My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
24 Keputusan


__ADS_3

Desiran tanah menerpa terbawa oleh angin yang berhembus, membawa hawa panas dan dingin secara bersamaan.


Tubuh tegap seorang pria terlihat sedikit kuyu dan tidak memiliki semangat. Pria itu terduduk di sebuah bangku taman yang sunyi di bawah pohon rindang.


Pandangan mata indahnya menatap sekeliling seolah tengah mencari seseorang. Saat sosok tampan muncul dari kejauh menuju kearahnya.


Tubuh pria itu dengan spontan terjaga dan berdiri tegap dengan kegelisahan yang ketara.


Dia membuka bibir miliknya lirih memanggil nama pria yang tengah berjalan kearahnya "Zale..."


Zale berjalan cepat menuju kearah kakaknya. Setelah dia keluar dari rumah dan menelpon kakaknya, dia baru saja dapat menemukan kakaknya ketika malam hampir tiba.


Melihat matahari orange dan tubuh kakaknya yang berdiri kaku serta gelisah sendirian di bangku taman, Zale tidak bisa untuk tidak mempercepat langkah kakinya.


"Zale, aku..."


Ucapan kakak Zale terpotong oleh Zale yang seketika memeluk tubuhnya erat. Dia menangis dan memeluk tubuh kakaknya yang sedikit lebih kecil darinya.


Dengan Suara yang sangat serak dan lirih Zale berkata "Pasti berat untukmu selama ini!"


Tubuh Fian bergetar hebat, tidak lagi dapat menahan dirinya. Dia mulai menangis dalam pelukan adik lelakinya. Seorang adik yang dulu ia gendong sekarang lebih besar darinya dan bahkan memeluknya dan menenangkannya, perasaan kacau Fian menjadi sedikit ringan dan terlupakan.


Setelah untuk waktu yang lama mereka hanya menangis dan berpelukan di taman itu. Cukup lama hingga Zale merasa sedikit kesemutan di kakinya, dengan sedikit senyuman konyol dia mulai membuka suara "Kak, kakiku kram!"


"Haha~~ Siapa yang menyuruhmu memelukku begitu lama?" Suasana berat dan tidak nyaman di antara mereka mencair seketika


Zale menggaruk kepala rambutnya yang tidak gatal dan mulai terduduk di bangku itu. Fian tidak mengatakan apapun dan turut terduduk disisinya.


"Minumlah dulu" Zale memberikan botol minuman untuk kakaknya. Dia membeli beberapa minuman dan makanan di tasnya saat akan menemui kakaknya.


Fian hanya mengangguk ringan dan menerimanya "kau masih menggunakan seragam?"


"Itu bukan salahku! Aku hanya tidak memiliki waktu untuk mengganti pakaian"


Mendengar ucapan Zale, Fian tersadar dan menundukkan kepalanya. Zale pasti baru saja pulang sekolah dan menerima kabar tentangnya, lalu dengan cerobohnya anak nakal ini hanya berlarian kesegala tempat untuk mencarinya.


Jika Fian tidak mengangkat teleponnya dia yakin adik bodohnya ini akan tetap mencarinya bahkan hingga malam hari dengan baju yang sama dan sama sekali tidak memikirkan dirinya sendiri.


"Aku mendengarnya..." Zale memulai pembicaraan ketika dia melihat kakaknya yang mulai diam. Melihat raut wajah kakaknya yang menjadi jelek Zale kembali membuka mulutnya dengan tergesa "Jangan minta maaf karena menjadi berbeda! Minta maaflah karena tidak memberitahuku!"


Fian mendongak dan menatap kearah Zale dengan matanya yang memerah "Maaf tidak memberitahumu..."


"Hmm, itu bagus jika kau menyadarinya!" Zale mengangguk dengan senyuman di wajah dan kembali bertanya "Sejak kapan itu?"


