai itu terus berlanjut dan membuat badai lainnya. Sosok Zale layaknya seperti Dewa kematian yang terus melahap setiap jiwa. Dia menjadi kuat, sangat kuat dan tidak dapat di hentikan hingga tidak lagi seorang pun mampu melawannya kecuali orang yang dia cintai.