My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
14 Seorang Rival?


__ADS_3

Matahari tampak gagah dia atas cakrawala, sinar hangatnya menyinari bumi dengar rata tanpa noda. Langit biru menambahkan pemandangan indah menyenangkan mata.


Seolah sinar matahari yang hangat itu sangat berlawanan dengan seorang gadis, dia tampak memiliki wajah gelap dan mendung.


Gadis itu tidak lain adalah Arlana!


Setelah 1 hari masuk sekolah untuk menentukan kelas, tidak ada hal yang berarti terjadi dan segalanya berlalu begitu saja. Sekarang sudah 3 hari sejak itu, 1 hal yang benar-benar membuatnya kelelahan! Itu adalah Zale!


Zale Godwin, seorang pria b4jing4n yang terus saja membuntutinya layaknya seekor anak itik! Tidak peduli bagaimana Arlana mencoba melarikan diri, bersembunyi hingga mencoba menyingkirkannya. Orang itu tampaknya memiliki banyak klon dan terus menempel layaknya lintah!


Karena Zale pula, nama Arlana yang tadinya di kenal sebagai gadis lidah beracun sekarang menjadi lebih di kenal sebagai mainannya.


Mengutuk kesialannya, Arlana menatap tajam pada Zale yang berada disisinya terduduk "Apakah kau tidak lapar? Ini sudah waktu istirahat siang! Kenapa kau tidak pergi dan m3nyusu kepada ibumu!"


Mendengarkan perkataan sarkatis Arlana, Zale tertawa lembut sebelum mencondongkan wajahnya lebih dekat, "Aku lapar, tapi aku tidak ingin m3nyusu pada ibuku! Kenapa bukan kau saja yang menyusuiku!"


Mendengarkan jawab Zale, wajah Arlana tetap datar, dia sudah menduga pria ini akan menjawabnya begitu jadi tidak mengejutkan. Selama 3 hari ini, semua perkataan kasar dan tajam Arlana telah di kembalikan dengan seringai olehnya membuat Arlana memiliki beberapa uban di kepala.


Arlana mendorong wajah Zale yang terlalu dekat dengan jijik dan berkata "Biarkan aku memeras beberapa susu b4bi untukmu-"


"Arlana, Guru Mei ingin kau datang ke kantor sebentar!"


Sebelum Arlana melanjutkan ucapannya seorang gadis berteriak memanggil namanya, dia menghela nafas lega seolah menerima berkah dari surga. Salah satu tempat dimana Zale tidak mengikutinya adalah ruang guru. Jadi tanpa memperdulikan Zale, Arlana berlalu seperti sambaran petir yang meninggalkan asap di belakangnya.


"Gadis itu tahu bagaimana cara untuk kabur!" Zale menatap punggung Arlana yang menghilang dengan sedikit penyesalan.


Dengan perginya Arlana, Zale juga turut beranjak dari tempatnya untuk membeli makanan. Dia sangat lapar!


"Tidakkah menurutmu Arlana akan jatuh pada Zale?" Seorang gadis yang berada di kelas itu bertanya kearah teman gadisnya di sebelah.


Pemandangan Zale dan Arlana telah menjadi semacam Drama tontonan yang menarik untuk beberapa orang. Tentu saja untuk kebanyakan gadis mereka merasa sangat cemburu melihat Zale yang terus bersikap manis mengejar Arlana.


"Kanaya, apa kau tertarik pada Zale?" Gadis yang di berikan pertanyaan itu bertanya kembali pada temannya.


"Apa kau bodoh Celsi!" Kanaya melotot terkejut kearah Celsi dan melanjutkan "Zale tentu saja tampan, tapi itu tidak berarti aku menyukainya. Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan Arlana. Apakah gadis berwajah datar dan kasar itu akan jatuh pada Zale?"


"Entahlah, tidak ada yang tahu apa yang di pikirkan oleh Arlana! Jika seseorang tahu apa yang di pikirkan gadis itu aku akan membuat orang itu menjadi tuanku!" Celsi menjawab acuh seraya mengejek.


Kanaya hanya diam tidak merespon kembali, dia memakan makanan di tangannya dalam diam. Ke dua orang itu adalah teman sekelas Arlana saat berada di kelas 2. Untuk Celsi yang kembali sekelas tentu saja dia tidak terlalu peduli, tapi untuk Kanaya yang telah satu kelas dengan Arlana dari kelas 1 dia merasa seperti dikutuk.


