
Hari berganti peralahan, sinar Matahari redup di gantikan oleh keindahan Bulan yang menyinari kegelapan Bumi.
Menatap kosong kedepan, Arlana tampak termenung dengan berbagai pikirannya yang melintas. 1 minggu telah berlalu sejak pertemuannya dengan Zale, gadis itu telah mendengar akan apa yang terjadi di perusahaan Godwin Corp. Dia mengkhawatirkan Zale dengan sangat buruk. Tapi tidak ada yang dapat dia lakukan kecuali menelponnya dan memberinya semangat.
Hari ini dia terdiam di rumah dan menatap layar televisi dengan sedikit linglung setelah menerima telepon dari Zale. Pria itu mengatakan bahwa keluarganya ingin menemui Arlana secara langsung dan membahas beberapa hal.
Tentu saja, Arlana terkejut dan bahkan dengan cepat menolak untuk pergi. Tapi, Zale berkali-kali meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja. Tanpa dapat menolak dia berakhir terdiam tidak tahu harus bagaimana.
Dengan helaan nafas yang panjang, Arlana bangkit dari tempatnya terduduk dan bergegas mengganti pakaiannya. Dia harus siap ketika Zale datang untuk menjemput.
Selang beberapa waktu setelah Arlana telah selesai dengan penampilannya, bel pintu rumahnya berbunyi. Dia bergegas untuk membuka pintu rumahnya dan mendapati sosok tampan Zale yang tengah tersenyum lembut padanya.
"Selamat malam, kau terlihat menakjubkan" ucapnya ketika dia merengkuh tubuh Arlana dan memberikan kecupan manis dipipinya.
Wajah Arlana memerah, dia mengalihkan pandangannya dari Zale dan menjawab "Sudah selesai, ayo berangkat!"
Melihat Arlana yang terlihat malu, Zale tanpa ampun malah memberikan ciuman yang bertubi-tubi. Dia tidak lagi menahan dirinya, apalagi sekarang kedua orang tuanya tidak akan menghalangi, jadi Zale tidak perlu menahan dirinya. Gadis di hadapannya ini adalah miliknya.
"Zale, cukup! Ayo pergi..." Arlana kewalah dengan sikap manja dan lengketnya, sudah sejak lama hal ini berlalu, sekarang ketika hal itu terjadi lagi, Arlana merasakan rasa asam dan manis dihatinya.
Zale menghela nafas panjang sebelum mengangguk lirih sebagai jawaban. Dia berjalan kearah mobilnya dan menuntun gadis itu dengan sangat lembut.
Mobil melaju dalam damai dan hening, Arlana terdiam dan tidak mengatakan apapun. Zale juga hanya fokus mengemudi dan menatap kedepan.
Sebenarnya Arlana ingin menanyakan banyak hal, tapi dia menahannya dan hanya akan melihat segala sesuatunya berjalan nanti.
__ADS_1
Setelah berjalan cukup lama, mobil itu berheti di sebuah restoran mewah. Mengikuti Zale turun dari mobil, Arlana memasuki sebuah ruangan VIP pribadi.
Dia terhenti sejenak saat mata keemasannya menangkap seorang wanita yang telah dia tahu, ibu Zale dan pria yang mungkin menjadi ayah Zale.
Dengan anggukan ringan dan sopan Arlana menyapa "Selamat malam, paman, bibi..."
"Selamat malam.. Jangan terlalu sopan! Cepatlah duduk dan kita makan malam bersama..." Ayah Zale menjawab dengan senyuman. Berbeda dengan Ibu Zale yang tampak tidak senang dan mendengus kasar.
Arlana balas tersenyum sebelum terduduk di sebelah Zale duduk. Makan malam itu tampak sederhana ketika dimulai, bahkan Arlana tidak banyak mengatakan apapun. Dia hanya menyantap makanan di meja dengan damai.
Disisi lain Zale dan Ayahnya terlihat tengah membicarakan beberapa proyek bisnis baru di sela makan mereka.
Setelah cukup lama makan malam itu selesai hingga Zale memesan hidangan penutup. Suasana canggung dan hening seketika menyelimuti saat makanan penutup itu di suguhkan.
