
Sebuah suara mendengkur terdengar lembut di pagi hari yang damai. Asal suara dengkuran itu berasal dari sosok lelaki tampan yang tengah tertidur lelap seraya memeluk sebuah tubuh wanita erat layaknya sebuah guling.
Merasakan sesak dan tidak nyaman, wanita itu mengeliat ringan sebelum memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan pria disisinya.
Pemandangan manis dari kedua wanita dan pria yang menutup matanya itu tampak hangat dan sangat menyenangkan mata.
Sebelum seseorang dapat mengabadikan momen indah itu dalam sebuah gambar. Sang wanita membuka mata berwarna emas miliknya. Dia menatap tepat kedepan dengan pandangan buram yang tidak jelas. Dengan gosokan ringan dari tangannya, mata emas miliknya memiliki pandangan yang mulai jelas.
Saat mata emasnya menangkap sosok wajah tampan yang tertidur lelap tepat di wajahnya dan memeluk tubuhnya erat, dia melotot kaget dan menendang tubuh pria itu menjauh hingga terjatuh dari tempat tidur miliknya.
Bughh!!!
"Awrhh" erangan sakit terdengar dari bibir pria yang jatuh di lantai
"ZALEE!!!" Gadis itu mengeram penuh amarah, ia terduduk dengan mata melotot yang mulai memerah.
"Lana, kenapa kau menendangku? Ini masih pagi kau tahu!" Zale bertanya malas seraya terbangun dari lantai untuk kembali ketempat tidur
"SI4L4N KAU! Apa yang kau lakukan di tempat tidurku?" Teriakan Arlana melengking nyaring di pagi hari yang sunyi, urat di dahinya menonjol tampak menakutkan, dia menatap tajam pria di hadapannya yang tengah menggaruk rambut kepalanya dengan wajah bodoh.
"Aku tidak bisa tidur semalam, jadi aku menyelinap untuk tidur denganmu!" Zale menjawab dengan lugas "Ahh kau sangat hangat dan lembut, membuatku tertidur lelap seketika! Jadi mari kita tidur lagi! Ini masih sedikit terlalu pagi di luar!"
Plakk!!!
Telapak tangan Arlana mendarat tepat dipipi Zale yang lembut, gadis itu menatap tepat kedalam mata hitam Zale yang tampak bodoh dengan mata terluka.
Dia terdiam dengan wajah datar, namun air mata yang keluar dari mata emasnya tampak menyakitkan dan pilu. "Kau keterlaluan kali ini!"
Dengan kalimat itu, Arlana berlari pergi meninggalkan ruangan.
Zale menatap punggung Arlana yang menghilang dengan terkejut. Ketika dia melihat air mata yang mengalir dari mata indahnya, dadanya menjadi sedikit sakit. Dia tidak bermaksud untuk bertindak sejauh ini sebenarnya. Tapi apa yang dia katakan itu benar.
Awalnya Zale meminta kunci duplikat pada Kelvin untuk melihat wajah tidur Arlana dan menggodanya besok ketika dia terbangun.
Tapi saat Zale terlarut memandang wajah tidur Arlana, tanpa sadar dia menjadi mengantuk dan tertidur disisinya. Hal ini adalah sesuatu yang sangat unik untuknya.
Zale terbiasa kesulitan tidur, dia akan menjadi lebih sulit tidur ketika ada seseorang disisinya. Entah kenapa dia dapat tidur dengan pulas disisi Arlana, dia benar-benar merasa tidak mengerti. Sekarang bahkan ketika dia melihat Arlana menangis, dia merasakan hatinya sakit dan sedkit bersemangat.
Zale memang tidak ingin melukai gadis itu, tapi dia juga merasa ingin membuatnya menangis menatap kearahnya dengan wajahnya yang penuh air mata.
"Lihat! Sudah kuduga ini akan menjadi masalah! Maka dari itu aku tidak ingin memberimu kunci kamarnya tadi malam, tapi kau terus mendesakku! Sekarang bahkan Arlana akan membenciku dengan sangat buruk!" Suara Kelvin terdengar membuyarkan pikiran Zale yang berkelana. Dia bersandar pada ambang pintu kamar dan menatap Zale dengan kesal
__ADS_1
"Dimana dia?"
