My Gentle Boyfriend

My Gentle Boyfriend
26 Sebuah Awal dari Kisah Baru


__ADS_3

10 Tahun Kemudian....


Duduk di sebuah kafe dengan minuman dan makanan serta sepotong kue di atas meja. Seorang pria tampan tengah bersantai dan berbicara dengan seorang wanita tentang sesuatu.


Pemandangan di luar yang menampakkan langit biru cerah seolah menjadi latar belakang yang indah. Pria dan wanita itu memiliki paras yang menawan dan membuat orang di sekitar mereka berbalik untuk menatap tanpa mau mengalihkan pandangan.


"Apa yang kau lakukan disini? Ini adalah perkumpulan wanita!" Wanita itu berkata sedikit kesal melihat pria yang terduduk di depannya. Raut wajah cantiknya sedikit jelek dan tidak sedap di pandang.


"Apanya yang perkumpulan wanita? Hanya kau dan Kanaya yang datang jadi berhenti berbicara omong kosong. Aku juga ingin merayakan ulang tahun Arlana" si pria menjawab dengan ejekan dan tidak mundur sedikitpun


"Bukankah kau ada konser? Kenapa repot-repot datang ke pesta kecil orang yang tidak penting. Pangeran Alen si pria suara Malaikat!"


"Diamlah kau Celsi!" Alen melotot kesal kearahnya dan menjawab "Bukankah kau juga ada Fashion Show hari ini? Jadi kenapa Ratu Panggung Celsi juga datang untuk merayakan pesta ulang tahun kecil orang biasa!"


Mereka berdebat panjang dan lebar menarik perhatian seluruh tempat. Tapi dengan acuhnya mereke meneruskan dan tidak peduli. Kedua orang itu tidak pernah akur sejak pertama mereka bertemu hingga berlanjut sampai sekarang.


"Kalian menjadi pusat perhatian! Apakah kalian tidak malu? Apa yang terjadi dengan publik figur kali ini, kenapa mereka menjadi begitu turun hingga kedasar!"


"KANAYA!!!" Alen dan Celsi serempak berteriak kearah Kanaya yang baru saja sampai. Melihat wajah kanaya dengan pipinya yang seperti bakpao mereka hanya menghela nafas tidak lagi peduli


"Arlana sedikit terlambat. Dia bilang seseorang datang untuk memesan baju dan memintanya untuk mengukur secara pribadi.." setelah terduduk Kanaya kembali berbicara dan memesan minuman


10 Tahun telah berlalu, Mereka bertiga telah tumbuh menjadi Dewasa dan berusia 27 tahun.


Alen menjadi seorang penyanyi yang sangat di kenal dan diidolakan Dunia. Untuk Celsi sendiri dia menjadi seorang Model yang sangat Profesional dan memiliki Jutaan penggemar dan pekerjaan yang menunggunya. Sedangkan untuk Kanaya, Gadis itu memiliki sebuah Salon Kecantikan yang sangat berkelas dan menjadi nomor 1 diantara wanita kelas atas.


1 Hal yang unik tentang mereka. Dengan kehidupan sibuk mereka, entah bagaimana mereka menjadi berteman dekat dan mulai bersahabat dengan Arlana.


Persahabatan yang mereka miliki tetap berjalan dan bahkan semakin baik sepanjang tahun yang berlalu, sekarang mereka berkumpul untuk merayakan Ulang Tahun Arlana yang ke 27 tahun.


"Lihatlah majalah ini!" Celsi melemparkan sebuah majalah diatas meja


Setelah melihat Cover besar di depan majalah itu, wajah Alen tampak buruk, dan Kanaya menjadi melotot kaget.


"Dia kembali?" Kanaya bertanya penasaran setelah menenangkan keterkejutannya


Dengan dengusan tidak senang Alen berkata "Kenapa jika dia kembali? Bukankah itu sudah 10 tahun berlalu? Apa yang bisa Zale lakukan?"

