My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
13 Satu Kelas


__ADS_3

Hari berlalu perlahan, waktu bergerak maju meninggalkan kenangan buruk dan bahagia di belakangnya tanpa menoleh.


Dengan perginya Arlana dari rumah Kelvin, dia hanya menghabiskan waktu liburannya di rumah. Kejadian terakhir dengan Zale telah benar-benar dia lupakan. Apalagi dengan kehidupannya yang sangat tenang dan damai tanpa gangguan selama 2 minggu liburan musim panas, Arlana menjadi sedikit santai dan hidup damai.


Namun kehidupan tenangnya kini harus berakhir, dia harus kembali mulai bersekolah hari ini.


Menatap matahari pagi yang mulai tampak cerah diatas langit biru, Arlana menyipitkan matanya akibat kemilau yang terlalu cemerlang.


Dia menggeleng pelan sebelum beranjak memasuki sekolah, bersamaan dengan banyaknya siswa yang juga baru saja sampai di gedung sekolah.


Arlana berjalan ke arah dinding pengumuman sekolah. Dia baru saja naik ke kelas 3, untuk melihat dimana letak kelasnya yang baru Aralana menatap lautan manusia dihadapannya yang juga tengah melakukan hal sama.


Dengan desahan pelan, Arlana menyingkir sejenak dan mencari kesempatan untuk menemukan namanya. Mata keemasan miliknya menatap berbaris nama yang tertera di lembaran pengumuman dengan penuh perhatian. Sesaat setelah beberapa menit berlalu, dia menghela nafas ketika menemukan namanya di lautan kertas itu.


Dia berada di kelas 3 B.


Setelah menemukan namanya, Arlana tidak memperdulikan hal lain dan bergegas untuk pergi kearah kelas barunya. Dia berjalan perlahan melewati setiap koridor dengan wajah lurus dan mengabaikan setiap sisiwa yang dilihatnya.


Wajah datarnya tampak tidak tertarik pada apapun, walau begitu Arlana sedikit gelisah. Dia tidak tahu kenapa, tapi hatinya menjadi gelisah dan tidak nyaman. Biasanya jika dia merasa seperti ini, akan ada hal buruk yang menimpanya.


Menggelengkan kepalanya pelan, Arlana mencoba menyingkirkan pikirannya yang berkelana. Dia terhenti di sebuah kelas dengan papan tulisan kecil 3 B di samping pintu.


Melangkahkan kakinya ringan, dia menatap kearah kelas yang tampak tidak terlalu ramai itu sekilas sebelum matanya mendarat di samping papan tulis.


Arlana bergegas kearah di sebelah papan tulis dan mencari nama miliknya dan dimana dia harus duduk. Tempat duduk kelas selalu di pilih oleh guru secara acak, hal ini memungkinkan siswa agar dapat berbaur dengan semua teman kelas dan tidak hanya berteman dengan teman yang mereka kenal baik.


Bangku nomor 3 dari depan disisi kanan sebelah jendela.


Setelah melihat namanya Arlana tidak lagi membuang waktu dan menuju tempatnya terduduk. Dia meletakkan tas miliknya dan mengeluarkan buku di atas meja untuk di baca.


Sepanjang Arlana masuk kesekolah dan terduduk, tidak ada seorang pun yang mencoba menyapanya atau bahkan repot menatap kearahnya. Arlana juga tidak repot untuk peduli pada siapapun selain dirinya sendiri.


Dia terduduk disana dengan sebuah buku ditangan dan mulai tenggelam dangan dunianya sendiri.

__ADS_1


........


Sosok tampan Zale yang tengah tertawa riang menarik perhatian para gadis. Dia tengah berjalan kearah sekolah dengan Glen disisinya seperti biasa.


"Jadi, kau mendapatkan kabar darinya?" Glen bertanya dengan senyuman


Zale menghela nafas lirih sebelum menjawab "Aku menghubungi Kelvin untuk bertanya, tapi dia bahkan tidak pernah berkomunikasi dengan Lana!"


"Tapi kau dapat bertemu dengannya sekarang jadi kenapa harus repot?"


"Kau benar!" Zale mengangguk ringan dengan senyuman yang semakin lebar di bibirnya


Menatap Zale yang tampak bodoh, Glen hanya mengehela nafas panjang. Dia tidak akan mengatakannya pada Zale, dia akan membiarkan Zale menemukan perasaannya sendiri. Tapi dia tidak bisa untuk tidak menggodanya.


"Jadi kenapa kau begitu ingin mengetahui tentang kabar Arlana?" Dengan senyuman licik Glen bertanya seolah tidak mengerti


"Yah, kau lihat! Aku telah membuatnya marah dan menangis. Jadi kuarasa aku sedikit keterlaluan, aku hanya khawatir dan menyesal, itu saja!"