Desahan nafas panjang terdengar dari bibir Fian, dia membuka botol minuman dan meminumnya. Setelah merasa sedikit ringan dia mulai menjelaskan.

__ADS_1


"Itu terjadi sejak aku berada di bangku Menengah Pertama. Dia adalah seorang teman sekelas. Pria yang sangat tampan dan baik. Awalnya sangat sulit untukku, apalagi pria itu lurus dan memiliki kekasih yang cantik. Hatiku sakit, aku bahkan mencoba untuk menjadi lurus juga dengan mengencani beberapa wanita. Tapi pada akhirnya itu lebih menyiksaku. Aku tidak bisa menyukai wanita, dan satu-satunya orang yang aku sukai adalah dia..."


Zale terdiam dan mendengarkan penuh perhatian. Dia merasakan sengatan sakit di hatinya ketika melihat wajah kakaknya yang terlihat kesepian dan penuh rasa sakit.


"Aku tidak pernah ingin menjadi seperti ini, tapi tidak peduli apa yang aku lakukan aku menyukai dia. Aku menyukai pria dan aku berbeda. Jika bisa aku ingin menjadi normal seperti orang lain, tapi aku tidak bisa seperti mereka dan itu malah menyakitiku! Maaf Zale untuk menjadi kakak yang menjijikkan, untuk menjadi seorang kakak yang tidak bisa kau andalkan! Aku benar-benar minta maaf..."


"Tidak!!!" Zale menggelengkan kepalanya keras, dia menatap kearah kakaknya yang tengah menangis dan menundukkan kepala meminta maaf padanya.


Dengan tegas Zale kembali berkata "Aku tidak pernah merasa jijik, aku bahkan bangga dan sangan bersyukur untuk memiliki saudara sepertimu! Jadi jangan pernah mengatakan maaf! Apa yang salah untuk menjadi berbeda? Kau hanya menyukai seseorang! Perasaan seperti itu tidak bisa kau kendalikan walaupun kau ingin! Jadi jangan pernah menyesalinya ataupun memebenci dirimu sendiri. Aku Zale Godwin adik lelaki Alfianus Godwin dan aku bangga pada fakta itu!"


Tangisan Fian semakin pecah, hatinya yang gelisah dan menderita menjadi hangat seketika saat dia melihat adik lelakinya itu tidak membencinya dan malah berusaha menenangkannya.


Fian sangat bersyukur memeliki seorang adik kecil seperti Zale, dia tidak bisa untuk tidak merasa sedikit bangga. Zale sekarang entah bagaimana mulai tumbuh menjadi dewasa dan sangat dapat diandalkan.


"Tapi Ayah dan ibu termasuk seluruh keluarga Godwin tidak dapat menerima hal itu. Apa kau baik-baik saja?"


Fian diam lalu menghela nafas panjang. Dia awalnya ingin menyembunyikan hal ini dan hidup sesuai keinginanan kedua orang tuanya. Menikah dan memilik anak lalu mewarisi Godwin Corp. Tapi pada akhirnya hatinya tidak dapat lagi menanggungnya dan dia mengakui segalanya pada Mereka.


"Aku tahu, tapi tidak ada yang dapat aku lakukan!"


Melihat wajah Fian yang tampak tidak bersemangat Zale kembali bertanya "Apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau di pecat dari perusahaan dan juga di usir dari rumah! Bagaimana dengan uang? Apa kau memilikinya?"


Fian tidak bisa menahan senyuman di bibirnya, dia mengusap rambut hitam Zale penuh dengan kasih sayang dan berkata "Aku akan baik-baik saja! Kau tidak perlu khawatir, yang perlu kau lakukan adalah belajar dan mengejar mimpimu!"


"Sudah kubilang aku akan mengurusnya!"