__ADS_1


"Kau benar!" Kanaya mengangguk setuju atas perkataannya


"Dia kembali 3 tahun yang lalu, tapi dia terlalu fokus pada perusahaannya. Sekarang di Usianya yang mencapai 27 tahun dia mendapatkan nominasi sebagai Pengusaha Muda berbakat dan tampan di majalah Top Clas Dunia" Celsi menjelaskan dengan sabar melihat kedua orang temannya tidak senang dia melanjutkan "Itu benar bahwa sudah 10 tahun berlalu dan Arlana telah melupakannya. Tapi tetap saja aku takut jika gadis itu akan mendengar berita tentangnya rasa sakit yang terkubur lama akan kembali terbuka!"


"Maka kita tidak bisa membiarkannya mengetahui hal itu!" Alen menyarankan dengan tegas, Celsi dan Kanaya mengangguk setuju sebagai jawaban.


Setelah melihat dan membalik beberapa lembar halaman di majalah itu, wajah Kanaya tampak lebih jelek dan berkata "Zale memiliki seorang tunangan, lihat ini!"


Dengan tidak suka dia menunjukkan artikel dalam majalah itu pada Alen, Celsi sendiri sudah membacanya jadi dia tidak terlalu terkejut.


"B4jing4n tercela!"


"Yah dia memang! Cih tunangannya salah satu pewaris perusahaan terkenal di kota S" Kanaya bersuara kembali dengan nada ejekan


"Kurasa itu pernikahan yang di rencanakan!"


"Kau benar, itu seperti pernikahan 2 perusahaan" Celsi mengangguk setuju atas pernyataan Alen, dia menambahkan "Sebuah pernikahan untuk memperkaya dirimu dan saham perusahaan! Godwin Corp pasti memiliki Nafsu makan yang banyak!"


"Sembunyikan cepat! Arlana datang!" Dengan terburu Alen mendesak ketika dia melihat sosok Arlana dari kejauhan yang tengah berjalan mendekat.


"Itu tidak lama! Ayo duduk, mari kita rayakan ulang tahunmu!" Kanaya menepuk tempat duduk disisinya dan berkata dengan senyuman kearah Arlana


Gadis itu mengangguk pelan "Aku sudah bilang untuk tidak perlu repot merayakannya! Tapi kalian begitu memaksa!"


"Kami memiliki waktu luang, Ayo Arlana jangan membuang waktu! Cepat berdoa membuat keinginan dan meniup lilinnya!" Alen melambai dengan senyuman dibibir


Celsi ikut tersenyun manis dan juga mengatakan "Selamat ulang Tahun Arlana"


Arlana tidak lagi menolak dan hanya melakukan apa yang mereka katakan. Dengan sebuah harapan kecil dia meniup lilin diatas kuetart dan berkata haru "Terimakasih teman-teman"


Kafe itu berisik, mereka bercanda gurau dan saling melepaskan rindu dengan membicarakan banyak hal. Arlana tampak berbeda dengan dia 10 tahun yang lalu. Gadis itu sekarang terlihat lebih dewasa dan sedikit terbuka hingga memiliki seorang sahabat.


Dia bahkan sekarang memiliki sebuah butik baju sederhana dimana dia berperan sebagi seorang desainer pakaian. Dengan usahanya sendiri dia benar-benar bergerak maju untuk menata masa depannya. Tapi hati miliknya masih terasa kosong dan kesepian. Dia merindukan seseorang, seseorang yang telah mencuri hatinya dan menghilang tanpa kabar hingga kini...


.....................


Di tempat lain, sebuah bangunan tinggi yang terlihat megah dan mewah. Seorang pria tengah berdiri tegap dengan urat dahinya yang menonjol.

__ADS_1


Wajah tampan pria itu tampak terpelintir jelek dan sangat tidak sedap di pandang. Mata hitamnya membawa aura dingin yang sangat berbahaya dan sedikit tatapan membunuh yang terbesit.


