
Cahaya Matahari bersinar terang di atas langit biru, suara angin terdengar lirih membuat daun di pepohonan melambai ringan.
Setitik gumpalan awan terlihat menambahkan suasana siang hari yang begitu panas.
Seorang gadis berusia sekitar 7 tahun tengah asik bermain dengan pasir di sebuah taman. Seolah gadis itu hanyut dalam dunianya sendiri, ia tampak bahagia dengan apa yang ia lakukan.
"Arlana, mari pulang bersama!" Seorang gadis yang juga berusia 7 tahun bersuara riang
Arlana yang tengah bermain dengan pasir dalam keadaan duduk itu mendongakkan kepalanya untuk menatap gadis yang berbicara padanya.
Senyuman manis terkait di antara bibir kecil Arlana sebelum ia berbicara "Celine kau disini?" Tanyanya seraya berdiri tegak dan membersihkan dirinya "Apakah sudah saatnya pulang?"
Gadis yang di panggil Celine mengangguk ringan "Boo, kau terlalu fokus bermain. Ayo cepat kita harus pulang atau ibu dan ayahku akan khawatir"
Arlana tersenyum lembut seraya mengangguk ringan, jemari tangan gadis itu terikat erat dengan jemari tangan Celine. Dua anak gadis yang cantik jelita tengah bergandengan tangan dan berjalan pulang kerumah mereka bersama.
Komplek Distrik daerah Barat kota A adalah salah satu komplek perumahan orang kaya. Disana juga terdapat banyak sekolah yang sangat elit dan bisa dibilang diantara kalangan atas sangat terkenal.
"Aku benci kita harus mengerjakan banyak soal ulangan MTK besok!" Arlana mendengus kesal dengan tidak suka
"Walau begitu kau sangat pandai di MTK, jadi kenapa kau terlihat begitu tertekan?" Celine menjawab dengan lebih cemberut
"Itu karena.. Ibu dan Ayah akan sangat senang dan memujiku saat nilaiku bagus, maka aku berusaha sekuat mungkin.."
"Ya ya ya.. kau berusaha sekuat mungkin!" Celine mengejek kearah Arlana.
__ADS_1
Bagaimana tidak?
Ia tahu jika Arlana adalah gadis yang malas belajar, walau begitu tetap saja Arlana akan mendapatkan nilai yang bagus.
"Bagaimana menurutmu tentang anak dari keluarga Godwin Corp? Dia tampan ya?"
Mendengar ucapan Celine, Arlana mengerutkan kening tidak mengerti "Siapa itu anak dari Godwin Corp?"
"Ayolah Lana, aku tahu kau tidak peduli pada apapun. Bahkan kau tidak tahu soal siswa pindahan baru di kelas sebelah?"
"Apakah ada murid baru?" Arlana bertanya semakin bingung, maksudnya dia masih 7 tahun dan baru saja masuk sekolah jadi bagaimana ada murid baru? Bukankah semua murid itu baru?
Melihat tatapan Arlana yang sangat polos, Celine mendesah pelan sebelum menepuk dahi Arlana pelan. "Aku tahu apa yang kau pikirkan!" Senyuman muncul dibibir Celine melihat Arlana yang kesakitan mengusap dahinya "Kami masuk sekolah sekitar 3 bulan yang lalu, sedangkan dia baru 1 minggu yang lalu. Jadi tentu saja dia baru bukan?"
"Oh!"
Menatap Celine yang terlihat kesal, Arlana hanya menggaruk rambutnya dengan bingung. Saat mereka terus berjalan bersama, rumah Arlana terlihat "Sampai jumpa besok"
"Sampai jumpa besok.." Celine juga melambai kearah Arlana dan pergi berjalan kerumah miliknya di seberang.
Mereka berdua adalah tetangga sejak kecil, Arlana dan Celine juga sahabat baik dan sering bermain bersama ataupun pergi kesekolah bersama. Maka mereka menjadi sangat dekat dan bersahabat.
"Ibu, aku pulang.."
"Cepat ganti pakaianmu dan bersihkan dirimu lalu makan siang!" Ibu Arlana berteriak kearah Arlana seraya tersenyum lembut dan menata meja makan
__ADS_1
"Ayah?"
"Ayahmu tidak akan pulang makan siang. Dia mungkin akan terlambat pulang, banyak pekerjaan!"
"Baiklah!"
Arlana mengangguk ringan dan bergegas kearah kamar miliknya dengan sedikit kelelahan. Ia merasa lelah setelah bersekolah sepanjang hari. Di tambah ia merasa lelah setelah berjalan, walaupun Jarak antara sekolah Arlana dan rumah sangat dekat. Gadis itu tetap merasakan kelelahan.
Setelah selesai membereskan dirinya, Arlana kembali beranjak dari kamar dan menuju meja makan untuk makan siang.
Mata keemasan miliknya menatap meja makan yang dipenuhi makanan lezat, ia tersenyum manis. Dan saat ia menatap sosok ibunya yang tidak berada disana ia mengernyit heran.
"Ibu?" Arlana berseru lirih seraya melangkah pergi kearah taman, disana ia melihat sosok ibunya yang tengah menerima telepon.
Saat Arlana mencoba mendekat, Ibunya seolah sadar akan kedatangannya dan dengan sigapnya menutup telepon secepat mungkin.
"Kau sudah selesai?" Arlana mengangguk ringan dengan sedikit bingung "Kalau begitu ayo kita makan!"
Seolah tindakan ibunya hanyalah hal yang tidak penting, Arlana hanya mengangguk ringan dan melupakannya dalam sekejap. Ia berjalan bersamaan dengan Ibunya untuk makan siang bersama.
......
Hari berlalu perlahan, kehidupan tenang Arlana yang damai berjalan dengan normal seperti aliran sungai tanpa riak.
Ia bersekolah, bermain dengan Celine dan berkumpul bersama keluarganya seolah semuanya benar-benar adalah hal yang wajar.
__ADS_1
Hingga sesuatu yang tidak pernah ia harapkan akan merusak kehidupan normalnya datang. Hal itu datang begitu saja dan menghancurkan kehidupan Arlana, membuat gadis yang selalu tersenyum itu perlahan kehilangan senyuman dibibir manisnya.