"Itu tidak benar! Jika Ayah membiarkan kakak untuk bekerja di perusahan orang, akan timbul gosip yang buruk. Jadi mungkin dia tidak akan membiarkan kakak untuk bekerja secara damai..." Kegelisahan Zale semakin menumpuk ketika dia memikirkan berbagai kemungkinan, dengan tidak sabar dia kembali membuka pikirannnya "Mungkin juga ibu akan berusaha menghancurkan hubungan yang kakak miliki dengan orang yang kakak sayangi untuk membuatmu tersadar dan kembali pada keluarga. Tidak, itu tidak dapat di biarkan!"


"Zale sudah kukatakan aku akan mengurusnya!" Fian meninggikan suaranya ketika dia menatap wajah Zale yang khawatir. Dia tidak bisa untuk tidak cemas pada adik lelakinya yang bodoh ini.


Fian takut karena kelakuannya Zale akan melakukan hal yang membuatnya menyesal. Dia ingin agar Zale hidup sesuai keinginannya dan tidak terikat pada keinginan keluarga Godwin, hidup seperti sekarang bebas dan bahagia.


Tapi dengan Fian di usir dari keluarga, dia sudah dapat menebak apa yang akan di lakukan oleh Ayah dan Ibunya. Fian cemas dan tidak ingin bahwa Zale mengambil keputusan yang tidak dapat dia putar kembali hanya untuk melindunginya.


Zale terdiam menatap nada tegas kakaknya, dia tidak lagi berbicara tentang hal itu di depannya. Tapi jauh di dalam hatinya Zale telah membuat keputusan, sebuah keputusan yang mungkin akan melukai dirinya dan orang yang dia cintai.


Setelah kakak Zale mengucapkan beberapa kalimat lagi untuk meyakinkan Zale bahwa dia baik-baik saja. Zale akhirnya tersenyum menggoda dan mengalihkan pembicaraan.


"Pria itu, pria yang kau sukai sejak sekolah. Apakah kau berkencan dengannya sekarang?"


Dengan wajah sedikit memerah dipipinya Fian mengangguk malu atas pertanyaan Zale.


Senyuman di wajah Zale tampak lebih lembut, dia menghoda menjadi lebih kejam. "Bukankah dia lurus? Bagaimana kau membuatnya menyukaimu? Tunggu dulu jika itu di mulai dari bangku sekolah, Cinta kakak untuknya sudah bertahan selama 10 tahun. Itu Cinta tak terbalas yang luar biasa"


Fian memukul dahi Zale pelan mendengarkan kalimat yang keluar darinya, dengan dengusan ringan dia menjawab "Aku tidak pernah berharap dia akan menyukaiku, awalnya aku hanya terus mencoba untuk menjadi teman dekatnya dan berhubungan baik. Tapi pada waktu tertentu fakta bahwa aku menyukainya terbongkar. Dengan harapan yang kandas bahwa dia akan membenciku dan juga jijik aku menjauhinya. Tapi entah bagaimana dia tiba-tiba mengatakan ingin mencoba berkencan denganku!"

__ADS_1


Wajah Zale terlihat lucu, dia menatap kearah kakak lelakinya yang mirip seorang gadis sedang jatuh cinta dan tidak bisa untuk tidak tertawa.


Dengan geram Fian mencubit pinggangnya geram. Zale meringis kesakitan dan memohon ampunan "Baiklah, maaf aku tidak akan menggodamu!"


Setelah tangan Fian lepas dari pinggangya, Zale dengan kejamnya melupakan perkataan yang baru dia ucapkan dan kembali menggoda "Apakah kalian sudah melakukannya?"


"Zale! Kau- Berhenti menjadi mesum!" Tidak lagi dapat menahan malu Fian memukul Zale beberapa kali.


Taman sunyi itu menjadi meriah ketika kedua saudara saling bergulat dan bergurau. Setelah beberapa saat mereka merasa lelah dan cukup. Fian menatap pada jam tangan miliknya dan langit yang mulai gelap "Ayo pulang, kau tidak bisa terus menggunakan seragam!"