Dia menatap pria paruh baya yang tengah terduduk di balik meja dengan geramnya berkata "Apa maksud dari artikel itu?"


Jari telunjuknya jatuh pada sebuah Artikel yang berada di majalah. Dimana wajah tampannya terpampang jelas disana.


"Itu bukan aku, itu Ibumu yang melakukannya. Ayah sudah mengatakan pada ibumu bahwa kau tidak akan menikahi siapapun yang kami pilih. Tapi ibumu terlalu keras kepala Zale!" Pria itu mendesah panjang ketika jemari tangannya menyambut majalah di meja, dia menatap kearah putranya dengan pandangan rumit.


Zale mendengus dingin dengan tatapan matanya yang bertambah tajam lalu berkata dingin "Aku sudah mengikuti setiap apa yang kalian inginkan! Jika hal ini terus berlanjut jangan salahkan aku jika sesuatu yang buruk akan terjadi!"


Dengan kalimat itu Zale pergi meninggalkan ruangan itu dengan ekspresi yang tetap dingin terlihat diwajahnya.


Ayah Zale menghela nafas panjang melihat krpergian putranya. Mau tidak mau dia harus membujuk istrinya jika tidak ingin membuat Zale marah.


Zale yang telah krmbali keruangan miliknya menatap keluar dari kaca ruangannya. Mata hitamnya tampak kesepian dengan sedikit rasa sedih serta rasa rindu terbesit.


Wajah tampannya tampak lebih dewasa dan membawa aura yang sangat mengesankan. Tidak ada lagi senyuman konyol di wajahnya, hanya ada wajah dingin Zale yang tampak serius.


Sejak dia meninggalkan Arlana, Zale tidak pernah lagi tersenyum. Dia selalu bersikap serius dan menjadi pria dingin tidak berperasaan.


Dengan waktu yang berlalu dan usahanya yang sangat giat. Akhirnya dia mencapai ketinggian yang sangat menakjubkan melebihi kakaknya. Dia membawa perusahaan Godwin Corp menjadi salah satu perusahaan saham yang paling berpengaruh di bawah kepemimpinannya.


Setengah dari Perusahaan itu sudah berada di bawah kendalinya, maka dia tidak takut lagi untuk bertindak sesukanya. Tapi tetap saja dia masih bersabar dan menunggu waktu yang tepat. Menahan rasa rindunya yang begitu besar untuk seseorang yang begitu dia Cintai.


Seolah kesabarannya menjadi pisau berlati yang memotong lehernya, Sang Ibu yang begitu menyebalkan membuat sebuah pengumuman di Majalah tentang pertunangannya yang tidak pernah dia tahu ataupun dia inginkan.


Zale menggertakkan giginya keras, raut wajah dinginnya melunak ketika tatapan mata hitamnya menatap kearah meja tempatnya bekerja.


Jemari tangannya mengusap berbagai poto yang tersebar diatas meja dan bergumam lirih "Kau masih cantik seperti biasa. Maaf aku belum menemuimu! Aku akan segera datang Arlana, tunggu aku sebentar lagi!"


Wajah cantik Arlana tertangkap di berbagai poto yang berserakan di atas meja. Setiap aktivitasnya dan segala sesuatu yang dia lakukan, Zale telah mengambil semua momen itu dalam sebuah gambar.


Selama 10 tahun lebih dia telah melakukan hal ini, mengamatinya dan membantunya ketika sang kekasih tercintanya kesulitan. Bahkan saat gadis itu mengis di malam hari karena dirinya, Zale mengetahuinya dan merasa sangat hancur.


Dia ingin pergi dan memeluknya lembut, namun dengan hati yang berdarah dia menahan diri dan hanya melihatnya dari jauh. Melihat gadis itu menangis, terluka dan tertawa.


Tapi, itu cukup! Zale merasa bahwa segalanya telah cukup dan dia akan segera bertindak untuk kembali mendapatkan Arlana. Membawa gadis itu kembali berada disisinya.

__ADS_1


__ADS_2