"Dia berada di kamar tidur tamu, kurasa dia sedang membasuh dirinya dan akan pergi dari rumah ini secepat mungkin. Aku tidak bisa menghentikannya, dan aku juga tidak ingin! Yang bisa kulakukan hanyalah menyuruh seseorang mengawasinya dengan aman" Kelvin menjelaskan dan berjalan mendekat kearah Zale yang tetap tidak bergerak diatas tempat tidur "Jadi apa yang kau lakukan semalam?"
Zale memutar matanya konyol melihat kearah Kelvin yang bertanya dengan pandangan mesum. Dia tidak tahu harus merasa kasihan pada Arlana atau bahagia untuk dirinya sendiri. Kelvin adalah sepupu Arlana, tapi dia lebih mendukung tindakan kotornya secara terang-terangan dari pada khawatir pada Arlana.
"Tidak ada yang terjadi, kami hanya tidur tidak melakukan apapun" Zale terkekeh lirih dan beranjak dari tempat tidur "Aku akan pergi mandi sebentar, kau cobalah buat Arlana tetap tinggal sampai aku selesai"
Kelvin mendengus lirih mendengarkan jawaban Zale, dia tidak bisa untuk percaya padanya. Semalam bersama seorang gadis? Dengan brengs3k tercela seperti Zale tidak melakukan apapun? Itu benar-benar pembohongan publik!
....
Mata keemasan Aralana menatap pantulan wajahnya di hadapan cermin dengan wajah lesu. Warna emas itu tidak bening seperti sebelumnya, tapi tampak agak kemerahan.
Dia mengusap hidungnya yang mengeluarkan cairan dengan tisu sebelum kembali mendesah pelan. Air mata yang mulai mengering kembali membendung lagi dan menetes perlahan.
"Pria brengs3k itu!!! Aku akan membunuhnya!!!"
Arlana berseru dengan wajah terluka, ke dua tangannya mulai mengikat rambutnya yang berantakan setelah selesai mandi.
Dia merasakan hatinya sakit dan terluka, tidak pernah ada dalam pikirannya bahwa seseorang pria tidak tahu malu seperti Zale akan masuk kedalam hidupnya dan membuatnya berantakan.
Arlana selalu berusaha menjaga jarak dan menjauh dari semua orang, dia pikir Zale juga akan akan menyerah jika Arlana terus menolak. Tapi pria itu tidak tahu akan kata penolakan dan semakin mendekat.
Dia juga tidak menyangka bahwa sepupunya sendiri akan mebiarkan pemangsa seperti itu bergerak kearahnya. Dia bukan seseorang yang suka mengadu, tapi dengan kejadian ini dia merasa terluka dan akan mengadukan Kelvin pada paman dan bibi. Setidaknya dengan Kelvin yang akan di hukum hatinya menjadi lebih lega.
"Hei, itu..."
Wajah Arlana kembali menghitam ketika mendengarkan suara Kelvin yang ragu. Dia mengabaikan Kelvin yang menatap kearahnya dan berada di diambang pintu. Dia merasa orang ini semakin menjengkelkan dengan tidak mengetuk pintu.
"Aku sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi kau tidak mendengarnya!" Kelvin kembali berbicara seolah dapat menebak ketika wajah Arlana yang semakin jelek "Aku... Kau tahu, aku ingin minta maaf.. tapi benar aku tidak bermaksud untuk memberikan kunci kamarmu pada Zale, jadi kupikir kau tidak akan.. yah, kau tahu,.. ibuku..."
"Apa kau selesai?" Menatap Kelvin yang tampak mencari alasan, Arlana memotong ucapannya tidak sabar "Minggirlah! Kau menghalangi jalanku!"
"Arlana, aku benar-benar minta maaf.. jadi bisakah masalah ini tidak sampai pada..."
"MINGGIR!!!"