Zale diam menatapnya untuk waktu yang cukup lama sebelum mengangguk dan berdiri dari tempatnya terduduk. Dia menatap Fian dengan dalam dan memberikan pelukan ringan serta cepat.


"Kakak, bawa di untuk menemuiku lain waktu.." Zale tersenyum lembut pada Fian dan melanjutkan ucapannya "Aku ingin kau hidup bahagia. Aku juga akan hidup bahagia. Maka dari itu tidak perlu untuk menyalahkan diri sendiri. Aku selalu merasa bahagia dengan apa yang aku lakukan!"


Setelah mengucapkan kalimat itu, Zale berbalik pergi meninggalkan kakak lelakinya. Fian diam di tempatnya dan memanggil nama Zale berkali-kali tapi adik bodoh itu tidak menoleh dan terus berjalan.


Dengan raut wajah yang tidak dapat di jelaskan Alfian merasakan sedikit firasat tidak nyaman. Dia tahu adiknya akan melakukan sesuatu, dia hanya berharap apapun yang akan di lakukannya tidak akan melukainya.


Zale terduduk di taksi tidak mengatakan apapun dan hanya menatap jalanan yang gelap di balik jendela. Taksi itu melaju dengan kecepatan stabil hingga sekali lagi berhenti di sebuah rumah besar.


Dengan langkah kaki yang tegas dan juga wajah yang sangat serius, Zale keluar dan berjalan mendekat kerumahnya.


Tidak menghiraukan pelayan seperti sebelumnya, dia hanya masuk keruang kerja Ayahnya dan berdiri di hadapannya.


Ibu Zale sendiri sudah tidak ada lagi disana dan hanya ada sang ayah.


Ayahnya masih disana terduduk diam sama seperti sebelumnya. Wajah paruh baya dan tampan Ayahnya tampak tenang ketika melihat tubuh Zale yang berdiri tepat dihadapannya.


Dengan suara berat Zale membuka bibirnya "Mari membuat perjanjian!"


Ayah Zale hanya diam menatapnya dan menunggu kalimat Zale selanjutnya.


"Aku akan melakukan apa yang Ayah inginkan. Aku akan menjadi pewaris keluarga ini! Aku bahkan akan pergi kesekolah yang ayah inginkan dan belajar dengan giat. Tapi..." nada suara Zale sedikit serak ketika kalimat terakhir itu keluar dari bibirnya, dengan menelan air ludah secara kasar dia melanjutkan perkataannya "Aku ingin kau membiarkan Kakak sendirian dan jangan lagi mengganggu hidupnya. Dan nanti dimasa depan aku juga ingin menentukan siapa orang yang ingin aku miliki untuk hidupku!"


Wajah Ayah Zale tampak sedikit lembut, dia menatap putranya yang hanya dapat bermain dan bodoh itu kini tumbuh menjadi sedikit dewasa.


Dengan anggukan tegas Ayahnya menyetujui perkataannya "Jika hanya itu, aku setuju! Mari lakukan! Kami akan memindahkanmu secepatnya! Mulia besok kau tidak perlu lagi kesekolah!"


Zale tidak membantah tapi mengangguk pelan sebelum berjalan pergi setelah mendengarkan beberapa perkataan yang Ayahnya ucapkan.


Tubuh Zale runtuh di tempat tidurnya, dia membuka ponsel miliknya dan menatap wajah cantik dilayar dengan air mata yang mengalir.


"Arlana, aku harus melakukan ini! Untuk melindungi kakak, untuk dapat bersamamu dimasa depan tanpa penolakan Ayah dan Ibu... Aku harus menjadi kuat, sekuat mungkin hingga mereka tidak dapat mengancamku! Aku akan merindukanmu, sangat merindukanmu!"


Tubuh Zale melingkar seperti ulat bulu diatas tempat tidur, dia memeluk ponsel miliknya dan menangis sedih. Begitu sedih hingga terdengar menyakitkan dan pilu.

__ADS_1


__ADS_2