My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
27 Kembali Bertemu


__ADS_3

Bulan bersinar menampakkan sinarnya yang baru saja digantikan oleh Matahari yang meredup. Dengan cahaya lampu sebagai latar belakang, wajah Cantik menawan tampak fokus menatap lembaran yang tengah dia ukir dengan jemarinya.


Mata keemasan wanita itu tampak fokus dan terhanyut kedalam Dunianya sendiri.


Tersentak kaget, dia terbangun dari apa yang dikerjakannya dan menatap sosok wanita di ambang pintu yang terlihat mengerucutkan bibirnya marah.


"Maaf, apa kau menunggu lama?" Suara menyesal keluar dari bibirnya ketika menyadari dia sekali lagi terlalu fokus pada pekerjaannya.


Wanita di ambang pintu itu mendesah pelan sebelum bejalan mendekat. "Bukankah tokomu sudah waktunya tutup?"


Mendapatkan anggukan ringan dari gadis yang terduduk, wanita itu kembali berbicara "Lalu kenapa kau masih disini? Arlana karyawanmu pasti merasa sangat menyesal bekerja denganmu!"


Wajah Arlana mengerut atas perkataan Kanaya, dia memutar matanya konyol dan menjawab "Mereka beruntung memiliki seorang Bos yang baik hati sepertiku!"


"Baiklah terserah kau!" Kanaya mengalah dan melambai tidak peduli, dia kembali berkata "Bukankah kau berjanji akan menemaniku hari ini? Aku menemukan sebuah Kafe yang menjual makanan ringan sangat enak! Ayo pergi bersama! Aku juga ingin bertanya tentang Kelvin"


Melihat raut wajah Kanaya yang memerah setelah menyebutkan nama sepupunya, Arlana tidak bisa untuk tidak tersenyum lembut.


Itu benar, gadis dengan pipi bakpau ini menyukai sepupunya dan telah melakukan pengejaran panjang selama 6 Tahun.


Arlana sudah membantu sebanyak mungkin, tapi hati Kelvin terlalu kejam. Pria itu tidak ingin berhubungan dengan wanita manapun dan lebih suka menyendiri fokus pada pekerjaannya.


Tapi seolah sifat buruk Kelvin tidak mempengaruhi Kanaya, dia terus menunggu dan juga tetap menyatakan Cinta serta kepeduliannya pada Kelvin.


Melihat hal itu, hati Arlana tidak bisa untuk tidak sedikit merasa iri. Hatinya hanya menyisakan rasa sakit dan kesepian. Dia juga ingin membuka hatinya dan memiliki seorang yang berarti lagi. Tapi itu terlalu sulit untuknya, hatinya benar-benar terlalu terikat dan sangat tidak ingin terbuka lagi pada siapapun.


Melihat wajah Arlana yang tampak sedikit sedih, Kanaya menghela nafas ringan menyadari apa yang di pikirkannya. Dengan desakan yang lain dia kembali berkata "Ayo, cepatlah selesaikan pekerjaanmu dan kita makan bersama! Tunggu kau perlu untuk mandi terlebih dahulu! Baumu tidak nyaman, seperti sebuah kue yang terlalu gosong!"


Arlana tersenyum mendengarkan ejekan Kanaya, dia selalu merasa lebih ringan ketika berada diantara sahabatnya dan dapat melupakan rasa sakitnya.


"Baiklah, aku akan merapikan mejaku lalu kita kembali kerumahku sebentar dan pergi ketempat yang kau inginkan!" Dengan anggukan ringan Arlana menjawab dan mulai merapikan meja kerjanya


Saat suasana hening menyelimuti kedua gadis itu, sebuah ketukan pintu kasar terdengar. Dengan secara bersamaan sosok lelaki berusia 20 tahun terlihat pada fisi Arlana dan Kanaya. Wajah cerah kedua gadis itu tampak buruk dan gelap seketika.


"Apa yang kau lakukan disini? Tidakkah kau melihat papan yang menuliskan bahwa toko sudah tutup?" Suara kesal Kanaya bergema menatap kearah pria tampan itu yang tengah berjalan mendekat kearah Arlana.


Dengan gerakan ringan pria tampan itu mengabaikan Kanaya dan memeluk tubuh lembut Arlana manja dan membuka mulutnya "Kakak, kenapa kau masih saja berteman dengan gumpalan daging b4b1 itu?"


Wajah Kanaya terpelintir jelek dan melotot kearahnya. Saat dia akan membuka suaranya kembali, Arlana mendahuluinya.