......


Arlana berjalan melewati lorong koridor kelas dengan termenung. Dia baru saja keluar dari ruangan guru Mei.

__ADS_1


Guru Mei bertanya tentang angket miliknya yang menyatakan bahwa dia tidak ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Tentu saja guru Mei menasehatinya untuk melanjutkan keperguruan Tinggi, ini di karenakan nilai Arlana cukup bagus dan sangat di sayangkan untuk tidak melanjutkan.


Sedangkan untuk Arlana sendiri, dia benar-benar tidak ingin melanjutkan!


Uang yang dia pakai untuk bersekolah sekarang adalah uang tabungan Ayahnya yang di simpan untuk Arlana sebelum dia meninggal. Uang itu mungkin akan cukup jika Arlana benar-benar ingin melanjutkan.


Tapi Arlana memilih untuk tidak pergi, dia hanya ingin cepat lulus dari sekolah dan menghasilkan uang. Dia akan ikut sebuah lembaga kerja dan mencari beberapa lowongan pekerjaan tetap untuk melanjutkan kehidupan normalnya yang damai.


Namun dengan bersikerasnya guru Mei meminta padanya, dia hanya akan memikirkan kembali. Apalagi guru Mei bahkan telah menghubungi bibinya yang tengah berada di luar negeri sekarang untuk mendiskusikan hal ini.


Arlana hanya menghela nafas tidak berdaya, dia tidak ingin menyusahkan bibinya. Apalagi dengan apa yang di lakukan Kelvin bebrapa waktu yang lalu, Arlana merasa sangat tertekan.


"Uuhh!!!"


Karena berjalan dengan pikiran yang berkeliaran, Tubuh Arlana membentur seseorang. Dia melangkah mundur dengan limbung seolah akan tersungkur jatuh.


Sebuah tangan hangat menarik tubuhnya tepat sebelum benar-bebar terjatuh.


"Maaf, apa kau baik-baik saja?" Sebuah suara rendah dan terdengar menyenangkan bergema.


Arlana tertegun dengan suara indah yang dia dengar sejenak. Setelah menyeimbangkan tubuhnya, dia mengalihkan pandangan matanya pada asal suara.


Wajah tampan bersih putih tanpa cacat, mata hitam yang terlihat bening dan berkilauan layaknya sebuah bintang berkelip tertangkap olehnya.


"Aku baik! Terimakasih!" Nada suaranya datar dan tidak berekspresi.


Kini giliran pria di hadapan Arlana yang tertegun. Dia adalah salah satu pria cantik di sekolah. Namanya sangat terkenal berada di 5 besar bersamaan dengan Zale, tapi gadis di hadapannya seolah tidak peduli dan biasa saja. Hal ini tanpa sadar mengugah minatnya.


"Kalau begitu baguslah! Aku takut kau terluka-"


Belum selesai dengan apa yang di ucapkannya, Arlana telah berlalu pergi tanpa memperdulikan pria itu. Meninggalkan wajah tampan di belakangnya menjadi kosong dengan ekspresi yang lebih buruk.


"Tunggu!"


Menatap pria sebelumnya menarik lengannya dengan erat, Arlana menoleh kearahnya dengan alis indahnya terangkat.


"Apakah ada sesuatu yang kau butuhkan?"


Pria tampan itu tampak termenung mendengar perkataan Arlana yang datar sama seperti sebelumnya.


Setelah hening sejenak, dia tersenyum manis dan menjawab perkataan Arlana "Tidak juga, aku hanya khawatir bahwa kau sedikit terluka karena benturan itu. Jadi karena rasa tidak nyaman, jika kau tidak keberatan aku ingin menebusnya dengan mentraktir makan siang"


"Tidak perlu!" Arlana mendengus dingin dan menarik lengannya dengan tidak suka, saat dia hendak untuk pergi lagi pria itu kembali menyeret lenganya.

__ADS_1


Pandangan mata Arlana menjadi gelap seketika. "Berhenti menarikku seolah aku adalah mainan Tarik Tambang!"


"Pffthh Hahahaaa~..."