Mendengarkan alasan bodoh Zale, Glen mengalihkan wajahnya untuk menahan tawa. Ada apa dengan alasan itu? Bukankah Zale telah membuat banyak hal yang lebih mengerikan dan membuat banyak gadis menangis!


Tidak lagi ingin melihat kebodohan sahabatnya, Glen mengalihkan pembicaraan. "Di kelas apa kau sekarang?"


"Aku mendapatkan kabar dari beberapa gadis bahwa aku masuk di kelas 3 B. Bagaimana denganmu?"


"Aku di kelas 3 A, yah kurasa kita tidak satu kelas sekarang!" Glen mengangguk ringan dan kembali berbicara "Bagaimana dengan Arlana?"


Mendengarkan pertanyaan Glen, Zale tanpa sadar sedikit tersentak oleh kesadaran. Itu benar, dia melupakan hal itu.


"Kurasa akau akan melihatnya dulu!"


Glen menggeleng pelan menatap sahabatnya yang tampak semakin bodoh dan berlarian riang.


Setelah berdesakan mencari nama Arlana untuk waktu yang cukup sebentar, senyuman di wajah Zale kian cemerlang saat matanya menatap nama Arlana tengah berada di kelas 3 B.

__ADS_1


Tanpa menunda sedikit waktu, dia bergegas untuk berlari maraton kearah kelas 3 B.


Kaki Zale tampak gemetar karena perasaan bahagia, dia melewati lorong koridor hingga sampai di kelas 3 B. Mata hitamnya yang dalam memandang seisi kelas sebelum mendarat tepat di wajah seorang gadis yang tengah menunduk dan membaca buku dengan tenang.


Dengan senyuman yang tetap terpampang di wajahnya, Zale mealngkahkan kakinya perlahan, dia menarik nafas dalam dan melihat nama miliknya yang tertera tepat di sebalah Arlana terduduk.


Dengan detak jantungnya yang memburu, Zale menjadi bersemangat. Dia duduk tepat di sebelah Arlana, entah kenapa dia merasa bahwa para guru tengah membantunya untuk menggoda gadis itu.


"Aku adalah teman sebangkumu, kuharap kita dapat menjadi teman baik!"


Saat sebuah suara yang sangat familiar di telinga Arlana terdengar. Gadis itu merasa waktu berhenti dan dia telah tanpa sadar mengalami gangguan jiwa.


Dengan wajah sedikit rasa takut terlihat, Arlana mendongakkan wajahnya. Mata keemasan miliknya bertemu dengan mata hitam bening yang indah. Dia mengutuk keras di benaknya!


Seperti yang dia duga!


Wajah penuh dengan senyum konyol itu, wajah menyebalkan itu dan suara jelek itu. Dia tidak lain adalah Zale. Jika para gadis tahu apa yang di pikirkan oleh Arlana, mereka pasti akan mencekiknya karena telah mengolok idola sekolah yang tampan dengan kata jelek!


"Humph!!!" Dengan dengusan rendah Arlana kembali mengalihkan pandangannya tidak peduli.


Dia tahu dia satu kelas dengan Zale, dan lebih parahnya dia satu bangku. Jadi lebih baik untuk mengabaikannya dan tidak berbicara dengannya, atau dia hanya akan membuat banyak perhatian dan masalah untuk dirinya sendiri.


"Bukankah ini seperti takdir?" Zale kembali bersuara dalam seraya terduduk di sebelah Arlana "Kurasa kita ditakdirkan untuk bersama!"


Tanpa memperdulikan bahwa Arlana mengabaikannya dia terus mencoba berbicara banyak hal pada Arlana.


Pemandangan itu membuat seisi kelas terdiam, terutama para gadis di dalamnya. Biasanya Zale tidak akan banyak bicara kecuali ketika dia bersama Glen, hal ini membuat para gadis di seisi kelas membuat banyak sekali kesimpulan.


Apakah idola sekolah Zale telah membuat target baru?


Dan Target itu adalah gadis Lidah beracun Arlana!


Dengan pikiran liar para gadis itu, gosip bahwa Zale telah membuat target baru itu menyebar ke seisi sekolah hanya dalam waktu 1 jam. Membuat banyak gadis merasa sangat iri dan juga kasihan pada Arlana.

__ADS_1


Mereka iri karena jika Zale membuat gerakan berarti mereka akan mendapatkan kesempatan untuk dekat dengannya, sedangkan mereka kasihan karena dengan di dekati oleh Zale, Arlana harus siap menjadi musuh setiap gadis di sekolah maupun di luar, dia juga harus bersiap untuk di campakkan nantinya.


__ADS_2