"Leon lepaskan aku!" Suara Arlana berat dan dingin, dia mendorong tubuh besar pria itu darinya


"Kenapa? Bukankah itu wajar jika seorang adik memeluk kakaknya?" Leon menolak dan semakin mengeratkan pelukannya


"Itu tidak wajar! Kau sudah besar dan bahkan lebih besar dariku! Aku juga tidak suka di peluk! Sekarang lepaskan!" Arlana meninggikan suaranya dengan tidak suka

__ADS_1


Melihat hal ini, Leon tidak lagi membantah dan melepaskan pelukannya dengan bibirnya yang mengomel tidak senang "Aku suka memeluk kakak, bau tubuhmu manis tidak sama dengan bau tubuh ibu dan wanita gila di luar sana!"


"Apa yang kau inginkan datang kemari?" Arlana tidak menaggapinya dan malah bertanya "Aku sudah bilang aku tidak senang melihat wajahmu di sekitarku! Aku juga tidak ingin bertemu dengan wanita itu!"


"Sampai kapan kau akan terus memanggilnya wanita itu? Dia ibumu, walaupun dia aneh!" Leon mengusap dagunya ringan mendengarkan perkataan Arlana


"Pergilah aku ada hal yang harus di lakukan!"


"Apakah itu dengan wanita ini?" Leon bertanya seraya menunjukkan jari kearah Kanaya yang hanya diam dengan wajah yang menahan amarah "Kalau hanya dengan wanita itu, ijinkan aku iku!"


"Aku bilang pergi, Leon!"


"Arlana sudahlah, aku sudah kehilangan semangat melihat wajah anak ini. Mungkin kita akan pergi lain kali!" Kanaya mendesah pelan dan kembali berkata "Aku akan pulang hari ini, kita bisa pergi besok. Aku akan menghubungimu!"


Melihat wajah Kanaya yang terlihat lesu, Arlana hanya mengangguk pelan dengan pandangan menyesal.


Sebelum Kanaya benar-benar pergi, dia meninggalkan kalimat ejekan terakahirnya pada Leon "Hei kau bocah jelek! Berhenti menganggu kakakmu dan carilah pacar. Cinta sesama saudara kandung itu di larang!"


Wajah Leon menghitam seketika saat melihat kepergian Kanaya dengan senyuman mengejek. Dia mengepalkan tangannya marah.


Leon mengetahui bahwa dia memiliki seorang kakak wanita yang lebih tua ketika dia berusia 18 tahun. Dan sejak saat itu juga dia menyukai Arlana, dia tahu itu tidak bisa dilakukan dan tidak pantas. Maka dari itu yang Leon dapat lakukan adalah terus berada disisi Arlana dan memonopolinya sebanyak mungkin.


Dia adalah pria yang tampan dan memiliki banyak wanita mengejarnya. Namun, Leon selalu merasa para wanita itu menjijikkan dan tidak baik seperti Arlana. Leon bahkan mengakui dan menyadari Ibunya sendiri juga sama menjijikkannya seperti wanita di luar sana. Dia selalu berharap bahwa Arlana bukanlah kakaknya dan tidak memiliki hubungan darah, tapi takdir itu kejam dan dia hanya dapat menyayangi gadis itu sebagai saudara.


Entah bagaimana sosok tampan ini tiba-tiba muncul di hadapannya dan mengaku sebagai adiknya. Tentu saja Arlana tahu dia tidak bohong, karena dia juga melihat wanita itu -Ibunya- juga datang dan mengatakan bahwa itu adiknya, anak yang dia lahirkan bersama suaminya saat ini!


"Kenapa kau selalu mengusirku? Aku bahkan tidak berbicara tentang ibu dan juga tidak memintamu menemuinya!"


"Aku lelah hari ini, kenapa kau tidak pulang saja!" Dengan helaan nafas panjang Arlana melambai dan mengusir Leon


Melihat raut wajah Leon yang tampak jelek dan sedih Arlana kembali merasa sakit kepala. Dia selalu merasa adiknya ini selalu dapat memberinya banyak sakit kepala sejak pertama mereka bertemu.


Sebuah ketukan ringan terdengar membuyarkan suasana antara Leon dan Arlana.


Ketika gadis itu hendak mengalihkan pandangan keasal suara, sebuah wajah dan juga suara yang sangat dia kenal bergema menusuk hatinya.


"Apakah toko ini masih buka?"


Tubuh Arlana kaku berdiri tegak tidak bergerak. Suhu udara tampak sedikit mencekiknya dan membuatnya tidak dapat bernafas secara normal.


Wajah gadis itu terlihat linglung, dengan kebingungan, kesedihan serta sedikit rasa bahagia dan terluka terlintas di matanya.


Suasa hening seketika dan atmosfir di udara terasa tidak nyaman. Wajah Arlana sudah terlihat sedikit memerah dan mata miliknya seolah ingin menangis.