"Kami mendengar bahwa Zale telah memutuskan untuk menikahimu dalam waktu kurang 1 bulan ini. Jadi disini kami bermaksud untuk sedikit mengenalmu terlebih dahulu dan mungkin akan membicarakan berbagai hal dengan walimu!"
"Ayah aku belum melamarnya secara resmi, jadi dia masih tidak mengetahui apapun! Hari ini aku hanya membawanya makan malam untuk memperkenalkan kalian. Jika aku sudah melamarnya nanti kami akan mendiskusikan hal berkaitan pernikahan" Jawaban Zale santai namun sekali lagi Arlana hanya tercengang bodoh.
Bagaimana pria ini bisa memutuskan segalanya sendiri?
Walaupun Arlana tidak akan menolaknya tapi dia perlu untuk tahu bukan?!
Menghela nafas panjang Arlana menggeleng pelan sebelum kembali melanjutkan makanannya dalam diam. Pada akhirnya Zale akan berbicara padanya nanti jadi dia hanya akan diam dan patuh sekarang.
"Begitukah?" Ayah Zale bertanya dan mendapatkan anggukan kecil dari putranya "Kalau begitu aku pasti telah menghancurkan kejutanmu untuknya. Maaf untuk itu"
__ADS_1
"Tidak apa, pada akhirnya aku akan melamarnya!"
"Aku masih tidak menyukainya. Dia bukanlah gadis yang baik, tapi karena kau begitu keras kepala maka lakukan sesukamu! Jika terjadi sesuatu dimasa depan jangan menangis padaku!" Ibu Zale yang hanya terdiam membuka suara dengan tidak senang.
Zale mencibir sedikit lalu menjawab "Aku tidak pernah menangis padamu! Lagipula jika terjadi sesuatu tidak ada yang dapat kau lakukan kecuali memperburuk keadaan. Jadi aku akan mengurus diriku sendiri, hanya satu hal, jangan pernah menghalangi kebahagiaanku dan lakukan kegiatanmu sendiri!"
Wajah ibu Zale menghitam gelap menatap kearah putranya. Dia memang tidak melakukan banyak hal untuknya, tapi setidaknya dia menyayanginya dan ingin dia bahagia. Jika kebahagiaan putranya ada pada wanita yang di bencinya itu maka dia akan memyerah dan mengamati dari jauh.
Makan malam itu selesai entah bagaimana ketika pembicaraan mereka sekali lagi berputar pada proyek dan bisnis.
Zale mengantarkan Arlana pulang kembali dengan mobilnya seperti sebelumnya. Setelah mereka sampai di rumahnya, Arlana tidak bisa tidak menjadi gugup. Dia takut jika pria itu akan menyerangnya lagi dan tidak menahan diri.
"Zale, mari lakuakan ketika kita sudah menikah?!"
"Lakukan apa?" Wajah Zale cerah ketika dia melihat pipi Arlana yang memerah. Dia merengkuh gadis itu dalam pelukannya dan berbisik pelan "Kau sangat cabul, aku kan tidak melakukan apapun! Aku hanya ingin masuk kedalam sebentar sebelum pulang.."
Arlana mendorong tubuhnya dengan kesal, dia mendengus kearahnya "Begitukah? Kalau begitu duduklah aku akan mengambilkanmu minuman!"
Saat dia akan beranjak pergi, tangan Zale menghentikannya. Pria itu berjongkok tepat di hadapannya dan membuka sebuah kotak hias kecil dengan cincin di dalamnya.
Hati Arlana berdegup kencang melihat pemandangan ini. Wajahnya sudah merah padam menatap wajah Zale yang tampak serius.
"Menikahlah denganku Lana... Aku tidak ingin bertunangan! Aku hanya ingin menikahimu secepatnya dan menjadikanmu milikku! Jadi menikahlah denganku!"
Arlana menatapnya dalam diam, air matanya mulai menetes dan jatuh. Dia mengangguk pelan dengan suaranya yang mulai parau "Hmm, aku... Aku selalu menjadi milikmu sejak awal, sekarang dan selamanya akan begitu. Aku akan selalu berada disisimu!"
__ADS_1
Zale tersenyum lembut, dia mengambil cincin itu dan mengaitkan di jemarinya. Berdiri tegak, Zale mengusap air mata dipipinya sebelum mencium gadis itu dengan penuh kasih.