Melihat pria tampan di hadapannya tertawa lebar, Arlana tanpa sadar mundur beberapa langkah kebelakang setelah melepaskan lengannya kembali. Dia merasa setiap pria tampan yang di temuinya adalah orang tidak waras. Jadi ketika pertama melihat wajah tampan dan Feminim di hadapannya ini, alarm di kepala Arlana berbunyi memintanya untuk lari. Ternyata pikirannya tidak salah dia sama gila dengan si lintah Zale.


"Fiuh~ sudah lama sekali aku tidak tertawa seperti itu!" Pria itu akhirnya berhenti tertawa dan menatap Arlana yang pergi meninggalkannya, dia berlari untuk menyusul "Hei aku belum selesai bicara, tidak bisakah kau terus berusaha kabur?"


Tidak mendapatkan respon dari gadis di sisinya itu, dia kembali berbicara "Namaku Alen, aku dari kelas 3 C. Bagaimana denganmu?"


Langkah kaki Arlana terhenti dan menatap wajah tersenyum di sisinya, wajah miliknya benar-benar tidak sedap di pandang "Tinggalkan aku sendiri!"


"Oh? Jadi namamu adalah Tinggalkan Aku Sendiri! Itu cukup unik!" Alen berbicara menggoda, dia sama sekali tidak merasa keberatan dan terus mengikuti Arlana "Aku tidak pernah melihatmu, atau mungkin karena aku tidak pernah berada di sekolah? Tapi setidaknya kau tahu tentangku kan?"


Arlana terus saja berjalan membiarkan pria itu mengoceh sendiri. Entah kenapa akhir-akhir ini Arlana menjadi agak kebal terhadap pria yang cerewet. Dia merasa karena keberadaan Zale itulah Arlana mulai terbiasa dan merasa lelah untuk menanggapi mereka para orang bodoh yang terus menempel layaknya lintah.


"Aku selalu berada di luar sekolah, kau tahu aku adalah seorang Vokalis. Suaraku sangat bagus, tapi karena sekarang sudah kelas 3. Para guru memintaku untuk lebih fokus pada belajar. Rasanya membosankan jika tidak dapat bernyanyi!"


Pantas suaranya sangat indah bahkan jika hanya berbicara!


Arlana yang mendengarkan Alen terus mengoceh mau tidak mau akhirnya mengambil beberapa kata untuk di dengarkan olehnya.


"Aku berkeliling mencarimu! Kau tahu betapa lelahnya aku Lana!" Suara Zale datang dari kejauhan dan semakin mendekat.


Langkah kaki Arlana terhenti sejenak sebelum kembali berjalan.


"Aku sudah membeli makan siang untukmu! Mari makan siang bersama di kelas" Zale kembali membuka mulutnya ketika berada tepat di sisi Arlana. Mata hitamnya sedikit menyipit ketika menangkap sosok lain disisi Arlana "Apa yang kau lakukan disini?"


Alen sedikit terkejut menatap kearah Zale yang bertanya kearahnya. Dia melihat Arlana dan kemudian Zale untuk beberapa waktu sebelum menyadari. "Jadi dia adalah kekasihmu yang terkenal itu?"


"Benar!"


"Bukan!"


Zale dan Arlana menjawab pertanyaan Alen secara bersamaan. Tapi jawaban yang keluar dari mulut mereka berbeda. Hal ini membuat Alen kembali tertawa.


Pandangan mata Zale tampak redup mendengarkan jawaban tegas Arlana, dia menatap Alen dengan dingin dan berkata "Jangan coba menggangguku! Aku tidak akan segan!"


"Ayolah Zale, kau tidak berhak untuk mengatakannya! Arlana bahkan tidak tertarik padamu!" Alen balas menatap tatapan dingin Zale dengan wajah polos.


Dia tadinya hanya merasa Arlana adalah gadis yang menarik minatnya. Tapi sekarang dia bahkan jauh lebih menarik.


Merasakan suasana yang tidak nyaman antara dua pria bodoh itu. Arlana mempercepat langkah kakinya untuk pergi meninggalkan mereka agar menyelesaikan kisah cinta dan benci secara pribadi.

__ADS_1


Wajah Zale tampak sangat gelap melihat Alen yang tidak akan mundur, dia mendengus tidak senang sebelum beranjak pergi untuk mengikuti Arlana yang sudah pergi meninggalkannya terlebih dahulu.


__ADS_2