Leon mengerjap menatap wajah kakaknya yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Dia menatap kembali pada pria di ambang pintu dengan raut wajah tidak bersahabat.

__ADS_1


Dengan dingin Leon membuka suara miliknya memecahkan keheningan "Kami tutup, tidak bisakah anda melihat tulisan Close di depan yang terpampang jelas?!"


Pria itu diam, dia diam dan hanya melihat wajah Arlana tanpa berkedip. Dengan suara berat dan sedikit parau dia membuka bibirnya pelan "Lana, apakah kau memiliki waktu?"


"Dia tidak memiliki waktu luang, kami ada hal penting yang akan di lakukan! Jadi bisakah kau pergi?" Melihat Arlana yang hanya terdiam, Leon menjawab pria itu sebagai wakil Arlana


"Hanya sebentar...."


Melihat pria itu tampak tidak menyerah Leon menyela ucapannya kasar "Tidak ada waktu-"


"Leon cukup!" Arlana akhirnya membuka bibirnya, dia mengalihakan pandangannya dan kembali berbicara dengan suara yang sedikit tercekik "Maaf tuan tapi kami sudah tutup dan aku tidak bisa keluar bersama orang asing tanpa membuat janji..."


"Lana..."


"Cukup! Berhenti memanggil namaku!" Dengan suara yang bergetar Arlana berteriak keras. Mata emasnya menatap kearah pria itu dengan terluka "Apa yang kau inginkan setelah sekian lama?! Tidak ada lagi yang tersisa dari masa lalu! Pergilah Zale!!!"


Leon terkejut sejenak melihat Arlana yang mulai meneteskan air mata dan menatap pri itu dengan pandangan rumit. Dia terdiam dan ikut menatap pria bernama Zale dengan raut wajah yang semakin tidak bersahabat.


"Bukankah kau mendengarnya! Sekarang pergilah!" Leon mendengus kasar


Zale tidak mendengarkan perkataan Leon, dia hanya melihat wajah Arlana yang mulai menangis dan tidak bisa untuk tidak merasa sakit di hatinya dan ingin memeluk tubuhnya erat.


Dengan helaan nafas panjang, Zale kembali berkata "Aku akan datang lagi sebagai seorang pelanggan! Sampai jumpa lagi Lana..."


Saat sosok Zale hilang dalam ruangan itu, Arlana tersadar dan melihat kearah kepergiannya dengan sedikit kehilangan. Untuk waktu yang lama dia bahkan tidak ingin mengalihkan pandangannya dan terus menatap sosok hilang itu dalam waktu yang sangat lama.


Hingga suara Leon terdengar membuyarkan tatapannya "Kakak aku..."


"Leon, pulanglah! Aku mohon!"


Leon terdiam dan mengigit bibirnya. Dia tidak ingin pergi tapi pada akhirnya dia meninggalkan tempat itu ketika dia melihat tatapan Arlana yang terus melihat sosok pria itu seolah merasa sakit dan kehilangan.


Dalam diam dan hening, pikiran Arlana mulai berkeliaran.


Dia mengingat wajah tampan Zale! Pria itu tumbuh semakin dewasa dan terlihat baik, Arlana tidak bisa untuk tidak meneteskan air mata. Dia ingin mengatakan banyak hal pada Zale, tapi hatinya terlalu sakit dan terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba.


Arlana kembali tediam dan merenung, setelah dia mulai merasa tenang dan dapat berfikir jernih. Arlana menggelang pelan dengan fikiran positif.


Itu sudah masa lalu, tidak baik untuk mengungkitnya. Mungkin pria itu datang karena ingin membuat sebuah baju. Setidaknya Arlana harus bersikap rasional dan melayaninya dengan baik lain kali dia datang.


Walaupun hatinya sakit dan terluka, dan dia juga ingin memukul serta mengutuk pria itu, Arlana harus menahannya. Dia sudah cukup dewasa dan harus dapat bertindak layaknya wanita dewasa.


Lagi pula pria itu juga mengatakan bahwa dia akan datang lagi sebagai pelanggan. Untuk seorang desainer seperti Arlana, sangat tidak baik memilih dan mengucilkan pelanggan hanya karena masalah yang telah terjadi di masa lalu.


Arlana mendesah panjang, dia mengusap air matanya yang telah mengering sebelum mengepak semua barangnya dan bergegas untuk pulang kerumah. Dia terlalu lelah hari ini, apa lagi dengan kejutan kemunculan Zale. Dia ingin mandi lalu tidur melupakan segala sesuatu tentang hari ini layaknya mimpi buruk.

__ADS_1


__ADS_2