Dengan suara yang semakin dingin keluar dari bibir Arlana, Kelvin terdiam seketika dan membuat dirinya menciut dari jalannya.
Arlana mendengus kesal kearah Kelvin sekilas dan berjalan melewatinya. Sebelum sampai di pintu keluar rumah, sebuah tangan hangat dan besar merengkuh tubuhnya erat.
__ADS_1
Sebuah kepala terasa bersandar di bahunya, tubuh hangat dan besar memeluk tubuh Arlana erat dari belakang.
Dengan keadaan kaget, tubuh Arlana tampak kaku, ia tersadar ketika sebuah suara serak terdengar tepat di telinganya membawa hembusan nafas yang hangat.
"Maaf, Lana maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf!"
"Lepaskan!" Arlana meronta kasar, dia mendorong tubuh Zale yang mendekapnya "Menjauh dari hidupku dan jangan pernah menyentuhku lagi!!"
Tidak dapat melepaskan diri setelah berusaha keras, Air mata Arlana membendung seperti genangan dan perlahan banjir.
"Aku mohon Zale, lepaskan aku!!"
Melihat Arlana yang menangis sedih, Zale mempererat pelukannya. Dia memutar tubuh Arlana untuk menghadap kearahnya dan melingkarkan lengan kekarnya pada pinggang ramping Arlana.
"Maaf, Lana... aku salah, aku benar-benar salah! Aku mohon maafkan aku!"
Zale terus menerus mengulangi kalimat itu dari bibirnya, dia memeluk tubuh rapuh dan lembut di hadapannya penuh penyesalan.
Tidak ada suara yang terdengar selain isak tangis Arlana dan suara monoton Zale yang mengucapkan kata maaf.
Setelah beberapa waktu, Arlana menjadi sedikit tenang, dia mendorong tubuh Zale pelan dan berkata "Aku mengerti! Kumohon lepaskan aku!"
Zale mengerutkan kening tanpa sadar, jika bisa dia tidak ingin melepaskan pelukan itu, dia ingin terus memeluk tubuh lembut dan harum Arlana. Tapi melihat situasi yang ada, Zale mulai melonggarkan pelukannya.
Saat mata hitam Zale yang bening menatap wajah Arlana yang tampak kusut. Dia menegang sejenak. Detak jantung miliknya menjadi berpacu tanpa dia mengerti. Semakin dia menatap wajah lembut Arlana dengan mata memerah, hidung sembab berwarna pink. Bibirnya yang basah berwarna merah cerah. Dia menjadi gugup dan tidak nyaman.
Zale merespon dengan sangat tidak wajar, dia melepaskan Arlana seketika dan mengalihkan pandangannya.
"Aku benar-bebar tidak melakukan apapun padamu! Aku bersumpah! Jika aku melakukan sesuatu tadi malam, biarkan petir menyambarku!" Dengan suara yang sedikit bergetar karena perasaan aneh, Zale mulai berbicara omong kosong "Yah, kau tahu walaupun aku selalu menggodamu, kau bukanlah tipeku, tubuhmu benar-benar terlalu kurus dan tidak nyaman di R3m4s!!"
Buugghh!!!
Sebuah kepalan tinju mendarat tepat di pipi Zale, membuatnya berwarna merah seketika. Sudut mulut Zale bahkan mengeluarkan sedkit darah segar.
Dengan mata yang melotot tajam Arlana kembali menendang kaki Zale dengan kakinya "Aku tahu seorang br3ngs3k sepertimu pasti tidak akan tertarik padaku! Kenapa aku harus menghabiskan banyak air mata tidak berguna...!!!"
Arlana kembali menghentakkan kakinya untuk menginjak kaki Zale sebelum beranjak pergi.
Zale hanya meringis kesakitan di tempatnya, walaupun begitu fikirannya sekarang sedang berkabut. Dia tidak memegang pipinya yang terluka tetapi malah memegang dadanya yang berdetak kencang seakan melompat keluar.
Ada apa dengannya?
__ADS_1
Fikiran itu terus menerus berputar diotaknya seolah mencari jawaban atas tubuhnya yang aneh dan tidak terkendali.